10 November (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 11 December 2015

Hari ini hari upacara bendera dan seperti biasanya aku terlambat, akhirnya aku dihukum berdiri di tengah lapangan sampai pelajaran pertama selesai. Astaga, bayangkan saja di terik matahari pagi walaupun menyehatkan tetapi tetap saja panas sambil menghormati bendera merah putih entah apa tujuannya. Untung semua siswa sedang belajar jadi tidak ada yang melihatku. Setelah pelajar pertama selesai aku pun kembali menuju ke kelasku dengan wajah yang dipenuhi keringat dan berjalan sangat lesu, sampai akhirnya seseorang menabrakku dari belakang.

“Astaga, apa orang ini tidak punya mata?” gumamku dalam hati. Aku sudah tidak mempunyai kekuatan untuk mempertahankan tubuhku akhirnya aku terjatuh.
“maaf saya tidak sengaja, apa kamu tidak apa-apa?” kata orang yang telah menabrakku. Aku pun mendongak ke atas dan melihat siapa orang itu.
“Rafi, iya aku tidak apa-apa.” jawabku. Setelah itu aku berusaha bangun dan memaksakan kakiku untuk terus berjalan sampai di kelas.

“jadi kapan kegiatan itu?” kata Amira salah satu sahabatku.
“Mungkin tanggal 10 November, sekaligus kita rayain ulang tahun Alisa.” Jawab Hera semangat.
Ini adalah hal yang paling aku tidak suka saat mereka membicarakan hari ulang tahunku, aku tidak pernah memberitahu mereka peristiwa di hari itu selain peristiwa kelahiranku, tapi aku tidak bisa marah kepada mereka, karena mereka tidak mengetahuinya. Tepat saat umurku 14 tahun kedua orangtuaku meninggal karena kecelakaan sejak saat itu aku tidak menyukai hari ulang tahunku dirayakan.

“bagaimana Alisa?” kata Ainun membangunkan lamunanku.
“ah.. oke..” Jawabku singkat dan melanjutkan catatan yang sempat berhenti.
“Eh.. itu ada Aidul dan Aldo, sekalian kita undang saja mereka.” jawab Hera. Aku pun langsung berhenti menulis dan melihat mereka berdua yang sedang menuju mejanya.
“Eh.. Aidul, Al kalian mau ikut acara?” teriak Hera.
“di mana?” Jawab Aldo.
“Di rumah Alisa, kalian mau kan?” jawabnya lagi.

“Apa? di rumahku? Sejak kapan aku menyetujuinya? Dan aku kira kita ke kampung Amira?” Jawabku kaget setengah mati.
“Iya, awalnya memang di sana tapi kamu tidak lihat di luar sedang gerimis kita belum tahu akan hujan atau nggak di hari itu, jadi kami ambil kesimpulan bahwa di rumah kamu, dan juga tadi kamu mengatakan oke.” jawab Hera menjelaskan.
“Astaga, okelah.” jawabku terpaksa.
“Kapan?” Jawab Aldo.
“tanggal 9, jadi kita nginap di rumah Lisa.” Jawab Ainun.
“Oke, kami juga akan memanggil Rafa..”

Setelah pulang sekolah kami singgah di tempat biasa kami nongkrong, cafe yang jaraknya dari rumahku lumayan dekat.
“Lis, dari tadi kok kamu ngelamun terus?” kata Ainun memulai pembicaraan.
“nggak apa-apa, hanya saja aku sedang memikirkan rencana kalian tadi, apalagi Rafi akan datang? Astaga, ini benar-benar membuatku stress…” jawabku sambil mengacak rambutku sendiri.
“Loh, itu kan malah bagus, kamu bisa ungkapin perasaanmu ke dia.” jawab Amira disertai anggukan dari Ainun dan Hera.

“Apa? Jangan pernah berpikir seperti itu, aku tidak akan pernah mengatakannya..” Jawabku menggeleng kepala.
“jadi kamu, akan menyimpannya sampai kapan? Ingat Lis, kita sudah kelas XII sekarang, sebentar lagi kita semua akan berpisah, kami tidak ingin kamu menyesalinya.” jawab Hera.
Aku terdiam memikirkan semua perkataan dari mereka, memang benar jika aku tidak mengatakan perasaanku mungkin aku akan menyesal, perasaan yang sudah ada sejak aku duduk di bangku kelas XI SMA. Bukannya aku tidak mau atau takut tetapi aku bukan tipe orang yang mudah menyatakaan suatu perasaan, aku lebih tenang jika tidak ada yang mengetahuinya kecuali sahabatku.

Aku telah mempersiapkan semuanya dan sebentar lagi mereka datang, “Semoga saja Rafi tidak ada.” ya, itu adalah kata yang aku ucapkan saat ini. Ketika suara bel terdengar dari arah pintu aku pun beranjak untuk membuka pintunya tapi sebelumnya aku menyemangati diriku sendiri “semangat Lis walaupun dia ada kamu harus bersikap seperti biasa..”

“Astaga, dia benar-benar datang, apa dia juga akan nginap di sini Al?” tanyaku kepada Aldo saat kami berdua ada di dapur membuatkan mereka minuman.
“Tentu saja.” jawabnya dengan tersenyum meledek.
“Hhhsss… kalian benar-benar membuatku stres, pergi sana!” jawabku mengusirnya.
“semangat Lis.. hahaha…” jawabnya sambil merangkul pundakku.

Aku pun menatap dia dengan tatapan marah dia pun langsung melepaskan rangkulannya dan mengacak rambutku lalu melangkah pergi ke ruang tamu. Aku hanya menggelengkan kepalaku dan bergumam, “Kalian benar-benar membuatku gila..” Setelah selesai membuatkan mereka minuman, aku pun membawanya ke ruang tengah, setelah itu aku duduk di dekat Aldo, mereka pun semuanya sudah sibuk cerita sedangkan aku pun sibuk sendiri memainkan handphone-ku. Sebenarnya ada sedikit yang mengganjal di hatiku, tapi itu sudah tidak lagi karena aku sudah memberitahukan semuanya kepada Aldo tadi.

Ketika jam sudah menunjukkan pukul 09.00 PM kami pun menuju ke dapur untuk membuat sesuatu yang telah direncanakan Amira, Hera dan Ainun, aku pun hanya mengikuti rencana mereka. Ketika mereka sedang serius memasak, aku pun menuju kamar kedua orangtuaku dan mengambil foto yang ada di meja, “Ayah, Ibu besok aku sudah berumur 17 tahun ya, dan juga sudah 3 tahun kalian meninggalkanku, apakah kalian tahu aku bersama siapa hari ini? Aku bersama teman-temanku di rumah ini untuk merayakan ulang tahunku.”

“Ini adalah perayaan pertama setelah kalian meninggalkanku sebenarnya aku sangat tidak menyukainya tapi aku tidak ingin mengecewakan temanku. Oya, Ayah aku lupa memberitahumu bahwa Aldo sudah pindah ke Indonesia lagi setahun yang lalu dan sekarang dia menjadi penjagaku, hehehe.. dia berkata bahwa dia telah berjanji kepada Ayah. Hmm.. oya Ibu aku pernah memberitahumu kan orang yang aku sukai? Ya, dia juga ada di sini.. Ayah, Ibu aku pergi dulu mungkin mereka telah mencariku.” kataku pada foto mereka sambil mengusap air mataku.
“Astaga, Lis kamu menangis lagi? Dasar cengeng.” kataku menertawakan diriku sendiri.

Setelah wajahku tidak dipenuhi air mata lagi aku pun ke luar dari kamar. “Halo…” kata Aldo mengagetkanku.
“Astaga, Aldo sejak kalian kamu ada di sini?” tanyaku geram.
“Hehehe.. sejak kamu berbicara denga foto, wah, kamu hebat Lis, sekarang kamu bisa berbicara dengan foto.” jawabnya mengejek. Aku hanya menatapnya geram.
“Hey, Lis.. kamu tidak gila kan?” jawab Aldo memegang kedua pundakku, aku semakin geram dengan pertanyaannya.
“Tentu saja tidak, bodoh.” jawabku lalu meninggalkannya. Walaupun dia memang menjagaku tapi terkadang dia membuatku gila. Sepertinya dia mengikutiku tapi aku mengabaikannya.

“Eh, Lis kamu dari mana kok sama Aldo?” kata Hera ketika aku sudah sampai di dapur.
“Nggak tahu tuh, Aldo ngikutin aku terus.” jawabku sambil melirik kesal ke Aldo.
“Kamu suka ya Al sama Lisa?” jawab Ainun.
Pertanyaan yang benar-benar membuatku ingin tertawa, mereka memang belum mengetahui bahwa Al itu sepupuku. Al hanya melirikku dengan kesal dan berlalu pergi.
“Dia memang aneh.” jawab Ainun sambil menggelengkan kepalanya.

Setelah cemilannya selesai kami pun menuju ruang tengah, di sana sudah ada Aldo, Rafi dan Aidul yang sedang menonton TV. Lagi-lagi aku harus duduk di samping Aldo karena hanya itu tempat yang masih kosong. “Lis, apa kamu tidak takut sendiri di rumah sebesar ini?” Kata Amira.
“Tentu saja tidak, memangnya apa yang harus ditakutkan? Ini kan rumahku sendiri.” jawabku tetap menonton TV.
“Apa kamu tidak takut sama…” Belum selesai Amira berbicara Aldo langsung memotongnya dengan teriakan yang lumayan besar.
“Lisa, apa itu?” otomatis semua sahabatku berteriak, Hera yang ada di dekat Rafi refleks lebih mendekat kepadanya.

Aldo yang pas di dekat telingaku berteriak langsung aku jitak kepalanya.
“Kamu benar-benar.. sshhh.. memangnya apa yang kamu lihat?” jawabku geram.
“sakit Alisa, nggak ada aku kira ada hantu di sana tapi ternyata hanya kucing.. hehehe…” jawabnya tanpa merasa bersalah.
“Aldo.” jawab kami serentak.

Ketika kami sedang serius nonton, Aldo berbisik kepadaku, “Lis, coba lihat ini.” katanya sambil memperlihatkan foto yang ada di handphone-nya.
“Astaga Al, kau benar-benar menyebalkan, hapus foto itu.” jawabku.
“Lucu kan? hahaha…” jawabnya lagi. Aku pun berusaha mengambil handphone-nya tapi tetap tidak bisa.

“Hey, kalian berdua kenapa?” Kata Amira yang membuatku gerakanku berhenti.
“Iya, dari tadi kalian selalu bertengkar, kalian berdua ini aneh.” sambung Hera.
“Apa kalian…” kata Aidul dengan tatapan yang mencurigakan. Aldo pun langsung memotong pembicaraannya.
“Nggak tahu Lisa dari tadi dia selalu marah kepadaku.” kata Aldo sambil melirik kepadaku.
“Al, kau benar-benar.” gumamku kesal.
“Hehehe… Ternyata rumahku panas juga ya.” jawabku berusaha mengalihkan pembicaraan. Saai itu aku memang sangat panas karena Aldo.

Ketika suasana menjadi stabil kembali, Amira mengajukan sebuah permainan yaitu permainan truth or dare, mungkin permainan ini sudah sangat terkenal di kalangan remaja. Mereka pun setuju tapi aku hanya diam sangat tidak berniat ikutan, akan tetapi Aldo menatapku dengan tatapan yang mengancam. Ya, mungkin jika saya tidak ikut dalam permainan ini dia akan memperlihatkan foto itu kepada Rafi dan yang lainnya, terpaksa aku ikut. Kami pun mulai memutar handphone dan tertuju kepada Amira.

“Kamu pilih apa?” kata Hera.
“aku pilih dare saja.” jawabnya.
“Oke, kalau begitu buatkan kami minuman.” Kata Aldo. Amira pun terpaksa menurutinya.

Setelah itu kami memutarnya kembali dan aku yang kena ini benar-benar membuatku gila, sesaat aku berpikir, “Hmm.. kalau aku pilih dare mungkin tantangannya yang macam-macam tapi kau pilih truth sama saja, hmm.. aku tidak tahu..” Gumamku.
“Aku tidak memilih apa-apa.” jawabku.
“ya, kok gitu sih. Hu.. nggak seru. Pokoknya kamu harus memilih salah satunya.” jawab Ainun.
“Okelah aku pilih truth.” jawabku terpaksa.
Aku harus siap jujur menjawab semua pertanyaan yang akan mereka ajukan, walaupun rahasia yang aku sembunyikan selama ini.

“Oke, aku ingin bertanya, menurutmu bagaimana Aldo?” Tanya Aidul.
“hahaha.. pertanyaan apa itu? Tentu saja dia itu menyebalkan.” jawabku jujur.
Aldo pun hanya menatapku dengan tatapan yang aku tidak mengerti.
“Pertanyaan kedua, ini adalah pertanyaan yang sejak tadi aku ingin ajukan.” kata Rafi. Deg, jantungku seperti ingin ke luar.

“Lisa kamu harus santai.” kataku menenangkan diriku sendiri. “Orangtua kamu mana?” Semua orang yang ada di ruangan itu kaget mendengar pertanyaan Rafi. Aku pun menjawabnya dengan hati-hati jangan sampai air mataku terlihat oleh mereka, “mereka sudah pergi jauh.” Rafi, sedikit kaget mendengarnya. “Pertanyaan ketiga, hal yang paling kamu benci di dunia ini apa?” Tanya Aldo, dia benar-benar membuatku kesal, jelas-jelas dia sudah mengetahuinya tapi kenapa dia bertanya lagi.

Baiklah Aldo akan ku jawab dengan sangat jujur, “Hal yang paling aku benci? Hmm.. anu merayakan ulang tahunku.” jawabku sedikit gugup.
“Pertanyaan selanjutnya, kenapa kamu membenci hal itu?” Tanya Hera penasaran. Ini adalah pertanyaan yang aku tidak suka, keringat dinginku pun mulai ke luar saat aku mengingat kejadian 3 tahun yang lalu, aku harus menjawab apa? Akupun menundukkan kepalaku cukup lama sampai Aidul berkata. “Lis, kamu tidak apa-apa?” Aku pun menguatkan diriku dan mengangkat kepalaku kembali, ya aku harus menjawabnya, aku pun menghela napas panjang dan menceritakan semuanya.

Bersambung

Cerpen Karangan: Yusriyah Hamsa
Facebook: Yusriyah Hamsa

Cerpen 10 November (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hadiah Kecil Untuk Surga

Oleh:
Ketika yang bernyawa telah tidur lain halnya dengan Aqilah. Malam itu dia masih berlari secepat kilat menembus hujan. Wajahnya tertutup suramnya malam, namun jika diteliti masih dapat terlihat jelas

Dibalik Sebuah Kisah

Oleh:
“Aku pamit” Tiba-tiba saja Gadis di sampingnya berbicara. membuat seorang pemuda yang akrab disapa Galang itu menoleh ke arahnya, Alisnya mengerut seakan bertanya ‘ke mana?’ “Bundaku menyuruhku untuk menyusulnya”

Keinginanku Untuk Menjadi Chef Handal

Oleh:
Ada seorang anak yang ingin sekali menjadi Chef handal yang bernama Cantika Dewi Anggraeni kerap dipanggil Tika, Ia sekarang menempuh pendidikan tinggkat SMP kelas sembilan. Ia berminat mengambil jurusan

Merindukan Keharmonisan Itu Kembali

Oleh:
Kebahagiaan adalah saat dimana kita dapat berkumpul dengan keluarga inti kita, ada Ayah, Ibu, Kakak dan Adik kita, dan dihiasi dengan cinta serta kasih sayang di dalamnya. Ya, itulah

Pertemuan Terakhir

Oleh:
Suatu hari hiduplah seorang gadis yang cantik, soleh, pandai dan kreatif bernama ulia. Dia hidup bersama ibunya yang seorang buruh pabrik dan seorang adik perempuan yang duduk di kelas

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *