180 Derajat

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 26 April 2017

Pagi yang cerah mengiringi hari ini, sinar mentari dengan hangat dan penuh kelembutan meresap dalam tubuhku.
Pagi itu. Ku berdiri di depan cermin. Mengambil sisir untuk menyisir rambutku, biar aku terlihat sedikit berkesan. Usai hal itu, aku mengambil tasku yang kuletakkan sebelumnya di kamar tidurku. Melangkah menghampiri kedua orangtuaku untuk berpamitan, lalu pergi.

Di sekolah pada saat jam istirahat. Aku dan teman-temanku pergi ramai-ramai ke kantin. Di antaranya, aku (Azka), Fuadi, Nasrul, Reza, Sein, Ilham dan Voi. Sesampainya di kantin, terlihat suasana ricuh sekali, akibat murid-murid yang saling dorong mendorong untuk berebutan mendapat makanan lebih dulu.

Kami berjalan memasuki kantin dan menghampiri meja paling depan. Kami duduk, lalu beberapa orang dari kami bubar lagi dan menghampiri pelayan kantin tersebut untuk memesan makanan. Kini hanya aku dan Ilham yang tinggal di meja itu. Terdengar dari pojok sana suara Reza yang mengatakan “Woy, kalian di situ aja dulu, kalo kalian nanti bubar, nanti tempat kita ditempati oleh orang lain.”

Kami berdua mengikut saja apa yang di katakan oleh Reza. Tak lama kemudian, mereka datang membawa makanan mereka-masing ke meja yang kami tempati. Kemudian, aku dan Ilham pergi memesan makanan ke pelayan kantin tersebut.

Setelah semuanya sudah berkumpul. Kami segera menyantap makanan yang ada di depan kami. Aku dan Fuadi duduk di sebelah belakang sisi meja, Nasrul dan Ilham duduk di sebelah kiri sisi meja, Sein dan Reza duduk di sebelah sisi kanan meja, tepatnya bersandar dengan dinding, dan Voi seorang diri duduk di sebelah depan sisi meja.

Saat berlangsung makan. Terdengar suara Reza, Nasrul, Sein, Ilham, sesekali Voi, menciptakan humoris untuk menciptakan suasana tawa. Aku hanya diam, menyaksikan humoris yang diciptakan oleh Reza, tanpa ikut berpartisipasi apa yang mereka lakukan.

Saat tengah asyik bercanda. Tiba-tiba ada kakak senior kami dengan badan agak sedikit gemuk, yang berbicara dengan lembut dari meja makan mereka, tepatnya di belakang kami.

“Dek, kamu ganteng. Siapa namamu?”
Kami hanya diam tanpa memperdulikan orang itu, belum lagi kami tidak tau kepada siapa ia lontarkan pertanyaan itu.
“Dek, kamu yang tinggi. Siapa namamu?” ucapnya sembari menunjuk Nasrul.
“Namaku Nasrul kak.” jawab Nasrul singkat.
“Kamu dek, kok tinggi bangat? Gimana caranya, kakak juga mau dong setinggi kamu?” ucapnya lagi.
Mendengar itu, kami semua tertawa, terkecuali Nasrul. Para senior itu pun demikian.

Tiba-tiba Nasrul berbisik di telinga Ilham. Karena mereka duduknya berdekatan.
“Nih orang ngehina atau muji?”
“Entahlah” jawab Ilham singkat dengan berbisik.

Kemudian kakak senior itu diam dan sekarang kakak senior yang lain berbicara, yang badannya ideal, dan agak sedikit cantik.
“Kamu dek. Yang pakai kacamata siapa namamu?”
“Voi kak.” jawab Voi.
“Alamatmu di mana?”
“Jalan Semangka blok A nomor 18.”
Setelah Voi jawab pertanyaan kakak senior itu. Terdengar suara dari pembicaraan senior itu.
“Lumayan.” kata kakak senior itu kepada temannya.

Saat tengah makan. Reza beranjak dari tempat makannya pergi menuju kulkas untuk mengambil sebuah teh botol sosro.
“He dek. Kamu yang jalan siapa namamu?” kata senior yang pertama tadi ngomong.
“Reza kak!” jawab Reza ketika dia sampai di kulkas.
Setelah Reza datang dengan teh botol sosronya. Kakak senior itu kembali berbicara.
“Dek, kamu itu manis bangat dek. Kamu itu mirip bangat dengan orang Cina, matamu itu lho dek, sipit bingitttzzz.” kata kakak tadi sambil tertawa dengan teman-temannya.
Kami pun melakukan hal yang sama terhadap Reza. Yaitu, menertawakan dia dengan para senior itu.
“Apalah kalian ini, tertawa mulu kerjaanya?” ucap Reza tegas.

Walaupun dia agak tegas ngomongnya. Tapi itu tidak akan merubah sikap kami padanya, bukannya kami diam, kami justru tertawa lebih keras. Gitulah nasib orang Humoris, walaupun ia sedang marah tetapi ia tetap kelihatan lucu, itulah yang dialami Reza sekarang.

Usai makan. Kami duduk di sebuah bangku yang bentuknya memanjang. Aku duduk paling sudut, kemudian Fuadi, Nasrul, Voi, Sein, Ilham dan di akhiri dengan Reza.
“He, itu anak ganteng banget.” kata senior tadi yang badannya ideal dan agak sedikit cantik.
Kalimat itu jelas sekali terdengar. Kemudian, untuk yang kedua kalinya, dia ngomong agak pelan, sehingga aku tidak mendengarnya lagi. Mungkin seperti Reza, Ilham dan Sein, mereka mendengar apa yang kakak senior itu bicarakan. Karena merekalah yang paling dekat duduknya dengan kakak senior itu.
“Emang siapa yang duduk paling sudut?” tanya Ilham.
“Azka!!” ucap Sein memanggil ku.
“Ya.” jawabku.
“Itu anaknya, duduk di samping anak yang lagi minum itu.” kata kakak senior itu sambil menunjuk Fuadi, yang kebetulan saat itu dia lagi minum teh ichi-ochanya yang baru saja dia ambil.

Kemudian para senior itu datang menghampiriku.
“He dek. Kapan kau di sini?” kata kakak senior yang berpenampilan cantik dan hidungnya mancung.
“Dari tadi kak.”
“Oh, perkenalkan kakak Vina, yang agak gemuk ini Caca, yang ini (menunjuk kakak senior yang badannya ideal dan agak cantik) Olla dan ini yang pendiam namanya Karen.” ujarnya panjang lebar.
Semua temanku tampak heran melihat perlakuan kakak senior itu padaku. Kini aku sudah mengenal mereka, kakak senior yang tadi menanya Nasrul namanya Caca dan yang menanya Voi namanya Olla dan yang satunya lagi namanya Karen.

“He dek. Dia tadi di mana duduknya. Kok orang kakak gak lihat?” tanya kak Vina.
“Dia duduk di dekat Fuadi kak, yang kebetulan duduknya itu membelakangi orang kakak, makanya orang kakak tadi gak melihatnya.” ucap Ilham menjelaskan.
“Cieeee… Azka… Idaman para cewek.” ucap Fuadi memuji ku.
“Tapi, kan seenggaknya dia berbicara biar kita mengenal dia, ini malah diam mulu, seperti ini nih.” ucap kak Caca sambil menunjuk temannya yang bernama Karen.
“Apa-apaan sih.” balas kak Karen.
“Dek, kamu ganteng bangat lho dek.” ucap kak Vina.
“Iya dek. Dek kamu ini kok diam mulu?” tanya kak Olla kepada ku.
“Dia itu emang pendiam orangnya kak dan pemalu. Kalau kita lagi ngumpul dia itu diam saja, tanpa ikut berpartisipasi dalam pembicaraan kita.” jawab Nasrul.
“Emang betul dek?” tanya kak Vina.
“Iya kak.” jawab ku singkat.
Tiba-tiba bel sekolah berbunyi. Pertanda jam istirahat sudah habis.

“Dek, kakak pergi dulu ya!” ucap kak Vina sambil mencubit pipi ku begitu juga dengan ketiga temannya. Tetapi dengan teman-teman ku mereka hanya melambaikan tangan.
“Cie… Idaman para cewek.” ucap Sein.
“Azka. Enak juga ya jadi kamu.” balas Nasrul.
“Jadi cemburu nih jadinya.” kini Fuadi berbicara.
“Kalian ini apa-apaan sih. Udah ah aku mau masuk kelas.” ucap ku sambil membayar makanan yang ku makan tadi lalu pergi meninggalkan mereka.

Malam itu, saat aku lagi asyik main sama hp ku. Ku buka aplikasi BBM, kulihat beberapa undangan telah masuk ke daftar kontakku. Satu per satu kuterima undangan itu tanpa ada yang terabaikan. Setelah itu, tiba-tiba ada kontak bernama VINA KUSUMA PUTRI mengirim PING!!! padaku sebanyak tiga kali. Aku tidak membalasnya, justru malah mengabaikannya. Gitulah aku, kalau ada seseorang yang mengirim pesan padaku, kalau tidak begitu penting bagiku untuk dibicarakan, aku tidak akan membalas pesan itu, sekalipun itu teman dekat aku.
Kututup aplikasi BBM dengan diakhiri kata “Off dulu. Kalau ada yang perlu silahkan hubungi 081254xxxxxx!” Tak lama setelah itu, ada panggilan masuk ke dalam hpku.
Aku tidak menerima panggilan itu. Di lihat dari nomornya saja, aku tidak mengenalnya. Mungkin, itu hanya orang yang iseng saja. pikirku.
Setelah beberapa kali orang itu menelpon dan aku tidak mengangkat nya. Tiba-tiba orang itu mengirim SMS.

Di dalam SMS.
“Assalamu Alaikum dek! Kamu ini maunya apa sih dek? Walaupun kamu ganteng tapi jangan terlalu sombong dong dek. Apa gunanya ganteng tapi berwatak sombong. Kakak PING!!! kamu dari BBM kamu tidak balas PING!!! kakak. Kakak pikir kamu sedang off. Terus kakak lihat kamu sedang on, dengan kata terakhirmu “Off dulu. Kalau ada yang perlu silahkan hubungi 081254xxxxxx!” Setelah melihat itu, kakak segera menelepon kamu, tetapi kamu juga tidak menerima panggilan kakak. Kakak heran dek, kenapa teman-teman kamu pada betah bangat temanan sama orang sombong kaya kamu. Maaf dek, kalau kakak sudah mengganggu waktumu.
WASALAM.

Seketika nafasku berhenti saat itu. Kuletakkan hp ku di atas kasur lalu termenung. Aku sangat menyesal atas apa yang telah terjadi. Kenapa aku begitu sombong, sedangkan aku tidak menyadarinya?. Kenapa aku menyia-nyiakan orang yang perhatian padaku, sedangkan aku tidak pernah merasakan itu? Pertanyaan itu muncul dalam benakku disertai rasa penyesalan.

Ku bangkit dari renunganku. Mengambil hp yang kuletakkan tadi di atas kasur, lalu menghubungi kak Vina. Dan Alhamdulillah kak Vina masih mau menerima panggilanku.
Kak Vina: “Iya, ada apa dek?”
Aku: “Kak, maaf ya kalau aku sudah terlalu sombong buat kakak!”
Kak Vina: “Gapapa kok dek.”
Aku: “Aduh, aku gak enak bangat sama kakak, sekali lagi aku minta maaf ya kak.”
Kak Vina: (memutuskan pembicaraan).
Di dalam pembicaraan itu. Terdengar jelas bahwa kak Vina sangat marah sekali padaku. Aku pun makin gak tenang, aku berniat ingin pergi ke rumahnya, tapi aku tidak tau alamatnya. Hingga akhirnya, aku menghubungi kak Caca melalui via BBM dan meminta alamat kak Vina.

Setelah dapat alamat kak Vina. Ku buka pintu kamar. Lalu mengambil jaket berwarna biru di gantungan bajuku. Tanpa basa basi, aku segera keluar dari rumah.
Ku berjalan menuju motorku, ketika aku ingin menghidupkan mesin motorku untuk Otw ke rumah kak Vina. Tiba-tiba ibu berbicara dari teras rumah, yang dari tadi duduk bersama ayah membaca koran.
“Nak, mau ke mana? Ini udah jam 9 malam lho.”
“Ini cuma bentar ko bu.” jawab ku sambil menancap gas pada motorku.

Di perjalanan aku merasa ada hal yang gak beres pada diriku. Kok aku berani ya nyamperin cewek malam-malam ke rumahnya? Yang sebelumnya aku tidak pernah melakukan nya. Dan yang paling parah, aku ini juga malu ngomong sama cewek kalo berduaan. Dulu, aku tidak pernah melakukan hal ini pada seusiaku. Nah malam ini! Aku nyamperin cewek ke rumahnya yang umurnya 2 tahun di atasku. Apa ini yang namanya jatuh cinta? Aku ngomong pada diriku sendiri.

Sesampainya di rumah kak Vina. Aku mengirim pesan kepadanya via BBM, yang berisi “Kak, aku udah di depan rumah kakak lho, temuin aku dong kak!”

Aku duduk di sebuah bangku taman, yang jaraknya kurang lebih 5 meter dari rumah kak Vina. Setelah ku kirim pesan itu. Aku melihat cewek sedang memperhatikan aku dari balik tirai jendela kamarnya. Sesudah itu, cewek itu pun menghilang dan kulihat pintu rumah kak Vina sedang terbuka. Kulihat pintu itu, ternyata yang keluar adalah kak Vina. Kulambaikan tanganku supaya kak Vina dapat melihatku.
Aku senang sekali. Karena kak Vina masih ngehargain perjuangan aku untuk ketemu dengannya. Kak Vina turun melewati beberapa anak tangga, dan berjalan menghampiriku. Malam itu, suasana sangat sunyi, bulan yang sangat terang di tambah ribuan bintang di langit. Angin malam berhembus, ku lihat rambut kak Vina melayang kian kemari karna tiupan angin. Alangkah cantiknya kak Vina malam itu. Di sekitar ku, juga banyak lampu jalanan yang menambah suasana malam menjadi indah.

Kak Vina datang menghampiriku, lalu duduk di dekatku.
“Dek, kamu ngapain di sini?” tanya kak Vina.
“Ini kak. Sebagai permintaan maaf aku ke kakak, aku kasih coklat ini ke kakak.” ucapku mengasih coklat yang kubeli tadi sebelum sampai ke rumah kak Vina.
“Aduh dek, kamu romantis bangat, pacar kakak aja gak sampe segitunya sama kakak.”
“Emang kakak udah punya pacar?” tanyaku memastikan.
“Udah dek.” jawab kak Vina singkat.

Seketika aku diam saat itu. Terus sadar dan heran pada diriku. Aku kesini kan buat minta maaf. Kenapa jadinya begini, seperti adegan romantis saat ini yang terjadi tanpa unsur kesengajaan. Terus, kenapa pertanyaan bodoh seketika keluar dari mulutku. Seperti pertanyaan “Emang kakak udah punya pacar?” yang tanpa sengaja keluar dari mulutku. Semua ini benar-benar aneh, aku ini kan pendiam dibilang orang dan pemalu. Kenapa sekarang berubah 180 derajat?.

“He, kok bengong.” tanya kak Vina sambil mencubit pipiku?”
Belum sempat ku menjawab kak Vina sudah bertanya.
“Oh, kakak tahu. Kamu marah kan kalau kakak sudah punya pacar?”
“Eennnggak ko kak.” tiba-tiba aku berubah menjadi gagap.
“Kenapa adekku ini? Kamu sakit?” tanyak kak Vina cemas memegang tanganku dan meraba dahiku.
“Gak kok kak.”
“Terus kenapa?”
“Gini lho kak. Aku merasa ada yang aneh pada diriku. Aku kan di bilang orang pendiam, memang aku akui kak. Aku juga malu bicara sama cewek berduaan. Tapi, sejak aku kenal kakak. Semuanya berubah 180 derajat, dari yang pendiam udah gak ada lagi apalagi pemalu. Apa aku jatuh cinta sama kakak? Maaf kak kalau aku sudah lancang!” ucapku menjelaskan.
“Iya dek. Kamu sedang jatuh cinta padaku, begitu pun aku yang jatuh cinta padamu. Karna yang kakak tahu seseorang tidak akan berubah kecuali ada faktor utamanya. Seperti kamu dek, kamu dulunya yang pendiam dan pemalu. Tanpa kamu sadari kamu sudah berubah 180 derajat dek.” kata kak Vina menasehatiku.
“Emang kakak mencintaiku?”
“Iya dek, sejak pertama kakak lihat kamu di kantin bersama teman-teman mu, kakak sudah langsung suka sama kamu, makanya kakak buru-buru kenalan sama kamu saat itu.”
“Terus gimana cowok kakak yang di sana?”
“Sebenarnya, kakak itu belum punya pacar, kakak hanya bercanda tadi.”
“Apa yang membuat kakak tertarik padaku.”
“Kamu itu ganteng dek, dan pendiam. Kebetulan kakak suka sekali dengan cowok yang pendiam.”
“Kakak emang jago ya kalo gombal. Aku aja gak ngerasa kalo aku itu ganteng.” ucapku sambil tertawa.
“Ini fakta bukan gombal dek. Banyak kakak senior yang mengaku kalau kamu itu ganteng.”
“Makasih kak.” ucapku sambil tersenyum.

“Sekarang gantian. Apa yang membuat kamu suka sama aku, padahal di sekolah banyak lho dek cewek-cewek yang lebih cantik dari ku menyukai mu?” tanya kak Vina.
“Kakak itu cantik, dan periang. Sedangkan aku cowok yang pendiam, jadi pas lah kak kita saling melengkapi.”
“Hmmm… Aku jadi terharu dek.”
“Kakak mau gak jadi pacar aku?” ucap ku sambil memegang kedua tangan kak Vina.
Kak Vina hanya mengangguk tersipu malu.

“Kak aku pulang dulu yah, takut ibu nyariin.”
“Kok kak? Sayang. Kamu itu udah menjadi cowok aku. Jadi, kamu harus manggil aku sayang.” kata kak Vina mencubit pipiku.
“Iya sayangku, aku pulang dulu yah sayang.” ucapku sambil menancapkan gas.
“Iya sayang, yang baik ya di jalan.” lagi-lagi kak Vina mencubit pipiku.

Mungkin sebuah rezeki yang mempertemukan aku dengan kak Vina. Secara logis, sejak aku berkenalan dengan kak Vina, aku merasa ada yang aneh pada diriku, dimana aku yang dulunya pendiam dan pemalu sekarang gak lagi. Hari demi hari setelah aku jadian sama kak Vina. Kami sering kontakan dan terbuka satu sama lain. Kini aku sudah berubah, di kelas aku sudah tidak pendiam lagi, begitu juga di kantin dengan teman-temanku. Seketika itu benar-benar berubah 180 derajat sejak aku pacaran dengan kak Vina.

Cerpen Karangan: Muhammad Nasir
Facebook: Nasir Muhammad

Cerpen 180 Derajat merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cowok Misterius

Oleh:
Persaanku sekarang ini aku tidak tahu lagi bagaimana cara mendeskripsikannya, rasanya aku ingin melepas lelah ku selama ini, aku lelah dengan semuanya, mulai dari ayah yang telah pergi meninggalkan

Bagian Terbaik Dari Mimpi

Oleh:
Hari ini, akhirnya perpisahan itu terjadi. Perpisahan dengan kakak kelas 12. Itu artinya, aku harus jauh dari seseorang yang hampir satu tahun terakhir aku kagumi, orang yang telah memberi

Lupa Caranya

Oleh:
Sabtu malam ini aku hanya menghabiskan waktuku dengan bermain gitar bareng Naco dan Saka di rumah. Pukul 20.00 tiba-tiba Naco merasa bosan dan mengajak kami untuk hang out setidaknya

Buat Kamu Saja

Oleh:
Sore hari di gazebo kampus, “hatiku, mana hatiku?, sepertinya hatiku sudah direbut olehnya” ucap Desy sambil menekan dadanya kuat-kuat, kepada teman-temannya, “kamu sakit?” ucap Linda sambil memegang dahi Desy

Cinta Tak Terbalas

Oleh:
Semua berawal dari ketidaksengajaan. Aku mencintainya karena ketidaksengajaan dan bukan karena keinginanku. Apakah aku benar-benar mencintainya? Aku pun tak tahu. Yang kutahu ini adalah takdir yang telah ditulis tuhan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *