Ada Tebing Curam Yang Memisahkan Kita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 26 May 2013

Letupan rindu dalam hati seperti sayatan angin di padang sahara; lekas dan tak terkejar.
Debar hati yang menyanyikan kata-kata, melahirkan kisah asmara dalam balutan cahaya senja.
Tetapi, berakhir dengan penungguan yang menyiksa.
Semuanya berawal dari sini;
“Apakah kau akan menemaniku menyaksikan cahaya senja itu?” kau berucap dengan mata yang masih melekat pada senja di suatu sore itu, menyaksikan warna jingga yang terbias di langit dari bangunan tinggi yang berada di tengah-tengah kota.
“Mengapa kau bertanya demikian, adakah aku pernah absen menemanimu?” aku tolehkan pandangan padamu. Sedangkan kau saat itu masih diam seakan memikirkan sesuatu.
Aku alihkan pandangan, kembali menikmati cahaya senja.
“Hem.. aku khawatir saja padamu. Maaf akhir-akhir ini aku dihantui perasaan yang memojokkanku hingga aku merasa tak pantas bagimu!” arah perkataanmu begitu jelas ku mengerti tetapi aku memilih bungkam menunggu kepastian.
“Alur kehidupanku ibarat lorong-lorong panjang hitam tanpa ada seberkas pun cahaya yang menerangi. Sedangkan kau? Kau hidup dalam genangan cahaya. Alur kehidupan kita jauh berbeda. Kau terlalu baik bagiku. kau sudah tahu bahkan kau sadar akan hal itu”.
“Sstt… aku tak perdulikan semua itu. Yang aku tahu kau adalah korban dari ketidakpastian hidup. Aku tak menyalahkanmu, tapi nasiblah yang patut untuk disalahkan”. Hatiku begitu hancur mendengar penuturanmu tetapi itu sebuah teriakan perasaanmu, aku tak dapat berbuat apa-apa kecuali menguatkan.
“Bukankah kegelapan dengan cahaya tidak pernah bisa bersatu dan pantang untuk akur? Begitu juga kehidupanku dalam kehidupanmu”. Dari getar ucapanmu aku tahu kau menanggung beban berat.
“Jika kau melihat aku adalah orang yang hidup dalam genangan cahaya maka aku akan mengajakmu bercebur di genangan itu. Seperti rembulan yang menyinari malam”.
Kau terlihat begitu berat mengerahkan pikiran. Terlihat jelas di bening matamu kebingungan yang membendung. Ku lihat dari matamu ada air yang lalu mengalir.
“Entahlah!!” kau masih tertunduk dalam diammu. “Aku semakin merasa tak pantas. Aku terlalu kotor bagimu. Kita sama-sama berada di tebing curam yang mustahil untuk disatukan. Terlalu banyak rintangan. Bahkan bapakmu pun tak setuju dengan hubungan ini karena melihat diriku yang begitu hina dan kotor”. Kau berucap dengan rintihan tangis yang berderai. Ku lihat kau sudah tak kuat lagi.
“Perlu kau… hey!” aku ingin menguatkanmu tetapi kau malah pergi, meninggalkanku dengan berlari membawa tetesan air matamu yang terhempas angin. Aku mematung tak punya daya untuk mengejarmu. Semuanya menjadi sepi. Kau pergi tak kembali lagi.

02 Mei 2012
Sudah tiga puluh hari kau tak datang aku tunggu. Di manakah kau sekarang cahaya senjaku? Apakah kau marah karena ada ucapanku yang salah pada waktu itu, Sehingga kau meredupkan cahaya jinggamu? Sungguh, sekarang aku begitu merindu!
“Dimanakah kau sekarang?” kuberteriak keras mambahana, di atas bangunan tinggi menjulang yang biasa kita tempati, menghabiskan waktu bersama, menyaksikan cahaya jingga yang terbias dari bulatan senja di ujung barat sana.

08 Mei 2012
Saat ini, aku menunggumu di bangunan tinggi yang biasa kita tempati. Tetapi, lagi-lagi kau tak datang, hingga kuputuskan untuk mencari.

Satu bulan lewat tujuh hari sudah kukosongkan waktu tanpamu. sekarang aku tak tahan, aku ingin mencarimu meski aku tak tahu arah mana yang harus aku tuju dahulu. Aku melangkah dari bangunan satu kebangunan lainnya, tinggi rendah semuanya kulewati, seperti mengejar cahaya senja yang selalu tenggelam dalam pekatnya malam. Di manakah dirimu berada? Apakah kau berada dicelah-celah awan atau di jendela kamar-kamar itu? Hingga cahaya sudah terkatup, aku masih tetap tak menemukanmu. Setelah sekian lama aku mencari, baru kusadari, malam ini tak ada sedikit pun cahaya rembulan meski temaram; pekat dan suram, pun dengan bintang-bitnang. Seperti suramnya hatiku dalam pekat kebingungan.

12 Mei 2012
Senja sudah temaram, mengerjapkan cahaya jingganya yang terbias di langit remang. Tetapi lagi-lagi aku tak dapat menatap wajahmu yang penuh dengan seberkas cahaya senja. Walau, aku sudah mencari kemana-mana. Tiba-tiba, aku teringat pernyataanmu dulu yang berakhir dalam rengkuh diam yang membisu.
Ada sesuatu yang menggenang hangat di mataku lalu mengalir menembus waktu, serasa ingin mengairi hatiku yang kering kala mengenang saat kebersamaan kita dulu, melewati hari-hari dengan bahagia dan senyummu kala melihat cahaya senja. Ah… sungguh aku begitu merindu saat-saat seperti itu.

18 Mei 2012
Di antara derita yang menyapa maka inilah yang paling mendera
Saat cahaya senjaku di telan malam yang menyeringai suram dalam kegelapan.
“Perempuan itu penunggu malam, kau harus tahu itu”.
“Tapi…” aku mencoba membela diri.
“kau tak mengerti apa yang sedang kau kerjakan! Buat apa kau mencari wanita jalang itu? Mau di kemanakan masa depanmu?” Dia lekas bicara dan berhasil menggantukan kalimatku.
Ini tak adil! Sunngguh-sungguh tak adil. Mengapa aku selalu saja tunduk patuh padanya. Dia selalu saja melarangku mencari perempuan yang telah membuatku belangsatan dalam sepi. Katanya, perempuan itu penunggu malam.

22 Mei 2012
Mungkin, aku memang tak bisa lepas dari tempat dan waktu. Seperti rindu ini, dengan semakin bertambahnya waktu, semakin pula menyesakkan tempat di hatiku. Memompaku untuk terus memburu bayangmu di segala penjuru.
“Kau sudah termakan perasaanmu sendiri. Kau sudah gila!”
“iya, aku sudah gila”. Aku akui dalam hati. aku yang terlalu membutuhkan tempat dan waktu melahirkan anggapan bahwa aku sudah gila, lagi-lagi karena rindu ini. Aku seakan tidak mau lepas darinya sedetik pun, lantaran perasaanku yang di bawa lari oleh mu, tak tahu entah kemana. Tetapi, inilah aku! Seperti Qais yang menjadi gila karena cintanya pada Layla, atau seperti Adam yang terlalu merindu Hawa.

28 Mei 2012
Waktu berjalan cepat namun begitu lambat kurasa. seakan terus menyiksaku dengan Tanya “di manakah kini kau berada?”
“Sudahlah, Nak, dia hanyalah perempuan penunggu malam, lihatlah! Dirimu seperti lidi yang kekurangan gizi!” aku sadar bahwa laki-laki paruh baya yang aku panggil ayah ini begitu mencemaskan keadaanku. Aku tertunduk diam dengan pikiran yang lalu mengingatnya; gadis yang telah lama mengendap dalam hatiku.
“Dimanakah kau sesungguhnya?” Jeritku miris dalam hati. Waktu ini begitu menyiksaku tanpa kehadiranmu di sisiku. Kadang waktu begitu menyiksa memang ketika diri menggantungkan harapan padanya apalagi harapan itu pada akhirnya tak berbuah apa-apa. Tetapi, mungkin, waktu sedang mengajarkanku kesabaran serta kesetiaan yang tak mengenal waktu.

30 Mei 2012
Kau tahu? Sekarang, rindu ini menjelma rasa takut. Aku takut akan kesendirian ini yang selalu membayangi hari-hariku.
Watuku dalam dua bulan ini terasa begitu hampa dan menyiksa. Hem… aku tak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang? Mencarimu sudah tidak memungkinkan. Entahlah, apakah aku menyerah dalam kesendirian ini atau apa? Aku tak tahu, aku terlalu bingung dengan semua ini. Tetapi, aku yakin, suatu saat nanti kita akan bertemu kembali di suatu tempat yang pasti.

*di sini aku tetap menanti maafmu

Cerpen Karangan: Khalilullah Al-fath
Facebook: Al-fath Adenk

Cerpen Ada Tebing Curam Yang Memisahkan Kita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


My First And Last Love

Oleh:
Langit malam ini begitu gelap, menutupi bintang-bintang yang biasa ku sapa. Tetes demi tetes air hujan turun membasahi malam ini, menimbulkan sebuah melodi menyayat hati. Aku menengadah menghadap langit

Akulah Musikmu

Oleh:
Arli namaku, setiap hari aku selalu melihat Rama, sahabat terdekat ku di kelas musik yang aku pun juga menyukainya, dia menghampiri dosen pengajar tari modern (dance) yang bernama Santy,

Bunga Abadi

Oleh:
“Ra..” bisik lelaki dengan air mata yang mulai mengalir. Ia tak mampu lagi menahan rasa sakit karena ditinggalkan. Lelaki itu sangat mencintainya. Sangat. Bahkan, lelaki itu terus saja berbisik

Tulus Samar

Oleh:
Kali ini embun menyergap hebat dengan ribuan pasukan yang halangi pandangan luar jendela kamar. Ciptakan tetes demi tetes dari kaca transparan tepat di depan mata. Seperti kita. Mungkin tetes

Semua Tentang Kita (Part 1)

Oleh:
Erma, Fikri dan Feny sedang asik menikmati makanannya di kantin. Namun kenikmatan itu berakhir ketika seisi kantin yang mayoritas perempuan teriak histeris. “Woy, apaan sih?” Erma menggebrak meja karena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *