4900 Sekon With You

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 30 September 2015

Dan waktu. Dan waktu pun terus berlalu. Menemani hari-hari kita. Indah. Semua sempurna. Waktu itu adalah waktu yang sangat berarti baginya. Waktu yang membuatnya tak pernah lupa dengan seseorang. Senja yang indah, di bawah langit oranye ini dia berdiri menatap puncak-puncak gedung yang tinggi itu. Rambutnya terbelai oleh desiran angin yang berhembus.

“Senja yang begitu indah.” gumam Oik.
“Seindah wajahmu.” Sambung seseorang di belakang Oik. Oik menoleh ke arahnya. Seseorang itu tersenyum. Ia langsung mendekat dan memeluk orang itu. Ia sebenarnya tak ingin melepas pelukan itu seperti ia tak mau orang itu pergi.
“Kamu dari mana aja? Aku tak melihatmu seharian. Di sekolah pun kamu tak ada. Kamu habis dari mana sih Kka?” tanya Oik pada orang itu Cakka Danish Gabriel. Sahabatnya. Cakka memegang bahu Oik dan menatapnya lekat.
“Tak usah khawatir. Aku tak apa-apa.” ucap Cakka menyakinkan.
“Lantas kenapa kamu tak berangkat ke sekolah ataupun mengabariku?” Cakka berjalan mendekat ke arah tembok pembatas itu. Menerawang jauh melihat pemandangan dari atas. Oik berjalan mendekat ke arah Cakka. “Aku sedang bosan dengan suasana sekolah. Aku sedang butuh refreshing.” lanjutnya.
“Tapi, kamu juga gak boleh kayak gitu dong. Sekolah juga penting buat kamu. Tapi kalau itu maumu aku juga gak bisa maksa.”

Langit oranye itu perlahan menghilang dan perlahan menjadi sedikit gelap. Cakka dan Oik masih berada di atas gedung itu. Cakka menoleh ke arah Oik.
“Malam ini kan malam minggu, kamu ada acara gak? Atau ada kencan dengan pacar barumu itu?” tanya Cakka. Oik menggeleng perlahan mengisyaratkan malam ini ia tak ada janji dengan siapapun.
“Enggak. Lagian dia kan lagi pergi ke luar kota dengan keluarganya tadi sore. Memangnya ada apa Kka?”
“Gimana kalau kita sekarang pergi ke alun-alun kota?”
“Eum… boleh juga. Ayo let’s go!”
Cakka tersenyum. Oik menggandeng tangan Cakka dan menuruni setiap anak tangga gedung itu. Cakka menyodorkan sebuah helm ke arah Oik.
“Ini pake biar kepalamu gak kenapa-kenapa.”

Cakka menstarter motor vespanya. Oik pun ikut naik dan membonceng di belakangnya. Cakka mengegas motor itu cepat dan Oik yang semula duduk menjadi berdiri dan merentangkan tangannya merasakan terpaan angin di tubuhnya.
“CAKKA OIK is Best Friend Forever!!” teriak Oik. Cakka hanya bisa tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.

Beberapa menit kemudian, mereka sampai di alun-alun kota. Cakka memarkirkan vespanya dan mengajak Oik turun. Oik menyerahkan helm yang dipakainya pada Cakka. Cakka menerimanya dan ia membuka jok motornya mengambil sesuatu dari jok motornya. Sebuah kamera SLR.
“Naik itu yuk!” Ajak Oik sambil menunjuk sebuah sepeda yang dihiasi lampu yang menyala dan berkelip-kelip. Oik mengambil sebuah sepeda untuk dinaikinya. Cakka pun sama. Oik mulai menggoes sepedanya mengelilingi alun-alun kota. Cakka menyalip Oik yang sedang mengayuh sepadanya dan memotretnya.
CKREK!!
“Yang semangat ya!”
“Cakka!!!”

GUBRAK!! Oik terjatuh dari sepedanya karena tak melihat jalan yang ada di depannya. Cakka yang sudah ada di depan pun ikut berhenti. Mendekat ke arah Oik yang sedang memegangi lututnya yang sedikit memar. CKREK!! Cakka dengan jahil memotret sahabatnya yang terjatuh itu.

“Orang jatuh kok malah difoto. Ditolongin kek..” Cakka mengalungkan cameranya dan mengulurkan tanganya.
“Sini aku bantu,”
“Gak usah makasih. Aku bisa sendiri kok.”Oik berusaha berdiri sendiri tapi sebelah kakinya tak mampu menahan tubuhnya dengan sigap tangan Cakka langsung menopangnya agar tak terjatuh.
“Katanya bisa sendiri kok jatuh?” Oik menyeringai ke arah Cakka. Cakka hanya tersenyum sinis sambil membantu Oik berdiri. “Gimana kalau kita makan nasi goreng di tenda pinggir jalan itu. Katanya enak.” Ajak Cakka.
“Boleh juga aku juga lagi laper nih.” Cakka dan Oik berjalan ke lapak itu. Oik duduk di sana sedangkan Cakka memesankan makanan.

“Bu pesen nasi goreng 1 sama mau minta es batu sama serbetnya boleh?”
“Ini mas serbet sama es batunya.” Cakka menerimanya dan berjalan mendekat ke arah Oik. Oik memandangi Cakka bingung. Kenapa Cakka membawa es batu dan serbet?
“Buat apa itu Kka?” Cakka mendekat dan membungkus es batu itu dengan serbet dan mengkompres lutut Oik. “Aww….”
“Tahan dulu biar memarmu hilang.” Oik tersenyum.
“Makasih. Kamu memang sahabat yang paling perhatian.”

Cakka tak menjawab apa-apa. Tiba-tiba handphone Oik berbunyi nyaring. Oik merogoh saku celananya dan melihat siapa yang memanggilnya.
“Boleh aku mengangkat telepon dulu?” Cakka mengangguk dan Oik berjalan ke luar tenda itu.
“Halo, Dev?”
“Sayang, aku cuma mau ngabarin kamu kalau aku udah sampai di Magelang.”
“Alhamdullillah semoga acara keluarganya lancar ya jangan lupa buah strawberrynya. Ya udah sekarang kamu istirahat dulu jaga kondisi.”
“Sipp.. bye sayang.”

KLIK! Oik menutup teleponnya dan kembali ke arah Cakka. Cakka masih terduduk di sana sambil menatap sepiring nasi goreng yang ada di hadapannya. Ia mendongak ke arah Oik.
“Telepon dari Deva?”
“Iya. Dia cuma ngabarin kalau dia udah sampai di Magelang.” Cakka mengangguk. Oik mengedarkan pandangannya ke atas meja. “Loh kok makanannya cuma satu?”
“Iya. Biar lebih hemat. Lagian pasti kamu gak bakalan habis satu piring kan?”
“Iya juga. Ayo makan udah laper nih. Oh ya gimana kalau kita foto sambil suap-suapan?” usul Oik.
“Eum, boleh juga. Mas boleh fotoin kita?” tanya Cakka pada seorang pelayan.
Pelayan itu mengangguk dan menerima kamera yang disodorkan oleh Cakka. Cakka mulai menyuapi Oik dan Oik menyuapi Cakka. CKREK!!

Foto Cakka dan Oik berhasil diambil. Pelayan itu mengembalikan kamera Cakka. Cakka dan Oik mulai menghabiskan sepiring nasi goreng itu. Dalam tenang dan dalam kehangatan. Perlahan sepiring nasi goreng itu habis dan alun-alun kota mulai menyepi.
“Pulang sekarang yuk udah malem.”
“Yuk…”

Cakka membayar pesanannya dan mendekat ke arah vespanya. Ia mengegas vespanya dan melaju menuju rumah Oik. Kepala Oik bersandar di punggung Cakka dan tanpa terasa ia terlelap. Vespa Cakka berhenti di sebuah rumah. Ya rumah itu adalah rumah Oik Aluna.
“Oik, bangun sudah sampai di rumahmu.” Oik mengangkat kepalanya dan membuka matanya perlahan. Mengumpulkan nyawanya kembali. Oik turun dari vespa Cakka.
“Makasih kka, kamu udah buat malam minggu ini berwarna.”
“Sama-sama. Ini aku punya sesuatu buat kamu. Tapi jangan dilihat dari harganya tapi artinya.” Ucap Cakka sambil menyodorkan sebuah bros kupu-kupu dari benang wol. “Jangan kau pergi dan terbang melupakanku seperti kupu-kupu bersayap.”
“Aku tak akan melupakanmu, Kka. Makasih”
“Have a nice dream. Sleep night”
“Sleep night too. Be Careful…” Cakka mengangguk dan mengegas vespanya kembali menuju rumahnya.

“Seketika dia yang dulu pernah ada. Pernah ada di hatimu kini datang. Membuatmu bimbang. Namun sayangnya telah ku jatuhkan hati. Dan bila kau tak kunjung tetapkan rasa. Di mana hatimu berada. Kan ku lepaskan kau selamanya.”

Di teras, ia sudah disambut oleh Bundanya. Ia menyetandarkan vespanya dan berjabat tangan dengan Bunda.
“Kka, kamu sudah billang sejujurnya pada Oik?” Cakka menggeleng.
“Aku tak sanggup. Saat perasaan itu hadir aku semakin tak sanggup Bunda.” Ucap Cakka sembari duduk di samping Bundanya.
“Kka, dengarkan Bunda kamu harus jelaskan semua pada Oik jika kamu tak mau dijauhi olehnya. Memang ini berat. Berat untuk persahaban kalian, perasaanmu itu, dan semuanya. Tak ada salahnya kan kalau kamu berkata jujur? Setidaknya itu sudah membuatmu lega.”

“Tapi, sepertinya perasaan itu akan aku kubur dalam-dalam. Semua yang aku mau tak harus ku miliki kan? Bahagiaku adalah ketika melihat dirinya bahagia, maka aku akan pendam rasa tentangnya agar mata ini bisa selalu melihatnya bahagia. Dan aku akan benar-benar pergi.”
“Terserah kamu mau apa. Yang penting Bunda sudah memperingatkanmu.” Bunda Cakka beranjak dari tempat duduknya kemudian masuk ke dalam rumah sedangkan Cakka masih duduk di sana sambil meregangkan otot-ototnya. Bunda menoleh ke belakang.
“Jangan tidur terlarut malam, Bunda tak ingin besok kamu terlambat dan pikirkan lagi sebaiknya kamu menjelaskan tentang yang terjadi besok pagi.” Bunda kembali melanjutkan langkahnya. Cakka merebahkan punggungnya di kursi itu.
“Malam yang begitu singkat.”

“Dan bila kau tak kunjung. Lupakan dia.. Dia yang telah membuatmu luka. Kan ku ikhlaskan kau selamanya. Katakanlah semua. Dan lagi.. ku salah menjatuhkan hati. Ku jatuhkan pada dirimu yang. Ada di antara aku dan dia. Namun sayangnya telah ku jatuhkan hati.”

Cakka menatap suasana pagi hari dari balik jendela kamarnya. Mungkin ini adalah hari terakhirnya melihat seperti ini di sini. Ia menutup tirai jendela kamarnya. Ia mengambil setangkai mawar yang ada di meja belajarnya. Menghirup aroma bunga itu.
“Cakka, cepat turun sebentar lagi kita harus sudah ada di bandara.” teriak Bundanya dari bawah. Cakka menggenggam setangkai mawar itu dan tangannya menggeret sebuah koper besar berwarna abu-abu.
Cakka berdiri di samping mobil yang akan mengantarnya ke bandara. Ia meletakkan kopernya di bagasi mobil dan masuk ke dalam mobil. Bunga mawar tadi masih dipegangnya sampai sekarang.
“Bunda, bisa mampir ke rumahnya Oik sebentar?” tanya Cakka
“Bisa tapi hanya sebentar.” Cakka hanya mengangguk. Mobil yang membawa Cakka dan keluarnganya mulai melaju.

Kepala Cakka menoleh menatap pinggiran jalan yang mungkin ia tak melihatnya lagi. Mobil itu berhenti tepat di depan rumah Oik. Ia turun dari mobil dan berjalan menuju pintu utama rumah Oik. Tangannya hendak mengetuk pintu itu, namun ia berpikir. Ia sudah tak punya banyak waktu lagi, lebih baik ia menaruh bunga mawar ini saja. Cakka menaruh bunga mawar itu di depan pintu dan membalikkan tubuhnya.
“Maafkan aku, Oik. Sampai jumpa.” Cakka menundukkan kepalanya dan menahan air matanya agar tak terjatuh.

Oik membuka pintu utama rumahnya, menghirup udara segar pagi ini. Kepalanya menunduk menangkap setangkai mawar merah yang terkait sebuah keras berbentuk hati. Ia meraih bunga mawar itu dan membuka kertas itu. Ia duduk di teras rumah sembari membaca isi kertas itu.

“Dear Oik,
Mungkin, mawar merah ini mengagetkanmu saat kau membuka pintu? Kalau iya maafkan aku. Tapi kamu suka kan sama bunga mawar ini? Ku harap kau menyukainya. Maafkan aku, aku memberi tahumu dengan cara seperti ini, jika aku menjelaskannya secara lisan aku tak sanggup. Tapi aku masih punya hati untuk membuatku tak terlalu sedih. Sebenarnya aku hanya ingin memberitahumu kalau aku sekarang sudah pindah dari Jakarta. Dan pertemuan tadi malam adalah pertemuan terakhirku denganmu.

Sebenarnya aku tak ingin meninggalkan kota yang penuh kenangan ini tapi aku tak bisa berbuat apa-apa. Maafkan aku, semoga kamu bisa mendapat sahabat yang lebih baik dariku dan tak akan pernah meninggalkanmu. Aku sudah pergi dan jangan cari aku. Jangan tangisi persahabatan kita. Jika memang kita bertakdir untuk dipertemukan kembali, aku yakin kita akan bertemu.
Salam hangat,
Cakka Danish Gabriel”

Oik menutup kertas itu, tangannya menyangga wajahnya. Matanya terus meneteskan air mata. Terisak dalam perpisahan yang begitu perih.
“Hiks… hiks.. Kenapa kamu tak bilang itu pertemuan terakhir kita? Kamu jahat Cakka! Kenapa kamu tega meninggalkan persahabatan kita!” Tiba-tiba ada yang merangkul tubuhnya hangat dan menghapus air mata yang ke luar dari mata Oik.
“Anak Mama kenapa pagi-pagi udah nangis?” Oik langsung memeluk tubuh mamanya erat menghilangkan semua kepedihannya saat ini. “Sayang, buang semua air mata yang ingin kau buang. Mama akan setia menemanimu di sini.”ucap mamanya sambil menepuk punggung Oik.

“Mama, Cakka.”
“Cakka kenapa?”
“Cakka pergi meninggalkanku dan meninggalkan persahabatan kami dan dia hanya memberitakannya lewat surat.” Ucapnya sambil melepas pelukannya dan memberikan surat itu paada Mama. Mama Oik membacanya sekilas dan menatap mata Oik.
“Oik dengarkan Mama, Ini lebih baik daripada kamu tak dikabari sama sekali. Setiap pertemuan pasti ada perpisahan entah bentuknya apa. Mungkin perpisahan ini adalah jalan terbaik yang diturunkan Tuhan untuk kalian berdua. Seperti kata Cakka Jika Tuhan menghendaki kalian bertemu pasti akan bertemu entah kapanpun itu. Yakinlah. Dunia ini terus berotasi Oik dan tak akan berhenti di sini.”
“Thank’s mom.” Oik kembali memeluk Mamanya.

Ini adalah hari pertama Oik menjalani hari-hari di sekolahnya tanpa sahabatnya, Cakka. Ia berusaha bertahan. Melangkahkan kaki menyusuri sepanjang koridor menuju kelasnya.
“Oik…” panggil seseorang dari belakang. Oik menoleh ke arah orang itu. Orang itu berlari mendekati Oik.
“Deva, kapan kamu pulang?”
“Tadi malam. Yuk kita ngobrol di bawah pohon itu biar lebih enak.” Deva menarik lengan Oik menuju bawah pohon itu. Mereka duduk bersebelahan. “Ini strawberry pesenan kamu.”
“Makasih. Acara keluargamu di Magelang gimana?” Raut wajah Deva menjadii murung seketika. Seperti ia tak mau mengungkit ungkit acaranya di Magelang. “Kok kamu murung? Ada yang salah sama pertanyaanku?” selidik Oik.
“Oh, tidak. Tapi ada sesuatu yang ingin aku katakan sama kamu. Ini penting.”
“I will heard you when you tell that story.” Oik menghadapkan wajahnya ke arah Deva.
“Aku minta maaf, sepertinya ini akan menjadi berita buruk.” Oik menarik napas. Mengatur emosinya. Siap menerima hal terburuk yang akan terjadi. “Kemarin, di Magelang ternyata membicarakan hal perjodohanku dengan anak teman bisnis Papa. Sebenarnya aku ingin menolak tapi, aku tak bisa apa-apa jika perusahaan Papa ingin selamat. Jadi maafkan aku, hubungan kita akan berhenti sampai di sini. Tapi, aku mohon jangan jauhi aku. Kita bisa jadi sahabat.”

Oik menelan ludahnya yang susah tertelan. Hatinya sakit. Kenapa kemarin sudah sekarang ada lagi? Kenapa semuanya menjauhinya? Dua hari perpisahan yang sangat membuat hatinya luka dan perih dan tak sanggup dilupakan.

Dua tahun Oik hidup tanpa 2 orang yang ada di dalam hatinya walaupun seseorang tetap menjadi sahabatnya. Kini Oik remaja sudah menjadi dewasa dan pindah dari kota kelahirannya. Jakarta. Setelah lulus SMA, Oik memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya di sebuah universitas terbaik di Jogja. Ia mengambil fakultas arsitektur. Ia mulai membangun kehidupan baru di Jogja.

“Sore senja di sudut Jogja. Terucap doa kau tau isi hati ini. Dan bila itu tak terungkap. Tetap ku nikmati, rasa jatuh sendiri.”

Senja ini, Oik tak ingin mengurung dirinya di dalam kamar kost. Ia mengambil kamera SLR yang tergeletak di meja belajarnya. Ia menaiki motor matic yang terparkir di depan kost. Melajukan motor itu menyusuri jalanan kota jogja senja hari menuju ke alun-alun kota Jogja. Ia turun dari motor dan memakirkan motornya di parkiran. Ia mulai memotret setiap sudut alun-alun. Pandangannya tertuju pada 2 buah beringin kembar yang ada di tengah alun-alun. Ia mengambil titik fokus yang paling tepat. Namun, tiba-tiba titik fokus itu berubah menjadi seseorang yang hendak memotret juga tapi, dari arah yang berlawanan. Oik menurunkan kamera SLRnya begitu pula dan orang itu. Mulut Oik ternganga melihat seseorang yang ada di hadapannya.

“Tak mampu ku ungkap segalanya. Izinkan ku renungkan. Segala rasa. Biarkan kata hati bicara. Dan bila kita tercipta. Untuk bersama. Biarkan kata hati yang tunjukkan. Mungkin nanti akan ku sesali. Hari ini ku diam dan tak lakukan.”

“Cakka Danish Gabriel?” tanya Oik. Orang itu tersenyum. Ia yakin dan hafal senyuman itu senyuman yang meninggalkan bekas lesung pipi. Oik memeluk orang itu. Cakka. Dengan erat. “I miss you so much, Cakka.”
“I very miss you, Oik.” Oik melepaskan pelukannya.
“Gimana kalau kita ke angkringan dulu buat melepas rindu?” usul Cakka.
“Boleh juga. Ayo!”

Cakka dan Oik duduk di sebuah angkringan pinggir jalan. Cakka berdiri dan memesan minuman untuk mereka berdua.
“Pak, jahe anget kalih.” Cakka kembali duduk di samping Oik.
“Oik maafkan aku perihal surat yang dulu. Aku mengabarimu secara mendadak dan aku menyuruhmu untuk tak mencariku. Dulu aku gak tega buat ngomong langsung ke kamu. Sebenarnya, aku pergi karena Ayahku dipindah dinaskan ke Raja Ampat.” Jelas Cakka.
“Sudahlah tak usah dibahas. Yang penting kata-kata terakhir di suratmu itu benar-benar terkabul kan? Kalau Ayah kamu didinaskan di Raja Ampat kenapa kamu ada di Jogja?”
“Aku kuliah di sini. Di Universitas Negeri Yogyakarta. Kamu sendiri kok bisa di Jogja?”
“Aku juga kuliah di sini.”
“Niki mas ujukanipun.” ucap tukang angkringan.
“Matur suwun pak.” Jawab Cakka.

“Nih di minum susu jahenya.” Oik menerima gelas yang diberikan Cakka padanya. Menyeruput isi di gelas itu perlahan.
“Sejak kapan kamu bisa bahasa Jawa Jogja?”
“Aku kan udah kuliah di sini 2 tahunan. Pas pindah SMA aku ikut program aksel jadi bisa 1 tahun lebih cepat dari pada kamu. Gimana kabar pacar kamu?”
“Aku udah gak punya pacar. Aku single. Dia putus tepat satu hari setelah kepergianmu.”
Mendengar penyataan Oik, Cakka berpikir ia teringat sampai saat ini Ia tak bisa melepas perasaan itu. Perasaan yang membuatnya selalu rindu pada Oik lebih dari sahabat. Ini adalah peluang besar.
“Kamu sendiri udah punya pacar?” tanya Oik. Cakka hanya menggeleng. Cakka menggenggam telapak tangan Oik.

“Tak mampu ku ungkap segalanya. Izinkan ku renungkan. Segala rasa. Biarkan kata hati bicara. Dan bila kita tercipta. Untuk bersama. Biarkan kata hati yang tunjukkan. Mungkin nanti akan ku sesali. Hari ini ku diam dan tak lakukan. Tak mampu ku ungkap segalanya.”

“Sebenarnya ini adalah alasanku kenapa aku tak pernah berpacaran. Aku merasakan perasaan itu ketika kamu tumbuh menjadi remaja. Menjadi gadis yang cantik. Dan mulai saat itu aku mencintaimu. Sebenarnya aku ingin ungkapkan namun lidah ini kelu dan kamu sudah memiliki pasangan. Aku pendam perasaan ini dalam-dalam sampai tak terlihat. Dan Tuhan menjawab perasaanku lewat waktu. Aku mencintaimu, Oik. Maukah kamu menjadi orang yang mengisi hatiku lebih dari seorang sahabat?” tanya Cakka dengan menatap mata Oik lekat dan penuh pengharapan.

Oik berpikir mungkin ini juga perasaan yang sama. Dulu waktu Cakka pergi dan Deva pergi, hatinya lebih kehilangan ketika Cakka pergi. Apakah ini juga perasaan yang sama dengan Cakka? Oik masih merenung menanti kata hatinya berbicara. Detik demi detik terus berjalan hingga 4900 detik ia akan menjawab permintaan Cakka. Tepat 4900 detik Oik menganggukkan kepalanya dan tersenyum manis mengiyakan. Cakka langsung memeluk erat tubuh Oik.
“Terima kasih Oik”
“Sama-sama, Kka. Aku sadar orang-orang yang ada di dekat kita dan menjadi sahabat, bisa jadi itu adalah jodoh kita sendiri.”

The End

Cerpen Karangan: Diana Kusuma Astuti
Facebook: Diana Kusuma Nuradlani

Cerpen 4900 Sekon With You merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jodoh yang Ditunda

Oleh:
Ketika sadar aku sudah berada di rumah sakit dengan balutan di tangan serta kaki, untung saja kepalaku tidak apa-apa. Saat itu aku melihat Lia sedang berdiri di samping perawat

Loker Sekolah

Oleh:
Tap, tap, tap. Terdengar suara derap kaki melewati lorong -lorong sekolah. Angin yang berhembus menerpa rambutnya yang tergerai indah. Krek. Perlahan tangan halusnya membuka sebuah loker yang bertulis Ridho

Senyum Manis di Balik Air Mata

Oleh:
Sudah sekian lama aku bersamanya. Menjalani berbagai kisah yang yang tak mungkin bisa kulewati bersama siapapun. Suka dan duka kita lewati bersama. Senyumnya adalah semangat bagiku. Kesedihannya adalah kesedihanku.

Akhir yang Bahagia (Part 2)

Oleh:
Enam bulan sudah aku meninggalkan rumah itu. Aku tak tahu keadaan Raka sekarang. Aku hanya bisa menangis bila mengingat tentang dirinya. Sekarang aku tinggal di sebuah masjid yang jauh

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “4900 Sekon With You”

  1. Lusi says:

    cerpen nya bagus banget! 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *