3 Hari (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 18 April 2019

Kulangkahkan kakiku membelah derasnya air hujan, di sore hari ini. Bukankah ini janggal dimana saat musim kemarau terjadi dimana mana, di kotaku justru turun hujan deras. “Ada apa ini!” kataku menggerutu karena sulitnya mencari bus sore ini. Hingga seseorang pria pucat dengan perawakan tinggi, yang sedari tadi duduk di ujung bangku halte menegurku. “Kau, apa kau akan terus berdiri di sana?” tanyanya yang sontak membuatku berbalik melihatnya “siapa kau?” tanyaku keheranan “kau tidak akan tahu siapa aku, tapi aku sangat mengenalmu, apa kau memang senang bermain dengan air hujan?” jawabnya “tidak siapa yang akan senang bermain hujan” jawabku “tapi aku yakin saudarimu menyukainya” jawabnya yang sontak membuatku kaget “apa maksudmu, siapa kau, dan seberapa banyak kau mengenalku?” tanyaku “akan kusebutkan, namamu adalah Risa Anandita Pratiwi, kau berumur 16 tahun sekarang dan sedang duduk di kelas 2 IPA, kau baru saja pindah ke rumah barumu bukan, yang letaknya berada di ujung blok perumahan, dan yang terpenting aku mengetahui tentang Nina.” jawabnya “siapa sebenarnya kau?” tanyaku dengan nada membentak “tidak penting siapa aku, tapi jika kau mau membantuku dalam waktu 3 hari ini, maka kau akan menemukan jawaban dari pertanyaan yang selama ini menganggumu. Dan kuharap kau akan menggunakan kesempatan ini dengan baik.” jawabnya sembari berdiri di hadapanku hingga kami berjarak beberapa centi saja “kenapa aku harus mempercayaimu lagipula aku bahkan tidak mengenalmu.” jawabku “kau bisa melakukannya karena kau membutuhkanku untuk mengetahui siapa Nina, dan kalau kau tidak kenal padaku baiklah panggil saja aku Diva.” jawabnya “Diva? Hanya itu yang kau katakan padaku, aku bahkan tak tahu kenapa kau membutuhkanku” jawabku “aku tidak akan mengatakannya sebelum kau menyetujuinya karena itulah kesepakatannya.” jawabnya.

Sebenarnya aneh juga, kenapa aku harus menyetujuinya ketika aku sendiri tidak tahu apa masalahnya. Tapi ia tidak mungkin penipu, dia kelihatan seperti orang baik baik. Dengan jas, sepatu dan kacamata hitamnya, dan mungkin saja ia benar benar bisa memberitahuku tentang Nina lagipula itu hanya 3 hari dan semuanya akan selesai. “Baiklah.” kataku sembari membelakanginya dan berjalan maju “aku sepakat tapi ingat ini hanya tiga hari. Eh hujannya sudah berhenti.” kataku lalu berbalik ke belakang. Betapa terkejutnya aku ketika melihatnya sudah hilang dari halte bus. “Ke mana dia, saat aku sudah sepakat sekarang ia justru menghilang. Rasakan saja bila aku dapat bertemunya lagi.” gumamku.

Berhari hari berlalu hingga suatu pagi aku sedang duduk di halte menunggu bus untuk pergi sekolah. “Hei jadi kau setuju?” tanya seseorang dengan suara has yang tempo hari pernah kau dengar. Sontak membuatku berbalik menengok ke belakang “jadi kau sudah kembali, kenapa kau menghilang? Apa kau hanya bercanda tentang kesepakatannya?” tanyaku “kau bahkan lebih cerewet dari yang kutahu.” jawabnya yang mampu membuat pipiku merona “apa maksudmu?” tanyaku “sudah itu tidak penting, tapi kau masih tetap dalam keputusanmu bukan?” tanyanya “sebentar, aku pikir dulu.” jawabku sembari berpikir terus dan mondar mandir. Hingga tak sengaja sikutku mengenai sikutnya yang terasa begitu dingin. Dingin yang berbeda, yang terasa sedikit menusuk. Bahkan lebih dingin dari cuaca saat ini. “Baiklah, tapi katakan kapan dan hal apa yang harus kulakukan?” tanyaku “seperti perjanjian kau hanya harus membantuku selama 3 hari, dan setelah itu kau akan mendapatkan jawabanmu. Hal pertama yang harus kau lakukan adalah datang ke halte ini sore nanti sepulang sekolah. Tak peduli hujan kau harus tetap datang.” jawabnya “apa kau sudah gila, kenapa saat hujan aku harus tetap datang itu bodoh, bahkan aku tidak menyukai hujan.” jawabku “kedua tidak ada pertanyaan dalam kesepakatan ini, anggap saja ini sebuah kontrak dimana kau akan berusaha menjalani kesepakatan didalamnya dan aku akan membayarmu untuk itu.” jawabnya “baiklah sepakat.” jawabku sembari mengulurkan tangan “tidak usah.” jawabnya menolak berjabat tangan dan pergi begitu saja berjalan di bawah derasnya air hujan. “Kau, maksudku Diva apa kau sudah gila berjalan kaki saat hujan.” teriakku namun ia justru terus berjalan tanpa mempedulikanku. Tak lama hujan pun reda dan datanglah sebuah bus.

Sesaat di sekolah, tepatnya pelajaran terakhir rasanya fokusku tak bisa kualihkan dari kesepakatan tadi. Selalu saja itu yang kuingat, apa ada yang salah dengan kesepakatan ini ataukah justru dengan Diva. Tak dapat kupungkiri perawakannya sempurna, dan kuyakin dia adalah pria idaman kaum hawa. Dengan tinggi tubuhnya yang semampai, kulit putih natural, rahang yang tegas dan badan berotot namun tak berlebihan. Apalagi dengan pakaian yang ia kenakan semakin menampilkan wibawanya. Sepulang sekolah aku memutuskan tuk segera pergi ke halte untuk menemuinya sesuai kesepakatan.

Dan lagi lagi hujan turun saat ini, dan ternyata Diva sudah menunggu duluan di sana. “Baguslah kau datang.” jawabnya sembari berdiri di hadapanku dan melipat kedua tangannya “tentu saja aku akan datang.” jawabku sembari berpaling agar ia tak bisa mendengar betapa kerasnya degup jantungku. Kenapa sulit sekali mengendalikan diriku ketika bersamanya. “Oh iya, sekarang ikuti aku.” jawabnya sembari menarik tanganku dengan satu tangan lainnya memegang payung “tunggu kita akan pergi ke mana?” tanyaku “sudah kukatakan atau harus kuingatkan bahwa tak ada pertanyaan dalam kesepakatan ini.” jawabnya “baiklah.” jawabku menurutinya.

Dia sungguh misterius, ada banyak pertanyaan tentang dirinya yang ingin aku tanyakan. Namun, apa hakku bertanya lagipula jika aku tetap nekat maka ia pasti akan menjawab jika tidak ada pertanyaan dalan kontrak ini. Tak lama kami berjalan, sampailah kami di sebuah rumah yang cukup besar dengan gaya semi klasik. Saat tiba di depan pintu rumah, “untuk apa kita ke sini?” tanyaku “tak usah banyak bertanya sekarang masuklah dan berikan surat ini pada yang punya rumah.” jawabnya “tapi, jika mereka bertanya bagaimana aku menjawabnya nanti?” tanyaku “katakan yang sebenarnya.” jawabnya lalu pergi namun kutahan tangannya “kemana apa kau tidak akan menemaniku?” tanyaku “ini tugasmu, jangan sampai mereka tahu aku ada di sini!” jawabnya “tapi.” kataku namun ia tidak menghiraukannya. “Dasar kalau bukan karena Nina aku tidak ingin kesepakatan ini.” gerutuku sembari memencet bel beberapa kali. Hingga seorang wanita paruh baya membukakan pintunya.

“Iya ada yang bisa saya bantu?” tanyanya “Assalamualaikum, tante perkenalkan saya temannya Diva nama saya Risa.” jawabnya “waalaikumsallam, tapi Diva?” tanyanya “iya apa boleh saya masuk?” tanyaku “iya tentu saja.” jawabnya sembari mempersilahkan aku duduk di sebuah ruangan dengan sentuhan klasik yang sangat mendominasi “sebelumnya maaf tante jika saya mengganggu waktunya.” kataku “tidak oh iya apa mau saya buatkan teh lagipula aneh juga yah saat di kota lain kemarau tapi belakangan ini kota ini sering turun hujan.” Jawab dan tawarnya “tidak usah tante saya gak akan lama juga koq, saya cuma mau ngasih surat ini.” jawabku “surat, tapi surat dari siapa?” tanyanya “dari Diva tante.” jawabku yang membuatnya terdiam beberapa menit “permisi tante tapi jika boleh saya harus pulang masih banyak yang harus saya kerjakan.” jawabku sembari berdiri “iya tentu saja.” jawabnya sambil berdiri dan mengantarku ke depan pintu. Sesaat di luar, ternyata Diva tidak ada di sana tapi untung saja hujan juga sudah berhenti. Hingga aku tidak usah basah basahan pulang ke rumah.

Sesampai di rumah, kulihat ibu yang sedang berdiri di mulut pintu dengan kedua tangannya yang terlipat. “Assalamualaikum!” seruku sembari mencium tangannya “waalaikumsalam, dari mana aja kamu kenapa baru pulang, kamu itu anak cewek ibu satu satunya Ris.” jawab ibu “satu satunya, lalu siapa Nina?” tanyaku “kenapa belakangan ini kamu selalu behas itu?” tanyanya dengan nada tinggi “karena aku berhak tahu apa yang terjadi dalam keluargaku bu, lagipula karena Nina juga kan kita terus berpindah pindah rumah seperti ini.” jawabku “Berani beraninya kau berkata seperti itu.” kata ibuku sembari mengangkat tangannya seraya menamparku namun ditahan ayah yang baru datang “ada apa ini Risa, kenapa kau baru pulang?” tanyanya “tidak aku hanya menanyakan sesuatu saja pada ibu.” jawabku “yah sudah sekarang pergilah ke kamar, dan beristirahatlah!” jawab ayah. Aku tahu ini aneh, ini bukan pertama kalinya aku bertaya tentang Nina dan ibu selalu bersikap tempramental seperti ini. Entah apa yang ia pikirkan, tapi selama ini aku yakin dia adalah saudariku. Dan jika aku bisa membuktikannya dan mengetahui keberadaanya aku berjanji akan membawanya kehadapan ibuku.

Pagi menjelang, seperti kemarin hari ini pun hujan. Aku dengan jaket juga payung di tanganku sedang berdiri di halte bus sekarang. Seperti biasa aku harus menunggu bus untuk sampai di sekolah. Hingga seseorang yang tak lain Diva tak kusadari sedang berdiri di sampingku saat ini. “Hey gimana suratnya udah loe kasih?” tanyanya sembari mendekatkan kepalanya ke telingaku. Jujur saja hal itu mampu membuat jantungku bekerja lebih cepat, dan membuat suhu tubuhku meningkat tinggi. “Hei kapan kau datang?” tanyaku sembari menjaga jarak darinya “itu tidak penting, jawab saja pertanyaanku.” jawabnya “sudah, tapi kenapa kau pergi begitu saja?” tanyaku “memang kenapa bukankah kau bisa pulang sendiri?” tanyaku “bukan itu masalahnya, tapi setidaknya kau harus menungguku hingga aku keluar.” jawabku “baiklah, tapi seperti kesepakatan maka waktu kita 2 hari lagi.” jawabnya “tentu, jadi apa lagi yang harus kulakukan?” tanyaku “baik seperti biasa kau harus datang kemari nanti sore ingat tak peduli sekalipun hujan terjadi.” jawabnya “baiklah, tapi kumohon jawab pertanyaanku ini.” kataku “apa, apa yang ingin kau tanyakan?” tanyanya “sebenarnya siapa kau?” tanyaku “kenapa kau ingin tahu tentangku?” tanyanya sembari maju beberapa langkah hingga jarak kami begitu dekat bahkan hembusan nafasnya dapat kudengar saat ini “tidak, hanya saja ini aneh, aku tidak tahu siapa kau, tapi aku tetap membantumu, itu adalah satu satunya hal gila yang pernah kulakukan, maksudku siapa kau?” tanyaku tanpa mundur selangkah pun “aku Diva aku sudah katakan itu bukan.” jawabnya sembari mundur beberapa langkah “tidak bukan namamu, tapi kau ini siapa aku tahu ini aneh aku bertanya padamu seakan bertanya pada orang yang telah lama kukenal.” jawabku “ada apa denganmu bertanya, ingat dimana batasanmu dan aku akan memberimu jawabanmu sebagai bayarannya, dan hanya ada itu diantara kita.” jawabnya sembari membelakangiku. Lalu berjalan, meninggalkan halte. Entah apakah aku yang bodoh ataukah ia yang cerdik hingga selalu bisa menghindar dariku setiap waktu ia menginginkannya.

Kini hidupku seakan terikat dengannya, setiap langkahku terasa hanya untuknya, hembusan nafasku menjadi saksi baginya, dan jantungku berdetak hanya karenanya. Namun, ini benar benar terasa gila, dia pria yang bahkan tak kukenal dan hanya aku tahu sebagai rekanku dalam sebuah kesepakatan. Mana mungkin, aku tidak mungkin mencintainya bukan. Setiap kaliku bertanya pada hatiku, bahkan hatiku tidak ingin memungkirinya bahwa hatiku mencintainya.

Kali ini seperti biasa sepulang sekolah sesuai kesepakatan aku duduk di halte bus. Dengan jaket dan payung di tanganku. Kuulurkan tanganku, menyentuh air hujan. Merasakannya bagai ketenangan yang selama ini tak kudapatkan. “Kenapa selama ini aku membenci air hujan.” gumamku dengan mata tertutup dan tangan yang masih terulur. “Apa kau menyukai air hujan?” tanya seseorang yang tak lain Diva yang kini berada di sampingku dan melakukan hal yang sama “kau ada di sini.” kataku dan tak sengaja membuatku tersenyum simpul “shht, jangan rusak ini adalah hal yang selalu kurindukan ketika musim kemarau.” jawabnya “baiklah.” jawabku. Lalu terdiam dan melihatnya lekat, melihat setiap inchi dari dirinya yang mampu membuatku terdiam. Tak ada yang berbeda darinya selain, sikap dinginnya dan pakaiannya yang selalu sama yaitu setelan jas hitam dan kacamata yang tak pernah lepas darinya. “Apa kau selalu begini saat hujan?” tanyaku “yah tentu saja, ini satu satunya yang mungkin akan kurindukan.” jawabnya “kenapa bukannya kau bisa menikmatinya selama kau hidup?” tanyaku yang membuatnya kembali menjadi seorang pria dingin seakan akan ada yang salah dengan apa yang aku katakan. “Tidak, baiklah sekarang ikuti aku!” jawabnya lalu berjalan didepan “baiklah.” kataku sembari mengikutinya menaiki bus.

Hingga kami tiba di sebuah rumah sakit yang cukup besar. Saat kami tiba di ruang rawat inap ia memintaku tuk bertanya pada sang suster. “Apa yang harus kutanyakan?” tanyaku “kau hanya harus bertanya dimana kamar dari pasien dengan nama Imannuel Aldivagi Prakasa!” jawabnya “lalu?” tanyaku “aku ingin kau menyimpan surat ini tepat di tangannya!” jawabnya “apa kau gila bahkan mungkin pasien itu gak kenal aku, bagaimana kalau aku Dituduh yang enggak enggak.” jawabku “penakut amat sih lagian apa susahnya cuma nyimpen surat gini doang.” jawabnya “oke.” kataku lalu berjalan menuju perawat yang sedang bertugas dengan Diva di sampingku.

“permisi mbak ada yang bisa saya bantu?” tanyanya “iya suster saya cuma mau nanya kalau ruangan dengan nama pasien Immanuel Aldivagi Prakasa di mana yah?” tanyaku “oh mbak siapanya yah dan ada keperluan apa juga?” tanyanya “saya Risa saya temennya Diva kebetulan saya baru sempet mau ngejenguk dia.” jawabku “oh ya udah biar saya temenin yah.” jawabnya lalu mengantarku ke ruang rawat yang letaknya di ujung lorong rumah sakit.

Sesaat di ruang pasien, “mbak, mbak beneran temennya kan?” tanyanya “iya.” jawabku “saya cuma prihatin sama pasien dia udah hampir 1 tahun koma, bahkan dokter udah nyaranin keluarganya buat nyabut alat bantunya tapi keluarganya bersikukuh gak mau.” jelas sang suster. Sementara aku masih mencoba menerka wajahnya, yang sulit kukenali karena dipenuhi alat bantu. “Saya juga menyesal karena baru sempet nengokin dia.” jawabku. Entah apa perasaanku saja, tapi jika disandingkan muka Diva dan Immanuel itu hampir kembar apa dia kembarannya. “Yah sudah mbak saya masih ada pasien yang lain, tolong jangan terlalu lama karena pasien butuh waktu istirahat.” jawab sang suster lalu meninggalkanku dan Diva bersama pasiennya.

“Kenapa kau tidak bicara tadi, bukankah kau ingin menemuinya.” jawabku sembari menyimpan surat itu di tangannya, “lagipula kalau semudah ini kenapa kau tidak lakukan sendiri” sambungku “kalau semudah yang kau lakukan aku tidak akan ada di sini” jawabnya “apa maksudmu?” tanyaku “tidak, tapi tolong bukakan jendelanya aku yakin dia membutuhkannya” jawabnya “baiklah” jawabku sembari membukakan jendela ruangan tersebut yang ternyata langsung terhubung ke taman rumah sakit.

“Aku yakin Immanuel beruntung, hingga ia memiliki ketenangan dan ruang rawat yang nyaman.” kataku “kenapa kau bisa berkata seperti itu?” tanyanya “entah, aku yang merasakannya saja merasa tenang berdiri di sini.” jawabku “apa kau yakin, apa kau tidak berpikir jika ia menderita.” jawabnya “kenapa kau berkata seperti itu, apa sebegitu mengenalnya kau padanya.” jawabku yang membuatnya terdiam. Hingga ia menariku pulang, semakin lama semakin jelas apa yang kurasakan. Setiap kali tangan dinginnya menyentuhku, saat itu juga suhu di tubuhku meningkat. Degup jantungku berdetak lebih cepat dan aku sulit mengendalikan diriku untuk menahan apa yang kurasakan.

Cerpen Karangan: Pipit Siti Sopiah
Blog: pipitsitisopiah.blogspot.com

Cerpen 3 Hari (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Time

Oleh:
“Felly! Lo masih di sini?!,” tanya Bram kaget saat melihat Felly masih terduduk serius dengan gitar yang ada di pangkuannya. “Ya?!,” tanya Felly saat menyadari bahwa ruangan studio terbuka.

Hari Yang Kelam

Oleh:
Pagi ini, aku sudah sibuk dengan segala perlengkapan berkemahku. Semua perlengkapan itu kusatukan dalam tas ransel hitamku. Ya, hari ini, aku dan teman-teman seangkatanku akan mengikuti kegiatan out door

Benci Bisa Jadi Suka

Oleh:
Lama-kelamaan aku makin nyaman berada di desa ini, Ayah dan Ibuku pun memutuskan untuk menetap disini. Seperti biasanya pagi itu aku berangkat sekolah bersama Shilla dan Mauline. Ujian dimulai

Ketika Tak Lagi Sama

Oleh:
“Kenapa?” “Kadang, kebahagiaan tidak pernah memihak pada orang baik.” Ven menyeka air matanya, Fajri di sampingnya membuang nafas. Tahu sekali tadi perempuan yang tengah duduk itu baru usai membaca

Ditooo… Apa Lagi (Part 4)

Oleh:
Sore yang dingin, Dito memandang ke langit yang semakin lama beranjak gelap. Tak sampai lima menit kemudian tetes-tetes air hujan mulai jatuh ke bumi. Hiks… hujan lagi… musim apa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *