A Little Story About Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 25 December 2014

Cinta pertama.
Cinta pertama adalah secuil kisah yang pernah terjadi di hidupku. Ada senang, sedih, kecewa—semua bercampur menjadi satu. Hal yang paling kuingat adalah kisah manisku dengan dirinya, satu-satunya orang yang berhasil membuatku merasakan cinta dan membuka mataku tentang betapa indahnya perasaan itu. Dia jugalah yang mengajarkanku untuk melihat cinta dari sisi yang positif. Bagaimana bisa? Aku akan menceritakannya untuk kalian.

Tujuh tahun yang lalu.
Namaku adalah Sita. Aku berusia 14 tahun. Sudah empat bulan ini aku duduk di kelas tiga sebuah Sekolah Menengah Pertama —yang berarti merupakan tahun terakhirku berada di sini. Julukanku adalah ‘Siswa Pendiam’. Tapi menurutku aku tidak pantas menyandang julukan itu karena sebenarnya aku bukanlah siswa pendiam seperti yang teman-temanku katakan. Aku bisa menjadi cerewet, bahkan sangat cerewet bila berada di lingkungan yang membuatku nyaman. Dan sedikit sifat jahilku ini juga tak bisa kuhilangkan.

Aku mempunyai dua sahabat baik. Namanya adalah Ellin dan Nina. Hampir setiap hari aku bersama mereka —selain hari Minggu, tentunya. Sehingga tidak aneh jika ada yang memanggil kami ‘Tiga Sekawan’. Ada pula yang memanggil kami sebagai ‘Trio’. Apapun panggilannya, tak masalah bagi kami asalkan bukan dijadikan bahan ejekan.

Di hari kesepuluh bulan November yang bertepatan dengan hari Jumat ini, aku berangkat ke sekolah seperti biasa —menjadi siswa yang paling awal datang. Kalau bukan teringat hari ini adalah jadwal piketku, aku pasti akan berangkat lebih siang, apalagi didukung dengan hujan yang turun sedari tadi. Sayang semua itu hanya keinginan yang nyaris tak pernah terwujud karena kami —aku, Ellin dan Nina bukanlah siswa yang gemar berangkat siang. Lebih baik kepagian daripada kesiangan. Benar tidak?

“Pagi.” Sebuah suara mengagetkanku dan memaksaku menghentikan sejenak kegiatanku menyapu lantai kelas. Aku mendongakkan kepala. Terlihat jelas seseorang tengah berdiri di depan pintu sembari tersenyum ramah padaku. Mataku terlalu bagus untuk tidak mengenali siapa dirinya. Walaupun sudah satu bulan dia tidak masuk sekolah karena sakit, namun dia tetaplah bagian dari kelas ini.
“Pagi,” balasku pada orang itu. Dan tak lupa kubalas pula senyumnya itu. “Kamu sudah sembuh?” tanyaku kemudian.
“Iya,” jawab Dion —nama siswa itu. “Kelamaan libur, jadi bosan di rumah,” lanjutnya.
Aku hanya bisa terkekeh kecil mendengar jawabannya. Di mana-mana jika siswa mendengar kata ‘libur’, pasti akan sangat senang. Tapi dia justru merasa bosan karena terlalu lama libur. “Tinggal tidur aja kalau bosan,” celetukku asal.
“Nah, justru itu yang bikin bosan. Badan rasanya sakit semua kalau cuma dipakai tidur.”
“Iya kah?” tanyaku meragukan ucapannya.
“Tentu. Buktinya aku. Bisa saja hari ini aku masih di rumah, tidur. Tapi nyatanya aku berangkat, kan?” belanya.
Aku kembali tersenyum. Temanku yang satu ini ternyata lucu juga. “Iya, percaya, kok.”
“Kamu… Kalau tidak salah namamu Sita, kan?”
“Hemm…” Aku mengiyakan pertanyaannya. “Apakah aku perlu menghapus nama Dion dari papan absensi?” tanyaku, menunjuk papan absensi di samping papan tulis.
Dion mengikuti arah pandangku. Di papan absensi itu, nama Dion masih tertulis jelas dengan keterangan sakit. Dan tanpa pikir panjang, ia menghapus sendiri namanya, membuat papan absensi itu kehilangan penghuni setianya. “Sudah kuhapus,” katanya dengan cengiran lebar di bibirnya.

Hari demi hari berlalu sejak untuk pertama kalinya aku mengobrol dengan Dion. Hubunganku dengan Dion semakin dekat. Aku yang notabene adalah siswa pemalu dan enggan berbicara dengan siswa laki-laki, mulai terbiasa dengannya. Awalnya aku menganggap hal ini sebagai hal biasa. Tidak aneh, kan, jika seorang siswa dekat dengan teman sekelasnya? Namun lama-kelamaan aku merasakan sesuatu yang berbeda. Entah sejak kapan aku mulai menyadari bahwa aku bisa tertawa lepas di hadapannya. Aku mulai menyukainya.
Ini adalah pengalaman pertamaku menyukai seseorang. Jujur. Aku bingung harus berbuat apa. Aku berusaha bersikap seperti yang biasa kulakukan. Tapi aku tidak bisa menghilangkan debaran hatiku. Terkadang lidahku kelu karena terlalu gugup berhadapan dengannya.

“Kamu mau ke mana?” Pertanyaan Dion menghentikan langkahku yang nyaris melewati pintu kelas.
Aku menoleh, menatapnya sejenak. “Ke kantin,” jawabku jujur. Ya, kantin. Aku memang berencana ke sana. Bel istirahat belum lama berbunyi, jadi wajar jika aku pergi ke tempat yang menjual berbagai jenis makanan dan minuman itu.
“Aku boleh nitip sesuatu, nggak?”
“Apa?”
“Hmm… Air mineral. Boleh, kan?”
“Baik.” Aku menyanggupi permintaan Dion kemudian berlalu pergi meninggalkannya dan kembali bergabung dengan kedua sahabatku. Hanya air mineral, kan? Tak masalah buatku. Aku justru merasa senang karena Dion tidak merasa sungkan padaku. Walau hanya ucapan ‘terima kasih’ yang aku dapatkan, tapi tak apa. Bisa dekat dengan Dion saja, sudah sangat membuatku senang.
Namun layaknya gadis yang sedang jatuh cinta, aku ingin menunjukkan perasaan spesialku padanya. Setidaknya agar ia tahu bahwa ada seorang gadis yang menyukainya. Dan sedikit harapanku, dia akan membalas perasaanku. Sedikit saja. Aku tidak pernah berharap terlalu besar.

Aku mulai memikirkan cara untuk menunjukkan perasaanku padanya. Mulai dari sering duduk di dekatnya ketika istirahat, sampai membantunya mengerjakan tugas Bahasa Inggris. Ia lebih suka Bahasa Indonesia daripada Bahasa Inggris karena menurutnya aneh mempelajari bahasa yang tidak ia gunakan sehari-hari. Jadi aku membantunya.

“Ini artinya apa?” tanya Dion ketika aku sedang memperhatikan dirinya dengan beberapa lembar kertas di tangannya. Ia terlihat sangat tersiksa membaca deretan huruf yang tertera pada kertas-kertas tersebut.
Tanpa sadar, kusunggingkan senyum kecil untuknya. Aku tahu persis apa yang sedang dilakukannya sekarang. Menghafal. Ya, kegiatan itu dilakukan hampir seluruh siswa di kelas, termasuk diriku. Tidak ada ulangan. Kuis pun juga tak ada. Hanya saja akan diadakan pertunjukan drama dalam beberapa hari ke depan. Bukan pertunjukan besar. Terdapat delapan kelompok yang masing-masing terdiri dari lima siswa. Tiap kelompok tersebut diharuskan untuk menampilkan sebuah pertunjukan drama dalam Bahasa Inggris. Kenapa harus menggunakan Bahasa Inggris? Itu karena pertunjukan drama ini merupakan salah satu tugas mata pelajaran yang dibenci Dion. Tebakanku, Dion pasti tersiksa melakukannya. “Mana? Biar aku terjemahkan,” tawarku.
“Ini.” Dion memberikan seluruh kertasnya padaku. Aku membacanya sekilas. Cukup rumit juga. Sepertinya aku membutuhkan bantuan Mr. Dic alias Kamus untuk menerjemahkannya.
“Tunggu, ya. Akan kutuliskan untukmu.”

“Cieee… Sita lagi pedekate sama Dion,” celetuk salah satu teman sekelasku yang sukses menimbulkan semburat merah di pipiku. Buru-buru kualihkan pandanganku agar tidak ada yang melihatnya. Untung, Dion sedang sibuk dengan pekerjaannya. Jika sampai Dion menyadarinya, bisa tambah malu diriku.

Kulirik Dion. Cukup lama kami terdiam. Aku tidak berani memulai percakapan dengannya. Lidahku terasa kelu. Ocehan temanku membuatku kini salah tingkah. Namun, berbeda dengan Dion. Ia masih asyik menulis. Bahkan raut wajahnya tak berubah. Dion seolah tak peduli dengan keadaan sekitar, dan juga keberadaanku.

Sudah hampir sepuluh menit berlalu sejak aku duduk di kursi yang membuatku dapat melihat dengan jelas tulisan Dion. Diam. Diam. Diam. Hanya itu yang kami lakukan. Pikiranku sendiri tengah berkecamuk. Apa aku terlalu jelas menunjukkan perasaanku? Ini sudah kesekian kalinya aku mendengar celetukan seperti itu yang dilontarkan oleh teman-teman sekelasku. Apa itu berarti Dion juga menyadari perasaanku padanya? Apa dia marah? Aku harus senang atau sedih?
“Setelah lulus, aku akan ke Jakarta.”
Kalimat itu memaksaku untuk kembali pada kesadaranku. Sontak aku menoleh. “Kamu bilang apa?” tanyaku, meminta Dion mengulang perkataannya. Aku harap yang kudengar itu salah.
“Aku akan melanjutkan sekolah di Jakarta,” ucap Dion lebih tegas.
“Kenapa?”
“Orangtuaku yang minta.”
Aku tidak mampu melanjutkan kata-kataku setelah mendengar jawaban terakhir Dion. Orangtua, ya? Aku mungkin juga akan melakukannya jika orangtuaku yang memintanya karena aku tahu semua orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Keinginan tiap orangtua tak sama. Orangtuaku menginginkanku tetap tinggal di kota ini. Sementara orangtua Dion menginginkan dirinya ke Jakarta.
“Semoga sukses.” Hanya dua kata itu yang mampu kuucapkan.

Tidak ada yang berubah dengan hubungan antara aku dan Dion. Aku masih tetap sama, berusaha untuk selalu dekat dengan dirinya. Bagaimana dengan Dion? Entah hanya perasaanku saja atau memang perasaanku yang terlalu sensitif, aku merasakan sedikit perubahan pada sikapnya. Dion semakin baik padaku. Dan sikap itu tidak pernah ditunjukkannya pada teman-temanku yang lain. Bolehkah aku merasa bahagia?

“Kau harus mengatakannya,” ujar Ellin dan Nina berbarengan ketika kami pulang bersama. Kompak sekali mereka? Reaksi mereka selalu sama jika sudah menyangkut aku dan Dion. Dan anehnya kenapa mereka juga harus memberikan saran yang sama? Apa mereka pikir mudah melakukannya?
“Aku takut,” jawabku lirih. Mengungkapkan perasaan pada seseorang yang sudah lama disukai, aku juga ingin melakukannya. Tapi kurasa aku tak akan pernah melakukannya. Aku tahu dengan pasti resiko menyukai seseorang. Kalau bukan ditolak, ya pasti diterima. Aku tidak pernah takut untuk ditolak. Yang aku takutkan adalah perubahan yang akan terjadi pada hubunganku dan Dion.
“Takut? Apa yang kau takutkan? Sita yang ceria, cerewet dan mudah bergaul, aku tahu kau tidak seperti itu dulu. Dan juga menjadi juara kelas, itu semua karena dia, kan?” Ellin menumpahkan semua unek-uneknya. Aku seperti mendapat tamparan hebat ketika mendengarnya. Perkataan Ellin benar. Tak ada yang salah sedikitpun. Semua itu memang kulakukan karena Dion. Entahlah. Aku seperti mendapat kekuatan untuk melakukan semua hal yang belum pernah kulakukan. “Bukankah kau bilang ketika mencintai, hanya ada dua hal yang mungkin terjadi. Ditolak atau diterima. Benar, kan?” tambahnya.
Aku tersenyum miris. Mencintai, ditolak, dan diterima, aku ingat pernah mengatakannya. Cinta seperti sebuah jalan yang kau tempuh. Sementara persimpangan diibaratkan sebagai pengakuan cinta. Belok ke kanan berarti kita diterima. Dan belok ke kiri berarti ditolak. Ketika sampai di persimpangan, mau tak mau kita harus mengambil salah satu jalan itu. Kanan atau kiri. Ditolak atau diterima.
Mataku menerawang. “Kau benar. Tapi kau lupa sesuatu. Kau dapat berhenti kapanpun kau mau. Bahkan sebelum kau sampai di persimpangan.”

To: ondimy@gmaiil.com
Subject: Hai…

Hai Dion…
Bagaimana kabarmu? Bagaimana dengan sekolahmu? Sudah hampir satu tahun berlalu sejak hari kelulusan sekolah. Apakah enak tinggal di Jakarta? Bukankah Jakarta itu panas dan macet. Iya, kan?
Dion.. Ada yang ingin aku katakan padamu. Kuharap kamu tidak akan marah setelah membacanya. Dan aku juga berharap hal ini tidak akan merusak persahabatan kita. Kamu harus janji padaku.

– Aku menyukaimu –

Perasaan itu pernah aku rasakan padamu. Kamu adalah satu-satunya orang yang berhasil memberiku semangat dalam segala hal yang kulakukan. Kamu juga adalah alasan yang membuatku menjadi orang yang lebih baik. Setiap kali melihatmu, rasanya aku benar-benar ingin selalu berada di dekatmu. Tapi itu dulu. Ya, dulu sebelum kamu pergi meninggalkan kota ini. Aku tidak pernah berharap lebih karena nyatanya aku memang tak punya kesempatan.
Bagaimana dengan sekarang? Kurasa perasaan itu mulai hilang. Aku belajar untuk menikmati hidup tanpamu. Dan aku berhasil. Aku mengirimkan e-mail ini agar kau tahu bahwa pernah ada seorang gadis bernama Sita yang menyukaimu.
Semoga kamu bahagia di sana. Aku selalu mendoakan yang terbaik untukmu.

Sudah berulang kali aku membaca tulisan yang sudah hampir satu bulan ini hanya tersimpan sebagai draft e-mailku. Aku ingin mengirimkannya. Namun aku tidak memiliki keberanian untuk melakukannya. Bagaimana ini? Aku sudah tidak memiliki kesempatan untuk bertemu dengannya. Aku tidak tahu alamatnya di Jakarta dan bahkan juga nomor teleponnya. Satu-satunya cara adalah dengan mengirim e-mail padanya.

Aku menarik napas dalam. Kumantapkan hatiku. Ya, aku harus mengirimkannya. Aku hanya ingin dia tahu perasaan yang dulu pernah kurasakan padanya. Ah, tidak hanya dulu. Bahkan sekarang aku masih menyimpan secuil perasaanya itu untuknya. Kecewa? Tentu saja. Sedih? Bohong jika aku bilang tidak merasakannya. Seperti judul sebuah lagu, aku juga menangis semalam untuknya.

To: shimy@yahooo.com
From: ondimy@gmaiil.com
Subject: Re: Hai…

Aku nggak marah dengan perasaanmu itu. Wajar jika cewek suka dengan cowok. Lagipula, setiap orang mempunyai hak untuk menyukai orang lain.

E-mail tersebut adalah jawaban yang aku peroleh dari Dion. Dan juga merupakan e-mail terakhir darinya. Hubunganku dengan Dion berakhir sampai di sini.

Aku mengakhiri kegiatan menulisku tepat pukul sebelas malam. Sudah dua hari ini aku disibukkan dengan kegiatanku menggali kembali kenanganku dengan Dion. Dan kini terciptalah sebuah kisah tentangku dan Dion. Seperti kataku, ini adalah kisah yang manis. Sebuah kisah cinta pertama yang benar-benar kurasakan.

Sayang, hubunganku dengannya tak pernah membaik. Padahal sudah tujuh tahun berlalu. Aku benar-benar kehilangannya. Walaupun begitu, aku berterimakasih pada Dion. Dialah yang membuatku menjadi Sita yang sekarang —seorang Sita yang pantang menyerah dan bekerja keras untuk menggapai mimpi. Dia jugalah yang mengenalkanku pada ‘menulis’ —sebuah hobi yang kutekuni sampai sekarang. Dia adalah inspirasiku.
Bagaimana dengan kalian? Siapa yang menjadi inspirasi kalian?

Cerpen Karangan: Shimizudani
Blog: http://shimizudani.blogspot.com/

Cerpen A Little Story About Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Catatan Alzi Si Berandal

Oleh:
Matahari mulai berayun ke arah barat, sinarnya mulai meredup tapi tetap memancarkan sinar pancarona yang indah terlihat mata. Sepasang pemuda dan pemudi nampak asyik masyuk bercakap-cakap. Mereka adalah Alzi

Berlalu Oleh Waktu

Oleh:
“Sekarang apa lagi? Setelah dulu aku mencintai seseorang yang tak pernah bisa aku miliki, dan harus merasakan perihnya diabaikan ketika seseorang itu tau tentang apa yang aku rasakan. Dan

Kumpulan Alphabet Aneh Bermakna

Oleh:
Arin keluar dari kelasnya, untuk membeli makanan ke kantin sekolah. Wigi memperhatikan langkah kaki arin yang semakin menjauh. Wigi segera berlari cepat menuju meja arin, lalu segera mengambil pensil

Ada Apa Dengan Rama

Oleh:
Hari ini hari pertama Ku masuk sekolah di jenjang SMA. Namaku Nadia, umurku 15 tahun bulan depan. Masa ini begitu sulit bagiku. Meninggalkan masa SMP yang penuh cerita. Entah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *