4 Detik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 2 June 2016

“Felly!” seru seseorang saat ia hendak ke luar dari studio musik.
“Kamu!” gumam Felly dengan wajah yang datar dan dingin.
“Ya. Ini aku.” katanya dengan napas yang terengah.
“Apakah kau baru selesai fitness?” tanya Felly polos.
“Tidak! Baru menemukanmu di sini. Apa mungkin, aku fitness tetap menggunakan dasi yang mencekat tenggorokanku dan ketatnya jas ini?! Ku pikir, aku akan mati sesak napas di gym kalau aku fitness menggunakan pakaian panas ini.”

“Hahaha, lantas kenapa kau ada di sini? Bukankah kau harus ada di New York hari ini?!”
“Yah.. seperti kau lihat. Aku sudah pulang dan menghampirimu di kampus ini.”
“Baiklah, ada apa kau ada di depanku? Apakah, ada…”
“Ya. Ada sesuatu yang ingin ku katakan padamu.”
“Apa itu?”
“Bisakah kita pergi sekarang ke tempat yang aku inginkan?”
“Sekarang? Ke mana?”
“Nanti kau akan tahu!” pinta laki-laki itu dengan menarik tangan Felly yang masih tergelantung bebas.

Felly Anggi Wiraatmaja. Gadis dambaan semua pria. Tua maupun muda. Sama seperti cokelat. Bagaimana tidak? Suaranya yang begitu merdu dengan fasilitas tallent permainan gitar dan juga fisik yang menggiurkan. Mirip seperti, kucing. Matanya yang sipit, hidungnya yang mancung sederhana. Dan juga, bibirnya yang begitu tipis tanpa daun. Pink menggoda dengan kulit yang putih cerah. Seperti keturunan dari Korea.

“Kau tidak membawaku ke tempat macam-macam kan?!” tanya Felly mengancam.
“Hahaha. Jikalau iya, kenapa aku harus susah-susah menunggumu?! Kenapa tidak ku hamili saja kau dari sedia kala, hah?! Kau tahu, di New York banyak wanita seksi. Tapi, aku tidak pernah tertarik dengan mereka.”
“Apakah kau sedang menggombal?! Aku benci dengan hal itu,” ucap Felly sambil manyun.
“Hahaha. Tidak. Aku berbicara sesuai dengan kenyataan. Wanita-wanita itu berwajah sama persis dengan anjing. Awalnya, aku ingin menjamah mereka. Tapi, setelah aku ingat bahwa aku memiliki kucing. Aku tidak berani untuk membuat mereka menggonggong dengan ketampananku! Kau paham?!” katanya laki-laki itu dengan wajah yang berseri. Sinis. Lalu, ia tertawa lepas.

“Dasar! Tapi, toh kalau kamu mau bersama mereka juga nggak apa-apa kok!” jawab Felly dengan mengalihkan pandangan matanya ke arah kanan untuk melihat jalanan.
“Hahaha. Inilah yang aku suka darimu! Kau begitu dingin. Padahal, aku sangat kepanasan walaupun AC mobil ini sudah aku setel dengan tenaga full.”

Felly hanya terdiam dalam ramainya suara laki-laki itu. Arka. Lebih tepatnya, Arkana Aditya. Kakak kelas yang telah menjadi cinta pertama Felly. Bahkan, cinta mereka sempat terpisahkan selama tujuh tahun lamanya. Namun, mereka dipertemukan kembali di satu sekolah yang sama. Memang, jarak antara umur mereka tidak terlalu banyak. Akan tetapi, jeniusnya otak Arka memudahkan dirinya untuk mencapai kancah suksesnya setelah Arka lulus sekolah dua tahun yang lalu.

“Hei! Kenapa kau diam kucingku?! Apakah kau ingin keju dengan panasnya beef yang meleleh saosnya? Atau kau ingin cake cokelat dengan selai isi keju yang menggiurkan? Ditambah.”
“Aku ingin tempat itu.”
“Tempat itu?! Di mana?!” tanya Arka bingung.
“Itu!” jawab Felly lemah dengan menunjuk tempat yang ada di depan mata mereka sebelum mobil itu berhenti.
“Kenapa kau meminta tempat itu, hah? Terlalu berbahaya, Fel.”
“Kalau kamu nggak mau. It’s Okay!” kata Felly dengan membuka pintu mobil.
“Ya Tuhan. Dia telah membuatku gila dengan sikapnya! Rasanya, ingin aku menggantikan kuliahnya dan segera menikahinya! Tch! Dasar, lo udah gila, Ka gara-gara cewek kucing itu!” gumam Arka menghardik dirinya setelah melihat Felly yang keras kepala untuk ke luar dari mobil.

“Felly!” seru Arka saat ia sudah kelar dari mobil dan melihat Felly berjalan sendiri menjauhi mobil.
Felly pun menoleh ke arah sumber suara. Tanpa menjawab panggilan Arka, Felly kembali membalikkan tubuhnya dan mendekati tempat itu.
“Astaga! Aku benar-benar gila telah menjadi miliknya!” gumam Arka dengan melangkahkan kakinya menyusul ke arah Felly yang semakin menjauh.
“Apakah kau puas sudah membuat aku gila, hah?!” tanya Arka dengan napas terengah saat ia sudah berjalan beriringan dengan Felly. Tepat, di samping Felly yang masih terdiam dingin. Sedingin tempat itu.

Felly menatap Arka yang bernapas tidak teratur karena mengikutinya tadi. Lebih tepatnya, Felly menatap kekasihnya dengan seksama. Seakan, ia ingin masuk ke dalam mata itu. Menjelajahi dalamnya, dan juga mengetahui apa yang dipikirkan oleh laki-laki di sampingnya. “Kau kenapa menatapku seperti itu?” tanya Arka kepada Felly dengan mengangkat salah satu alisnya. Felly hanya menggelengkan kepalanya perlahan. Kemudian, kembali menatap alam bebas yang hijau.

“Felly, tidak bisakah kau mengeluarkan suaramu sedikit saja?” tanya Arka dengan menatap Felly tajam.
“Aku merindukanmu!” ucap Felly dengan meninggalkan Arka yang masih terdiam termangu dengan ucapan Felly.
“Tch! Gadis gila. Apakah tidak ada cara lain yang lebih mengesankan daripada mengatakannya dengan datar dan ketus? Aku tahu, aku memang pernah meninggalkanmu. Tapi, tidak seharusnya kau membalasnya dengan hal ini kucing. Oh Tuhan, aku akan benar-benar gila saat aku akan kembali ke New York. Hei! Felly! Tak bisakah kau menunggu kekasihmu sebentar saja?!” teriak Arka setelah ia bergumam panjang lebar.

Felly terus berjalan memasuki tempat itu. Sedangkan Arka, ia terus mengejar Felly dengan napas terengah karena jalan yang dilewati olehnya terus menanjak naik. Saat mereka berjalan beriringan, Arka terus saja mengoceh menceritakan semua peristiwa selama ia di New York. Bahkan, Felly hanya bisa menanggapinya dengan tersenyum tipis.
Bagaimana tidak? Felly memandang Arka sama persis dengan burung yang sedang berkicau di sekitar pohon yang berjejer. Ya.. pohon yang menyaksikan kebersamaan mereka setelah kepergian Arka ke New York beberapa bulan yang lalu. Dalam artian lain, mereka menghabiskan waktu bersama untuk membalas waktu yang membuat mereka terpisah. Hubungan jarak jauh yang menelan rasa rindu mendalam. Begitu sakit saat mereka harus menahan rindu itu hingga tiba saatnya.

“Felly!” panggil Arka lembut.
“Hmm?” jawab Felly menyahuti. Tetap dengan pandangan lurus ke depan. Menyaksikan asrinya alam ciptaan dari-Nya.
“Tidakkah kau merasa kesepian saat aku pergi?” tanya Arka dengan kepala menunduk.
“Ya. Sangat!” jawab Felly singkat dengan suara yang tertahan. Mengingat, pertanyaan itu begitu tercekat di tenggorokan Felly. Begitu juga dadanya.
“Hmm, terima kasih!” gumam Arka dengan senyuman tipisnya. Hening.

Hanya ada hembusan napas dari satu sama lain. Seperti halnya mereka merasa lega saat mereka menghirup udara segar di tempat itu. Tempat yang terkenal dengan mitos tentang cinta. Bagi siapa saja yang datang ke tempat itu dengan cinta, maka mereka akan kehilangan cintanya. Dan juga, bagi siapa saja yang datang dengan rasa yang hampa, maka mereka akan mendapat cinta. Semua itu, berawal dari sejarah seorang pemuda yang hanya bisa hidup di tempat itu sendiri tanpa pendamping. Hingga akhirnya, ada gadis yang tersesat dan menjadi istrinya. Mereka hidup bersama hingga mereka menua dan menjadi bodoh. Hingga sang gadis meninggal dan dimakamkan di atas tebing. Di sanalah asal mula tempat itu.

Tebing tempat gadis itu beralirkan air yang deras. Orang-orang menyebutnya, air terjun Kakek Bodo. Mengingat, laki-laki penghuni itu memberikan nama itu sebelum ia menyusul istrinya ke dalam alam baka. Bagaimana tidak? Meskipun Kakek itu menemukan gadis kembali setelah ke luar dari situ, ia hanya mencintai istrinya yang telah meninggal. Hingga akhirnya, ia kembali ke tempat itu dan bersemayam di sana. Sendiri. Tanpa pendamping. Begitu lamanya ia sendiri hingga ia mengucapkan sumpah yang menjadi mitos para masyarakat sekitar daerah itu. Dengan adanya sejarah, tempat itu menjadi tempat wisata yang menarik karena keindahan alamnya. Sangat, sangat, indah. “Felly! Sini!” ucap Arka saat air mulai turun membasahi bumi.

Mereka berteduh di pepohonan dan juga bangunan tua. Begitu juga dengan wisatawan yang berkunjung selain mereka berdua. Akan tetapi, keras kepala Felly mengalahkan perintah Arka. Felly tetap berjalan ke arah air terjun yang tinggal beberapa langkah lagi, mereka akan sampai. Arka kembali bergumam dengan kesal. Namun, ia tak dapat melakukan apa-apa saat melihat kekasihnya yang tercinta terus berjalan. Dengan berat hati, ia berjalan beriringan dengan Felly. Sesuai dengan keinginan, mereka telah sampai di air terjun yang diinginkan oleh Felly. Sejenak, mereka memandang keindahan air terjun itu. Sangat menawan. Felly pun masuk ke dalam genangan air terjun itu. Merentangkan kedua tangannya. Seakan, ia ingin alam itu memeluknya dengan hangat.

Dari kejauhan, Arka hanya bisa melihat Felly dengan pesonanya. Matanya berbinar dengan penuh cinta. Hingga akhirnya, perasaannyalah yang mendorong dirinya untuk berjalan mendekati Felly. Melingkarkan jemarinya dengan erat ke daerah perut Felly. Menenggelamkan kepalanya sela leher Felly. Meloyokan kepalanya untuk menyentuh pundak Felly. Menompangkan kepalanya. Mereka berdua terdiam dengan mata terpejam. Menikmati suasana yang ada. Tempat itu begitu sepi karena para wisatawan masih berteduh di tempat masing-masing. Berbeda dengan mereka. Merasakan jatuhnya air hujan dan juga dinginnya air terjun. Menghirup udara segar dengan penuh kelegaan dan juga, kehangatan kasih sayang antara keduanya.

“Arka,” gumam Felly di tengah ramainya gemericik air.
“Ya?!” jawab Arka dengan posisi tetap seperti semula. Tidak berubah.
“Terima kasih.” gumam Felly dengan menindih kepala Arka yang bersandar di pundak Felly dari arah belakang.
“Untuk apa?”
“Untuk cinta yang kau berikan padaku,” ucap Felly dengan memegang erat tangan Arka yang mulai dingin karena hawa dingin alam sekitar.

Arka mengangkat kepalanya. Memandang Felly dengan tatapan mata yang begitu lembut. Ya.. sangat lembut. Laki-laki itu memang arogan dan sedikit kasar. Dalam perkataan tentunya. Dan, begitu lembut saat hatinya mendorongnya untuk lembut. Dengan mengusap kepala Felly lembut, ia membalikkan Felly agar berhadapan tepat dengannya. Dengan lembut, ia mengecup dahi Felly dengan penuh cinta. Kemudian, memeluknya dengan penuh kerinduan. Begitu juga dengan Felly. Ia merapatkan kedua lengannya yang melingkar di punggung Arka.

Bahkan, Felly berada dalam pelukan Arka dengan isak tangisnya. Tak kuat menahan rindu yang telah ia kurung dengan benteng yang begitu kuat. Mereka berpelukan dengan derasnya hujan dalam kurun waktu yang begitu lama. Hingga hujan, mulai menyurut dengan sendirinya. Di sanalah mereka melepaskan pelukan itu. Arka mendongakkan kepalanya ke arah samping. Melihat air terjun yang menjadi saksi cinta mereka. Matanya menyapu seluruh sisi air terjun yang ada di sampingnya. Hingga akhirnya, ia melepaskan pelukannya dengan Felly.

“Lihatlah, sayang!” ucap Arka dengan mengarahkan kepala Felly lembut. Menunjukkan arah yang harus di lihat dengan jari telunjuknya. Melalui jalan yang terbuka dari dagu Felly. Felly hany bisa mengembangkan senyumnya dan juga membentuk mulutnya dengan huruf berbentuk, “o”. “Bagaimana?” tanya Arka. Felly hanya bisa mengangguk dengan mata berbinar saat melihat mata Arka yang membuat Felly mengerti akan maksudnya. “Bagaimana kalau kita foto bersama?” lanjut Arka.
“Ayo!” jawab Felly semangat.

Mereka pun foto bersama menghadap ke arah pelangi yang terletak di atas air terjun. Begitu indah. “Ini akan jadi foto terakhir kita. Aku akan kembali ke New York dalam beberapa hari. Mungkin, aku akan kembali setelah kau lulus dari kuliahmu nanti. Untuk, meminangmu sebagai istriku. Dan juga, Ibu dari Arka junior,” ucap Arka. Dalam hitungan waktu 4 detik. Mereka menyatakan cinta. Waktu itu begitu singkat bagi mereka. Akan tetapi, begitu berharga. Itulah rasanya cinta. C-I-N-T-A. Rasa yang sulit terungkapkan dengan kata-kata. Namun, tetap tertangkap dengan tebakan tatapan mata.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani (Pakai kerudung putih), twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Cerpen 4 Detik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Goodbye My First Love

Oleh:
Januari 2013 ini seseorang yang pernah berada di hatiku dalam waktu yang cukup lama melangsungkan pernikahan. Aku dapat kabar dari teman dekatku yang kebetulan juga tetangga satu RT, smsnya

You Are My Korean Love (Part 1)

Oleh:
Aku kembali mengecek ulang surat tugasku. Beberapa kali ini aku udah mendesah. Masa iya aku harus tugas ke Korea? Itu kan jauh. Dan aku harus bertugas selama tiga tahun.

Cintaku Tidak Sia Sia

Oleh:
Seperti biasa, rutinitasku setiap hari adalah berangkat pagi-pagi sekali untuk melakukan ritual pagiku di sebuah loker milik seseorang. Seseorang yang telah berhasil membuatku begitu tergila-gila padanya, meskipun aku tak

Suami Baru

Oleh:
Shania, 24 tahun, wanita yang baik dan patuh pada permintaan kedua mertuanya. Dia hanya bisa keluar rumah jika bertemu ibu atau adiknya, Emira. Shania saat ini sedang di rundung

Si Pipit Genit

Oleh:
Saat itu, si pemburu itu, dia berjalan sendirian. Dia berjalan pada jalan yang memang sudah sering dilaluinya. Dia tahu ini pekerjaannya, hobinya, yang memang begitulah dia. Dan saat dia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *