25 Anak Tangga Pada 35 (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 13 September 2016

Sepertinya dia telah pergi aku kembali memasuki rumahku. Baru ini ada orang menculikku dengen izin.

Masih gelap dan tetap gelap hingga masa depan itu datang mendekat aku bisa bernafas kembali, seperti biasa pagiku diawali dengen mimpi yang aneh itu. Dan seperti biasa aku bangun jam 9 pagi bersiap-siap dan berangkat menggunakan sepeda kesayanganku. Tetapi cuaca kali ini agak mendung dan gelap. Walau penuh keluh dan agak sedikit kesal karena sorum mobil di setiap jalan membunyikan kelaksonnya membuat aku merasa terganggu sepanjang perjalanan menuju sekolah. ketika sampai di depan gerbang dengan wajah yang mendung aku menuruni sepedaku dan mendorongnya ke gedung yang kokoh itu.
“Hai pak Edo maaf aku telat pak aku kelas dulu ya pak” sapaku pada pak Edo
“Iya non, non kok lesu gak kayak biasaya kenapa non” ungkapnya
“gak apa-apa kok pak cuma lagi capek aja abis goes neptun” jawabku sambil berlalu

“Nat, boleh aku jelasin semuanya?” ada yang bicara dari belakangku
“Lani? Lo gak belajar? Kan ini dah jam pelajaran” aku balik bertanya
“Iya Nat, aku gak bisa konsen 8 hari ini karena kamu gak ada di kelas” jelasnya
“Alay lo udah ah gue mau kelas ini pelajaran…” kata-kataku terpotong
“Iya ini pelajaran biologi kan pelajaran kesukaan kamu Nat” sambungnya
“Lo masih inget” tiba-tiba hujan turun aku yang langsung berlari di tahan akan hangatnya genggaman tangan Lani
“Jangan hindarin aku Nat kamu masih inget hujan ini, kita selalu berdua saat hujan sampai hujan terakhir dulu kita masih sama-sama. Di situ aku bilang kalo aku adalah…” kata-kata Ilham terpotong olehku
“Stop Lan, tiap pagi gue gak mau liat masa depan gue karena lo, gue kira lo masa depan gue dan ternyata lo pergi, karena lo pergi gue gak pernah mimpi indah, selalu mimpiin lo hadir dan mendekat ke gue Lan, padahal tiap paginya gue gak liat lo di dunia nyata hadir buat gue” celotehku kesal dan menjatuhkan air mata
“Kamu nangis Nat? Jangan nangis Nat sekarang aku di sini, aku dulu pergi bukan karena mau tinggalin kamu tapi karena aku harus ikut papa ke london. Dulu aku begitu kecil Nat aku gak bisa bantah apa kata papa, aku tau aku salah, maafin aku Nat, setiap harinya aku mikirin kamu, setiap harinya Nat” Ilham langsung memelukku
“Emm, Iya Lan kali ini aku percaya jangan pergi lagi Lan, jangan buat aku mimpi buruk setiap harinya” tangisku tersapu hujan
“Iya Nat aku janji akan wujutin mimpi kita, aku sayang kamu, aku sayang banget malah Nad, I LOVE YOU” ucap Ilham sambil melepas pelukannya dan menatapku
“Me too and love you too?” tangisku berubah menjadi matahari pagi walau langit dan bumi sedang menyapa kehidupan dengan tangisan langit

Akhirnya aku dan Ilhan sering bersama baik di sekolah maupun di rumah. Kali ini duniaku secerah lampu Neon, dan aku tak takut lagi menanti masa depan itu muncul di setiap mimpi pagiku, tapi aku masih heran dengan pengirim bunga itu apakan itu Ilham entahlah yang jelas aku senang. Kami menjadi berempat bukan bertiga, 1 bulan telah kulalui dengan Ilham dan sahabatku tetapi selama 1 bulan ini Mita menjauh secara perlahan. Di ajak bareng di jawab sibuk, diajak maen dibilang lagi ada acara keluarga, diajak nongkrong di kantin katanya gak laper. Aku semakin heran dengan tingkahnya ini hingga suatu hari aku mendengar Mita berbincang-bincang dengan Sisil di koridor sekolah. Jadi aku ngumpet sambil memasang kuping gajahku
“Sil, Rain nanyain gue gak?” unggap Mita
“Iya lah Mit lo ngapa jauhin dia tinggal ngomong” saran Sisil
“Iya sih gue iri sama Rain dia dah kaya, pinter, banyak yang sir, banyak yang perhatian sama dia, banyak yang peduli sama dia lah gue” jelas Mita
“Kenapa harus iri kayak gitu Mit, gue malah iri sama lo Mit, lo bisa ngerasain kasih sayang orangtua lo, tiap liburan lo bisa pergi bareng keluarga lo, lah gue Mit gue gak bisa, hari libur pun mereka gak pulang Mit gue tu iri banget sama lo sama Sisil juga” jelasku yang keluar dari persembunyian
“Tapi Rain lo itu banyak yang sayang gue apa Rain di mata diarang?” balasnya
“gue tu sayang sama lo Mit lo sahabat gue, gue gak terlalu open ma mereka tapi gue open sama sahabat gue sendiri itu lo sama Sisil” tanpa kusadari air dari pelupuk mata terjatuh
“Udah deh Rain gue gak peduli lagi yang jelas gue ga mau deket ma lo lagi” bentak Mita sambil berlalu di ikuti oleh Sisil
“Mit… Mita… lo kenapa sih sampe gini Mit….?” teriakku

Aku menangis kembali, aku sungguh bertanya-tanya kenapa?, tak mungkin hanya karena dia iri padaku, setiap koridor aku singgahi dengan air yang melalui pipi dan terjatuh ke tempat tapak kaki melangkah, alam yang mendukung ikut menangis mengikuti hati yang tersayat. Dan saat aku naiki anak tangga yang sunyi dan senyap bahkan dihiasi dengan gemuruh petir dan angin yang melambai halus membuat badan ini merasakan es di setiap kulitku. Ada Suara langkah kaki aku hanya mendengarkannya dan pada saat aku berpapas dengan seseorang yang lagsung memberikan sapu tangan, aku tak sempat melihat wajahnya karena dia langsung pergi “mungkin itu Lani” gumamku dalam hati. Aku menyapu air kesedihan ini dengan sapu tangan yang telah di berikan tadi, sesampai di kelas aku hanya mengambil tas dan langsung beranjak pergi meninggalkan masalah yang belum selesai ini.

Aku hanya mendorong sepedaku melalui gerbang putih, pembatas dunia ilmu dunia dan ilmu semesta, dengan langkah yang berat ini aku melewati taman yang indah. Mengingatkanku akan kebahagiaan saat aku bermain di sana di ayunan itu tapi kali ini aku melihat sesosok yang lama kukenal dan dia sedang mendorong ayunan. Saat aku sedikit bergeser ternyata yang di ayunan adalah Mita dengan senyum dan tawa yang bahagia. Tetapi yang membuatku bingung adalah sesosok itu adalah Ilham. Aku yang tersudut kebingugan, kesedihan, dan amarah langsung menghampiri mereka

“Apa ni maksudnya?, kalian berdua apa-apaan nih?” bentakku
“Nata ini gak seperti yang kamu fikirkan kok” jawab Ilham
“Udah deh Ham biar dia tau aja kalo lo tuh gak suka sama dia kan, bilang aja sebenernya lo itu sir ma gue tapi karena lo liat dia yang penuh harapan dengan lo akhirnya lo kasian” bentak Mita
“Lo tega Mit, lo juga Lan BANGS*T tau gak” aku menangis dan langsung menaiki sepedaku
Aku hanya bisa terdiam dan memikirkan bahwa aku sedang terluka, luka yang sangat pedih di bandingkan dulu yang pernah aku rasakan “kenapa kayak gini sih apa salah gue tuhan apa?” ucapku dalam hati yang membuatku tak konsentrasi akan sekelilingku bahkan aku tak melihat ada sebuah mobil tepat di depanku, aku terpental dan terjatuh. Dalam seketika dunia gelap dan sunyi dingin hanya kesedihan yang kurasakan.

Ada sebuah cahaya, cahaya yang ku hindari dari awal, cahaya yang ku benci, aku merasakan sakit di kepalaku dan kaki yang begitu nyeri. Dan perlahan aku membuka mata
“gue di mana nih?” tanyaku
“Lo di rumah Rain” jawab Sisil yang langsung membantuku untuk duduk
“Sil yang bantu gue siapa?” tanyaku lagi
“gue gue juga gak tau, gue dateng lo dah di sini, kemaren lo kecelakaan, lo kenapa kok bisa ketabrak mobil? liat kaki lo kecetit noh” keibuan Sisil keluar
“Iya Sil gue kecewa, gue sakit hati” air mataku mulai jatuh
“Udah gue ngerti kok Rain udah ya gue dukung lo kok, udah jangan di fikirin kan ada gue yang unyu-unyu ini, malem ni gue nginep tempat lo deh buat nemenin lo di sini” hiburnya
“Yang bener, ok deh makasih ya Sil” timpalku
“Iya, nih ada bunga sama kartu ucapan tulisannya CEPET SEMBUH RAIN”
“Biarin aja Sil paling dari Lani” jawabku dengan datarnya
“Iya deh istirahat gih lo gue mau balik ambil baju gue dulu enti gue balik lagi” balasnya
“Iya Sil hati-hati ya” jawabku senang

Maka malam ini Sisil menginap di rumahku, aku menceritakan semuanya kepada Sisil dan dia merespon dengan baik, kami sempat tertawa dan bercanda bersama. Tetapi aku masih berharap di antara tawa kami ada Mita di sini ikut bersama larut dalam tawa dan canda.

Sudah beberapa minggu aku memulihkan tubuh ini dan aku mulai berani berangkat sekolah lagi tetapi kakiku masih belum cukup kuat menopang tubuhku yang masih rapuh ya walau masih bisa berjalan setapak demi setapak. Dengan terpaksa dan ini pertama kalinya aku memakai kereta kencana yang di sediakan oleh kedua orang yang kusayang yaitu orangtuaku untuk berangkat sekolah. Di perjalanan aku hanya bisa diam, hingga tiba di depan gerbang aku yang biasa terlambat langsung memasuki gedung sekolah serta menaiki tangga agar sampai ke tujuan yaitu kelas. Pada anak tangga ke 21 aku mendengar langkah kaki dari atas semakin lama semakin keras dan aku pun berpaspasan dengannya. Dia hanya menunduk dan berlalu begitu saja. Mungkin dia terburu-buru dan aku tak tau dia itu siapa entahlah biarkan saja. Sampai di kelas aku di sambut oleh Sisil yang langsung menyuruhku duduk di kursiku.

“Lani sama Mita mana Sil? Kok gak keliatan” aku memulai percakapan
“Lo gak tau beritanya ya, kata anak-anak Ilham jadian sama Dwi terus Mita labrak tuh Dwi ternyata Ilham yang gak akuin Mita kalo diarang jadian dari awal, kan parah Rain” jelasnya
“Apa kok gitu, parah banget Lani itu” jawabku dengan suara meninggi

Cerpen Karangan: Mutia Feradesta
Facebook: Mutia Feradesta
bahagia itu lo yang buat

Cerpen 25 Anak Tangga Pada 35 (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kepincut Hati Sang Gitaris

Oleh:
The Rhioz adalah band pensi yang saat ini sangat digandrungi oleh para kaum hawa. Kepopuleran mereka semakin melesat dari panggung ke panggung. The Rhioz beranggotakan empat orang pemuda ganteng

You Are My Korean Love (Part 3)

Oleh:
Paginya aku memutuskan untuk jogging. Gak sengaja aku nabrak orang yang juga jogging di depanku. Saking menghayatinya dengarkan musik, dan gak lihat depan. Karena tabrakannya cukup keras, kami berdua

Penantian

Oleh:
Terik matahari seakan seakan memercikan sinar apinya ke sudut kamarku, ku tersadar dari tidur panjangku semalam yang menyisakan mimpi sejuta impian. Aku bergegas mengambil handuk yang tergantung di sudut

Antara Cinta dan Benci

Oleh:
4 Juni 2013 Di sebuah Desa terpencil, tepatnya di Desa Asmara ada seorang gadis cantik yang pendiam, anggun, pintar, baik dan ramah pada siapa pun. Namanya Mawar. Dia anak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *