Good Life

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Sejati
Lolos moderasi pada: 18 February 2016

Tentang hidup yang semua orang membicarakannya. Begitu juga aku, yang belum tahu banyak tentang kehidupan, yang belum mengerti arti hidup. Orang bilang dalam hidup ada jalan yang berliku, aku juga merasakannya. Saat cacian makian, dan hinaan datang pada kehidupanku, aku hanya bisa berkata sabar pada diriku sendiri, tanpa tahu apa arti kata sabar itu. Sesuatu yang berhubungan dengan hidup pasti berdampingan dengan cinta. Semua yang bernyawa pasti merasakan cinta, bisa jadi yang tak bernyawa pun merasakan cinta. Kayu contohnya, yang selalu mencintai kehidupannya. Cinta yang aku rasa begitu sangat indah dan terkadang menjadi sesuatu yang sangat buruk. Terlalu naif rasanya jika aku menyerah menghadapi persoalan yang terjadi dalam hidup dan kehidupanku.

Ketika mimpi hadir untuk menemani orang tidur, aku justru mengharapkan mimpi itu datang ketika aku terbangun, karena hanya dengan bermimpi aku dapat merasakan kebahagiaan dalam hidup. Dia yang selalu membuatku merasa hidup, dia yang selalu membuatku berpikir tentang kehidupan, dia yang selalu ada untuk menemaniku dalam hidup. Walau terkadang dia ingin menjauh dari hidupku dan ingin mencari makna kehidupan tanpa hadirku dalam hidupnya. Seperti kata temanku, “Mungkin bagi dunia kamu adalah seseorang tapi mungkin bagi seseorang kamu adalah dunianya.”

Mungkin hidupku tak cukup bermakna bagi orang lain, tapi tidak bagi dia. Seorang pria yang berhati seperti malaikat bernama Putra dan yang mungkin cuma dia yang bisa membuat hidupku lebih bermakna. Ya mungkin memang hanya dia yang aku punya semenjak kepergian ayah dan ibuku akibat kecelakaan tiga tahun lalu. Pernah aku berpikir, kenapa sih harus mereka yang pergi duluan dari dunia ini? Kenapa bukan aku saja? Padahal kalau aku gak pergi pun mungkin gak bakalan ada yang butuhin aku.

Ah, dunia ini harus aku taklukan. Seperti kata ayahku dulu sebelum akhirnya dia pergi. “Putri, kamu itu anak Ayah paling hebat, kamu harus bisa bertarung mengalahkan dunia yang terkadang kejam bagi kamu.” Iya mungkin kata-kata dari ayah itulah yang selalu menjadi penyemangat hidupku. Ayah, Ibu, andai kalian masih bersamaku mungkin aku gak akan menjadi selemah ini. Hidupku sekarang, seperti kayu di depan rumahku yang sudah tak terpakai lagi yang semakin rapuh dimakan rayap dan semakin lapuk karena hujan dan panas. Aku gak tahu apakah nasibku akan sama seperti kayu itu? Yang semakin lama rapuh dimakan rayap, yang semakin lapuk karena hujan dan panas? Jawablah tanyaku ini Tuhan…

Ciiit… Suara itu membuyarkan lamunanku, tanpa ku sadari ternyata bus sudah sampai. Tapi hujan deras itu masih belum reda. Aku turun dari bus sambil berlari mencari tempat untuk berteduh. Tanpa ku sadari saat aku berlari untuk menyeberang jalan aku terpeleset. Dari arah barat terlihat mobil yang melaju kencang. Saat aku terjatuh mobil itu menyenggol kaki kananku. Tapi untunglah si pengendara mobil mau bertanggung jawab walau sepenuhnya itu bukan kesalahan dia. Aku tiba di Rumah Sakit. Lelah, sakit, sedih, bingung, dan perasaan tak menentu saat aku tiba di sana. Aku tak tahu apa yang terjadi padaku, tapi tiba-tiba dokter berkata padaku,

“Saudari Putri, luka yang dialami kaki kamu sangat parah, kalau dibiarkan begitu tidak ada harapan untuk sembuh, kami harus mengambil tindakan untuk segera mengamputasi kaki kamu.”

Mendengar perkataan Dokter seperti itu aku merasa dunia runtuh, tapi apa daya aku tak ingin mengalami rasa sakit yang berkepanjangan. Aku mengiyakan saja kata dokter dan hari itu pula dokter beserta timnya segera memotong kaki kananku sampai ke bagian lutut. Putra, andai dia tahu keadaanku sekarang, mungkin dia sudah malu menerimaku lagi. Sekarang, bagaimana cara aku bisa membiayai hidupku hari ini, esok, lusa, dan selamanya sampai aku meninggal nanti. Dengan hati yang pasrah, akhirnya aku menelepon Putra, pacarku.

Tuut.. Tuut.. “Iya Putri?” terdengar suara Putra dari sana yang masih belum tahu keadaanku sekarang.
Aku hanya diam, bibirku tak sanggup mengeluarkan kata. “Putri?” lanjut Putra karena sudah beberapa menit aku hanya diam. “Put, kalau masih gak mau bicara aku tutup teleponnya.” Akhirnya dengan suara yang berat aku mampu berkata-kata. “Aku tunggu kamu di rumahku, sekarang.” Aku langsung tutup teleponnya dan satu jam kemudian dia datang. Melihat keadaanku dia terlihat terkejut dan mungkin dia berusaha menutupi perasaan kecewanya padaku.

“Maafkan aku, aku gak beritahu kamu tentang ini.” Dia hanya diam. “Aku tahu kamu malu.” Lanjutku. “Tapi kalau kamu gak mau punya pacar cacat seperti aku, lebih baik kamu pergi saja tinggalkan aku sekarang, karena aku gak mau kamu mencintaiku karena keterpaksaan, karena merasa kasihan sama aku.” Kataku sambil tak kuasa menahan air mata. Dia menghapus air mataku.
“Putri, aku gak akan malu punya pacar kayak kamu, aku mencintaimu bukan karena fisikmu.”
“Bohong, itu bohong. Mana ada yang mau terima pacarnya dengan keadaan seperti ini.” Kataku tak percaya.

“Percayalah Putri. Aku akan…”
“Lebih baik kamu tinggalkan aku, karena aku tahu betul bagaimana orangtuamu. Jangankan dengan keadaan yang seperti sekarang ini, gak begini pun orangtuamu gak terima aku.”
Aku memotong pembicaraannya. “Kamu harus pergi sekarang sayang.” Tanpa banyak berbicara, Putra pergi meninggalkan aku. “Aku akan selalu ada untuk kamu.” Kata itu adalah kata terakhir yang ke luar dari mulutnya.

Sesuatu yang ku sebut cinta ini menjadikan aku seperti manusia paling bodoh, karena betapa bodohnya diriku yang menyuruh pacarku pergi yang jelas-jelas dia benar-benar mencintaiku. Andai kamu jadi seperti aku, cobalah rasakan air mata ini sanggupkah kamu temani setiap tetesnya. Kamu tahu kawan? Aku bagai mendung yang setia pada hujannya yang akan selalu ada dan terus bertahan. Jika matahari itu tak kunjung datang, apa aku akan terus seperti ini?

Hari demi hari aku lewati tanpa ada seorang pun yang berada di sampingku. Layaknya kayu itu, sendiri, sepi, tak ada yang menemani yang semakin lama akan menjadi debu yang beterbangan. Sebulan kemudian, sesosok pria itu datang menghampiri yang biasa aku sebut rumah itu. Dia melihat aku terbaring lemas di tempat tidur dengan wajah pucat dan seperti tidak ada semangat untuk hidup. Dia pun berkata, “Maaf, kalau aku udah ninggalin kamu. Dan seperti janji yang pernah aku ucapkan aku akan selalu ada untuk kamu, Putri. Aku gak akan pernah ninggalin kamu lagi”. Mendengar kata-kata itu, air mataku langsung tak terbendung lagi. Ternyata baru ku sadari bahwa sesosok pria yang selalu ada di saat aku susah maupun senang dan sekarang hadir di hadapanku itu berhati seperti malaikat.

“Maaf, karena aku sempat mengusir kamu waktu itu, aku hanya kesal. Karena…” tiba-tiba jari telunjuknya menutupi mulutku dan dia berkata. “Tak perlu kamu lanjutkan sayang, aku terima kamu apa adanya. Bagaimana pun kamu, aku gak pernah lihat dari fisik kamu, tapi aku lihat dari ketulusan hati kamu yang dapat menerima aku apa adanya begitu juga dengan aku. Dan aku gak akan pernah tinggalin kamu dan gak akan pernah lupa kenangan yang pernah kita lewati bersama.”

Tuhan, terima kasih sudah mengirimkan aku malaikat sebaik dan setulus dia. Meski malaikat itu Kau hadirkan tanpa sayap, dia adalah dunia bagiku. Betapa indah anugerah-Mu Tuhan. Dan pada saatnya tiba, cahaya itu pun redup dan kemudian padam. Aku kira semua kenangan manis itu akan terlupakan, tapi ternyata aku salah kenangan itu in memorian for someone. Dia adalah sesosok malaikat tanpa sayap yang pernah menjadi dunia bagiku. Itulah hidup yang semua orang membicarakannya. Sesuatu dalam hidup akan terasa indah saat ada seseorang yang mampu mengerti. Sangat indah ketika air mata yang menjadi simbol dari luka berubah menjadi senyum tanda bahagia. Seperti yang orang katakan, sesuatu akan terasa indah pada waktunya.

Cerpen Karangan: Ella Yolanda
Facebook: Yolanda Nakatsuka

Cerpen Good Life merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pohon Maple

Oleh:
Semilir angin musim gugur mulai berhembus. Keyara sedang duduk bersandar di bangku taman di bawah pohon maple yang mulai menggugurkan daunnya. Senyum manis terukir di wajah cantik Keyara. Tatapannya

Misteri Gadis di Pinggir Jalan

Oleh:
Pagi itu, di tengah terminal tepatnya, aku selalu melihat wanita yang sama di minggu ini, dia cantik menurutku, berjilbab dan tampak sholehah, jika seandainya ada kesempatan ingin sekali rasanya

Aku, Kucing dan Hujan

Oleh:
Matahari senja menyinari tubuhnya, menciptakan bayangan memanjang tepat di belakangnya. Mengikuti langkahnya yang pelan. Pikirannya larut dalam lamunannya. Apapun yang dia lakukan terus saja membuatnya teringat, ingat akan sosoknya

Awal Yang Terakhir

Oleh:
Aku ingin memiliki cinta hanya satu di dalam kehidupanku kelak. Aku ingin cinta itu abadi sampai dibawa mati. Aku ingin semua orang tahu kalau aku dan cintaku bersama untuk

Beludru Merah

Oleh:
Ingatan yang terngiang bagai kaset yang terus berputar dalam display. Ceritanya, wajahnya, dan hangatnya sentuhan saat ia memegang tangan yang sudah mulai renta ini. Tersenyum pada pigura yang tergantung

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *