10 November (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 11 December 2015

“Aku membenci hal itu karena saat aku merayakan ulang tahunku pertama kali pada umur 14 tahun, di hari itu aku…” aku menghentikannya sejenak dan menahan air mataku agar tidak jatuh di hadapan mereka, “karena di hari itu aku kehilangan orangtuaku. Meraka kecelakaan saat mereka akan pulang dan merayakan ulang tahunku..” Peristiwa yang harus aku lupakan telah ku ceritakan semuanya, aku pun berhasil tidak menjatuhkan air mataku di depan mereka. Semua kaget mendengarnya kecuali Aldo karena dia telah mengetahuinya. Pada saat peristiwa itu Aldo selalu ada untuk menenangkanku, sampai saat ini pun dia terkadang menenangkanku.

Suasana pun menjadi hening. Aku pun segera mencairkannya kembali, “Heey kalian, tidak usah terlalu dipikirkan, apa sudah tidak ada lagi pertanyaan?” kataku sambil senyam-senyum.
“Ye, sudah tidak ada.” jawabku, aku pun mulai memutarnya kembali.
“Yes, kau Aldo, apa yang kamu pilih?” jawabku semangat. Suasana pun mulai mencair kembali.
“Aku pilih truth.” jawabnya.

“Oke aku punya pertanyaan, kamu harus menjawab dengan jujur Aldo.” ketika aku akan berbicara, Ainun langsung berkata, “tunggu dulu, kalian berdua benar-benar aneh, aku akan bertanya terlebih dahulu. Bagaimana perasaanmu kepada Alisa?” Jawabnya.
“sebelum aku menjawabnya, apakah kamu menyukaiku? Kenapa kamu sangat memperhatikanku dengan Lisa?” Jawab Aldo kegeeran. Wajah Ainun langsung merah dan salah tingkah.
“Hey Aldo bukan waktunya untuk bertanya kamu hanya harus menjawabnya dengan jujur..” Aldo pun mengalah.

“Baik tuan putri. Perasaanku kepada Alisa? Hmm.. bahagia ketika dia ada di sampingku, kemudian rindu dengannya yang dulu dan aku menyayanginya.” sebuah pengakuan yang selama ini dia pendam, aku hanya biasa saja dengan pengakuannya tapi tidak dengan yang lain termasuk Ainun.
“Wow, apa itu sebuah pengakuan cinta?” jawab Aidul.
“Tentu saja bukan.” jawabnya cuek.

“Oke, pertanyaan ketiga, rindu dengannya yang dulu? Berarti kalian sudah lama saling mengenal?” Aldo pun hanya mengangguk.
“Pertanyaan selanjutnya, jadi kamu menyukai Lisa?” Tanya Rafi.
“Tidak, aku tidak menyukainya tapi aku menyayanginya..”
“Apa bedanya dengan suka dan sayang?” gumamku berbisik, tapi didengar oleh Aldo, dia hanya menatapku.
“Al, jawabanmu benar-benar membuatku gila, sekarang aku akan bertanya, kenapa kamu melakukan hal itu?” tanyaku dan sepertinya dia mengerti maksud pertanyaanku.

“ekhem.. itu karena aku kasihan kepadamu, dan juga aku rindu denganmu yang dulu.” jawaban yang membuatku tertunduk dan Al pun melanjutkannya.
“aku rindu senyummu yang dulu, aku rindu penampilanmu dulu, aku rindu tingkah konyolmu yang dulu dan aku rindu….” Aku menghentikannya.
“Cukup, kau membuat air mataku hampir terjatuh Aldo.” jawabku menatapnya.
“Benar Ainun, mereka benar-benar aneh.” kata Aidul menyadarkanku kalau di sini banyak orang dan disertai anggukan dari Ainun, Rafi, Hera, dan Mira.

“Pertanyaan selanjutnya, sudah berapa lama kalian saling mengenal?” Tanya Hera.
“Hmm…. mungkin sudah 11 tahun..”
“Wow, kalian berdua benar-benar sudah saling mengenal, berarti Aldo sudah mengetahui peristiwa 3 tahun yang lalu?” Tanya Hera lagi. Aldo pun hanya mengangguk.

Kami sudah bermain cukup lama sampai akhirnya Rafi memilih dare, dan Aidul yang memberikan dia tantangan, “Hmm.. kamu harus menyatakan perasaanmu pada orang yang kau suka sekarang kalau dia ada di sini kamu bicara langsung, tapi kalau tidak ada kamu telepon dia dan katakan perasaanmu sekarang..”
“Wow, tantangan yang benar-benar luar biasa, kita lihat apakah dia akan menyatakannya di sini atau dia akan menelepon.” jawab Ainun.

Sebelum dia melakukan tantangan itu aku mengirimi Aldo BBM, “Hey Al, mungkin kali ini prediksiku benar, dia akan mengatakannya kepada Hera.” kataku lewat BBM, tak lama kemudian dia membalasnya, “Oke, kita lihat saja. Tapi menurutku dia akan menelepon. Tapi jika kau benar, apa yang akan kamu lakukan?”
“Tentu saja aku akan melepaskannya, mereka kan sama-sama suka.”
“Aku tahu kamu bukan tipe orang yang mudah melupakan. Kamu memang kasihan Alisa..” Aku pun menatap Al dengan wajah yang sangat kesal mengapa tidak? Dia selalu mengatakan kalau aku kasihan.

Tiba-tiba Rafi memanggil Hera, “Hera, aku menyukaimu.” kata yang singkat tapi sangat menusuk di hatiku, aku tahu akan seperti ini sakitnya, aku haru menerimanya karena aku yang memilih jalan ini. Seketika itu Aldo dan ketiga sahabatku itu menatapku dengan tatapan kasihan, lagi-lagi kasihan. “Aku memang menyedihkan.” kataku sambil berbisik dan menggaruk kepalaku yang tidak gatal tapi tetap terdengar oleh mereka, “maksudmu?” jawab Rafi dan Aidul serentak.

“Ah, tidak ada apa-apa.. yes.. aku menang Aldo.” jawabku bangga. Kita beralih kepada Rafi.
“kamu tidak perlu menjawabnya.” kata Rafi lagi kepada Hera. Kami pun melanjutkan permainannya lagi dan kali ini Hera memilih truth.
“mungkin di sini hanya ada satu pertanyaan yang akan kami tanyakan kepadamu Hera.” kata Aidul.
“Ya, benar.” jawab Amira.
“Apakah kamu juga menyukai Rafi?” pertanyaan yang spontan membuat sahabatku ini merah, dia pun menatapku tapi aku berpura-pura memainkan handphone-ku.

Dddrrtt… BM dari Aldo, “jangan menangis tuan putri. Menurutmu apakah dia akan jujur atau tidak?”
“Tentu saja dia akan jujur.” jawabku
“Tapi sepertinya dia kasihan padamu…”
“Apa kamu tahu aku tidak ingin dikatakan kasihan.”
“Oke, kita lihat saja Hera.” jawabnya lagi dan menatapku dengan tatapan yang menang.

Hera masih belum menjawab aku pun mengiriminya BM, “Hey, jangan menatapku seperti itu, tatapan kasihan. Kamu tidak usah ragu jawab saja dengan jujur aku tahu kalau kau juga menyukainya.. kamu tidak usah memikirkanku. Oke.” pesan yang sangat berarti buatku dan juga buat Hera.
Aku tidak ingin membuatnya berkorban demi aku, jujur itu adalah salah satu hal yang aku benci. Hera pun menatapku dan aku tersenyum kepadanya dan memberinya semangat. Dia pun menjawabnya “Ya, aku juga menyukainya..”

Dan mulai saat ini aku harus melupakannya walaupun aku tahu itu bukan hal yang sangat mudah untukku. Ddrrtt.. “sabar tuan putri, jangan menangis masih ada aku.. kamu benar-benar pintar memprediksi.” bbm dari Al yang membuatku sedikit tersenyum. Dan tepat pukul 01.00 AM, 10 November mereka resmi berpacaran dan perasaan ini pun harus dilupakan. Kami pun melanjutkan permainannya dan kini giliranku, aku pun masih memilih truth dan yang paling pertama bertanya adalah Aldo.

“siapa yang kamu suka?”
“Benar, tinggal kamu yang belum mengatakan siapa orang yang kamu suka. Aku, Hera, Amira, Ainun, Aldo dan Aidul sudah mengatakannya.” sambung Rafi penasaran.
Aku pun mulai berkeringat lagi, “Al, kau benar-benar membuatku gila.” dengan kesal aku melemparinya bantal yang sejak tadi ada di pangkuanku. Mereka hanya tersenyum melihatku karena mereka sudah mengetahuinya kalau aku baik-baik saja, walaupun hati ini sebenarnya masih sangat sakit.

“Hey, apa salahku? Aku hanya bertanya Alisa…”
“Pertanyaanmu benar-benar akan membuatku gila.” jawabku masih kesal.
“Tapi kamu hanya perlu menjawabnya Alisa.” Tanya Rafi makin penasaran.
“Oke, aku akan menjawabnya dengan jujur, tapi kalian semua jangan keget. Aku menyukai kamu.” kataku sambil menunjuk ke arah Rafi.
“Aku?” jawabnya kaget. “Iya, kamu…” jawabku santai. Rafi pun melirik Hera.
“Aku tidak apa-apa Rafi.” jawab Hera santai.

“Kau benar-benar membuatku gila Aldo, aku menyesal menanyakannya.” kata Rafi geram.
“Hey.. kenapa kalian semua menyalahkan aku?” jawab Aldo membela diri.
“Hahaha…” Aku hanya bisa tertawa melihat mereka. Drrtt..
“Tawa yang belum sempurna.” kata Aldo lewat BBM. Aku hanya menjawabnya dengan emotion, “:p..”

Waktu sudah menunjukkan pukul 04.00 AM. Mereka semua sudah tertidur tapi tidak dengan aku. Aku berada di taman depan rumahku dan mengingat kejadian tadi, tangisku pun mulai meledak, tangis yang sejak tadi aku tahan. “Ibu, Ayah hiks.. hikss.. aku rindu kalian. Apa kalian tahu kata-kata yang sering Ibu ucapkan untukku agar berhati-hati dalam menyukai seseorang.. maaf bu, aku tidak mendengarmu.. hkhk….”

“Akhirnya kamu menangis juga.” kata seseorang yang ada di belakangku dan itu pastinya Aldo.
“Pergi kau, itu semua gara-gara kamu.” jawabku kepada Al ketika dia akan duduk di sampingku.
“ketika kamu mengatakan seperti itu, aku mendengar yang lain bahwa kau tidak ingin sendiri.” jawabnya lagi.
“Kau.. hiks.. hiks…” Al memotong pembicaraanku.
“sudah, kau menangis saja, sudah lama aku tidak mendengar tangisanmu.” aku menangis sejadi-jadinya sedangkan Aldo hanya menjadi pendengar setiaku.

“maaf, waktu itu aku meninggalkanmu.” ucap Aldo memulai pembicaraan. Aku pun hanya menatapnya dengan mata yang masih dipenuhi air mata, aku pun hanya tersenyum kecut mendengar permintaan maafnya.
“kamu tidak perlu meminta maaf, kamu tidak punya kesalahan apa-apa.” kataku kepadanya sambil mengusap air mataku, akupun kembali berkata.
“makasih karena pertanyaan konyolmu tadi, semua yang aku ingin keluarkan selama ini telah aku keluarkan. Pergi sana tidur sudah hampir pagi, aku lihat juga kamu sudah sangat ngantuk..”

Aldo pun menuruti perintahku ketika dia sudah berjalan aku menghentikannya, “dan terima kasih…” aku menghentikan perkataanku dan mendekatinya lalu memeluknya.
“karena kamu kembali, kau memang sepupu terbaikku.” lanjutku mempererat pelukanku dia pun membalas pelukanku dan berkata.
“sudah, aku bosan mendengarmu berterima kasih..” Setelah itu dia pun masuk ke rumah. Aku baru masuk ke dalam rumah setelah pukul 05.30 AM dan tertidur di sofa ruang tamu.

Ketika aku terbangun, aku kaget dengan keadaan rumahku, semuanya sangat rapi dan dihiasi balon yang berwarna-warni persis dengan 3 tahun yang lalu, “aku merindukan kalian.” gumamku dalam hati.

“kamu sudah bangun Alisa? Wah, tidur kamu sangat nyenyak.” kata Hera menghampiriku.
“kamu belum pulang? sekarang sudah jam berapa?” tanyaku heran.
“Tenang ini baru jam 4 sore.” jawab Hera lagi.
“jangan bilang kamu mau nginap di sini?” tanyaku was-was.
“Hmm… Tenang Alisa, aku tidak nginap di sini tapi kami.” jawab Hera lagi.
Seketika itu juga Amira, Ainun. Rafi, Aldo dan Aidul datang dari dapur.

“wah… Kamu baru bangun tuan putri? Sudah jam berapa ini?” kata Aldo menghampiriku dan duduk di sampingku.
“kau…” jawabku terharu lalu memeluknya lagi di depan teman-temanku.
“kau benar-benar membuatku gila, hiks.. hiks.. hiks.” jawabku menangis.
“hey, kau menangis lagi ayolah Alisa hari ini sweet seventeenmu, jadi kamu harus bahagia.” jawabnya sambil mengusap rambutku.

“Ekhem….” Suara yang mengembalikkan kesadaranku, aku pun langsung menghapus air mataku dan melepas pelukanku dari Aldo.
“haisshh.. apa yang kamu pikirkan Alisa, kenapa kau sampai memeluknya?” gumamku marah pada diriku sendiri.
“kalian berdua memang aneh, apakah kalian ini berpacaran?” Tanya Aidul menyelidik.
“tentu saja, tidak.” jawab kami serentak.

“Lalu apa artinya tadi? Berpelukan?” Tanya Ainun lagi. Aku akan menjawabnya tapi Aldo mendahuluiku dia pun berdiri dan menyuruhku berdiri juga.
“oya, aku lupa kenalkan dia pada kalian, teman-teman kenalkan ini sepupuku Alisa Amanda.” mereka pun semua ternganga mendengar pengakuan Aldo.
“hahaha… Jadi tenang saja Ainun, aku tidak akan menjadi sainganmu.” kataku kepada Ainun. Wajahnya pun langsung merah padam.
“Pantas saja kalian sangat dekat.” kata Hera. Aku hanya tersenyum.

10 November sebenarnya menjadi tanggal bersejarah buatku semua hal yang membahagiakan, menyedihkan dan melegakan semuanya terjadi di tanggal itu, tepat saat umurku 17 tahun aku memulai kehidupanku tanpa beban di dalam hati, rumahku yang dulunya aku tinggali sendiri sekarang sudah cukup ramai karena keluarga Aldo tinggal di sana. Aku pun kembali pada diriku yang dulu.

“Kita tidak akan mengerti arti kebahagiaan ketika kita belum merasakan kesedihan.”

TAMAT

Cerpen Karangan: Yusriyah Hamsa
Facebook: Yusriyah Hamsa

Cerpen 10 November (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mata Sebening Kristal

Oleh:
Siang hari tanpa sinarnya, tanpa panasnya, dan tanpa teriknya. Matahari sudah tertutup oleh awan yang membawakan rintik-rintik hujan. Ku lihat dari jendela kamarku sekelompok lelaki yang kira-kira berumur sepertiku,

Hujan dan Kamu

Oleh:
Aku mulai menghitung dari hari ini, menghitung hari untuk sebuah perpisahan, perpisahan karena tak ada lagi pertemuan untuk waktu yang cukup lama. Memang, hari itu masih jauh, tapi aku

Moon In The Sun

Oleh:
Karena bulan dan matahari saling melengkapi meski tidak bersama Hari ini, keadaan cukup mendukung untuk melakukan aktivitas. Banyak orang yang berlalu lalang kian kemari seakan tidak ada hari esok

Buku Diary Pengantar Cinta

Oleh:
Namaku Sela. Aku menyukai sahabatku sediri yang bernama Dion. Aku sayang dia sangat sayang tapi dari raut wajahnya Dion tidak menyukaiku, dia hanya menganggapku sebagai sahabat saja. Aku tak

Ketika Bang Dennis Jatuh Cinta

Oleh:
Di bawah rintik hujan yang saat ini mengguyur kotaku, aku berdoa, berharap semua kembali indah seperti sedia kala. “de… di mana loe? Bantuin gue” teriak bang dennis Aku pun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *