7 Years of Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 14 June 2013

Ku pandangi langit malam ini yang menyembunyikan indahnya cahaya rembulan melalui jendela kamar ku yang ku biarkan terbuka, terdengar sayup lantunan lagu Kyu Hyun “7 Years Of Love” dari laptop ku yang sejak sejam yang lalu ku nyalakan yang seolah mewakili suasana hati ku saat ini. Angan ku melayang ke 4 taun silam, hati ini mulai terasa sesak mengingat semuanya. Perlahan air mata ku terjatuh menggambarkan betapa sakitnya hati ini “Sakit tuhaaaan” lirih ku, ku remas kerah baju ku, sakit, sakit sekali.

05 juni 2013
Sore ini memang nampak mendung namun tak mengurungkan niat ku untuk pergi ke sebuah taman kecil yang tak jauh dari tempat kost ku. Sesampainya disana, tak terlihat banyak orang berlalu lalang, hanya terlihat beberapa pasang remaja yang sedang asik mengobrol di bibir kolam ikan taman. Dan aku memilih untuk duduk di bawah pohon akasia yang rindang yang akan melindungi ku dari matahari jika matahari bersinar terik, namun kini nampaknya langit sedang bersedih, segera ku buka buku yang sengaja ku bawa, sesaat perhatian ku tertuju pada seeorang yang sedang duduk bersandar memainkan gitar akustiknya di bawah pohon akasia di sebrang tempat ku duduk yang memang tak ada bangku disana. Aku tersenyum menggelengkan kepala “tak mungkin dia ada disini” pikir ku.

Saat sedang asik membaca kurasakan ada sesuatu menyentuh kulit lengan ku, ku alihkan perhatiaan ku pada lengan ku, lagi-lagi aku tersenyum dan ku tengadahkan wajah ku ke langit “hujan, aku suka hujan. Aku mohon jangan buat aku membenci hujan” namun aku tersadar aku tak boleh membiarkan buku ini basah apalagi rusak, jika itu benar terjadi maka sahabat ku takan segan untuk membunuh ku, karena hujan semakin deras, segera ku menuju sebuah gazebo di taman ini yang terletak dekat dengan jalan keluar taman. Nampak ada seseorang yang juga berteduh disana, sepertinya dia lelaki yang tadi memainkan gitarnya di bawah pohon, entahlah. “Tuhan mengapa Jantung ku berdegup sekencang ini” lirih ku.

“basah” lenguh ku tanpa memperdulikan orang yang juga berteduh di gazebo ini sambil terus sibuk mencari handuk kecil yang selalu ku bawa di tas. Tangan ku terasa dingin dan berkeringat “ah, ada apa dengan diri ku”
“pake ini aja dulu” lelaki itu memberikan handuk kecil berwarna biru muda, ada bordiran huruf “A” di salah satu sisinya. Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi dimana? Tak mungkin jika hanya tak sengaja aku melihatnya di toko. Segera ku alihkan pandangan ku pada pemilik handuk itu.
“Daffa” betapa terkejutnya saat ku tau dugaan ku benar
“Auffa” segera dia menarik tangannya yang masih menggenggam handuk kecil itu.

Cerpen 7 Years of Love

°°°

Juni 2009 (4 taun Lalu)
Tak ada yang bisa ku lakukan saat ini, tangis ku tak henti-hentinya memenuhi ruang kamar ku.
“Sudahlah Auffa, dia memang bukan yang terbaik untuk mu” sahut Nira Menenangkan ku.
“Dengar aku Auffa, jika dia memang benar menyayangi mu takan mungkin dia tega menyakiti mu seperti ini” tegas Diki yang mulai kesal karena aku terus menangis, aku tak menggubrisnya, aku hanya terus menangis sesenggukan di pelukan Nira.
“kamu terlalu naif Auffa, kamu tak pernah menganggap aku ada, orang yang jelas-jelas menyayangi mu” lirih Diki.
“Maaf” suara ku semakin terengar parau, ya hanya itu yang dapat ku katakan, sungguh Diki bukan kata-kata itu yang ingin ku dengar saat ini.

Daffa adalah sosok yang sangat ku cintai, selama tiga tahun kami bersahabat baik, aku, Daffa, Nira dan Diki, selama itu pula diam-diam aku mencintai Daffa, dari sikap dan perhatiaanya semakin membuat ku yakin Daffa pun mencintai ku karena Daffa memperlakukan ku layaknya seorang kekasih, tak jarang teman-teman sekolah kami menganggap kami berpacaran, selain itu Diki mencintai ku dalam diamnya, aku mengetahuinya saat ku terluka karena Daffa dan aku terlalu sibuk dengan perasaan ku hingga aku tak merasakan kehadiran cinta Diki.
Tak ada yang berbeda dari sikap dan perhatiaan Daffa untuk ku, yang membuat ku semakin berharap, bahkan saat aku tau Daffa berpacaran dengan Maura sekali pun, Maura teman sekelas kami.
Hati ku sakit teramat sakit, lalu apa arti dari semua perhatian itu Daffa? Setelah kelulusan sekolah aku pun langsung pergi ke Bandung untuk melanjutkan study disana, tak ada kata perpisahan yang ku ucap pada Daffa, bahkan aku pun tak datang di acara “FORM NIGHT” di sekolah, berkali-kali Daffa menghubungi ku namun aku mencoba untuk tak memperdulikannya.

°°°

Aku mencoba berlari menembus hujan yang semakin deras namun Daffa menarik tangan ku yang membuat ku berbalik menghadapnya “Tunggu Auffa”

Kecewa, sakit, sesak, marah, sesal, seakan menguasai diri ku yang membuat bendungan air mata ku pecah, Daffa membawa ku ke dalam pelukannya, tangis ku semakin menjadi ada rindu disana seakan tak ingin peluknya terlepas.

“Maafkan aku Auffa, aku terlalu angkuh untuk tak merasakan sakit, tak kecewa, maafkan aku, selama ini aku selalu mencari mu, namun tak ada yang mau memberi tau ku, Nira sekali pun, sampai pada akhirnya ku putus kan untuk pindah kuliah ke Bandung” bisiknya yang semakin erat memelukku, ku coba untuk melepaskan pelukannya, perlahan Daffa merenggangkan pelukannya.

“Aku tak pernah meminta untuk jatuh cinta sama kamu Daffa, jujur sakit saat aku harus terima kamu mencintai orang lain dan itu bukan aku, mungkin akan menyenangkan jika kita bisa memilih pada siapa kita ingin jatuh cinta tanpa harus merasa sakit, tapi itu tak mungkin Daffa, tak mungkin” ku coba tersenyum di sela tangis ku “Sebenarnya aku tak ingin lagi menangis karena hal ini, namun semua akan selalu berdampingan dengan ku jika saja aku tak bisa berdamai dengan hati ku, aku mencintai mu Daffa, kini, esok dan mungkin selamanya, kini aku putuskan untuk berdamai dengan hati ku, jika memang kita berjodoh kita pasti akan bertemu kembali, dan jika itu terjadi, pinanglah aku” kulihat hujan mulai mereda, ku berikan senyum terakhir untuk pertemuan hari ini sambil ku usap air mata yang tersisa di pipi “Sampai jumpa” ku berlalu meninggalkan Daffa yang masih terpaku dan mulai tersenyum.

“Semoga Tuhan mempertemukan kita kembali Daffa” kembali air mata ku mengalir

°°°

Tangis ku mulai mereda, malam pun semakin larut kini bulan pun mulai menampakan keindahan cahayanya berteman kan ribuan bintang di atas sana.

“Terimakasih Tuhan atas cinta yang ku miliki, takan pernah ku sesali cinta ini” lirih ku dalam senyum dan harapan.

SELESAI…
Cerpen ini ku persembahkan untuk SEORANG PUJAAN KHAYALAN ku.

Cerpen Karangan: Weni Ana
Facebook: weni_ana[-at-]livecom.
Aku memang aku, bukan kalian. Tapi aku ga malu karena inilah aku…
Terimakasih sudah membaca 🙂

Cerpen 7 Years of Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kau Lewati Begitu Saja

Oleh:
Kamu selalu sama. Aku selalu kamu lewati begitu saja. Dan perkataanku bukan apa-apa untukmu. Kamu juga berpikir kisahku tak ada artinya. Bagai angin yang berhembus di telingamu, dan kamu

Rindu dan Buku Harian (Part 1)

Oleh:
Malam sunyi yang kini menemani gadis cantik yang sedang sibuk menulis sesuatu dalam buku hariannya. Buku yang berisikan semua perasaan yang ia rasakan. Semuanya tertumpah pada satu buku yang

Di Ambang Ramadhan

Oleh:
Allahhu akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar Hari ini terakhir ramadhan, esok sudah tiba lebaran. Gema takbir berkumandang di seluruh penjuru desa. Tak beda dengan masjid yang satu ini, aku

Dia Untuk Sahabatku

Oleh:
“Imell..” panggil seseorang dari belakangku. “Eh Ferro, kenapa?” tanyaku . “Nggak apa-apa, tahu gak?” Ferro membuatku Kepo. “Nggak, Emang A…” Belum selesai ku ngomong Ferro udah meninggalkan tempat ini.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *