Absolute Love

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 26 April 2016

Pagi ini adalah pagi yang cerah ketika mentari pagi memancarkan sinarnya untuk menghangatkan para pribumi. Udara sejuk dan embun-embun pagi membuat suasana pagi ini semakin terasa menyegarkan. Seperti biasa aku sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Aku berjalan menelusuri desaku yang tenteram dan damai, aku mulai memasuki wilayah kota di kota Mataram, seperti biasa ku lihat kendaraan-kendaraan yang melaju dengan tenang. Tak terasa aku sudah berjalan sejauh ini dan akhirnya aku sampai di sekolahku. Pelajaran pun dimulai, aku mulai mengantuk mendengarkan guruku mengoceh menjelaskan pelajaran yang tak begitu aku sukai. Aku mengantuk dan akhirnya tertidur dengan lelap.

“Imron! Imron! Imron!” panggil guruku berusaha membangunkanku.
“Zzzzz!!” aku tak menyahut karena terlelap dalam tidurku.
“Ctaakkk!!!” suara penghapus yang dilemparkan guruku ke arahku.
Tiba-tiba aku terbangun dan kaget. “1 + 1 = 2 Bu guru!” kataku bergurau karena kaget dan terbangun dari tidurku.
“Kamu tidak sopan ya sama Ibu guru, sini kamu maju ke depan!” guruku memarahiku.
“I-Iya Bu guru, maaf!” pintaku seraya berjalan kedepan.
“Hahahaha…” tertawa teman-temanku dan mengejekku.

Setelah itu, aku-pun dibawa ke ruang BP untuk menerima hukuman. Setelah di ruang BP, aku diberikan peringatan dan dihukum berlari di lapangan sekolah sebanyak 50 kali putaran. Aku-pun melaksanakan hukumanku. Tiba-tiba saat aku berlari, aku menengok ke arah gedung sekolah lantai 3, aku melihat seorang wanita berdiri dan bersedih. Aku pun langsung berlari menuju lantai 3 di mana wanita tersebut berada. Sesampainya di sana.

“Stop!” kataku kepada wanita tersebut.
“Ada apa?” tanya wanita tersebut.
“Stop jangan bunuh diri, nanti kamu akan menyesal.” kataku terengah-engah karena berlari.
“Bukan urusan kamu!” jawab wanita tersebut dengan nada gentar.
“I-Iya memang bukan urusanku. Tapi kalau kamu bunuh diri terus mati di sini itu bakal jadi urusan sekolah.” kataku berusaha mencegah wanita tersebut.
“Percuma! Nggak bakal ada yang peduli denganku. Hidupku hanya sia-sia di dunia ini, bahkan orang yang aku sayang tidak pernah peduli denganku!” jelas wanita tersebut.
“Kamu salah! Kamu bilang tidak ada yang peduli sama kamu, tapi lihat buktinya aku peduli denganmu dan mencoba mencegahmu.” kataku berusaha meyakinkan wanita tersebut.

“Memang kamu siapa berhak peduli denganku?” kata wanita tersebut.
“Iya memang. Aku bukan siapa-siapa yang berhak ikut campur dalam kehidupan kamu. Tapi setidaknya kita bisa jadi teman kan?” kataku penuh harap.
“Memang kamu mau jadi temanku? Kamu mau punya teman yang bisanya menyusahkan orang lain?” tanya wanita tersebut.
“Iya aku tidak masalah kok. Aku yakin kamu bukan orang yang seperti itu, dan manusia kan memang harus saling membantu. Jadi, aku tidak masalah berteman dengan siapa saja.” kataku menjelaskan.
“Apa bisa aku percaya denganmu?” tanya wanita tersebut.
“Iya kalau soal kepercayaan itu tergantung kamu. Baiklah kalau begitu nama aku Imron. Nama kamu siapa?” tanyaku kepada wanita tersebut seraya memberikan tanganku sebagai tanda perkenalan.
“Namaku Dewi.”

Setelah kejadian tersebut, akhirnya kami pun sering bertemu dan berbagi setiap suka maupun duka. Kami sering pulang bersama, jalan-jalan, dan bercerita tentang kisah hidup kami masing-masing. Beberapa bulan kemudian, hubungan kami masih berlanjut, karena aku sudah menganggap Dewi sebagai sahabat yang jauh lebih peduli dibandingkan teman-temanku yang lain. Aku bahkan sering bermain ke rumah Dewi untuk berbagi segala sesuatu dengannya. Aku bahkan sering menginap di rumahnya jika aku terlalu larut untuk pulang ke rumahku. Sekarang aku mulai mengerti mengapa waktu itu Dewi ingin bunuh diri, ia adalah wanita kesepian, orangtua Dewi selalu ke luar kota karena urusan pekerjaan, ia hanya tinggal di rumah besar itu dengan pembantu yang bekerja di rumahnya. Ia bahkan sering kali dikhianati oleh teman-temannya, dan dimanfaatkan hanya karena ia orang kaya.

Tapi, aku tak pernah memandang Dewi dari segi materi. Bagiku ia adalah orang yang penyayang namun sering dikhianati dan dipermainkan. Dewi bahkan orang yang lemah lembut yang membutuhkan kasih sayang untuk bersandar kala ia bersedih. Namun sayangnya, ia tak pernah mendapatkan perlakuan tersebut, ia hanya berharap kini ada seseorang yang ia percaya akan membawakannya sebuah kebahagiaan dan kasih sayang yang mutlak. Aku berharap dapat memberikannya apa yang selama ini ia harapkan dengan penuh kesabaran. Aku mencoba menjadi seorang teman yang baik untuknya, seorang teman yang dapat ia andalkan, bahkan seorang teman yang dapat ia jadikan sandaran ketika ia gundah.

Setahun telah berlalu, aku telah lulus dari sekolahku, begitu pun Dewi. Namun, kini ia hanyalah sebuah nama yang dapat aku kenang dalam hidupku. Dewi melanjutkan sekolah ke luar negeri karena desakan dari orangtuanya. Sementara aku hanyalah orang sederhana yang hanya mampu melanjutkan sekolahku di sini, di kotaku tercinta. Masih teringat jelas canda dan tawa, suka dan duka Dewi dalam hatiku. Kini aku tersiksa dengan perasaan yang ia tinggalkan, perasaan yang ingin aku bungkus dengan hatiku dan menjadikannya hadiah terindah dalam hidup Dewi. 4 bulan yang lalu, Dewi pernah bercerita tentang seseorang yang begitu istimewa baginya. Namun, aku hanya lelaki bodoh yang tak pernah menyadari kalau ia memiliki perasaan cinta kepadaku. Aku hanya lelaki tolol yang membuatnya menunggu, menunggu untuk menyatakan perasaanku kepadanya.

“Imron!” panggil Dewi.
“Iya?” jawabku.
“Kamu tahu tidak, aku punya seseorang yang sangat berharga dalam hidupku?” tanya Dewi kepadaku.
“Hmm … Iya pasti orangtua kamu kan?” jawabku.
“Selain dari orangtua lah.” kata Dewi dengan muka cemberut.
“Siapa dong?” tanyaku penasaran.
“Ada deh rahasia. Orang itu selalu ada pokoknya buat aku, ia selalu aja membuatku tersenyum kalau aku lagi sedih.” kata Dewi menjelaskan.

Saat itulah aku menyadari kalau Dewi juga memiliki perasaan yang sama denganku. Tapi bodohnya aku yang terlalu takut untuk menyatakan perasaanku. Aku hanya membuatnya menunggu dengan harapan yang ia yakini sampai ia pergi jauh dan tak dapat terlihat dari pandanganku. Namun, aku belum menyerah dan aku akan bertahan dengan cinta yang hanya dapat dimiliki oleh Dewi. Aku yakin perasaan yang kuat akan menghasilkan jalinan hubungan yang kokoh dan hanya dapat dipisahkan oleh kematian.

3 tahun telah berlalu sejak saat Dewi meninggalkanku, namun aku masih bertahan sampai saat ini dengan cinta yang semakin kuat dan rindu yang membara bagai api asmara. Saat ini aku telah bekerja di salah satu perusahaan sebagai manager di perusahaan tersebut. Sejak saat Dewi meninggalkanku, aku tak pernah mencoba untuk mencari penggantinya, aku rasa Dewi hanya satu-satunya di dunia ini yang dapat membuatku gila dan bertahan sampai sejauh ini. Tiba-tiba saat aku sedang berjalan sendiri, aku melihat sesosok wanita yang sangat mirip dengan Dewi, aku melihatnya di salah satu cafe di kota Mataram. Aku ingin sekali menyapa wanita tersebut dan untuk memastikan apakah ia adalah Dewi atau hanya orang lain yang mirip dengan Dewi. Namun, aku ragu untuk melakukannya karena pada saat itu wanita tersebut bersama dengan laki-laki yang tak aku kenal.

Tapi tak ada salahnya jika aku hanya mencoba untuk memastikan agar aku tak mati rasa dengan rasa penasaranku. Setelah ku pikir-pikir, aku berpura-pura menjadi pelanggan dan memesan secangkir kopi hangat di cafe tersebut. Aku berharap wanita tersebut dapat melihatku. Dan pada akhirnya ia bukanlah Dewi yang aku kenal, karena setelah ia melihatku ia pun langsung menoleh dan pergi dari tempat tersebut. “Sial! Ternyata ia bukanlah Dewi.” kataku dalam hati. Namun aku berpikir lagi, mungkin saja ia tak mengenaliku karena terlalu lama kami tak bertemu. Setelah itu, aku mengikuti wanita tersebut, dan ia masuk ke salah satu toko baju, langsung saja aku masuk mengikutinya ke toko tersebut. Tak lama kemudian saat aku sengaja memilih baju, aku berpapasan dengannya dan aku menyapanya.

“Hey!” sapaku kepada wanita tersebut.
“Iya. Ada apa ya Mas?” tanya wanita tersebut.
“Sepertinya kita pernah bertemu sebelumnya ya?” tanyaku kepada wanita tersebut.
“Maaf, tapi di mana ya?” tanya lagi wanita tersebut.
“Sebentar. Nama kamu kalau tidak salah Dewi ya?” tanyaku lagi kepada wanita tersebut.
“Loh kok Mas tahu ya? Memangnya Anda siapa ya?” tanya wanita tersebut dengan nada kaget.

“Akhirnya! Kamu lupa ya sama aku Wi? Aku Imron teman kamu dulu.” kataku memperjelas.
“Imron? Maaf, mungkin Anda salah orang kali, aku tidak pernah punya teman bernama Imron.” jelas wanita tersebut membuat hatiku dilanda kekacauan. Aku tercengang mendengar perkataan Dewi, sia-sia sudah pengorbananku selama ini. Menunggu, menunggu, dan menunggu yang aku lakukan hanya untuknya, hanya untuk mendapatkan sedikit perhatian darinya. “Oh begitu ya! Maaf Mbak.” kataku dengan perasaan kecewa dan pergi meninggalkan tempat tersebut.

Akhirnya aku pulang dengan wajah lesu, perasaan yang tercabik-cabik dan seakan ingin pergi jauh dari dunia ini. Aku pandangi foto Dewi, terus memandanginya dengan penuh amarah, lalu ku bakar semua foto tersebut tanpa ada satu pun yang tersisa, dan tanpa ku sadari air mataku berlinang penuh kebencian. Sejak saat itu aku berhenti percaya kepada siapa pun, tak ada lagi rasa cinta, kasih ataupun sayang, melainkan hanyalah rasa benci yang mendalam. Bahkan aku membenci diriku sendiri, aku benci diriku karena betapa bodohnya aku yang selalu percaya kepada orang-orang seperti Dewi.

Beberapa bulan kemudian, sejak saat itu hidupku hancur tak ada lagi harapanku, yang ada hanyalah keputusasaan yang kini meracuni hidupku. Sejak saat itu aku mulai menjadi pemabuk, dan melakukan hal-hal yang tak pernah aku lakukan sebelumnya dalam hidupku ketika aku masih jauh dari rasa keputusasaan. Dulunya aku yang selalu berharap bahwa hari esok akan lebih baik, namun kini aku hanya ingin kembali ke masa-masa dimana aku tak pernah mengenal Dewi ataupun cinta dan kasih sayang, sungguh hal yang mustahil. Cinta yang aku anggap suci hanya merampas kehidupanku yang dulunya bahagia. Cinta yang aku yakini hanyalah perampas, cinta yang merampas senyumku, menghapus air mata kebahagiaanku, dan menjadikan hatiku hitam penuh kebencian dan dendam. Suatu malam aku memandangi langit yang penuh bintang-bintang, dan rembulan yang melengkapi indahnya malam. Sebotol minuman keras yang ada dalam genggamanku, seteguk demi seteguk aku habiskan, dan aku mencoba berbicara kepada sang Rembulan dan alam semesta.

“Hei bulan! Enaknya menjadi dirimu, kamu nggak pernah merasa kesepian karena kamu selalu ditemani oleh sang bintang yang tak terhitung jumlahnya di sekelilingmu. Bahkan, mereka dengan senang hati membantumu untuk menyinari bumi ini, mereka dengan senang hati mengorbankan diri mereka sampai pada akhirnya cahaya mereka redup dan mati hanya untukmu Rembulan. Aku punya satu pertanyaan untukmu wahai Rembulan. Apakah aku bisa seperti dirimu? Apa aku bisa mendapatkan bintang yang setia seperti bintang-bintang yang selalu di sisimu? Aku tak berharap mendapatkan banyak bintang seperti yang ada di sekelilingmu, namun aku hanya berharap satu bintang yang bersinar terang layaknya cahaya triliun bintang yang dapat menghapus semua rasa hampa dalam jiwaku.” kataku berbicara panjang lebar dengan sang Rembulan. Namun tak mungkin Rembulan akan menjawab pertanyaanku, ia hanyalah benda langit yang diciptakan oleh yang maha Kuasa.

Setelah itu, aku pergi ke salah satu tempat di mana aku dan Dewi sering berbagi satu sama lain. Aku duduk dan mulai mengingat wajah Dewi, senyumnya dan semua yang ada pada dirinya. Angin malam yang sejuk berhembus dengan pelan seakan membawa perasaanku bersamanya, seakan menyampaikan perasaanku kepada Dewi. Aku tahu aku tak akan pernah bisa membenci dirinya, bahkan ketika aku mengatakan benci, itu hanyalah cinta yang berwujud benci. Ketika aku mengatakan dendam, itu hanyalah rindu yang berwujud dendam.

Beberapa jam kemudian, aku mendengar suara langkah kaki dengan pelan yang sedang menuju ke arahku. Aku sempat berpikir bahwa hantu mendatangiku, pikiran yang benar-benar kacau balau. Aku pun berbicara kepada langkah kaki tersebut. “Aku mendengar langkah kakimu. Jika kamu adalah hantu atau orang jahat, kamu datang kepadaku di waktu yang salah. Untuk sekarang aku tidak takut dengan siapa pun, mungkin saja kau bisa menjadi pelampiasan amarahku. Pelampisan amarah seseorang yang sedang patah hati, kacau, dan putus asa. Jika kamu ingin menakutiku, tentu saja tidak akan bisa. Jika kamu ingin membunuhku, silahkan saja. Aku merasa sudah tak ada gunanya lagi aku di dunia ini.” kataku berbicara hal yang tak jelas karena mabuk.

“Kamu sangat berguna, bahkan kamu sangat istimewa di sini, di hatiku.” seseorang membalas perkataanku.
“Apa?! Tidak mungkin?!” kataku dalam hati lalu menengok kearah suara tersebut berasal, dan ternyata dugaanku benar ia tak lain adalah Dewi.
“Kamu kenapa? Aku selalu di sini buat kamu.” Dewi meneteskan air mata.
“Kenapa katamu? Sudah jelas-jelas kamu mempermainkan aku dan melupakan aku. Buktinya waktu di toko tersebut!” kataku menjelaskan dengan nada lantang.
“Aku sengaja tidak mengenal kamu. Karena mungkin kamu sudah melupakan aku dan menjadi kekasih orang lain. Aku selalu membuktikannya, kamu ingat janji kita dulu?” tanya Dewi.

“Iya aku ingat! Kita pernah berjanji kalau kita akan selalu mengunjungi tempat ini, tempat di mana kita saling berbagi kisah hidup kita.” jawabku menundukkan kepala.
“Lalu kenapa kamu tidak pernah ada di sini? Setiap hari kamu selalu membuatku menunggu. Bahkan aku di sini berjam-jam, tapi kamu tidak pernah datang. Apa kamu tahu aku sudah berapa kali mengunjungi tempat ini?” tanya Dewi dengan lantang dan airmata yang mengalir begitu derasnya.
“Nggak. Aku nggak tahu.” penyesalanku begitu dalam.

“Aku sudah pulang dari luar negeri satu tahun yang lalu Imron. Aku selalu mendatangi tempat ini sebelum kamu menyadari kepulanganku. Aku sengaja bilang kalau aku nggak pernah kenal sama kamu karena mungkin kamu sudah lupa denganku. Tapi, sebenarnya aku merasa sangat sedih, sakit ketika aku berbicara seperti itu padamu, pada orang orang yang aku sayangi sepenuh hatiku. Dan waktu itu, waktu kepergianku, kenapa?! Kenapa kamu tidak mencegahku? Padahal aku selalu berharap kamu datang untuk mencegah kepergianku dan menyatakan cintamu padaku. Tapi nyatanya aku salah mengira kalau kamu benar-benar cinta sejatiku.” jelas Dewi.

“Maaf! Aku memang lelaki bodoh, aku pengecut, aku pecundang. Kamu boleh memakiku Wi, tapi satu hal yang perlu kamu ketahui, aku masih di sini untuk kamu, bahkan bertahun-tahun aku menanti kepulanganmu. Aku simpan seluruh perasaan aku untuk kamu, sampai-sampai aku tak pernah ingin memberikan perasaan cinta aku kepada wanita lain selain dirimu. Maaf jika aku mengecewakanmu karena aku tidak mengingat janji penting yang pernah kita sepakati. Aku hanya manusia biasa Wi, aku bukan manusia super yang dapat mengingat sesuatu dengan jangka waktu panjang. Mungkin aku terlalu sibuk untuk mengingat senyummu sehingga aku melupakan janji kita.”

“Kamu tahu setelah kamu berkata tidak mengenalku? Aku jadi diriku yang tidak pernah aku kenal, aku melakukan sesuatu bahkan yang aku benci, aku berbicara seolah-olah itu bukan diriku. Aku selalu mabuk-mabukkan karena mungkin pikiran tololku bilang kalau aku mabuk aku dapat melupakan segalanya. Tapi nyatanya tidak, aku mencoba membencimu, tapi akhirnya itu hanyalah cinta yang berwujud benci ketika aku menjadi yang tidak pernah aku kenal. Dewi, apa kamu masih sayang padaku? Apakah kamu memiliki perasaan yang seperti dulu? Apakah perasaan kamu sekarang untuk orang lain?” jelasku kepada dewi sambil menatap matanya dan menggenggam tangannya.

“Imron, aku ingin menghargai waktu yang kamu berikan hanya untukku. Waktu yang kamu sia-siakan hanya untukku. Aku ingin menghargai setiap air mata yang kamu teteskan untukku, dan aku ingin menghargai senyuman yang kamu tujukan untukku. Aku hanya punya satu jawaban atas semua pertanyaan kamu. Jawaban itu ialah maaf!” jelas Dewi dengan menundukkan kepalanya.

“Kenapa Wi?! Kenapa?!” tanyaku dengan kaget.
“Maksudku, maaf aku tidak bisa menyia-nyiakan segala sesuatu yang telah kamu persembahkan hanya untukku. Perjuangan kamu pantas mendapatkan seluruh cinta aku yang telah aku kunci dalam hatiku dan hatimulah yang menjadi kunci atas pintu hati tersebut.” kata Dewi dengan air mata bahagia.
“Mari kita jalani hidup yang menyedihkan ini dengan memberinya sedikit bumbu kebahagiaan, dengan bersama kita akan melewati setiap rintangan yang ada.” kataku kepada Dewi dan memeluknya dengan erat.

Akhirnya setelah semua pengorbanan yang aku lakukan dengan sepenuh hatiku, aku mendapatkan balasan atas semua pengorbanan tersebut. Cinta sejati yang aku temukan dalam diriku, cinta yang benar-benar membimbingku untuk selalu berusaha meraihnya. Pengorbanan tersebut mengajarkanku arti dari sebuah keikhlasan, kesabaran, dan ketabahan. Tuhan selalu adil memberikanku ujian untuk menuntunku menjadi lebih kuat untuk ujian berikutnya, sehingga aku sudah benar-benar menemukan bintang yang selama ini ku cari. Hanya ada satu bintang yang memiliki cahaya triliun bintang, ia tak lain adalah Cinta, Kasih, dan Sayang yang mutlak.

Sekian

Cerpen Karangan: Imron Rosyadi
Blog: imrontraveling.blogspot.com

Cerpen Absolute Love merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


6.25 AM

Oleh:
Aku memeluk dia. Sial benar-benar memeluk. Apa ini nyata? “Indah, kamu mau apa? Nonton, makan atau jalan-jalan?” dia bertanya sembari menatapku dengan pandangan bertanya, kerutan di keningnya seperti menandakan

Chance

Oleh:
Aku sadar apa yang aku lakukan kepadamu tidak sebaik apa yang dia lakukan. Tapi hanya itu yang bisa aku lakukan. Jangan bandingkan aku dengan dirinya. Karena kita berbeda. Aku

Anime in Love (Part 1)

Oleh:
Anime Satu kata itu tidak terdengar asing di Telingaku. Ya, mungkin karena aku penggemar anime. Suka nonton film-filmnya, suka jadi cosplay salah satu karakter (nggak sering juga, sih), dan

Karma

Oleh:
Matahari bersinar terik mengiringi langkah seorang laki-laki tampan bernama chiko. Chiko tampak terburu-buru pulang dari kampusnya.hari ini ia ada janji untuk bertemu dengan sahabat lamanya rio. Sampai di rumah

Sahabat Jadi Cinta

Oleh:
Tiga tahun berlalu. Selama tiga tahun itu terangkum semua kehidupan yang kujalani saat tiga tahun yang lalu. Dari mulai aku bertemu dengan dirinya sampai aku berpisah dengan dia. Vinza

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *