3 Hari (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fantasi (Fiksi)
Lolos moderasi pada: 18 April 2019

Hingga kami tiba di sebuah persimpangan jalan, dengan hujan yang menuruni kota dengan kami di bawahnya. Ia berhenti berjalan dan berbalik menghadapku “besok adalah hari terakhir, aku ingin tahu apa yang ingin kau tanyakan besok. Aku harap kau menggunakan kesempatan ini dengan baik. Jangan jadi gadis yang bodoh untuk kali ini.” jawabnya lalu berjalan meninggalkanku. Sementara aku masih diam meikirkan apa yang akan aku tanyakan esok. Apakah aku akan bertanya hal yang selama ini membuatku bermasalah ataukah hal yang justru membuat hariku berbeda saat ini.

Malam berlalu, berganti siang ibu sudah membangunkanku pagi ini. “Ehm bu, hari ini kan libur.” ucapku “Nina ini sudah siang.” kata ibuku keceplosan. Seketika kantuku hilang, “Nina atau Risa anak ibu?” kataku sembari beranjak menuju kamar mandi. “Nina, selalu dia yang membuat pagiku buruk apa yang telah dia lakukan hingga ibu tidak mau cerita tentangnya.” gumamku sembari menatap cermin. Seketika aku ingat bahwa hari ini adalah hari terakhir kesepakatanku bersama Diva, kuputuskan tuk tidak terus larut dalam pikiran negatifku. Dan bersiap pergi ke halte untuk menemuinya, syukurlah hari ini cerah.

Sekitar pukul 7 pagi aku sudah sampai dan duduk di halte. Menunggunya, tak seperti biasanya Diva bahkan tak muncul sama sekali. Padahal cuacanya cerah dan tidak berawan sama sekali. Hingga hampir 1 jam aku menunggu hujan pun turun. “Kenapa hujan harus turun sekarang.” gerutuku sembari memainkan kakiku. Tak lama dari kejauhan kulihat, sosok seseorang yang sejak 1jam lalu kutunggu.

“kau sudah menungguku?” tanyanya dengan senyumnya yang masih terasa dingin “tentu, kenapa kau baru datang padahal biasanya setiap pagi kau sudah ada di sini?” tanyaku “tidak, jadi ini adalah hari terakhir kesepakatan kita. Sebenarnya ini sedikit berbahaya, tapi jika kau berhasil aku akan sangat berterima kasih denganmu. Tidak seperti biasanya aku ingin memohon padamu untuk tidak bertanya apapun sebelum malam ini berakhir..” jawabnya “aku berjanji padamu aku tidak akan bertanya sebelum malam ini berakhir. Tapi kau harus berjanji bahwa setelah itu kau akan menjawab semua pertanyaanku.” jawabku sembari berdiri di hadapannya dan mengulurkan tangan. Ia diam beberapa menit. Terlihat seperti sedang menimbang kembali keputusannya. “Baiklah.” jawabnya sembari mengulurkan tangannya yang sedingin es. “Jadi.” jawabku “aku akan memberitahumu, bahwa ini adalah yang terakhir kalinya. Aku ingin kau mencabut semua alat bantu Immanuel Aldiviga Prakasa.” jawabnya “what!” kataku kaget “no question please, kau hanya perlu melakukannya dan kesepakatan kita akan selesai. Kau akan mendapatkan jawabanmu dan aku akan pergi darimu. Aku berjanji bahwa kau tidak akan disalahkan karena ini.” jawabnya. Perasaanku mulai tak tentu, aku yang sedari tadi semangat kini bagai ingin mati. Aku tidak mengerti apakah dia pria yang sama yang mampu membuat hariku mulai berarti. Apakah aku akan bersalah karena dengan mengikuti kesepakatannya maka sama saja aku membunuh seseorang yang bahkan ku tak tahu siapa dia. “Aku tahu ini sulit, tapi percayalah Immanuel tersiksa dengan keadaannya saat ini. Aku tahu keluarganya tidak akan setuju tapi kau akan sangat membantunya.” jawabnya berdiri di hadapanku saat ini. Kutundukan kepalaku dan kubulatkan hati bahwa niatku hanya ingin membantunya “baiklah.” kataku.

Seperti saat sebelumnya kami pergi ke rumah sakit dengan bus. Kamipun sampai di lorong rumah sakit dengan pakaian serba putih seperti seorang dokter. Seperti yang kubayangkan aku berdiri dan menyamar sebagai seorang dokter. “Jadi sekarang pergilah!” jawabnya “kau yakin ingin melakukan ini semua?” tanyaku “aku yakin bahkan sangat yakin jadi pergilah sekarang!” jawabnya.

Kulangkahkan kakiku, hingga sampai di depan ruang rawat Immanuel. Kuputar kenop pintunya, tak kudapati siapapun di sana. Mungkin kini keluarganya sedang dirumah berharap Immanuel segera sadar dan dapat menemuinya kembali. Tapi kini aku yang akan mematahkan harapan yang mereka tanamkan dalam hati mereka. Kulangkahkan kaki mendekati, tempat dimana Immanuel terbaring sekarang. Kutatapnya lekat, kenapa Diva seakan akan tahu benar apa yang diinginkannya. “Immanuel Aldivagi Prakasa aku tidak tahu apakah ini salah atau tidak. Tapi saat Diva berkata bahwa kau memang menginginkannya. Aku seakan percaya padanya, entah kenapa aku merasa Diva seperti benar benar mengenalmu. Aku yakin, karena hatiku mengatakannya. Maaf jika memang yang kulakukan ini menurutmu salah” kataku seperti sedang berbicara padanya walaupun tanpa sebuah jawaban sekalipun.

Saat sejengkal lagi tanganku akan mencabut alat pernapasannya, Diva tiba tiba berada di sampingku. “Kau tidak akan sanggup melakukannya bukan?” tanyanya dan aku hanya mengangguk dan tak terasa mataku menitikan air mata. “Kalau kamu gak sanggup biar aku yang bantu kamu.” jawabnya sembari meletakan tangannya di punduk tanganku “tutup matamu.” jawabnya. Dan aku hanya menurut, dengan tanganku yang masih gemetar dan mataku yang tertutup. Ia mengarahkan tanganku tuk melepas semua alat bantu yang selama ini membantunya bertahan hidup.

Tak lama, suara khas keluar dari monitor pendeteksi detak jantung. “Ngingng.” hanya itu yang kudengar, Walau semua telah selesai tapi aku masih terpaku di tempatku berdiri. Dengan mata yang masih enggan terbuka, kubalikan badanku dan pergi keluar dari kamar pasien.

Aku bersembunyi dibalik sebuah tembok, yang jaraknya agak jauh dari kamar pasien. Dapat kulihat beberapa dokter dan suster berdatangan. Mereka terlihat panik dan aku tahu kenapa penyebabnya. Tak lama kulihat juga seorang wanita paruh baya dan seorang pria yang seumur dengannya berjalan dengan terburu buru menuju kamar pasien Immanuel. Tak dapat kulihat jelas bagaimana wajah mereka tapi aku yakin mereka adalah keluarganya.

Tak lama, seorang dokter keluar dan mengatakan sesuatu yang membuat wanita paruh baya itu terjatuh lemas. Saat itu juga, aku terduduk lemas menangis sejadinya. “Kenapa kau menangis?” tanya Diva yang sedari tadi berdiri di sampingku “aku menangis karenamu, aku bodoh karena telah mengikuti kesepakatan ini. Lihat orangtua Immanuel mereka bersedih bagaimana bisa kau berkata kalau Immanuel akan berterima kasih padaku.” jawabku “kau akan tahu jawabannya, tapi kau harus berdiri dan pergi dari sini sekarang” jawabnya lalu membantuku berdiri dan menuntunku pergi dari rumah sakit.

Saat kami keluar rumah sakit, ternyata waktu berlalu begitu cepat kini jam sudah menunjukan pukul 10 malam “Aneh juga bukan saat kita bertemu kenapa selalu turun hujan.” jawabnya. Sementara aku masih terdiam, karena tidak tahu apa yang akan aku katakan sekarang.

Sekarang dia menarik tanganku, dengan senyumnya yang terlihat lebih hangat. Entah kenapa bibirkupun secara refleks membentuk senyuman simpul. Hingga kami tiba di sebuah persimpangan jalan. Ia berhenti berjalan dan berdiri di hadapanku sekarang. Di bawah rintik hujan kini cahaya dalam senyumnya mulai bersinar. “Apa yang akan kau tanyakan sekarang?” tanyanya “siapa kau?” tanyaku yang membuat senyum diwajahnya kini menghilang “apa maksudmu kukira kau akan bertanya tentang saudarimu?” jawabnya dan mencoba menghindar “tidak penting siapa Nina sekarang, sekalipun ia benar saudariku aku yakin orangtuaku akan menceritakannya padaku suatu saat nanti. Tapi mereka takkan pernah bisa menjawab pertanyaanku ini tentang siapa sebenarnya dirimu.” jawabku

“baiklah karena ini kesepakatan kita.” jawabnya sembari berjalan kehadapanku hingga jarak antara kami sangatlah dekat. “Aku Diva, dan nama lengkapku Immanuel Aldivagi Prakasa.” jawabnya “kau tapi rumah sakit, pasien itu?” jawabku bingung bercampur kaget “jangan bicara karena aku akan menceritakannya.” jawabnya sembari meletakan jari telunjuknya di bibirku dan membuatku terdiam “aku Immanuel Aldivagi Prakasa, seorang pengusaha muda mengalami kecelakaan saat akan menemui clientku di Bandung. Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu kenapa penyebabnya. Tapi aku koma selama hampir 1 tahun terakhir ini. Aku terus mencari hal yang bisa membuatku pergi dan bebas. Tapi bahkan saat aku menemukannya aku tidak pernah bisa mendapatkannya. Setiap kali dokterku menyarankan keluargaku melepas semua alat bantu yang melekat pada diriku. Tapi mereka selalu menolak, hingga suatu saat aku nekat untuk melakukannya sendiri. Namun saat itu juga aku sadar bahwa aku tidak akan bisa menyentuh tubuhku sendiri. Kau ingat di rumah itu kau menemui siapa, dia adalah ibuku dan ibunya Immanuel. Aku hanya tidak mau jika ibu terus berharap, hanya karena merasakan kehadiranku disekitarnya. Pertama ia menerima surat itu aku yakin dia tidak akan percaya pada hal tersebut. Lalu surat yang ia temukan ditangankupun ia hiraukan. Hingga jalan terakhir aku memintamu melakukan hal ini. Kau tahu bukan sekarang bahwa Immanuel Aldivagi Prakasa sangat berterima kasih padamu. Aku minta maaf jika 3hari ini aku berbohong padamu dan membuatmu sulit.” jawabnya

“jadi kau ini hanya arwah, maksudku selama ini aku jatuh cinta pada arwah.” kataku membelakanginya “jatuh cinta?” tanyanya “iya apa kau tahu sikapmu yang dingin justru semakin menariku tukterus dekat padamu. Aku tidak tahu apa yang kurasakan tapi mana mungkin kau arwah aku bisa melihatmu katakan jika ini hanya candaanmu!” jawabku menarik kerah bajunya dan meletakan kepalaku di dadanya “aku adalah arwah yang kini mendapat ketenangannya. Dan tentang kau yang bisa melihatku aku tidak tahu itu kenapa. Tapi, aku yakin kau adalah orang yang istimewa dalam hidupku. Aku tidak tahu tentang perasaanmu, tapi aku ingin memberimu ini.” jawabnya sembari memberiku kotak dan sepucuk surat “apa ini?” tanyaku “entah aku tidak ingat semua kenangan selama hidupku tapi kotak ini tak pernah kulupa dan mungkin ini bisa kujadikan ini sebagai bayaranmu.” jawabnya “kalau begitu jangan pergi dan tinggalah di sini!” jawabku “untuk apa?” tanyanya “untuk mencari semua jawaban yang mungkin masih ada dalam benakmu dan mungkin kau harus tinggal hanya untukku” jawabku “aku tidak pernah memiliki pertanyaan apapun tentangku saat hidup. Aku selalu merasa apapun yang terjadi saat aku hidup biarlah itu menjadi sesuatu yang orang lain kenang. Dan biarkan aku pergi sekarang, jadi coba lihat pukul berapa sekarang!” jawabnya “pukul 11.45 malam.” jawabku “aku akan pergi sekarang tepat tengah malam, jadi 15 menit lagi waktu berlalu maka aku akan bebas.” jawabnya “tapi bagaimana denganku?” tanyaku “kau manusia dan aku arwah maka sekeras apapun keinginanmu dan aku kita tidak akan pernah bisa bersatu. Tapi kita akan menghabiskan menit terkhirku untuk menikmati hujan bersama. Kau tahu Risa kau adalah gadis yang baik, dan kehangangatan darimu juga menarikku. Tapi aku adalah arwah dan tak akan bisa merasakan perasaan seperti apa yang kau rasakan padaku. Tapi Risa kau telah menarikku, sekalipun aku masih hidup aku pasti akan merasakan perasaan hal yang sama seperti yang kau rasakan padaku. Dan tentang hujan ini, setiap rintik hujannya kan menyimpan cerita tentangmu dan aku.” jawabnya “baiklah” jawabku lalu menutup mata dengan tangan terulur dan merasakan rintik hujan yang jatuh mengenaiku.

“Diva bolehkah aku bertanya lagi?” tanyaku “katakanlah.” jawabnya “kenapa kau dan hujan selalu datang bersama?” tanyaku “karena di dalam hujan bahagiaku juga ada di sana.” jawabnya “maka nanti aku pun akan selalu menantimu di bawah hujan.” jawabku “aku juga akan selalu melihatmu di atas sana saat hujan turun.” jawabnya. Tak ada percakapan apapun, hingga jam di tanganku berdering menandakan pukul 12 malam. Aku tersenyum simpul, aku tahu dia telah pergi dan tak ada di sampingku. “Immanuel Aldivagi Prakasa aku mencintaimu!!!!” teriaku sembari menari di bawah hujan.

Cerpen Karangan: Pipit Siti Sopiah
Blog: pipitsitisopiah.blogspot.com

Cerpen 3 Hari (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


10 November (Part 1)

Oleh:
Hari ini hari upacara bendera dan seperti biasanya aku terlambat, akhirnya aku dihukum berdiri di tengah lapangan sampai pelajaran pertama selesai. Astaga, bayangkan saja di terik matahari pagi walaupun

Sahabatku Cintaku

Oleh:
Namaku Ranti aku lahir di keluarga yang bisa dibilang tidak bahagia, karena aku lahir di keluarga yang “Broken Home”. Ya… Kedua orangtuaku telah berpisah sejak aku kecil, dulu aku

Ketabrak Cinta

Oleh:
Brukk. Semua bukuku jatuh berantakan. Seseorang menabrakku, kulirik wajahnya. Seorang laki-laki tampan dengan kulit putih dan bola mata yang sendu. Tangannya ikut membantuku memunggut buku yang berserakan. “Maaf ya,

Scratch Teens (Part 2)

Oleh:
Inikah akhir kisah persahabatanku? Berakhir dengan luka kebohongan Persahabatan yang kami rajut sejak lama Dengan mudah rusak karena kebohongan Haruskah aku menyalah kan Diny? Atau kah Vina? Kurasa tidak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “3 Hari (Part 2)”

  1. Nadiaaa says:

    Whatttt??? Gilakk ceritanya buagusss pollll sukaaa ❤️❤️❤️ endingnya itu kayak gak ketebakk!! Good job dehh

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *