A Meow Story

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fabel (Hewan), Cerpen Korea
Lolos moderasi pada: 23 July 2021

Rasanya suntuk sekali. Sejak tadi aku hanya tidur-tiduran di atas sofa sambil iseng memainkan gulungan wol. Aku sudah melakukan apa saja supaya tidak bosan. Mengejar-ngejar mainan tikus, lari-larian ke sana kemari, bahkan mengganggu Hyena di dapur—dan aku diusir.

Hanya Gyeoul (baca: Gyoul) yang tidak peduli. Kucing putih itu dari tadi hanya tiduran di depan jendela sambil menatap keluar kaca. Aku, sebagai tipe kucing yang lincah, apa serunya coba? Dia sama sekali tidak melakukan apa-apa. Bahkan saat aku rusuh tadi dia tidak memperhatikanku.

“Bomi, Gyeoul! Waktunya makan siang!” seru Hyena dari arah dapur. Dia membawa dua mangkuk kecil berisi makanan kucing.

Meong! Aku lari-larian menghampirinya. Hyena tertawa gemas, lantas mengusap bulu emasku.
“Nah, makan yang banyak ya, Bomi.” Hyena berdiri lagi, hendak kembali ke dapur untuk menyiapkan makanannya sendiri. Manusia itu menghilang di balik pintu, dan meninggalkan aku dan Gyeoul.
Gyeoul? Bahkan membutuhkan waktu satu menit penuh untuknya sampai di sebelahku, lalu tanpa banyak meong langsung melahap makanannya.

Ruangan itu hening kecuali suara aku dan Gyeoul yang sedang makan. Kucing putih di sebelahku itu makan dengan sangat tenang. Sedangkan aku, seolah belum makan tiga hari. Biarkan saja, aku lapar.

Aku dan Gyeoul itu sangat berbeda. Aku, Golden British Shorthair betina, lebih suka bermain. Meskipun jenisku bukan termasuk kucing yang ekstrovert, tapi aku berbeda tahu! Sebaliknya, Gyeoul adalah kucing Persia putih jantan yang lebih suka berdiam diri di sudut ruangan. Sifatnya itu dingin sekali, bahkan ketika Hyena mengajaknya main pun dia sungkan. Makanya Hyena lebih menyukaiku, hehe.

Aku jadi penasaran, apa sih yang dipikirkan Gyeoul setiap hari di depan jendela? Sebaliknya, aku hanya ingin makan, tidur, dan bermain. Gyeoul itu unik, ya.

Maka setelah makan siang, aku memberanikan diri untuk bertanya pada Gyeoul yang lagi-lagi duduk di depan jendela. “Kamu memikirkan apa sih, Gyeoul?”
Namun berbeda dengan ekspektasiku, Gyeoul ternyata meladeniku. Dia menoleh, dan menatapku. “Kenapa?”
“Bukan kenapa-kenapa, sih. Hanya saja, aku penasaran. Kamu selalu saja bengong dan berdiam diri di pojokan. Kamu sedang memikirkan apa?”

Gyeoul si kucing alim itu hanya diam, sesuai perkiraanku. Ya sudahlah, kalau dia tidak mau menjawab, atau bahkan aku mengganggunya, aku akan menyerah saja.

“Karena berpikir itu menyenangkan, Bomi.” Gyeoul menjawab, dan aku terdiam.
“Apa kamu tidak penasaran, dunia di luar itu seperti apa? Memangnya kamu tidak bosan berada di rumah ini terus-terusan? Aku tahu kamu juga ingin melihat alam luar, Bomi. Sama sepertiku.”

“Aku memikirkan itu. Dunia luar itu seperti apa, sih? Makanya aku menghabiskan waktu di depan jendela, menatap keluar taman, dan membayangkannya. Mungkin alam di luar sana mirip dengan rumput, pepohonan, dan tanaman di taman kita ini. Selain itu, aku yakin ada banyak keistimewaan di dunia luar. Mungkin saja ada banyak hal yang tidak bisa kita bayangkan. Menjadi hewan peliharaan yang disayang Hyena memang menyenangkan, namun aku akan lebih bahagia jika bisa keluar rumah.”

Fantastis di luar dugaanku, Gyeoul menjawab dengan panjang lebar, dan aku hanya bisa diam termangu. Butuh waktu beberapa lama hingga aku mampu membuka mulut.

“Tapi kenapa kamu selalu bersikap dingin padaku?” Itu pertanyaanku.
Giliran Gyeoul yang terdiam, namun jawabannya adalah, “Kenapa kamu bertanya seperti itu?”
“Karena aku merasa kita tidak akur. Kita ini sangat berbeda tahu! Kamu itu pendiam dan aku suka bermain. Saat aku mengajakmu bermain kamu terus menolak.” Aku marah, berusaha menahan emosiku (kucing juga bisa merasakan emosi!).
“Aku kesepian, tapi kamu tidak pernah peduli.” Aku mengakhiri kalimatku. Entah kenapa rasanya berat sekali mengatakannya.
Aku mengharapkan balasan berupa bicara dari Gyeoul, namun kucing itu justru berdiri dan mendekat.

*Slup!*
Aku membeku. Apa yang terjadi? Gyeoul menjilatku? (Kucing saling menjilat adalah tanda bahwa mereka saling menyayangi dan memiliki hubungan yang erat).

“Maaf. Apakah aku sedingin itu? Aku tidak menyadarinya.” Itulah pernyataan dari Gyeoul saat melihat reaksiku.
Wajahku panas sekali sekarang. Hei! Itu terlalu mendadak! Sekarang aku tidak tahu harus berbuat apa.

“Bomi?” panggil Gyeoul. Dia menyadari reaksiku.
Duh, jangan menatapku seperti itu! Aku semakin salah tingkah.

“I-iya. Kalau begitu, sekarang kita akur ya! Kamu mau main sama aku ya!” Kalimat itu berhasil aku ucapkan.
Gyeoul mengangguk. Sumpah, selama satu tahun aku tidak pernah melihatnya sehangat ini padaku—bahkan pada Hyena. Dan kini rasanya berbeda setelah pernyataan itu. Jangan-jangan aku mulai menyukai Gyeoul?!

Bomi dalam bahasa Korea artinya musim semi, yang mencerminkan sifat Bomi (kucing) yang selalu “berbunga-bunga” serta warna bulunya yang kuning emas yang cocok dengan tema musim semi. Sedangkan Gyeoul adalah musim dingin yang menggambarkan Gyeoul (kucing) yang memiliki bulu putih seperti salju dan sikapnya yang dingin dan pendiam.

Cerpen Karangan: Zahra Kirana
Blog / Facebook: Zahra Wirawan

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 23 Juli 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen A Meow Story merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gadis Berkursi Roda (Part 2)

Oleh:
Aku pun tak mampu menolak tawaran Ghani dan hanya menjawabnya dengan anggukan kepala. Ternyata Ghani mengajakku ke taman belakang sekolah. Taman itu terlihat lebih indah dari biasanya, seperti telah

Cinta Yang Telah Pergi

Oleh:
Pada sore hari Aku duduk di teras belakang rumah, sambil liatin ikan hias piaraan papa di kolam kecil samping teras. Aku kepikiran terus kata-kata Mutia sahabat baik aku di

Our Friendship (Part 5)

Oleh:
“Diva, kamu dan Alvin tolong belanja bahan bahan kue ini ya.. Semuanya tante udah tulis disini.” Ujar Tante Rida sambil menyerahkan secarik kertas yang berisi sederetan barang barang yang

Azyoritami

Oleh:
“Azyoritami” Sudah tak asing lagi di telinga para murid SMAN 90 Jakarta. Ya, mungkin setelah membaca istilah ini kalian akan menerka-nerka makna apa dalam istilah tersebut. Mereka adalah Azrin,

Ketika Hati Harus Memilih

Oleh:
Siang ini surya begitu semangat menerangi bumi. Sepulang sekolah kulemparkan tas merahku ke atas kasur. Kurebahkan badanku yang terasa lesu di sofa dekat jendela sembari merasakan dahaga yang menggerogoti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *