10 Tahun Lalu (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 17 March 2016

Hari itu senin, hari pertamaku memakai seragam putih biru, aku berdiri cukup lama di depan cermin, aku tersenyum bangga setelah 6 tahun memakai seragam merah putih akhirnya berganti juga.

“Vany sarapan dulu…” Teriak mama. Aku segera berlari menuju meja makan, belum sempat ku habiskan makananku Ania sudah memanggilku. “Aku berangkat dulu ya Ma.” teriakku sambil menyambar tas sekolahku dan segera berlari menyusul Ania dengan sepedaku. Sesampai di sekolah. Ania seperti biasa ketika SD dulu hal pertama yang dia kunjungi adalah kantin. Aku hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Aku mulai mencari cari kelas 7A, kelasku..maklum sekolah ini cukup luas. Dan sedikit sulit mencari kelas baruku. Seorang lelaki bertubuh jangkung juga sepertinya sedang mencari kelas barunya, dia terlihat kebingungan.

“Hei anak baru juga ya?” tanyaku sok tahu sambil tersenyum manis. Dia hanya mengeryitkan dahinya dan menatapku acuh tak acuh, lalu pergi. “Belagu banget.” gumamku pelan.. Tapi entah kenapa wajah manisnya kerap terbayang di kornea mataku. Ahh ini pasti hanya kamuflase, dia kan wajahnya jutek. Cowok jangkung dan jutek. Di kelas. Mataku mencari sosok jangkung itu, tapi malah menemukan sosok gendut yang sedang tersenyum tebar pesona ke arahku. Aku segera memalingkan wajahku. Hari pertamaku sekolah, semua berjalaan lancar dan aku merasa nyaman dengan kelas baru dan juga teman-teman baruku.

Hari terus berganti, aku masih penasaran dengan laki-laki bertubuh jangkung yang dulu jutek banget. Nah, hari itu entah hari keberuntunganku atau justru hari tersialku, di kantin aku bertemu dengan cowok itu. Aku tersenyum manis, dia tetap mengacuhkanku. Aku menatap name tag di bajunya. “Oh jadi namanya Vito Savetyan.” gumamku pelan. Dia seperti mengacuhkan keberadaanku yang sengaja pesan makanan dan duduk di dekatnya. Ada hasrat ingin mengenalnya lebih di dadaku. Dia seolah tidak melihatku, tangannya dengan kasar menabrak es jeruk di genggaman tanganku sampai tumpah berhamburan di bajuku. Tanpa kata maaf dia hanya menatapku dan berlalu. Aku masih terpaku di sini. Mataku terus menatapnya hingga dia menghilang di sudut kelas itu, seorang cowok bermata sipit menghampiriku.

” Maaf ya de, temen kakak emang suka begitu, orangnya terlalu cuek.” katanya sambil memberiku beberapa lembar tissu. “Eh enggak apa-apa kak..” Jawabku tergagap.
“Kamu kelas berapa?” tanyanya yang ku ketahui bernama Kevin.
“Kelas 7A kak, emang Kak Vito tadi kenapa sih kok jutek banget?” tanyaku sok kenal.
“Kamu kenal sama Vito?” Kevin balik bertanya.
“Enggak..” Aku nyengir. Kevin menelan ludah dan melihatku tajam.

“Nama kamu siapa?” tanyanya lagi.
“Vani kak, nih.” kataku sambil memperlihatkan name tagku.
“Ohh, Jesslyn Vannia.” gumam Kevin pelan.
“Emang kak Vito kelas berapa sih kak?”
“Kamu suka sama dia?”
“Eh eng-enggak kok, nanya aja.” jawabku tergagap. Dan entah kok rasanya kepo ya.
“Kelas 9A, main aja ke kelas kalau mau ketemu dia..” Ujarnya sambil ngeloyor pergi dan aku hanya bengong.

Sejak kejadian di kantin itu aku seringkali lewat depan kelas 9A, entah itu ketika jam istirahat, pulang sekolah, berangkat sekolah, aku hanya ingin melihat kakak jangkung itu, yang sempat ku pergoki sedang tersenyum manis tapi bukan padaku. Melainkan seorang gadis berkerudung yang menyapanya. “Pagi Vito…” Oh Tuhan, jantungku serasa mau lepas dari rongga dada. Inikah yang orang-orang katakan jatuh cinta? Aku seringkali mencari perhatiannya entah di kantin, sampai aku ikut semua ekskul yang melibatkan dia hanya untuk bisa melihat mata sayu dan senyum manisnya.

Oh.. jatuh cinta ternyata sebegini rasanya, aneh sekali. Ada kebahagiaan yang tidak dapat ku ungkapkan dengan kata-kata saat dia tersenyum meski bukan padaku. Entahlah, sudah hampir setahun ini aku mengaguminya dan entahlah apa dia menyadari atau tidak. Tahun ajaran ini hampir berakhir, itu tandanya aku akan kehilangan sesuatu yang besar di sekolah ini, yaitu Vito. Tahun ini dia lulus, ada kesedihan yang mendalam di hatiku, aku tidak lagi dapat melihat senyum manis dan tatapan sayunya.

Di kantin aku duduk di pojokan sambil mengaduk semangkuk bakso yang belum ku makan sama sekali. Mataku menerawang jauh menembus jendela kaca kantin. Hujan rintik-rintik. Siang itu… Aku sedang meratapi nasibku jika suatu hari kakak kelas tertampanku Vito, lulus. Ah.. tidak semangat rasanya membayangkan hal itu. Suara berisik di kantin memaksaku mengalihkan pandangan dari rintik hujan ke arah sumber suara, dan…

“Boleh duduk di sini..” Suara lmbut itu pertama kalinya terdengar dari bibir manis lelaki yang ku kagumi setengah mati, terlebih dia tersenyum manis padaku, iyaaaa padaku!! Aku seperti terhipnotis dan mengangguk pelan dengan senyuman termanis sepanjang masa. Tapii tunggu dulu? Ada 2 mangkuk bakso di depannya, belum sempat aku menerka untuk siapa gadis manis berkerudung yang tempo hari disenyumi Vito duduk persis di hadapann Vito. Tidaaakk rasanya dunia hendak runtuh. Tak kuat hatiku melihatnya, aku segera berlari dan si kakak jangkung itu tetap mengabaikanku.

Hari ini pelepasan Kakak kelas 3 yang sudah lulus aku menatap lekat-lekat sosok jangkung nan tampan di kejauhan. Tidak ada sepatah kata pun ke luar dari bibirku meski hanya ingin mengucapkan sampai jumpa. Tak sanggup rasanya menahan rasa ini, sesak sangat. Aku duduk di bawah pohon mahoni nan rimbun, tepat di depan Kelas 9A. Sesosok lelaki bertubuh jangkung mendekatiku, aku bersiap bangkit. Batinku meracau pasti dia mau menemui gadis berkerudung yang tempo hari di kantin itu. Namun aku salah, tangannya meraih tanganku dengan cepat.

“Vany..” Panggilnya, aku menoleh, wajahku bersemu merah seperti udang panggang.
“Aku mau ngomong sama kamu.” katanya pelan, mata sayunya seakan merobek robek isi dadaku.
“Ngomong apa kak?” Aku gelagapan, jangan-jangan dia mau nembak aku, aku mulai menerka-nerka dan merapikan rambutku yang tertiup angin.
“Kamu kok aku lihat sering banget perhatiin aku terus kenapa?” Tanya tiba-tiba.
“Ehh enggak kok, biasa aja.”
“Ayo ngaku..” Desaknya.

“Kamu suka ya sama aku? Hahaha, dasar anak kecil aku gak suka diperhatiin gitu risih tahu..” Katanya lagi di luar ekspektasiku, sambil tertawa cekikikan melihatku yang bengong. Masih tertawa terbahak bahak dia berlalu.
“Ini keterlaluan, suatu hari akan ku balas..” Umpatku kesal dan menangis menahan malu.

Bersambung

Cerpen Karangan: Stevanie Nathanael

Cerpen 10 Tahun Lalu (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Latihan Drama

Oleh:
“Hey nanti kumpul ya untuk latihan drama?” kataku. “kenapa tidak besok saja? Sekarang gue mau pergi bersama saudara!” tanya Ernest. “Iya, sekarang gue juga sibuk” kata Gunawan dengan ikut

Life Isn’t an Imagination

Oleh:
01.30 pm Gadis itu, termenung seorang diri. Menelungkup di atas kedua tangannya pada meja kuliahan yang tengah ia duduki. Ia tak sendiri. Ia ada di antara teman-teman kelasnya yang

Spesial Di Hati

Oleh:
Aku Adinda Putri, biasa dipanggil Dinda. Aku berusia 17 tahun dan masih sekolah di SMAN 1 Jakarta Timur. Hari-hariku selalu penuh canda tawa karena kehadiran sahabat-sahabatku. Waktu itu aku

I Heart You

Oleh:
Seusai kuliah, Salsa mengecek ponselnya yang sedari tadi ditaruhnya di dalam tas. Ada tiga panggilan tak terjawab dan sebelas pesan masuk. Semua dari Dani, kekasihnya. Sa, pulang kuliah jam

Dia

Oleh:
Sudah lama dia tak pulang, sekalinya pulang, hanya satu hari, setelah itu pergi lagi. Dia biasanya duduk di padang rumput di sana, dan aku setiap hari selalu ada di

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *