Waktu Di Balik Senja (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Segitiga
Lolos moderasi pada: 18 February 2016

Bara Reanaldi, orang baru yang hadir di kehidupanku yanng memberiku banyak motivasi tentang hidup dan juga cinta. Dia yang mengajariku bermain senar sampai pada akhirnya kami berdua bermain Marching Band tingkat Nasional. Tak lupa pula ku abadikan setiap kenangan indah yang terukir bersamanya. Meski sudah setahun, tempat ini masih sama. Masih terdapat taman di dekat lapangan, masih terdapat Laboratorium Kimia dekat gedung belakang sekolah, dan tentu saja masih ada Nathan Aditya di sini. Saat aku sedang asyik berjalan tiba-tiba…

“Ray, Ray, Rayyaaa…” teriak Fany dari kejauhan.
“Apaan sih Fan?” jawabku malas.
“Itu.. Itu… Adit…” kata Fany terbata-bata dengan napas yang terengah-engah.
“Iya Adit, kenapa dengan Adit?” tanyaku penasaran.
“Itu, Adit berantem sama Bara.” Jelas Fany.
“Apa?”

Duh, sebenarnya ada apa ini? Pikiranku kacau. Aku berlari sekencang-kencangnya ke tempat Adit dan Bara berantem. Aku tak perlu tanya di mana, sudah pasti dekat loker depan taman, karena di situlah tempat pertama kali aku bertemu Bara dan tempat aku dan Adit saling memerhatikan. Oh tidak! Semuanya sangat jauh dari apa yang ku duga. Mereka berdua sudah babak belur. Tuhan, siapa yang harus ku bela? Adit atau Bara? Akhirnya aku memutuskan untuk memegang Bara.

“Bara, Bara udah. Lo apa-apaan sih? Ini sekolah Bar, udah!” pintaku.
“Apa Ray? Gue apa-apaan? Dia yang apa-apaan!”
“Apaan sih Bar. Udah stop jangan nyalahin orang lain.”
“Oh, oh, jadi lo lebih ngebela dia daripada gue hah?” Adit yang sudah babak belur hanya terdiam melihat aku dan Bara beradu argumen. Adit hanya memegangi bibirnya yang berdarah akibat ditonjok Bara. “Apaan sih lo. Kalau gue ngebela dia, ngapain gue mengangin lo hah? Lo tuh emang nyebelin banget ya Bar, gak tahu berterima kasih!”

Aku pergi meninggalkan mereka. Bukan karena aku tak peduli, justru karena aku sangat peduli. Aku memanggil guru di kantor agar dapat melerai mereka. Aku tidak akan memaafkan Bara kalau sampai Adit kenapa-kenapa! Sampai di kelas, mereka semua menatapku aneh. Aku sudah terbiasa degan situasi seperti ini. Kali ini pasti karena pertengkaran tadi. Aku segera duduk di kursiku sebelah Fany.

“Huft..” aku menghela napas.
“Kenapa lo?” tanya Fany.
“Lo tuh yang kenapa? Ngelihat gue gitu amat. Gak bosen apa?” jawabku ketus.
“Lo tahu gak motif kenapa Adit dan Bara berantem?”
“Gak, apa emang?”
“Ya ampun, lo masih gak sadar juga?”
“Emang kenapa sih?”
“Mereka berantem itu gara-gara lo Ray, gara-gara lo.”
“Hah? Gara-gara gue? Gak mungkin!”
“Lo lihat aja entar. Nanti kalau Kak Claryssa datengin lo, baru tahu rasa lo.”
Aku hanya diam tak menjawab. Duh, kenapa Adit tiba-tiba nyerang Bara sih? Seketika ruang kelas hening. Aku masih merunduk, tak mempedulikan keadaan sekitar. Tiba-tiba aku merasa ada seseorang yang berdiri tepat di hadapanku.

“Bangun, sekolah nih. Tidur mulu.” Ucap seseorang kepadaku. Adit! Itu Adit.
“Adit.” Adit mendekatkan wajahnya, makin dekat, makin dekat, seperti mau menciumku. Mata kami saling bertatapan. Adit berbisik. “Temui aku di gedung belakang sekolah seusai bel pulang sekolah. Jangan sampai telat sayang.”

Jleeb! Kata-kata itu membuatku membisu. Aku tak menjawab. Aku hanya melihatnya berjalan meninggalkanku. Seisi kelas menatapku heran. Kenapa Adit tiba-tiba menghampiriku? Semua orang bertanya-tanya dalam hatinya. Bel tanda istirahat pun berbunyi. Untuk hari ini aku tidak berani ke lokerku sendiri. Meski semua bukuku ada di situ. Tuhan, tolong aku. Aku saat ini sedang berada di situasi yang sangat sulit. Bagaimana ini? Tiba-tiba Bara menghampiriku di kelas.

“Kok tumben gak ke loker Ray?” tanya Bara sambil duduk di depanku.
“Lagi males.”
“Lagi males atau takut jumpa sama Adit?”
“Apa-apaan sih lo.”
“Bener kan dugaan gue, kalau lo itu suka sama Adit.” Perkataan Bara membuat seisi kelasku tercengang.
Mendengar perkataan itu aku segera bangkit dari kursiku dan menatap Bara dalam. “Kalau iya emang kenapa, hah? Kaget?” aku pun pergi berlalu meninggalkan Bara yang masih tercengang.

Aku gak tahu harus berbuat apa. Tuhan, tolong kasih aku petunjuk. Tanpa sadar aku berjalan terlalu cepat dan menabrak tubuh seseorang. Namun, seseorang itu langsung menangkapku dan memelukku. Aku menangis sejadi-jadinya di pelukannya. Aku gak tahu itu siapa. Aku tidak ingin melihat wajahnya, karena aku tahu, kalau aku melihat wajahnya aku pastikan aku akan memukulnya. Aku akan membuat luka yang ada di wajahnya semakin bertambah. Aku tidak ingin masuk kelas. Suasana hatiku benar-benar kacau.

“Nih, minum.” Adit memberikanku sebotol air mineral.
“Makasih.”
“Boleh gue nanya sesuatu?”
“Apa?”
“Surat yang ada loker gue, apa bener semua itu dari lo Ray?”
“Em.”
“Gue gak nyangka kalau lo merhatiin gue segitunya.”
“Biasa aja. Ohiya, yang mau lo omongin di gedung belakang sekolah apa?”
“Oh itu, sorry ya Ray.”
“Em? Buat?”
“Anything.”
“Selalu.”

“Haha, rupanya lo lucu juga ya. Gue pikir lo merhatiin gue cuma biar tahu keadaan gue gimana aja. Ternyata lo juga merhatiin setiap ucapan gue ya.”
“Apaan sih lo. Pede banget.” Tuhan, baru kali ini Adit bicara sepanjang ini sama aku. Baru kali ini dia tertawa lepas di depan aku.
“Jadi, gue gak perlu jumpain lo lagi kan?” tanyaku.
“Jumpain apaan?”
“Ya jumpain lo lah.”
“Ciee yang ingin jumpaan sama gue.”
“Apaan sih Dit.”

“Ya perlu lah, lo kira itu undangan dari gue? Gue cuma nyampein aja kali.”
“Maksud lo?”
“Gue yakinlah lo gak bego-bego amat.”
“Adiitt…” aku memukulnya. Geram sih!
“Aduh. Apaan sih mukul-mukul? Udah hebat?”
“Adiitt ih..” Hahaha… hari ini akan jadi hari yang sangat berharga bagiku. Karena hari ini Adit mau berbicara langsung denganku dan mau bercanda dan tertawa lepas bersamaku. Tepat pukul satu bel tanda pulang sekolah dibunyikan.

“Yuk!” ajak Adit.
“Ke mana?”
“Ngedate.” Mukaku langsung memerah.
“Baru dibilang gitu doang udah merah mukanya. Gimana lagi kalau gue tembak?”
“Adit apaan sih.”
“Udah yuk. Ke gedung belakang sekolah.” Aku menggelengkan kepala.
“Kenapa?” Tanya Adit.
“Jangan Dit.”
“Kenapa Ray?”
“Gue gak mau lo kenapa-kenapa.”

“Kok harus kenapa-kenapa? Kita kan datang menuhin undangan.”
“Tapi kan ini beda.”
“Apanya yang beda?”
“Pokoknya gue gak mau.”
“Ya udah. kalau gitu gue pergi sendiri aja.”
“Jangan!”
“Makanya, yuk pergi berdua.”
“Huh, oke.”
“Biasa aja dong mukanya.”
“Adiitt..” Adit hanya tersenyum.
Perlahan ku injakkan kakiku ke gedung belakang sekolah. Tempat di mana semua insiden terjadi. Prok..prok..prok.. Bara tepuk tangan.

“Wah, wah.. hebat lo Ray. Bisa ngambil hati cowok batu kayak dia.” Ucap Bara. Aku dan Adit hanya terdiam.
“Eh Dit. Lo tuh apa-apaan sih. Cewek lain masih banyak. Kenapa lo ambil Rayya gue hah?” Aku dan Adit masih terdiam. Aku memandangi Adit, wajah Adit tampak memerah. Baru ku sadari, ternyata Adit akan bersikap seperti layaknya orang biasa itu hanya saat bersamaku, tapi tidak untuk orang lain.

“Kenapa diem aja lo Adit? Heh, berlindung di balik cewek. Di mana mental lo? Laki bukan lo? Jangan-jangan lo banci lagi.”
Tanpa menjawab sepatah kata pun Adit langsung menonjok pipi kiri Bara. “Adit.” Kataku.
“Adit, Adit. Kalau main itu dengan cara sehat dong. Rayya itu udah setahun sama gue. Gue udah sayang banget sama dia, dan lo tiba-tiba datang mau rebut dia dari gue hah? Banci.”
Buukk!! Satu pukulan lagi melayang di pipi kiri Bara. Bara yang tak mau kalah pun menonjok kembali pipi kiri Adit, sehingga bibir Adit mulai mengeluarkan darah segar. Aku yang tercengang melihat kejadian ini berusaha untuk melerai mereka.

“Stoooppp!!!” teriakku.
“Kalian ini apa-apaan sih! Kayak anak kecil tahu gak. Adit udah dong, gak cukup apa udah banyak tato di muka lo hah! Lo juga Bara, lo salah. Gue lebih dulu kenal Adit daripada gue kenal lo!”

“Oke kalau lo ngomong gitu. Gue gak masalah. Sekarang gue cuma mau dengar langsung dari mulut lo, lo lebih milih Adit atau gue? Jawab!”
“Apaan sih Bar. Gue gak bisa milih di antara kalian. Kalian sama pentingnya di hidup gue.”
“Tuh kan lo gak bisa milih. Di hidup ini lo harus punya pilihan Ray! Lo gak bisa ambil semua yang lo mau, dan gue gak suka diduain.”
Tuhan, bagaimana ini? Aku harus bilang apa? Di satu sisi aku sangat menyukai Nathan Aditya tapi di sisi lain Bara Reanaldi itu sangat baik terhadapku. Dia yang selalu ada untukku. Oh tidak! Bagaimana ini?

“Rayya. Kalau lo milih gue, tinggalin Adit. Tapi kalau lo milih Adit, gue akan pergi jauh-jauh dari kehidupan lo. Gue janji lo gak akan lihat lagi muka gue.”
“Oke, kasi gue waktu.”
“Gak bisa Ray, lo harus bilang saat ini juga.”
“Oke, g-guu-e pilih Bara.” Ucapku terbata-bata.
“Udah jelas kan Dit, lo udah dengar sendiri kan dari Rayya. Mulai sekarang lo jangan dekatin Rayya lagi.” Mendengar itu, Adit langsung beranjak pergi.

Adit maafin gue. Kalian tahu kenapa aku milih Bara? Kalau aku milih Adit, aku akan kehilangan Bara, orang yang selalu ada di hidupku, susah senang aku lalui bersamanya setahun ini. Tapi kalau aku memilih Bara, aku tidak akan kehilangan Adit, karena perjanjiannya Adit yang tidak boleh mendekatiku. Jadi aku tetap bisa menjadi Secret Admirer Nathan Aditya.

– Sorry for Anything
Dreett dreett.. ku lihat hp-ku yang bergetar SMS masuk dari.. “Bara?” mataku terbelalak melihat nama itu muncul di layar hp-ku.
From: Bara.
“Hai Ray, lagi ngapain lo?”
To: Bara.
“Hai Bar, lagi mikir nih.” Send. Sent
From: Bara.
“Mirikin gue ya? Haha Kok gak mandangin bintang? Tumben.”
To : Bara.
“Pede bener lo? Lagi males aja.”
From : Bara.
“Ohiya Ray, gue mau ngomong sesuatu sama lo. Boleh kalau gue telepon?”
Belum aku menjawabnya, sudah ada panggilan masuk di layar hp-ku. Dari Bara. Dengan malas ku tekan tombol hijau.

“Hai Ray.”
“Hai Bar.”
“Boleh nanya sesuatu?”
“Apa?”
“Lo yakin dengan pilihan lo tadi?”
“Maksud lo?”
“Gini ya Ray, kalau hati lo memang bukan untuk gue, kenapa lo gak berontak? Gue gak mau cuma jadi pelarian lo doang, gue gak mau cuma dikasihanin sama lo.”
Tanpa ku sadari air mataku menetes. Aku gak sanggup untuk berkata-kata lagi. Sungguh hari yang sangat berat bagiku.

“Rayya, gue minta maaf kalau gue udah ngebentak lo. Gue minta maaf karena gue udah maksa lo. Gue minta maaf karena…”
“Bara, gue sayang sama lo.”
“Lo barusan bilang apa Ray?”
“Gue sayang sama lo, Bara Reanaldi.”
“Makasih Rayya, gue seneeng banget. Akhirnya lo mau bilang itu ke gue setelah setahun kita sama-sama. Rayya, makasih karena lo udah mau jadi temen gue apa adanya. Makasih karena lo udah mau sayang sama gue dan maaf karena gue udah misahin lo dari orang yang paling lo sayang.”

“Bara.”
“Rayya, seperti janji gue, gue akan ninggalin lo. Gue gak akan lagi ganggu lo dan lo gak akan lihat lagi wajah gue. Gue janji. Satu hal yang harus lo tahu, gue sayang dan cinta sama lo Rayya Arthamevia.”
“Bara, Bara, Baraaaaa,” panggilan itu pun terputus.

Aku sangat tidak bersemangat untuk sekolah hari ini. Entah mengapa, suasana hatiku sangat kacau. Adit, Bara, mereka membuat kepalaku serasa mau pecah. Perlahan aku berjalan menuju kelas. “Rayya..” Panggil Devan. Saat aku melihat Devan kepalaku tiba-tiba terasa pusing. Dunia menjadi goyang. Apa yang terjadi? Setelah itu, aku tidak tahu apa yang terjadi.

Bersambung

Cerpen Karangan: Ella Yolanda
Facebook: Yolanda Nakatsuka
Ella Yolanda Nakatsuka. umur 17 tahun. SMAN Unggul Aceh Timur. Jalan Tgk Yahya dan Utama Perumahan Thariq Permai Blok A nomor 13, Paya Bujok Tunong, Langsa Baro, Langsa, Aceh.

Cerpen Waktu Di Balik Senja (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Setelah Kau Tiada

Oleh:
“Aku Bunga.. manusia lemah yang tak pernah bisa mengerti perasaan seseorang, dan aku sangat menyesali itu. Aku mencintai seseorang yang tak pernah mencintaiku, suatu kebodohan bukan? dan aku tak

Lamunan Di Ujung Senja

Oleh:
Jari lentikku menari nari melukiskan huruf demi huruf membentuk kata dan kalimat kalimat indah yang selaras dengan isi hati, pikiranku menerawang jauh dari masa lalu, saat ini, hingga angan

Sang Hujan Menanti Pelangi

Oleh:
Dalam sepotong sore di bawah gelitikan hujan yang menyerbu, tawa tercipta di tengah gemuruh nada hujan yang sendu. Menunggu henti hujan, menghentikan dingin yang menyerbu dengan senyum hangatmu yang

Sama Sama Suka

Oleh:
Nama ku erika cerita itu diawali saat aku naik ke kelas 3 smp waktu aku pertama masuk ke kelas baruku. Aku duduk bersama sahabat dekat ku sebut saja dia

Pacar Invisible (Part 1)

Oleh:
Udara dingin menyelimuti suasana malam hari ini. “sepertinya segelas cokelat hangat sangat nikmat kali ini.” gumamku, Aku bergegas menuruni anak tangga yang berada di rumahku ini, oh iya sampai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *