1 Hati 2 Cinta


Share

Cerpen Karangan:
Lolos moderasi pada: 12 January 2013

Perjalanan cinta memang tidak bisa pernah ditebak. Cinta itu datang dengan tiba-tiba dan tanpa disadari. Terkadang kita sudah terbuai dn teracuni didalamnya. Seperti Adila yang terjerat sebuah cinta ketika ia masuk ke dalam sebuah Komunitas Pencinta Alam karena ajakan temannya. Wildan, Helmit, Toni, Andre, Fredo. Komunitas itu adalah komunitas yang ke 8 kalinya yang Dila ikuti setelah, Karate, PMR, KLH, MAFIA, dsb.

Saat pertama ia masuk Komunitas itu ia diajak oleh Toni dan Andre. Dan ia diajak untu ikut kumpulan rutin di rumah Kak Helmi. Namun, ketika hari pertama ia harus kumpul sayangnya ia sedang ada di BalikPapan, KalTim. Karena ia sudah tidak sabar dengan suasana yang akan ia rasakan dalam komunitas barunya itu, ia memutuskan untuk segera pulang. Ia meminta kepada ayahnya agar membelikan passport pesawat 2 hari lagi. Karena dihari ketiga ia akan pulang sendiri dan kondisi memang tidak memungkinkan apabila seluruh keluarganya harus pulang dihari yang sama.

“Dila, ini passport mu!”, sahut ayahnya pada Dila yang sedang enak tiduran di ruang tengah.
“Weeisshh, makasih ayah! Mmuach”, ucapnya sambil mengecup pipi sang ayah.
Dila yang terlihat bahagia itu segera mengemas barang-banrangnya ke dalam koper. Tak lupa ia juga mengabari Toni dan Andre bahwa besok dia akan segera pulang ke Bandung dan memintanya untuk menjemput di Bandara. Andre menyetujuinya.
Keesokan harinya Andre bersiap-siap untuk menjemput Dila di Bandara. Toni tidak ikut karena ia sedikit tidak enak badan. Terpaksa Andre sendiri pergi ke Bandara.
“La, kira-kira sekitar jam berapa kamu tiba di Bandara ?”, Tanya Andre via telpone.
“Jam 11, Ndre. Kam bisa kan? Kamu sekarang dimana?”, Tanya Dila.
“Aku udah ada di Bandara kali, La.”
“Oke, 1 jam lagi aku nyampe sana”, ujar Dila.
Satu jam kemudian…….
“Hey, Dre. Apa Kabar ?”, teriak Dila mengejutkan Andre yang terlihat sedang melamun.
“Ah dasar lu, ngagetin saja. Akhirnya sampaia juga kamu. Pegel rasanya dari tadi nunggu lama banget”, ujar Andre sedikit menggerutu.
“Heheh, Sorry lah. Mau makan?”, Tanya Dila.
“Gk usah ditawarin pasti kamu sendiri pun mengerti karekterku seperti apa, La.”, jawab Andre.
Mereka pun pergi ke Warteg dulu untuk mengisi perut sambil istirahat sejenak melepas lelah.
“Oh, iya aku penasaran bnget deh dengan KOPELAM. Yang suka kumpul siapa aja sih ?”, tanay Dila.
“Hahahay, segitunya penasaran kamu, La. Ya seru deh. Yg biasa kumpul di ruamh Ka Helmi
“Iya banyak tpi banyak pun sekitar 5 orang”
“Hah ? 5 orang? Gak salah dengar kan?
“Iya 5 orang itu pengurusnya. Oh ya kamu ajakin Ka Wildan tuh, pasti dia mau.”
“Wildan? Sempat dengar juga sih katanya si Rizal dia tuh yang jago panjat tebing kan?”, Tanya Dila meyakinkan.
“Iyah, betul banget. Dia jagoya. Nih nomornya 085726XXXXX9.”
“Oke, thaks. Yo ah pulang ?”, ajak Dila pada Andre.
“Nyok.”

Andre dan Adila pun pulang. Dan setibanya di Bandung Selatan mereka langsung pergi ke rumah Ka Helmi. Dan ternyata disana sudah ada Ka Wildan. Ka Wildan menyapa Dila. Seraya sapaan itu terlontar dari mulut Ka Wildan, wajah Dila langsung memerah masak seperti udang rebus. Tanpa disadari Ka Wildan mendekati dan menanyakan beberapa hal mengenai Alam kepada Dila. Ya sesungguhnya Adila juga ketimbang lebih tau tentang ALam sih disbanding semuanya, kecuali Ka Helmi. Ia masternya ilu hutan untuk daerah sekitar seperti Singa. Ka Wildan dan Dila pun semakin hari semakin akrab.
Ternyata mereka sering bercanda tawa baik saat berkumpul atau pun via Phone/ JarSos, hingga suatu hari Dila sempat berbisik kepada Toni bahwa ia suka kepada Ka Wildan. Namun, disayangkan sekali umur mereka berbeda jauh. Toni hanya mengganggukan kepala saja dan sedikit tidak percaya dengan celotehan Dila. Dila sempat teracuhkan dan Toni pun melanjutkan games bersama Ka Wildan.
“Dilaa ?”, sahut ka Wildan.
“Iyah, ka. Ada apa?”, balas Dila.
“Pacar kamu siapa?
“Aku gak punya pacar, kenapa emang ? kalau kaka ?”, tanya Dila ragu.
“Loh kenapa bisa ?” tanaya ka Wildan.
“Aku masih trauma kak. Aku gak mau dicintai seseorang yang awalnya sayang karena kasihan padaku yang sering sakit-sakitan.” Ujar Dila.
“Oh. Lah begituan kamu anggap. Sama, aku juga gak punya pacar. Eh Ton, sebaiknya Dila jadi pacarku saja ya, bener nggak ?”, jawab Ka Wildan kepada Dila sekaligus bertanya kepada Toni
“Hahahaahaha, iya Ka. Noh Dil, Ka Wildan udah memberikan hatinya buat kamu. Tulus pula. Udah terima saja”, ujar Toni sambil focus pada gamesnya.
“Ahh dasar kamu Ton”, ucap Dila.
“Gimana, udah aja Dila jadi Pacar Kakak aja yah?, Tanya Ka Wildan sekali lagi.
“Hheehehehe”, Dila tertawa mendengar celotehan Wildan.

Selama beberapa hari Dila dan Wildan semakin tambah akrab dengan panggilan yang cukup Romantis, walaupun sbenatnya mereka tidak ada jalinan asmara. Hanya sekedar hiburan. Namun bagi Dila memang ia senang, tapi belum tentu bagi Wildan. Memang betul juga perkumpulan itu tidak akan seru jikala Wildan tidak ada.

Suatu hari, Dila tidak bisa ikut berkumpul karena ada sebuah pertandingan karate dan ia harus giat latiihan. Wildan sempat bertanya-tanya pada Andre. Karena seringnya ia main bersama Andre yang sudah dianggap sebagai kakaknya Dila. Andre mulai curiga bahwa Wildan benar-benar menaruh hatinya juga pada Dila. Perkumpulan pun sepi tanpa adanay pekik tawa Dila dan Wildan.
Di tempat yang berbeda terlihat Dila begitu semangatnya Latihan Bela Diri, dan apada malam harinya rombongan Padepokan Dila akan berangkat.
Malam telah tiba…
Dila dan teman-teman seperguruannya akan segera pergi ketempat pertandingan. Ia melihat rendi adik seperguruannya ternyata ikut bersamanya.
“Tak masalah”, ujar Dila.

Setelah tiba ditempat pertandingan, Dila ternyata tampil pertama. Ia pun ,menampilkan aktraksinya dengan sanagat megah karena pukulan dan tendangannya begitu bagus. Namun, setelah usia ia tampil tiba-tiba ia tergeletak jatuh pingsan dan segera dibawa ke rumah warga terdekat. Dirumah itu ada dokter dan bidannya untungnya. Bidan memberikan Dila obat. Dan sang pelatih serta Rendi membantu untuk mengurut Tangan dan kaki Dila yang masih lemas.

Ketika tangan Dila di urut Rendi, Dila merasaakn hal yang sanagat janggal. Rendi memegang tanagan Dila seperti denagn ada perasaan dan perhatian khusus kepadanya. Ia mlepaskan genggamannya namun Rendi menarik lagi tanggan Dila. Dila pun terlelap Tidur.

Keesokan harinya, Dila dan rombongannya pulang ke kota asal. dan siang harinya Dila diajak untuk latihan sekitar pukul 14.00 WIB. Dia terlambat datang hingga harus berjalan sendirian ke temapt Latihan Gabungan. Akan tetapi, di tengah jalan sudah ada Rendi menunggu Dila. Dila pun sedikit aneh dan ya mereka pun berjalan berdua. Rendi dan Dila terdekat ekat seperti ada sebuah apa dibalik tanda kutip. Ahh, kawan yang lainnya pun tak menghiraukan juga.
Dua hari kemudian, ketika anak Padepokan akan melaksanaakn Latihan fisik, Rendi bertanya.
“Kak, saaya boleh curhat?” ,tanyanya.
“Iyah. Curhat apa ya dek?”
“Hembbh. Kak, aku tuh Sayang banget sama kakak. Aku suka sama kkak. Gak tau kenapa ini juga kak?”, ujar Rendi.
“Haaahhh? Suka? Sayang ? Kok bisa ? Hembh . . . . . . Makaasih aja ya dek, kakak gak ada rasa sama kamu. Kkak udah ada yang punya. Maaf. Makaasih udah sayang sama kakak. Kakak hargai kamu.”
“Oh, iyah kak.”, jawabnya dengan perasaan kecewa.

Makin hari Rendi semakin memperlihatkan rasa cintanya. Dila begitu kesal dengan sikap dan perilaku Rendi terhadapnya. Ia membenci rendi dan menjauhi dirinya.
Latihan rutin yang dijalani Dila mungkin membuat tubuh Dila DROP abis. Ia jatuh sakit namun ia menyembunyikan dari siapa pun. Ia tak tahan ingin menangis namun tak mau keluarganya tahu bahwa ia sakit. Sehingga ia memaksakan untuk bertahan selama hampir 3 minggu dengan rasa sakit yang amat sakit.

Setelah pulang sekolah, Dila memutuskan untuk tidak pulang kerumah dan main keruamh Ka Helmi sekaligus berkumpul dengan komunitasnya. Wildan melihat Dila menangis dan tak henti-henti. Sesekali kadang terlihat melamun, lalu nangis lagi. Begitu seterusnya.
“Kenapa kamu nangis, La?”, Tanya Wildan kepada Dila.
“Aku sakit kak. Sakiit banget. Capek kalao aku harus terus2an seperti ini. Aku pengen hidup normal dengan kemampuanku yang ada. Bukan karena keterpaksaan. Sakit kkak :’( “, ujar Dila sambil merintih kesakitan.
Tiba-tiba terlihat darah segar mengalir dari hidungnya.
“Dil, kamu mimisan ya ?”
“Oh nggak kak, ini sariawan aja kok.”
“Ayolah, berkata jujur . kamu kenapa ?”, Tanya Wildan.
“Sebenarnya penyakitku kambuh lagi kak. Aku sakit selama 3 Minggu akhir ini. Aku menyembunyikan dari keluargaku karena aku gak mau berobat lagi. Kasihan mama papah . Karenaku uang mereka menjadi habis.” Jwaba Dila sambil marah-marah dan menangis.
“Iyah tapi kamu harus sabar, La. Jangan putus asa dong. Ayo dong sayaang senyum”, kata Wildan menghibur Dila.
“Sakit kak. Gimana coba kalau pengobatan ini gagal?”, Tanya Dila.
“Kamu. Udahlah jngan ngomong yg nggak nggak lagi ya, say.”
“Iyah , kakak”

Meskipun Wildan terus berusaha menghibur Dila, tetap saj Dila menangis merintih kesakitan. Air mata nya semakin menetes, matanya terlihat bengkak.
Tibaaa-tiba … … . . Wildan bernyanyi dengan diiringi gitarnya —(Detik Terakhir,LYLA)—
Usap air matamu. Dekap erat Tubuhku. Tatap aku…….sepuas hatimuu…
Tak Disangka Dila pun melanjutkan lantunan syair lagu tersebut, dengan isak tangis yang masih terdengar….
Nikmati detik demi detik, yang mungkin kita tak bisa rasakan lagi,
Wildan langsung memotong,
Hirup aroma tubuhku yang mungkin tak bisa lagi tenangkan gundahmu, gundahmu…
Adila melanjutkan kembali dengan suara yang begitu lembut..
Nyanyikan lagu indah, sebelum ku pergi dan mungkin tuk kembali, nyanyikan lagu indah tuk melepas kupergi dan tak kmbali.. (berulang-ulang ) dan seterusnya ..

Beberapa menit kemudian, tiba-tiba Adila jatuh pingsan dalam dekapan Wildan.
“La, bangun La ! Lihat kakak.La, ayolah jangan permainkan kami”, ujar Wildan sedikit membentak.
Sayangnya tidak ada perkembangan lanjut dari Adila. Sesaat itu pula dari hidung Dila keluar darah segar dan tanpa menunggu lagi, Wildan segera membawa Dila ke Rumah Sakit. Ia segera masuk ruang ICU. Wildan disuruh untuk menunggu di ruang tunggu. Wildan begitu cemas mengkhawatirkan kondisi Dila. Dari lorong kiri Ruang ICU terlihat Rendi bersama sahabat-sahabat Dila yang lain datang untuk menjenguk Dila. Namun, mereka pun harus menunggu seperti halnya Wildan.
Rendi merasa khawatir dan tidak tenang. Dia berusaha untuk masuk namun Wildan melarangnya. Rendi menurut karena umur Wildan lebih tua darinya. Bahkan umur Rendi dan Adila pun lebih tua Adila. Tak diduga, Rendi merasakan api cemburu ketika Wildan melarangnya untuk masuk. Dokter Heru keluar. Dia adalah dokter yang menangani Adila. Wildan sempat berbincang-bincang bersama Dokter Heru. Perbincangan itu berakhir dengan uraian air mata yang menetes di pipi Wildan.
Tak lama kemudian, keluarga Adila datang dan langsung dipersilahkan masuk ke dalam kamar ICU. Kondisi Dila masih terlihat lemah. Ia belum sadarkan diri. Ibunda Dila terus menangis melihat keadaan Dila yang tampak rapuh tiada arti dengan peralatan dokter yang menempel di beberapa bagian tubuh Dila. Ayah Adila, Pak Noer hanya bisa terdiam melihat isak tangis keluarganya meratapi sang anak.

“Ka Wildan,kakak. Kak Wildan”, ucap Dila ketika siuman. Semua keluarganya terperanjat kaget dan langsung menghampiri Dila. Dila masih lemah. Ketika ia berbicara pun masih tak terdengar, yang trdengar hanyalah Wildan. Wildan lah yang ia ingat terakhir karena ketika ia tergeletak pingsan sedang berada dalam pelukan Wildan.
“Mana yang namanya Wildan?, teriak Ayah Dila.
“Saya, Pak ! ada apa ?”, jawabnya.
“Adila sudah siuman. Ia terus memanggil namamu.”
“Alhamdulillah……….”, ucap syukur semua sahabat-sahabtnya yang menunggu diluar.
“Siuman ? Saya ?”, tanay Wildan meyakinkan.
“Iyah, kamu. Mari , silahkan masuk”, ajak Pak Noer.
Wildan pun masuk dengan hati yang berdebar-debar. Ia begitu miris melihat Adila, adiknya, mungkin kekasihnya. Ia menghampiri Adila dengan mata yang berkaca-kaca.
“Kakak….Ka Wildan”, Tanya Dila.
“Iyah, sayang. Knapa sayang?”, jawab Wildan dengan berat. Ia tak kuasa melihat orang yang ia sayang sakit.
“Kakak , masih inget gak permintaan Dila ?”, tanyanya.
“Iyah. Dila minta aku nyanyi buat kamu sayang?”, ujarnya.
“Iyah. Kakak masih ingat ternyata”,
“Bantu aku bangun kak”, pinta Dila pada Wildan.
“Mau ngapain kamu ,La?”
“Pengen bangun”, pegal kakak.”, jawabnya.
“Mah, Pah,Tante, boleh nunggu di luar gak ? Tapi Bunda Aisyah nunggu didalam”, pintanya pada semua keluaraga, kecuali Bunda Aisyah sepupunyaa.
“Adil penegn Bunda disini ?”, Tanya Bunda Aisyah.
“Iyah, Bun. Bunda mau kan? Bunda yang tau tntang Dila”, katanya.
“Baiklah, putri manisku”, jawab Bunda Aisyah.

Adila melamun, menatap kearah jendela sambil melantunkan (Lagu Samapai akhir menutup mata)
Embun di pagi buta ..
Menebarkan bau basah , detik demi detik kuhidup.
Inikah saat ku pergi.
Oh, Tuhan ku cinta dia, berikan aku hidup,
Tak kan kusakiti dia. Hukum aku bila terjadi.
Aku tak mudah untuk mencntai,
Aku tak mudah mngaku ku cinta
Aku tak mudah mengatakan aku jatuh cinta.
Senandungku hanya untuk cinta,
Hiragatku hanya untuk engkau,
Tiada dusta sumpah kucinta, sampai ku menutup mata

Ia menyanyi sambil memamndangi wajah Wildan. Dilanjutkannya dengan lagu Reef ‘Detik Terakhir’ Nyanyikan lagu indah, sebelum ku pergi dan mungkin tuk kembali, nyanyikan lagu indah tuk melepas kupergi dan tak kembaliii..

Wildan meneteskan air matanya. Sesaat itu pula Dila berkata bahwa dia Sanagt mencintainya.
“Kak, aku Cinta sama kakak. Aku tulus saying sama kakak. Sejak pertama kenal hingga detik terakhir ini”, ucap Dila.
“Iyah, La. Wildan juga saying sama Dila. Kakak tulus saying sama kamu. Kamu orang yang kakak saying. Kakak minta kamu harus kuat ya, semangat untuk hidup.”, pinta Wildan kepada Dila.
“Bunda Aisyah, pegang janji kami ya Bunda. Beritahu mamah papah. Aku bahagia memiliki seorang kakak sekaligus kekasih yang bisa membahagiakanku”, kata Dila pada Bunda.
“Iyah sayang . BUnda janji kok. Bunda pegang janji Dila.”, jawab sang Bunda.

Semua Keluarganya dipanggil kembali untuk masuk ke ruangan dan merek ternyata sempat kaget melihat Wildan memeluk Dila. Lalu Wildan melepaskan pelukannya dan menggenggam erat tangan Dila sekan tak mau berpisah…
“Astagfirullahal’adzim..”, terdengar Dila berdzikir beberapa kali sambil mengucapkan Lafadz kaliamh syahadat. Beberapa detik kemudian, Dila menghembuskan nafas terakhirnya dengan melepaskan sebuah senyuman indah yang terlihat dari bibirnya . sekaan-akan ia bahagia pergi meninggalkan sanak keluaga, sahabat dan kekasihnya itu.
“La, bagun La. Jangan mainin kakak lagi. Ayo ah bangun. Jelek banget sih kamu mainin kami smeua. Dila banging.”, ucap Wildan memerintah Dila untuk bangun.
“Toktoktotktok.. Dilaaa !!!”, teriak anggota KOPELAM yang lainnya.
“Kenap Dila, Dan?” Tanya sang ketua.
“Aaaku gakk tauu, Hel.”, ini mimpi kan.
“Innalillahi wa inna illaihi raajiuun”, ucap dokter HEru.
“Dila sudah pergi dengan tenang. Mungkin Tuhan berkehendak lain. Ikhlaskan lah kepergian Dila”, ujar dokter menjelaskan.
“Dilaaa,, jangan tinggalkan Mamah. Dila sayang dengarkan mamah, Nak !!” , Ibu Dila menjerit histeris melihat anaknya sudah tak bernyawa lagi.

Semua orang menangis. Lalu sahaabat-sahaabtnya pun masuk ke dalam ruangan ICU termasuk Rendi. Ia cemburu melihat Wildan yang kembali memeluk Adila sambil menangis. Hati Rendi skait ketika mendengar Wildan menyanyikan lagu ‘CARAMEL’ – (Tinggal Kenangan)

Pernah ada, rasa cinta. Antar kita kini tinggal kenangan. Ingin kulupakan semua tentang dirimu …………. dst.
Rendi juga bernyanyi ……… ia melukiskan kesedihannya dengan cinta yang bertepuk sebelah tangan dan tak pernah mendpatkan kasih dari Dila.
Aku yang lemah tanpamu. Aku yang rentan karena..
Cinta yang g telah hilang darimu yang mampu menyanjungku.
Selama mata terbuka, sampai jantung tak berdetak
Selama itu pun aku mampu mengenangmu, darimuu. …
Kutemukan hidupku. Bagiku kau lah cinta sejati…
Bila yang tertulis untukku adalah yang terbaik untukkmu
Kan kujadikan kau kenangan yang terindah dalam hidupku.
Namun, takkan muidah bagiku meninggalkan jejak hdupmu
Yang terukir abadi sebagai kenangan terindah.

Cerpen Karangan: Resty Gessya Arianty
Blog: reffanagessya.blogspot.com
Asal sekolah SMAN 2 Garut, kelas XI-IPA 1
Makasih buat yng udh support Rerez

Ini merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya di: untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatan penulis, jangan lupa juga untuk menandai Penulis cerpen Favoritmu di Cerpenmu.com!
Cerpen ini masuk dalam kategori: Cerpen Cinta Cerpen Sedih

Baca Juga Cerpen Lainnya!



“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Ribuan penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

2 Responses to “1 Hati 2 Cinta”

  1. NN says:

    Menyentuh hati :’(
    Sampe inget mantanku

  2. Rahmawati says:

    Ke!ngat mantan lea

Leave a Reply