Ada Apa Dengan Perpustakaan?

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 17 July 2016

“Kiran, temenin gue ke perpustakaan yuk..”
Aku hanya bisa mendengus bosan mendengar permintaan Shallom. Shallom, cewek yang paling nggak bisa aku mengerti jalan pikirannya, cewek yang agak labil, cewek yang doyan banget makan cokelat, cewek yang punya satu tas penuh berisi peralatan make-up pribadinya, cewek yang sangat suka membaca buku, cewek yang tinggal di samping rumahku, dan cewek yang merupakan sahabat kesayanganku dari jaman dulu bahkan saat kita masih dalam kandungan. Wajar saja, kedua orangtua kami memang sudah bersahabat sedari SMA. Dan sepertinya persahabatan kedua orangtua kami berlanjut padaku dan Shallom.

Oh iya, kenalin nama aku Kirana Pradipta. Tapi kalian bisa memanggilku dengan sebutan Kiran. Sekarang, aku dan Shallom duduk di kelas X SMA Nusa Bakti Bandung. Walaupun aku dan Kiran bersahabat dari kecil, namun kami memiliki sifat yang benar-benar berbeda. Kalau Shallom tipikal yang sangat “kecewekan”, maka buanglah jauh-jauh pikiran kalian bahwa akupun memiliki sifat seperti itu. Sifat dan sikapku bisa dikatakan sedikit tomboy. Jika Shallom gemar memakai dress serta bandana merah muda kesayangannya, aku justru lebih suka memakai celana panjang jeans yang dipadukan dengan t-shirt. Bila Shallom sangat suka menggerai rambut panjangnya, maka aku lebih senang mengikat ekor kuda rambut hitam sebahuku. Dan kalau kalian bertanya apa perbedaan yang paling mencolok antara aku dan Shallom, jawabannya terletak pada buku. Shallom benar-benar terobsesi pada buku. Ia sangat suka membaca buku, khususnya novel. Bahkan Shallom memiliki perpustakaan pribadi di rumahnya. Itu benar-benar berkebalikan denganku yang sangat tidak menyukai kegiatan membaca. Bagiku membaca buku itu membosankan!

“Kiran.. ayo dong temenin gue ke perpustakaan. Gue mau pinjem novelnya Ilana Tan nih..” pinta Shallom dengan suara yang memelas.
“Ya ampun Shallom, emang elo nggak bosen apa tiap hari ke perpustakaan, baca buku gitu? Gue yang tiap hari nganter elo aja capek, bosen tau!!”
“Jangan gitu dong Ran. Kan gue bener-bener pengen ke perpustakaan. Anterin ya? Nanti gue traktir bakso deh.. “ ujarnya sekali lagi. Anehnya, aku sama sekali tidak bisa menolak permintaan cewek satu ini. Karena dia tahu, aku akan luluh dengan tatapan memohonnya. Sangat menyebalkan memang, karena Shallom tahu kelemahanku.

Shallom masih asyik dengan kegiatannya menelusuri tiap lorong rak perpustakaan, sibuk mencari novel mana yang akan ia baca. Dan aku berakhir di sini, di meja paling sudut di perpustakaan ini, hanya bisa duduk diam dan menunggu Shallom selesai dengan kegiatan yang menguras segenap perhatiannya. Sekitar sepuluh menit aku menunggu Shallom, akhirnya rasa bosan itu datang menghampiri. Akhirnya kuputuskan untuk berkeliling, sekadar melihat-lihat koleksi buku di perpustakaan sekolahku. Dan tiba-tiba saja mataku menangkap sosok yang entah mengapa menarik perhatianku. Meskipun sosok itu hanya diam, memandang lurus pada halaman buku mata pelajaran sosiologi yang tebalnya luar biasa, namun ada sesuatu dalam dirinya yang membuatku enggan untuk sekadar berpaling darinya. Ia duduk tenang di tempat baca bagian pojok perpustakaan, sesekali tangannya bergerak memeriksa handphonenya yang memang terletak di atas meja. Dan entah karena apa, ia tiba-tiba tersenyum menatap bacaannya itu. Apakah buku itu mengisahkan sesuatu yang lucu? Oh God, yang bener aja. Itu buku sosiologi tebal yang kalau aku kira-kira tebalnya bisa mencapai 300 halaman. Dan setauku buku sosiologi tidak mengandung unsur kelucuan. Tapi anehnya, jantung ini bergemuruh hebat hanya karena seutas senyum yang disunggingkannya. Yang lebih aneh lagi secara tidak sadar bibir ini ikut melengkungkan senyum. Dia menoleh! Laki-laki itu menoleh, menatap tepat ke arahku! Aku menahan nafasku dan tubuhku serasa membeku. Apa aku ketahuan lagi merhatiin dia? Atau malah aku terlalu ge’er dan hanya harapanku saja bahwa dia kini sedang menatapku? Namun aku yakin bahwa dia sedang menatapku, karena setelahnya dia justru tersenyum hangat kepadaku. Sedangkan aku langsung membalikkan badanku dan bergegas mencari Shallom tanpa membalas senyumannya. Senyuman lelaki yang mampu membuat jantungku bekerja dua kali lebih cepat dari biasanya.

Dan setelah kejadian itu, aku mempunyai hobi baru yang sama sekali tidak pernah aku pikirkan sebelumnya. Aku sangat sering mengunjungi perpustakaan dan aku menjadi pecinta buku. Catat, seorang Kiran menjadi pecinta buku! Itu hal yang mungkin langka untuk dijumpai. Bahkan Shallom sangat curiga dengan kebiasaan baruku ini.
“Harusnya gue seneng akhirnya elo jadi demen banget baca buku ataupun nongkrong di perpustakaan. Tapi tau nggak, gue malah jadi ngeri atas perubahan elo yang nggak wajar ini. Ngaku aja deh, elo pasti ada maksud tersembunyi..” kata Shallom saat kami akan pergi ke perpustakaan. Kebetulan jam pelajaran kami saat ini sedang kosong karena guru-guru sedang ada rapat.
“Harusnya elo seneng karena sahabat elo yang satu ini udah hobi baca buku. Kan lumayan elo jadi ada temen kalau ke perpustakaan. Tapi.. emang bener sih ada faktor lain yang mendorong gue buat suka baca buku dan ke perpustakaan..”
“Tuh kan bener. Emang ada apaan sih? Faktor lain apa?” kata Shallom lagi, terlihat begitu berapi-api. Saat aku akan menjawab pertanyaan Shallom, aku melihat sosok lelaki di perpustakaan itu. Lelaki yang membuat jantungku bergemuruh. Lelaki yang membuatku menyukai buku. Setelah itu aku berujar pelan kepada Shallom yang masih terlihat menunggu jawabanku.
“Kalau elo tau siapa cowok yang lagi jalan ke arah perpustakaan itu, gue bakal cerita ke elo dengan versi selengkap-lengkapnya..”
“Ya ampun! Itu kan… Ferdi.”
Dan setelah itu Shallom menceritakan tentang sosok lelaki itu. Ferdi, anak kelas XI jurusan IPS. Dia kapten tim futsal sekolah kami. Dan menurut cerita Shallom, dia beneran terkenal di antara para siswi di sekolah kami. Jangan tanya kenapa aku nggak tahu siapa Ferdi sebelumnya, karena jujur saja aku memang tidak terlalu tertarik dengan ekstra futsal di sekolahku. Dia jago futsal dan tentunya sangat suka membaca. Kata Shallom mereka sudah sering bertemu dengan Ferdi ketika di perpustakaan. Bahkan aku pun juga sudah beberapa kali bertemu dengan Ferdi. Tapi aku benar-benar tidak memperhatikannya.

“Jadi akhir-akhir ini elo sering ke perpus gara-gara Kak Ferdi? Sapa kali Ran. Dia juga udah tau elo kok pasti..” kata Shallom saat kami masih mengamati Ferdi secara diam-diam dari meja seberang tempatnya duduk.
“Nggak ah. Gue malu kali. Lagian belum tentu dia kenal. Bisa aja kan dia udah lupa kalau pernah ketemu gue..”
“Yaelah terus elo mau sampe kapan cuma ngeliatin dia dari jauh? Eh eh… tuh dia mau keluar. Lewat depan kita Ran. Sapa gih…” bisik Shallom kegirangan. Sedangkan gue hanya menatap dia, berlalu dari hadapan gue bahkan tanpa melirik sedikitpun ke meja kami.
“Elo masih yakin kalau dia bakal inget sama gue?” ujarku lirih kepada Shallom. Setelah itu aku pun ikut keluar dari perpustakaan.

Nggak tahu kenapa, tapi sejak hari itu aku tak pernah pergi ke perpustakaan lagi. Ada sedikit perasaan hampa yang aku rasakan. Aku merasa kalau aku hanya sekadar pengagum rahasia Kak Ferdi. Dan senyumannya beberapa waktu yang lalu, itu hanya sebuah kebetulan belaka. Aku akan menganggap kalau pertemuanku dengan Kak Ferdi sebagai bonus kecil dari kesabaranku mengantar Shallom ke perpustakaan.
“Kiran.. ke perpustakan yuk. Anterin Shallom cari buku..”
“Males ah. Elo sendiri aja deh…”
“Ah Kiran lagian kenapa sih elo sekarang nggak pernah ke perpus lagi? Pasti lagi ngehindarin Kak Ferdi..” kata Shallom.
“Shallom mah sok tau deh. Ya udah ayo ke perpus. Mumpung gue lagi baik hati nih.”
“Makasih Kiran sayang..”

Dan kita segera menuju ke perpustakaan. Shallom langsung menuju ke deretan rak buku di lorong kedua. Sedangkan aku menuju tempat baca di pojok perpustakaan lalu segera duduk di sana untuk menunggu Shallom. Aku hanya duduk diam, enggan mengambil satu bukupun untuk menemaniku menunggu. Namun tiba-tiba ada seseorang yang datang menghampiriku. Ia mengulurkan sebuah buku ke arahku. Aku cukup terkejut dan langsung mendongakkan kepalaku. Dia di sana. Tepat di depanku. Masih dengan senyum yang sama. Senyum yang tak terbaca artinya.
“Coba baca ini. Lumayan kan sambil nunggu.” Ujarnya lembut. Aku menerima buku yang diulurkannya. Kupandang sampulnya sekilas. Aku tahu buku ini. Novel cinta yang sering dibaca Shallom saat aku berkunjung ke rumahnya. Namun aku hanya diam. Semua kata-kataku seakan lenyap. Dan kemudian dia bersuara kembali.
“Kenapa sekarang jarang ke perpus?”
“Hah?” Aku hanya bisa berkata demikian. Terlalu kaget dengan pertanyaannya.
“Mungkin kamu bisa baca halaman pertama. Semoga aja kamu dapat semua jawaban atas pertanyaanmu..” ujarnya lagi kemudian berlalu pergi begitu saja dari hadapanku.

Kemudian kubuka halaman pertama novel itu. Namun yang kutemukan adalah selembar kertas berwarna hijau tosca. Kubuka lipatan kertas itu secara perlahan. Di dalamnya tertulis kalimat indah, “Aku merindukanmu. Merindukanmu menatapku secara diam-diam. Merindukanmu masuk ke dalam perpustakaan. Merindukanmu masuk ke dalam hatiku..” Kalimat itu berhasil membuatku memahami arti senyumannya. Senyuman Kak Ferdi yang tidak terbaca. Aku menengok ke arah pintu perpustakaan. Dia masih ada di sana. Berdiri bersandar di tembok samping pintu. Masih menyunggingkan senyum yang sama. Namun aku sudah dapat membaca senyumnya. Dan dengan mantap aku membalas untaian senyum itu. Senyum kehangatan yang kini berhasil terbaca.

Cerpen Karangan: Chatarina Utami
Facebook: Chatarina Utami

Cerpen Ada Apa Dengan Perpustakaan? merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karma

Oleh:
Matahari bersinar terik mengiringi langkah seorang laki-laki tampan bernama chiko. Chiko tampak terburu-buru pulang dari kampusnya.hari ini ia ada janji untuk bertemu dengan sahabat lamanya rio. Sampai di rumah

Move

Oleh:
“cek.. cek.. satu dua tiga..” cek sound yang sedang dilakukan oleh Andri dengan band-nya yang tak lama lagi akan tampil dalam sebuah acara apresiasi seni di sekolahku. Terlihat ia

He Is Mine

Oleh:
“Maaf kita harus putus.” Mungkin menurut semua orang yang gak tau kejadian awalnya bakalan bilang aku yang jahat. But, kalian hanya tau akhirnya tanpa mengetahui permasalahan awal. Dan disini

Hydrangea

Oleh:
Pesona bunga Hydrangea selalu nampak bermekaran untuk menghiasi awal musim panas yang cerah. Meskipun hujan kerap kali membasahi Hydrangea, dirinya tetap saja menghasilkan pemandangan yang sangat cantik. Air hujan

Akhir Pekan Nuri

Oleh:
Ceritanya tuh sekarang gue lagi nonton bioskop bareng temen-temen gue yang bernama Amel, Nadia, dan Liza judulnya ‘Akhir Pekan Miko’ sumpeh… menurut gue tuh film bagus banget bermoral banget.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *