After The Rain

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Romantis
Lolos moderasi pada: 11 September 2013

Suara hujan berdesak-desakkan memenuhi telingaku, menghadirkan kenangan yang tengah kucoba hempaskan dari daya ingat. Tetesan hujan yang menabuh dahan-dahan di pekarangan rumah, perlahan membangkitkan kisah yang sudah tak ingin lagi kuingat.

Kuletakkan penaku di samping buku tebal berwarna abu-abu. Jemariku seolah memusuhi pena yang biasa menjadi teman dekatnya itu – ia tak ingin lagi menyentuh, apalagi berdekatan dan menari bersama untuk menyelesaikan tulisanku. Imajinasiku turut melemah, tak mampu kalahkan kabut masa lalu yang tengah berusaha menyelimuti otakku.

Aku menarik nafas dalam-dalam begitu mendapati Binang berdiri di depanku. Bajunya basah kuyup. Tubuhnya sedikit menggigil, tapi senyum khasnya tetap disuguhkan untukku. “Ayo masuk.” Ajakku dengan perasaan tidak enak.
Binang memilih untuk duduk di kursi yang berdekatan dengan jendela rumah – supaya tidak membasahi sofa dan bisa membaca tulisan-tulisanku, katanya.

Aku segera menuju dapur untuk membuatkannya secangkir teh hangat. Tidak seharusnya tadi aku marah karena Binang membatalkan janji. Buktinya tak lama setelah Binang membatalkannya, hujan benar-benar turun.
“Tadi aku tidak melihat mendung.” Kataku sambil menyerahkan secangkir teh untuk Binang.
Dia tersenyum, “Tidak pa-pa. Kalau aku sudah di sini kan, kamu tidak mungkin marah.”

“Orang yang sudah menyakiti itu tidak perlu diingat lagi, Ran.”
Suara Kak Yoga membuyarkan lamunanku. Entah sejak kapan ia berdiri di dekatku sambil melempar-lemparkan apel di tangannya. Mata sipitnya melirikku tajam ketika aku menoleh ke arahnya.
Ia tarik kursi di sebelahku, lalu mendudukinya. “Orang seperti Binang ngga pantes kamu pikirin terus.”
Aku menghela nafas. “Siapa juga yang mikirin Binang.” Bantahku sambil menyambar secangkir kopi di meja.
“Kamu ngga usah bohong sama kakak.” Cetusnya. “Kalau tau akhirnya seperti ini, kakak ngga bakal ngenalin Binang ke kamu.”
Kuambil kembali penaku. Sepertinya ia sudah sedikit berdamai dengan tangan ini. “Aku tidak pernah menyesal mengenalnya.” Kataku sembari menulis judul baru di bukuku. Kak Yoga tak menyautnya, hanya diam dengan tatapan kosong menembus jendela rumah.
“Kakak masih belum terima dia memperlakukanmu seperti itu.” Kak Yoga bertutur serius. Ini merupakan kali pertama aku bisa merasakan perhatian dari kakak yang kuanggap super aneh itu. Kupikir dia hanya bisa cengengesan sambil menertawakan kepolosanku.

Siang ini hujan mencegahku untuk pulang cepat. Padahal perutku sudah memanggil-manggil agar segera dimasuki makanan.
Betapa hebatnya hujan, ia mampu mencegah siapapun melanjutkan aktivitasnya. Hujan pernah mencegah Binang saat dia mau pulang dari rumahku – belum tentu bila aku yang mencegahnya, Binang mau menuruti. Seandainya hujan juga bisa mencegah Binang saat dia akan pergi dariku.
Kututup wajahku dengan kedua telapak tangan. Aku tidak boleh terus diejek kenangan seperti ini.

“Laper nih, Ran.” Keluh Arsi, sahabatku. “Kantin yuk?” Ajaknya.
“Yuk, aku juga laper.” Jawabku.

Semangkok bakso buatan Mbak Tinah, sudah cukup untuk mengganjal perut. Setidaknya, bisa mengistirahatkan pentas karawitan di perut.
“Radit!” Seru Arsi.
Tak lama setelah panggilan Arsi memekakkan telinga seisi kantin, Radit datang menghampiri kami dengan baki di tangannya. Arsi mempersilakannya bergabung dengan kami. Dan dengan senang hati, Radit pun duduk di sebelahnya. Senyum ramahnya menyapaku.
Radit adalah satu-satunya cowok bersenyum ramah tulus di sekolah. Keramahannya bukan ramah yang dibuat-buat untuk tebar posona seperti kebanyakan cowok di jagad raya ini, dia ramah apa adanya. Orangnya juga terlihat halus, tidak banyak polah. Pantas saja banyak yang dekat dengannya, tapi, belum termasuk aku.
“Kenalan sama Rana tuh, Dit.” Arsi menyenggol lengan Radit.
Radit mengulurkan tangan, “Raditya Ismail Putra, kelas XI IPS 2.” Sebutnya.
Kusambut uluran tangannya, “Rana. Sekelas sama Arsi.” Kenalku dengan senyum sempit. Radit tetap membalas dengan senyum lebar.
“Nahh,” Ujar Arsi. Ia teguk minumannya. “Radit suka baca, Rana suka nulis. Pasti kalian cocok.” Kata Arsi meyakinkan.
Radit tampak sumringah. “Wah, kamu penulis, Ran? Boleh baca tulisan-tulisan kamu?”
“Bukan, bukan penulis kok.” Aku mengelak.. “Kalau mau baca tulisanku, ya baca aja.” Lanjutku.
“Ah, pokoknya tulisan Rana tuh bagus-bagus banget, Dit!” Sahut Arsi. “Tapi dia ngga pernah percaya kalau aku bilang tulisannya bagus. Mungkin bakal lebih percaya sama omonganmu yang memang hobi baca.” Arsi menjelaskan panjang lebar.
Entah apa maksud Arsi mengenalkanku pada Radit dengan menghubung-hubungkan hobi kami. Dia begitu antusias menjabarkan perjalanan menulisku. Aku sendiri tidak menyangka, Arsi bisa sehafal itu.
“Kamu penulis cerpen Dia Akhir Senja, bukan?” Tanya Radit, membuatku tercekat. Kepalaku mengangguk kaku. “Jadi, Nirana Dinata itu kamu?” Tanyanya lagi, dengan nada bicaranya meninggi.
Tangan Arsi mendarat dengan sempurna di kepala Radit. “Kamu gimana sih?! Terus kamu pikir yang di depanmu ini namanya siapa?” Protes Arsi.
Radit tampak gelagapan. “Ya, aku ngga tau kalau nama lengkapnya Nirana Dinata. Aku pikir Kirana, atau Sekarana, atau mungkin Dorana.” Jelasnya dengan mimik serius. Aku mulai tertawa. “Dorana the explorer.” Lanjutnya, membuatku dan Arsi tergelak.
Radit memandangku. “Dari puluhan cerpenmu yang sudah terbit, saya paling suka cerpen ‘Di Akhir Senja’.” Tuturnya.
“Kenapa?” Pancingku.
“Saya suka deskripsi tempat yang kamu tulis di sana, imajinasi saya ikut melayang-layang. Kamu pandai menggiring pembaca agar penasaran dengan epilogmu, dan pada akhirnya tidak ada yang mengecewakan sampai di epilog.” Jelas Radit.
Hening.
Aku dan Arsi saling berpandangan, hingga beberapa detik kemudian tawa kami meledak – menyadari suasana yang begitu kaku. Omongan Radit mendadak menggunakan kata ‘saya’ dengan penuturan kata yang begitu rapih seperti karya tulis. Pipinya pun memerah, merasa ditertawakan.
“Kok cara bicaramu jadi berubah sih, Dit? Resmi banget kayak isi surat dinas!” Kata Arsi, masih dengan gelak tawa.
Aku tersenyum. “Makasih banyak, ya. Ngomongnya jangan pakai saya-sayaan dong, ngga asyik.”
“Iya, mending sayang-sayangan.” Sahut Arsi. Aku menatapnya tajam. “Rana asyiknya juga baru saja ya, Dit?” Arsi membela Radit.
Aku hanya diam, tak menanggapi. Memang benar, tadi aku terlalu cuek dengan Radit. Aku belum tau kalau ternyata Radit adalah lawan bicara yang menyenangkan.

“Bukannya lomba sudah selesai?”
Aku terus mengejar penjalasan Binang. Langkah kakinya tak bisa dihentikan, terus melaju menyusuri rak-rak buku di perpustakaan. Ia tak menghiraukan selarik kalimat pun yang aku lontarkan. Fokusnya hanya pada buku yang sedang ia cari.
Dia menatapku sejenak. “Kamu pikir setelah lomba selesai, urusanku otomatis selesai semua?”
“Memang sekarang ada urusan apa lagi?”
“Ngga penting.” Sahutnya cepat.
Binang menghela nafas lega begitu menemukan buku yang ia cari. Tanpa menghiraukan keberadaanku, dia langsung berjalan menuju meja penjaga perpustakaan.
“Kamu pikir aku buta organisasi?”
Pertanyaan itu akhirnya terlontar dari bibirku. Binang menghentikan langkahnya, dan berbalik ke arahku. Matanya menatap tajam.
“Tidak mungkin dalam sebuah tim, cuma kamu yang kerja. Anggotanya bukan cuma kamu, kan? Dan tidak mungkin sibuk 24 jam, sampai ngga bisa dihubungi.” Lanjutku. Binang masih berdiri di depanku, tanpa mengeluarkan sepatah katapun.
“Jadi maumu apa?” Binang menodongku dengan pertanyaan pahit.
Kedua tanganku mengepal. “Sampai sini saja.”

Seseorang menyenggol pundakku hingga membuatku terperanjat. Kak Yoga rupanya. Ia sedang berdiri dengan pakaian rapih. Tangannya sibuk mengaitkan kancing di bagian lengan. Kemudian tangan itu berpindah ke rambut – merapikannya beberapa detik.
“Sudah pantes jalan sama Arsi?” Tanyanya.
Aku tergelak. “Oh, mau jalan sama Arsi? Pantes kok, pantes.” Jawabku dengan senyum meyakinkan. Kak Yoga pun tersenyum puas.
“Ya sudah, jaga rumah ya.” Pesannya sambil berjalan menuju pintu.
“Jaga Arsi juga.”
“Pasti.”
Kak Yoga tak segera keluar rumah. Ia masih saja terpaku di ambang pintu. “Kenapa, kak?” Tanyaku heran. Telunjuknya mengarah ke utara.
Aku mengikuti arah telunjuknya. Seorang cowok berkaos biru tua tengah berdiri di depan pagar dengan memegangi sepedanya. Aku segera lari keluar untuk menemuinya.
“Hai!” Sapaku. “Ayo masuk,” Kubukakan pagar untuk Radit.
Kak Yoga mendekatiku dengan motornya. “Jaga rumah.” Pesannya lagi.
“Iya-iya.” Jawabku mulai sewot.
Aku dan Radit langsung menuju meja tempatku menulis. Dia sengaja kusuruh kemari untuk membaca tulisan-tulisanku.
“Yang ini udah siap dikirim nih, Ran.” Katanya usai membaca cerpenku.
“Memang sudah dibaca sampai selesai?” Tanyaku sambil terus mengaduk teh.
“Belum, tapi sudah kelihatan.” Jawabnya.
Kuletakkan secangkir teh di meja, beriringan dengan hujan yang tiba-tiba mengguyur deras. Guyuran airnya kembali mengetuk ingatanku mengenai Binang. Seolah mereka mengingatkan, bahwa apa yang kini tengah kulalui – sudah pernah terlalui bersama Binang. Hujan, tempat menulis, dan secangkir teh hangat.
“Sebentar lagi, kamu akan mendapat kabar bahagia.” Kata Radit sambil memandang sendok yang baru saja kutaruh.
Dahiku mengernyit. “Oh, ya?”
Radit mengangguk pasti. Diangkatnya secangkir teh yang kutaruh di meja. “Jadi, kita bisa meramal dengan teh. Ini termasuk peninggalan budaya.” Radit memulai penjelasannya.
“Caranya?” Tanyaku penuh antusias.
Ia membenarkan posisi duduknya, kemudian berdeham pelan. “Cuma dengan dilihat.” Jawabnya singkat. Radit tertawa melihatku kecewa dengan jawaban singkatnya. “Apabila setelah mengaduk teh, sendoknya ditaruh dengan posisi terlentang – berarti akan mendapat kabar bahagia. Begitu pula sebaliknya.” Lanjutnya.
Aku mengangguk mengerti. “Cuma itu?”
Dia menggeleng sambil menyeduh tehnya. “Masih banyak. Aku kasih tau lain kali kalau kamu bikinkan aku teh lagi.”
Aku memukul lengannya pelan. Tawa renyah Radit terdengar di antara guyuran hujan. Rasanya sudah lama sekali aku tidak merasa seriang detik ini. Mungkin aku rindu pelangi, setelah menjadi penikmat hujan berhari-hari.

Semenjak perkenalan siang itu, aku menjadi semakin dekat dengan Radit. Dia bukan hanya nyambung untuk diajak membahas dunia menulis. Pengetahuannya jauh lebih luas dari yang kubayangkan.
Radit selalu berhasil mencerahkan suasana. Dia tidak pernah berhenti menghadirkan canda, hingga tak lagi tersisa waktu untukku mengingat masa lalu.
“Kalian kapan?” Tanya Arsi tiba-tiba. Wajahnya tampak berseri-seri.
“Apanya yang kapan?” Balasku.
Arsi menggigit telunjuknya sendiri. Bibirnya terus melengkungkan senyum yang tak jelas alasannya. “Aku udah jadian sama kakakmu.” Ungkapnya.
Mendadak tubuhku seperti dibekukan. Mataku tak berkedip, nafas tertahan, dan tidak ada anggota gerak yang mampu digerakkan. Sampai akhirnya Radit menepuk pundakku, baru aku bisa kembali normal.
“Kasih ucapan selamat, dong.” Kata Radit.
Aku masih terbengong-bengong. “Beneran, Si? Kamu yakin?” Tanyaku.
Arsi mengangguk mantap. Aku lekas beranjak dari kursiku, dan duduk di sebelahnya. Kupeluk Arsi erat. “Harus saling menjaga, ya.” Pesanku usai melepas pelukan.
“Pasti.” Jawab Arsi.
“Soal nyusul gampang, Si.” Ujar Radit.
Arsi terkekeh. “Oke. Kalau sama kamu sih, aku percaya penuh.”
“Maksudnya?” Tanyaku.
Arsi dan Radit hanya saling berpandangan dengan senyum penuh arti. Tidak ada satupun yang menjawab tanyaku.

Seperti biasa, setiap ke kafe ini aku dan Radit selalu memilih untuk duduk di kursi sebelah jendela. Di sini aku akan lebih betah menulis berjam-jam dengan ditemaninya. Sejauh ini, belum pernah kudengar keluhannya selama aku menulis. Mungkin karena dia sendiri penikmat bacaan.
“Wah menang nominasi lagi nih cerpenmu!” Seru Radit. Ia hadapkan laptopnya kepadaku.
Benar, namaku kembali terpampang di kolom pemenang nominasi cerpen terbaik. Senyumku merekah puas.
“Dibukukan saja, Ran. Cerpenmu kan sudah banyak.” Saran Radit.
Aku menggeleng pasti. “Belum berani.” Kataku.
“Kenapa? Cara berceritamu itu sudah luwes.” Untuk kesekian kalinya Radit mendesakku menerbitkan buku. Tapi dia belum berhasil membuat kepalaku mau mengangguk. Sampai akhirnya dia menyerah, tidak mendesakku lagi..
Radit menyambar ransel yang ada di dekatnya. Diambilnya sebuah kotak kecil yang dibalut kertas merah muda. Senyum khasnya melengkung ketika menyerahkan kotak itu untukku.
Ia mengangguk pelan, memberi isyarat agar aku mau menerimanya. Kuraih kotak itu, lalu membukanya perlahan. Kudapati sebuah kalung berliontin huruf ‘R’ di dalamnya. Segera kuambil kalung itu.
“Buat kamu.” Kata Radit. Aku tersenyum dengan mata sedikit basah. “Liontin itu sebenarnya bukan diciptakan untuk menaungi satu arti.”
“Lalu?” Tanyaku.
“Ada tiga arti, jika kamu bersedia.”
Dahiku mengernyit, tidak paham dengan apa yang Radit bicarakan.
“Tiga arti. Rana, Radit, dan satu lagi — sebagai kita.” Jelas Radit, ia tekankan kata terakhirnya. “Itu jika kamu bersedia ada ‘kita’ di sana. Kalau tidak, liontin itu hanya bernaung pada satu arti. Kamu, Rana.” Lanjut Radit.
Kuhela nafas. “Apabila hanya ada nama Rana di liontin ini, sama saja dia tidak berarti. karena Rana lebih berarti ketika ada Radit, dan kalung ini tidak akan ada jika tidak ada kita.” Jawabku.
Senyum Radit kembali mengembang sempurna. Dia berdiri mendekatiku. “Sini, kupakaikan.” Ujarnya sambil mengambil kalung itu dari tanganku.

Sama seperti hujan, tidak selamanya ia mengguyur bumi. Akan ada matahari yang datang setelahnya, dengan menghadirkan sebuah pelangi.
Kini, kenangan sudah menghentikan ejekannya bersama perginya hujan. Radit sudah menjadi matahari untukku. Mendung berhasil ia sibak, kemudian menggantinya pelangi – pada hari ini, setelah hujan pergi.

Cerpen Karangan: Widyadewi Metta
Blog: wdymetta.wordpress.com
Facebook: Widyadewi Metta
Kritik dan saran dapat disampaikan melalui twitter ke @wdymetta

Cerpen After The Rain merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Untuk Sahabat

Oleh:
Malam begitu sunyi ketika ku berjalan di sisi kota tua itu…yang terasa hanya dingin menyengat jiwa-jiwa yang kesepian… Jalan_jalan itu nampak sepi..Hanya terlihat beberapa kendaraan yang lalu lalang…hmmm…benar-benar malam

Daun Di Atas Batu

Oleh:
Pada sepotong ranting yang tengah terpukul arus dari pinggiran tebing yang curam, masuk ke dalam pusaran buih-buih gelombang, hanyut terbawa ke tengah laut. Ranting itu sebenarnya telah lenyap. Sebab

Cinta Sahabatku

Oleh:
Mungkin aku tak pernah sadar jika ia telah melepaskan aku, aku tidak berhak lagi untuk memilikinya. Mungkin aku adalah orang yang paling gila di dunia ini, aku dengan berani

Skate Love

Oleh:
Aku suka suara itu. Menenangkan rasanya. Aku suka saat benda kecil berbentuk lingkaran itu bergesekan dengan aspal. Melintas dengan lihai di antara padatnya ibu Kota. Aku suka saat papan

Bukan Sebelah Mata (Part 2)

Oleh:
Setibanya Aryn di Bandung, ia disambut di rumah mewah bibinya. Bibinya tinggal bersama suaminya. Ia hanya mempunyai satu orang anak yang sudah bekerja, dia jarang tinggal di rumah ini.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “After The Rain”

  1. ica febrianti says:

    wihhh kerennn :^_^

  2. Kyolaire says:

    Yeah, It’s like that I can’t describe ’bout what’s inside my mind after I reading your story but….. I only can say “Good Job BigSis”

  3. Ade sulis says:

    I like it….kerennnnnn ^_^

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *