25 Anak Tangga Pada 35 (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 26 April 2016

Aku yang masih terbengong berjuta kata ini langsung memutar otak. Kenapa dia panggil aku Nata? Kenapa dia tahu nama panggilan itu siapa dia? Lalu aku terdiam lama sekali sampai aku pusing 35 luasnya. Akhirnya aku pergi untuk mencari Ilham, aku menuruni anak tangga yang sunyi senyap tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari arah yang berlawanan tak lama aku berpapasan dengan seseorang yang langsung memegang lenganku. Aku langsung menatap orang itu ternyata Ilham. Aku terbengong sebentar dan langsung teringat jika aku tadi memanggil dia dengan panggilan Lani. Aku teringat dalam hitungan detik dan aku menjatuhkan air mata.

“Nata kenapa jadi nangis?” ungkapnya.
“Lo ke mana Lan dulu gue tuh kangen lo, lo malah ilang gak ada kabar lo sengaja kan tinggalin gue karena lo gak mau nepatin janji lo yang bakal terus ada dan sayang sama gue, kita dari kecil Lan bareng-bareng sekarang lo muncul setelah 8 tahun yang lalu lo pergi gak bilang sama gue. Tega lo Lan,” ocehku yang keluar secara spontan karena aku telah menahan semua ini sejak lama.

“Anak baru? Lo apain Rain,” tiba-tiba Mita bicara dari belakangku.
“Ya lo apain temen gue, lo gak usah belagu ya, lo cuma anak baru di sekolah kita ngerti lo, lo gak tahu ngadepin siapa, lo gak kenal sama keluarga Natawijaya hah?” Sisil yang biasanya pemalu dan kalem langsung ikut membentak Ilham.
“Gue bisa jelasin kok jangan salah paham dulu, Nata aku bisa jelasin kok selama ini aku ke mana!” jelas Ilham.
“Udah yuk Sil, Mit gue gak mau di sini,” ucapku.
“Awas lo, jangan deket-deket Rain lagi,” ancam Mita.

Tak biasanya kedua sahabatku ini menjadi di luar karakter mereka. Dan di kelas aku hanya diam bahkan melamun sampai bel pulang sekolah pun aku tetap diam, aku yang tadinya berangkat memakai sepeda tetapi pulangnya dijemput memakai mobil. Kedua sahabatku itu hanya bisa melambaikan tangan dari balik kaca, terlihat jelas raut wajah mereka yang heran dan penuh tanda tanya. Tapi mereka mengerti aku membutuhkan waktu sendirian. Karena kejadian kemarin aku sampai satu minggu tidak masuk sekolah dan semua yang berkomunikasi denganku tak pernah aku balas atau aku beri tahu keadaanku, semua ini aku lakukan agar aku tak bertemu dengan Ilham. 8 hari sudah aku tidak bersekolah dan baru hari ini ada suara dari ambang pintu itu memaksa raga beranjak agar membuka dan melihat apakah yang ada di balik pembatas itu. Aku buka batas itu dan ternyata mereka datang.

“Rain lo ke mana gak sekolah dikontekin gak dibales? eh Rain ada bunga nih gak ada namanya, sebelum kita dateng udah ada,” oceh Sisil cemas.
“Hehe gue gak apa-apa kok Sil, cie RASIMILI kumpul lagi ya, apa ya? ya udah biarin ajalah,” balasku.
“Udah deh kita orang dua udah tahu sebenernya hubungan lo sama Ilham,” timpal Mita.
“Iya Mit lo tahu dari mana, yuk kita masuk dulu betah amat lorang dua berdiri kayak gini,” balasku dengan senyuman yang sebenarnya terasa miris di jiwa.

“Ya kita dua tahu lah kita kan dah nanya ke Ilhamnya langsung, sosweet tahu gak, ngapa lo harus nangis Rain atau bisa dibilang Nata?” ledek Mita.
“Gak usah ledekin gue deh Mit biasanya lo gak peduli juga, ini lo malah paling open sama gue,” jawabku.
“Iyalah Rain kita tuh dah 2 tahun bareng gue tahu lo walau gue diem aja sekarang saatnya lo jujur sama kita-kita ya gak Sil?” sambil menoleh ke arah Sisil.
“Iya banget itu Mit masa lo mau sembunyiin ini dari kita sih Rain lo tega amat kali,” tambah Sisil menyudutkan aku agar mengakui semuanya.

“Iya iya gue cerita, gue temenan lama sama Ilham atau Lani namanya entah siapa, dia dulu janji gak akan tinggalin gue sama kayak orangtua gue yang tiap hari gak ada di rumah. Dia juga dah janji bakal setia dan kasih gue kebahagiaan, dan di mana gue mulai percaya sama ucapan dia dia pergi gak kasih gue kabar sama sekali, di situ gue nangis sejadi-jadinya sampe gue pindah ke jakarta 5 tahun yang lalu jadi dengan gue pindah gue ganti nama panggilan gue, beserta gue kubur masa indah yang akhirnya nyakitin gue itu dalem-dalem pokoknya banyak banget yang gue lewatin bareng sama Lani dari yang makan bareng, hujan-hujanan bareng, sampe beli baju kembar bareng, barang semuanya dulu tuh sama semua sampe temen gue yang laen bilang kalau gue sama dia itu pacaran karena di mana ada gue di situ ada dia. Ya gitulah semuanya berubah semenjak negara api menyerang Mit, Sil,” jelasku sambil cengir-cengir.

“Seriusan Rain,” balas mereka kompakan.
“Hahaha iya, iya gue serius itu yang terjadi semenjak dia pergi tanpa kabar gue kayak kehilangan orang yang bener-bener kayak sebagian dari gue dan sekarang dia muncul buat gue nangis lagi gue belum bisa nerima dia gitu aja dateng ke kehidupan gue gue takut Sil, Mit kalau dia bakal ninggalin gue dengan sejuta kenangan yang bikin gue sakit itu again,” tambahku.
“Ya ya gue ngerti kok Rain,” jawab Sisil.
“Iya gue juga ngerti kok,” diikuti oleh Mita.
“Iya udah kalau ngerti,” dengan muka lesuku.

“Tapi Rain lo harus sekolah, udah lo selama ini telat mulu, ini make gak masuk sekolah cuma karena patah hati sama cowok kayak dia, apa kata fans lo Rain kalau tuh para cowok yang naksir lo tahu lo nangis karena Ilham, bonyok tuh orang Rain, untungnya lo tiap ada ulangan nilai lo bagus mulu kadang gue heran sama otak lo ini pinter-pinter agak benga gitu kan haha?” ledeknya sambil perjelas Sisil.
“Iya nih Rain lagi pula kan gak salah juga kalau Ilham mau jelasin semuanya siapa tahu dia punya alesan yang baik kenapa dia ninggalin lo dulu kan,” ditambah lagi sama Mita.
“Iya, iya cerewet lorang ini gue sekolah besok, makasih gays?” ucapku.
“Iya Rain sama-sama,” ucap mereka sambil memelukku.

Akhirnya kami tertawa dan ngobrol lebih lama keheningan yang biasa ku dengar kini pecah dengan tawa kami. Suara yang hampir bergema ke seluruh penjuru sudut batas itu membuatku senang. Mereka memang bagaikan saudaraku, “Makasih ya gays gue gak akan kecewain kalian,” ucapku dalam hati. Tak lama para sahabatku itu pulang ada yang datang dia memakai motor dengan kemeja biru dan topi cokelat.

“Rain ikut gue yuk!” ajaknya.
“Ke mana? Lo siapa? Terus gue harus ikut gitu?” jawabku heran.
“Gue temen sekelas lo, udah lo ikut aja aman kok sama gue, gue dah izin sama orang rumah lo jadi lo gak perlu khawatir takut dicariin,” balasnya tersenyum.
“Tap, tapi, tapi…” aku masih ragu.

Tetapi dia telah menarikku untuk naik, baru ini aku merasakan naik motor. Aku dibawa berkeliling komplek rumahku di situ aku berpegangan erat tetapi orang ini berusaha melepas peganganku pada pinggangnya dia seakan menyuruhku membentangkan tanganku. Akhirnya aku beranikan diri untuk membentangkan tangan seperti menyambut matahari di pagi hari, tak lama hujan turun bukannya berteduh kami berdua malah melanjutkan perjalanan dan aku tetap melakukan merentangkan tangan. Sungguh menyenangkan, aku merasakan air hujan menerpa wajahku membasahi setiap inci pori-pori kulitku dan hujan yang keroyok ini menerpa diriku maka aku telah basah dan kedinginan. Ternyata dia melihatku kedinginan karena aku mulai meringkuk tubuhku, akhirnya motor beroda 2 ini di parkirkan di salah satu warung makan sederhana. Aku digandengnya memasuki rumah makan itu.

“Kita mampir sini dulu ya!” ucapnya padaku.
“Iya dingin juga kalau mau dilanjutin, maksud lo bawa gue jauh cuma mau ke sini doang atau….” ucapanku terputus karena dia mengenakan jaketnya padaku.
“Gak gitu sih tujuan gue supaya lo ngerasain bebas makanya gue bawa keliling make motor, gue sengaja suruh lo telentangin tangan lo supaya lo bisa ngerasain udara dan anginnya, gue ja gak nyangka kalau ujan tapi it’s ok kan lo suka hujan jadi gue lanjutin aja, eh lo mau makan apa gue nasgor sama teh anget. Kalau lo?” tanyanya.
“I-i-iya gue samaain aja sama lo pesenannya,” ucapku agak kaget karena dia tahu apa yang ku butuhkan saat ini.

“Sip kalau lo ada masalah cerita sama gue karena gue coba ada buat lo,” ucapnya.
“Maksud lo?” tanyaku.
“Iya gue sayang lo sih makanya gue gak mau lo kenapa-kenapa,” ucapnya remang-remang.
“Apa lo ngomong apa?” tanyaku heran.
“Gak, makan nih udah dateng pesenannya?” perintahnya saat pesanan datang.

Seusai makan kami pulang, di perjalanan aku terdiam dan dia pun begitu. Dia ini siapa kenapa dia peduli padaku, tapi tadi itu memang menyenangkan sangat menyenangkan, seakan-akan bebanku hilang dibawa angin tadi. Angin yang sama membawaku sampai di rumah, aku langsung mengembalikkan jaketnya dan berterima kasih. aku masuk rumah saat ku tutup pintu rumahku aku inget harusnya aku menanyakan namanya. Aku berlari ke pagar rumah memastikan dia telah pergi atau belum tetapi sepertinya dia telah pergi aku kembali memasuki rumahku. Baru ini ada orang menculikku dengan izin.

Cerpen Karangan: Mutia Feradesta
Facebook: Mutia Feradesta

Cerpen 25 Anak Tangga Pada 35 (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Little Dust of Memories

Oleh:
Desember 2008. Suasana Natal sudah mulai menghiasi New York. Ornament-ornament khas Natal terpajang rapi di sepanjang toko di pinggiran kota. Stefanie mendesah berat ketika dinginnya udara terasa menusuk kulit.

Apa Harus Cantik (Part 1)

Oleh:
Namaku Cika Afriska. Aku punya kakak perempuan yang nggak cantik-cantik banget, namanya Diana. Kak Diana itu, walaupun nggak cantik-cantik banget, dia punya banyak mantan pacar. Sekarang, Kak Diana sedang

Mencintaimu Lewat Doa

Oleh:
Satu persatu kenangan bersamamu mulai hadir lagi dalam benakku, kau menyapa dalam mimpiku. Dan seuntai senyuman menentramkan yang masih sama seperti dulu. Aku mungakin bisa menahan rasa rinduku yang

Seindah Mimpi

Oleh:
Seorang cowok berambut cepak sudah berdiri di depan sebuah danau, memegang sebuah gitar berwarna cokelat. Dia yang dari tadi menunggu kedatanganku. Aku pun berjalan mendekatinya. “maaf kalau kelamaan nunggu.”

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “25 Anak Tangga Pada 35 (Part 2)”

  1. lukman says:

    yah…. Kpan lanjutannya terbit 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *