After The Darkness

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Fiksi Penggemar (Fanfiction)
Lolos moderasi pada: 2 October 2017

Hogwarts tahun ke tujuh, setelah perang.

“Kau… Mengapa kau selalu saja memperburuk hariku Malfoy. Kau ferret-pirang-silan!” Hermione menatapnya nyalang. Beberapa gulungan perkamen dan empat buah buku tebal berserakan di sekitar mereka. Draco menyeringai puas melihat wajah partner-ketua murid perempuan itu yang memera marah. “Well, memangnya aku peduli. Kau hanya seorang darah lumpur kotor!” desis Draco. Matanya membalas tatapan tajam penuh amarah milik sang anak emas Gryffindor yang agak tersentak mendengar ucapan Draco. Ya, Draco menyebutnya darah lumpur kotor, lagi. Hermione pikir setelah perang besar-besaran yang telah merenggut nyawa banyak orang, Draco akan berubah. Wah, kau mengharapkan Draco untuk berubah eh, Hermione?
Demi jenggot tua Merlin, bahkan status darah sudah dihapuskan. Bukankah dunia sihir sekarang tidak memandang rendah para penyihir muggle-born? Bukankah sesama penyihir adalah saudara? Penyihir tetap penyihir, mereka sama-sama punya kekuatan sihir kan. Lalu mengapa….
Draco memperjelas seringaiannya melihat seorang gadis dengan sebutan nona-tahu-segala diam di depannya. “Kepala semakmu kehabisan ide, huh?” ujar Draco tetap mempertahankan seringaian khasnya. Hermione menghela nafas dan menghembuskannya kasar. Hidungnya kembang kempis siap-siap membalas perkataan rivalnya. “Jangan pernah menjatuhkan buku-buku tuamu di sepatuku lagi mudblood” ucap Draco datar tepat di wajah Hermione. Hermione menunduk. Draco makin puas melihat tingkah Hermione. Meskipun tingkah Hermione agak aneh karena tidak membalas ucapan Draco tapi, hal ini tampaknya cukup menyenangkan bagi sang pangeran slytherin yang berpikir bahwa sang putri Gryffindor telah kehabisan ide untuk membalasnya. Bukankah itu suatu kemenangan? Oh poor Hermione. Hermione buru-buru memungut buku-buku dan perkamennya kemudian beranjak pergi masih dengan menunduk. Draco mematung, seringaiannya seketika musnah. Dia sempat melihat bulir-bulir air mata membentuk lautan kecil di kedua pipi putih sang gadis Gryffindor itu. Dan rasa itu kembali menggerogoti dadanya. “Sial!”

Bintang-bintang menghiasi langit-langit Aula besar, lilin seolah menari di atas sana menambah keindahannya. Situasi seperti inilah yang selalu digemari oleh semua penghuni Hogwarts. Makan malam yang damai. “Mione, apa kau baik-baik saja?” tanya Ginny. “Mione”. “Mione”. Hermione tersentak dari lamunannya demi hentakan keras di punggungnya. Gadis bersurai coklat itu menatap Ginny dengan tatapan bertanya. “Kamu tidak mengatakan dan melakukan apapun semenjak berada di sini, Mione” sahut Ginny, dibalas anggukan penuh dari Harry. “Dan kamu melamun” tambahnya. “Iwha Mhwiyone, apwha khmw bwaihk shwaja?” tanya Ron dengan mulut penuh daging domba panggang. “Ewh.. Telan dulu makananmu Ronald Billius Weasley” sela Hermione dengan pandangan jijik. “Dan Ginny, aku baik-baik saja tak usah khawatir, Harry. Hanya memikirkan beberapa tugas dan buku-buku yang harus kupelajari demi ujian NEWT nanti” ujar Hermione. Harry manggut-manggut, Ron tersedak kentang tumbuk. Hermione memutar bola mata bosan melihat kelakuan sahabatnya yang tak pernah berubah. Matanya menangkap sosok perempuan sedang bergelayut manja di lengan pria berambut pirang platina di meja seberang, dan si pria tampak jelas sangat tidak merasa terganggu dengan hal tersebut. Tiba-tiba manik biru keperakkan mengunci manik coklat madunya. Tertahan beberapa saat, masing-masing dari pemiliknya seolah enggan menyudahi perang antar mata itu. “Baiklah tapi kau belum menyentuh makanan sama sekali Mione?” Hermione terkesiap, itu suara Ginny. “Aku tidak merasa lapar, Gin” Hermione kembali diam. Melirik ke meja seberang. See? Mengapa Hermione tidak bisa berhenti melirik meja seberang? “Kau diet Mione?” Hermione memutar bola mata kesal. “Aku tidak diet Gin, tapi karena aku tidak lapar” Hermione menatap Harry meminta bantuan tapi tampaknya Harry sengaja diam membiarkannya. “Apakah kau sedang jatuh cinta Mione. Biasanya wanita akan menjaga tubuhnya ketika dia sedang jatuh cinta” Hermione melotot menatap Ginny. Bagaimana mungkin… Oke, ucapan Ginny kali ini benar-benar gila. “Dengan diet? Konyol sekali” tanya Hermione, perhatiannya kini sepenuhnya beralih kepada gadis berambut merah itu. Ginny mengangguk penuh. Sang putri Gryffindor memegang dada kirinya. Hermione mengisi piringnya dengan kentang tumbuk dan sosis. Kemudian memakannya dengan suapan besar. Harry dan Ron ternganga. Ginny tersenyum penuh kemenangan, berhasil memaksa Hermione untuk makan. Setelah meneguk jus labu hingga kandas, dia segera meninggalkan aula besar dengan langkah panjang.

Tanpa Hermione sadari, sepasang manik biru keperakkan itu mengikutinya hingga punggungnya hilang di balik pintu ganda aula besar.

Draco melangkah keluar dari aula besar. Dia menepis tangan Pansy Parkinson yang merengek manja. Entah perasaan apa yang mendorongnya agar segera keluar dari sana dan mengikuti gadis bersurai coklat lebat itu. Mungkin penasaran dengan perubahan sikap Hermione beberapa hari ini yang seolah menjauhinya. Ralat, hell! Hermione memang manjauhinya. Draco tidak tahu mengapa. Hermione akan mengambil arah lain ketika melihat Draco sedang berjalan di lorong atau koridor yang sama. Hermione selalu mengunci diri, mengerjakan tugas-tugas di kamarnya bukan di ruang rekreasi ketua murid seperti biasa. Hermione selalu bangun sangat pagi, sekaligus meninggalkan asrama ketua murid tanpa Draco ketahui. Hermione juga tidak pernah mengajaknya bicara di kelas meskipun mereka berdua terlibat mengerjakan tugas yang sama, Hermione hanya bicara seperlunya dan menjawab seperlunya. Draco merasa diabikan dan seorang Malfoy tidak pernah senang bila diabaikan. Atau kehilangan eh, Draco?

“Coklat kodok” Hermione memanjat masuk setelah lukisan di depannya terbuka. Ruang rekreasi tak berubah, masih terlihat sama. Ah, seandainya Voldemort hidung pesek masih hidup, dia pasti tidak mungkin mendapatkan lencana ketua murid seperti sekarang ini. Hermione memandang seisi ruangan dengan sendu, dia pasti akan merindukan saat-saat menjadi ketua murid ini. Dua buah sofa, maroon dan hijau berhadapan terletak di samping perapian. Hermione tersenyum simpul, mengingat seorang pria yang sering ia katai ferret-pirang-busuk sedang duduk di sofa hijau kesayangannya sambil memakan apel hijau plus sebuah buku bertengger manis di antara jari jemarinya yang panjang. Memikirkannya membuat hati Hermione tertohok, bahkan dari sekian banyak pria yang ia sukai, mengapa harus Draco Lucius Malfoy yang justru dicintainya. Seberapa keras Hermione mencoba untuk melupakan perasaan kagum kepada sang pangeran Slytherin itu dengan membangun tembok pembatas antara mereka. Tentu saja salah satu caranya adalah menjadi lebih pintar dari Draco, lelaki pertama yang mengatainya mudblood. Sia-sia sudah karena tembok pembatas yang susah payah Hermione bangun harus luntur di tahun ke enam.

Seseorang terdengar memanjat masuk ruangan. Pasti Draco. Hermione segera melangkah menuju kamarnya. “Granger, kita perlu bicara” suara itu sangat ia rindukan. Langkahnya terhenti di tengah undakan tangga. “Aku mengantuk Malfoy, lain kali saja” ucap Hermione tanpa menoleh. Air mata menggenangi kelopak matanya. “Demi Merlin! Granger berhentilah” nada suaranya mengintimidasi. Hermione mendengus. “Aku lelah dan mengantuk Malfoy”. “Aku bilang berhentilah mempermainkanku Granger!” desis Draco tidak sabar. Hermione membeku di tempat. Hidungnya kembang kempis menahan emosi yang tersulut. Hening. “Granger, bisakah kita bicara sambil duduk?” tanya Draco lebih bernada perintah. Hermione berbalik, berjalan menuju sofa.

“Bicaralah” ucapnya sinis. Draco memandangnya intens, Hermione tak membalas pandangannya. “Well mengapa kau menghindariku?” Hermione memelototinya nyalang. “Aku tidak menghindarimu” jawabnya menatap perapian. Draco berusaha terlihat tenang, hei, seorang Malfoy tidak mungkin menunjukan sisi emosinya bukan? “Demi Salazar! Kau menghindariku Hermione” ucapnya dingin, padat. “Jangan sebut nama depanku Mister Malfoy. Seolah kita berteman saja. Aku seorang darah lumpur, ingat?” cetus Hermione tak kalah pedas. Draco hilang kesabaran. “Ya, kau darah lumpur kotor, beaver, semak, nona-tahu-segala. Mengapa kau menghindariku, mengabaikanku. Demi Merlin! Bahkan kau mengganti jadwal patrolimu dengan Padma Patil. Ada apa sebenarnya Granger!” seru Draco putus asa. Well, selain ibunya, hanya Hermione yang mampu membuat Draco seperti ini. Great Hermione. “Dan apa yang kau bilang tadi Granger, tidak menghindariku. Sekarang kau bahkan tidak menatapku!” cukup sudah, Hermione merah padam, wajahnya sewarna rambut Ginevra Weasley. “Karena kau tidak tahu apapun tentangku, kau musang tak tahu diri. Aku lelah memerhatikanmu, meneriakimu ketika pagi, membalas semua cacianmu, aku muak melihat wajahmu yang selalu membuatku rapuh sekejap Malfoy. Aku menyerah dengan semua ini. Kau menang sekarang. Darah lumpur kotor ini tidak akan mengganggumu lagi” ucap Hermione dalam satu tarikan nafas. Dan bulir bening itu berderai tanpa permisi. Draco membeku. “Aku terlalu mencintaimu, Draco dan memikirkan semuanya membuatku sakit” jelas Hermione setelah mengumpulkan sisa-sisa tenaganya dengan sesenggukan. Pertahananmu kembali runtuh huh? Draco bergeming, seolah nagini kembali membelit isi perutnya dan menerbangkan ribuan kupu-kupu memenuhi rongga dadanya. Hermione menyebut nama kecilnya dan mengatakan cinta padanya?

Tatapan Draco melembut dan cemas, dengan sigap ia menangkap tubuh Hermione sebelum ambruk menyentuh lantai.

Tiga hari ini hospital wings menjadi kamar rangkap kelas bagi Hermione Granger. Draco yang membawanya ketika tiba-tiba Hermione pingsan setelah pengakuan perasaannya terhadap Draco Malfoy si darah murni. “Kau boleh kembali ke asramamu hari ini Ms. Granger” ucap Madam Pomfrey. “Apa kau menunggu seseorang untuk menjemputmu Ms. Granger?” lanjutnya ketika melihat Hermione masih bungkam. “Uh, tidak madam. Terima kasih” .

Hermione melangkah keluar dari hospital wings, dia memang tidak sedang menunggu siapapun. Semoga saja Draco tidak melaporkan perihal sakitnya kepada Prof. McGonagal, apa yang akan beliau katakan bila tahu bahwa aku lalai dalam bertugas. Jerit Hermione dalam hati. Draco? Oh, dan apa yang telah Hermione lakukan, mengungkapkan perasaannya? Wajah Hermione memerah sekejap mengingat betapa beraninya seorang putri Gryffindor rela menjatuhkan harga diri serta menyampingkan ego demi cinta. Cinta? Well bukankah itu yang selama ini kau rasakan, huh! Nah, sekarang bagaimana caranya dia bisa berperilaku di depan Draco. “Demi Merlin! Aku lebih memilih menenggelamkan seluruh tubuhku ke dalam danau hitam daripada bertemu dengannya” gerutu Hermione cemas. Tapi Draco adalah partnernya, tentu saja mereka pasti akan berjumpa. Hermione mendengus lemah, dia memutuskan untuk menginap di asrama Gryffindor. Brilliant bukan! Hei, Hermione memang selalu brilliant. “Mione!” Harry, Ron, dan Ginny serempak menghampiri Hermione yang baru melewati lukisan nyonya gemuk. Kemudian memeluknya bergantian. “Kami baru saja akan menjemputmu Mione” ujar Harry. Ron mengangguk cepat. “Ya, kami sangat mengkhawatirkanmu, kau tahu” sambung Ginny. “terima kasih. Aku sudah lebih baik sekarang” ucap Hermione terharu.

Malam membawa udara menusuk tulang. Hujan di bulan oktober? Oh Merlin. Hermione mendesah, gadis bersurai ikal itu tengah duduk menikmati hujan di asrama Gryffindor, tentu saja. Dua minggu berlalu seperti biasa, tanpa keusilan Draco Malfoy. Hermione merasa kosong. Tapi apa boleh buat, dia hanyalah seorang perempuan yang membutuhkan penjelasan dan tampaknya ia telah menyerah dengan perasaannya. “Mione, kau tahu. Kau bisa cerita apapun padaku” ucap Harry lembut, Hermione menoleh alisnya terangkat sebelah. “Aku bersamamu tujuh tahun ini Mione, aku mengenalmu dan aku tahu kau tidak baik-baik saja” Hermione kembali menatap Harry, kali ini hatinya mencelos. Harry benar. “Malfoy bukan?” air matanya perlahan menetes. “Aku bodoh kan, Harry” isak Hermione. Harry menggeleng pelan dan memeluk sahabatnya. Membiarkan Hermione meluapkan air mata kekecewaannya.

Hermione melangkah riang di atas rerumputan basah. Dia akan menghabiskan akhir pekannya di tepi danau hitam. Beberapa buku tebal yang Hermione anggap sebagai bacaan ringan telah dia siapkan dalam tas yang tengah tersampir di punggungnya. Berterima kasihlah pada Harry yang telah bersedia menggantikan jadwal patroli Hermione di Hogsmeade bersama Draco. Hermione sungguh ingin menenangkan dirinya dari sebuah perasaan tak terbalas dan tak bernama. Dua minggu lagi NEWT, belajar terasa lebih baik. Hermione menyelonjorkan kedua kakinya, matanya serius menatap isi buku di atas pangkuannya. Terlalu serius hingga dia tidak menyadari kehadiran seseorang yang sedang duduk di sampingnya. Hermione merenggangkan tangannya pegal rasanya hanya bertahan pada satu posisi. Hingga tangannya mengenai sesuatu. Refleks, ia menoleh “Ma-Malfoy” ucapnya nyaris tak terdengar. Hermione bergegas hendak meninggalkan tempat itu. “Menghindariku lagi eh, Granger?” Hermione kembali duduk. Tak sudi dibilang pengecut, mungkin. “Begitu lebih baik” ucap Draco datar. Wajahnya menatap lurus membelah danau hitam tanpa ekspresi. “Sedang apa kau disini Malfoy?”. “Mencari seseorang. Kau?” masih tanpa ekspresi. “Bukan urusanmu!” Draco menyeringai, Hermione menatapnya rindu. “kau tak ingin mengetahui perasaanku, Mione?” Hermione menghentikan langkah kakinya. Apa ia tak salah dengar? “Granger?”. “Ya Malfoy, bicaralah”. Draco beranjak menuju Hermione. “Aku mencintaimu, aku bahkan menyukaimu sejak tahun ketiga, berang-berang” ucap Draco gamblang. Hermione melotot tak percaya, ditatapnya mata Draco mencoba untuk mencari kebohongan di sana tapi nihil. Air matanya merangkak keluar. “Sshh.. Mione, aku di sini. Dan aku tidak akan melepaskanmu lagi” tegas Draco, menghapus air mata Hermione kemudian merengkuhnya dalam pelukan hangat”. Hermione mengangguk penuh di dada Draco. “Aku juga mencintaimu, Draco” ucap Hermione lembut seraya mengusap pipi pucat Draco. Draco tersenyum, kali ini benar-benar tersenyum. Senyuman sebagaimana manusia. Dan Hermionelah penyebab senyuman itu ada.

Bukan hanya Draco saja karena beberapa pasang mata yang sejak tadi menyaksikan mereka, ikut tersenyum di balik semak-semak dan pepohonan hutan terlarang.

Disclaimer: Harry Potter seutuhnya milik Ibunda Joanne Kathleen Rowling. Saya hanya meminjam beberapa karakter di dalamnya tanpa mengambil keuntungan apapun.

Cerpen Karangan: ALis W
~ Thanks for reading. Ini cerita pertamaku tentang Dramione. Sorry ceritanya, mungkin gaje, typo(s), ooc, dll. Saran & kritikan kalian akan sangat membantu saya. *peace*

Cerpen After The Darkness merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Diary ku Tersenyum

Oleh:
Senyum itu dan aku hanya menatap, terdiam dan betah serasa isyaratkan dan mengartikan bahasa di jiwa, mengertikan cinta yang ingin menjadi keharusan. Keharusan selalu berada di setiap detik berdenting,

Cinta Telepon Genggam

Oleh:
Siang yang panas memang sepanas otakku ketika pelajaran fisika dimulai. Pelajaran yang paling sulit kupahami sejak dahulu, ditambah lagi dengan nada suara yang terdengar sayup seperti kekurangan oksigen dari

Sepeda dan Cinta Pertamaku

Oleh:
Namaku Tiara, aku sangat suka sekali bersepeda. Dari kecil aku sangat menyukainya. Aku masih ingat dulu saat pertama kali ibu dan ayah mengajariku menggunakan sepeda. Jatuh bangun ku rasakan,

Panggil Aku Chubby

Oleh:
Tepat pukul 06.59 aku tiba di sekolah. Aku memutuskan untuk berlari agar cepat sampai di gerbang sekolah karena takut pintu gerbang akan ditutup. Saking bersemangatnya aku tak mempedulikan keadaan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *