Akhir Cerita Sabtu Senja (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 24 May 2017

Cerita membangggakan bukanlah tentang perjuangan cinta, tetapi perjuangan di saat kita tahu betapa sulitnya mempertahankan sebuah ikatan bernama persahabatan. Cerita mengharukan bukanlah keromantisan tentang cinta namun perjuangan mempertahankan ikatan persahabatan di saat banyak teman baru menyusup tetapi bisa mempertahankannya.
Terpaan berbagai macam ujian, perbedaan pendapat bahkan drama percintaan atau yang lebih parah pernah mencintai orang yang sama sempat membuat hubungan renggang, tetapi itulah kebesaran Allah SWT yang senantiasa menjaga, mendekatkan dan merangkul ikatan bernama persahabatan di antara manusia.

Kisah berawal dari masa biru putih. Masa peralihan dari anak-anak menuju remaja. Masa di mana seorang anak yang masih labil karena dalam proses mencari jati diri. Saat itu pula, seorang anak mempercayai informasi apapun yang diterima. Termasuk mitos mengenai tumbal, terdengar sangat sulit dinalar logika tetapi sebagian besar orang mempercayainya. Yah, itu memang masih sering terdengar di telinga setiap orang terutama yang hidup di desa. Tahun demi tahun selalu merenggut nyawa setiap siswa dengan kasus sama. Banyak siswa meninggal karena sakit malah dikaitkan dengan masalah tumbal untuk nilai tinggi Ujian Nasional. Tak butuh waktu lama, berita menyebar dari mulut ke mulut mengakibatkan beberapa orangtua takut menyekolahkan anak mereka di sekolah tersebut. Meski fasilitas terpenuhi dan kualitas individu terjamin. Nyatanya hanya orangtua yang tidak percaya mitos dan menginginkan anaknya mendapatkan pendidikan terbaik yang mau menyekolahkan anak mereka di sekolah tersebut. Sebagian besar, sekolah dihuni oleh anak PNS dan pengusaha sukses hanya ada sebagian kecil anak orang biasa ataupun orang tidak mampu.

Aroma kematian masih menyeruak di seluruh penjuru sekolah. Hanya ada beberapa orang lalu lalang untuk menjemput siswa. Selain itu tak ada siapapun. Hanya suara angin berpadu bersama gesekan daun kelapa sawit terdengar menenangkan. Seorang gadis berseragam memasuki ruang kelas sebelah kantor guru.
Brakkk
Hempasan angin kencang mampu menutup pintu yang sudah cukup berumur. Perlahan langkah gadis itu terhenti menengok pintu sekilas lalu membuka jendela kelas untuk menikmati setiap hembusan angin yang selalu menerpa wajahnya tanpa jeda.
Pletak
“Awww” jerit gadis itu di tengah kesunyian. Ia terbelalak melihat sahabatnya sudah duduk manis di meja sebelah jendela. Gadis itu kebingungan karena tidak bisa menyadari kehadiran atau bahkan kedatangan sang sahabat. “Kapan kamu datang?”
“Y-U-R-I-S-K-A”
Gadis dengan nametag Yuriska itu heran sembari menutup nametag pada seragam menggunakan tangan. Gadis berambut keriting itu lumayan pintar tapi sayang agak aneh.
“Cuma memastikan doang, kali aja salah” ujar gadis itu beranjak dari duduk. Gadis yang akrab dengan sapaan Yuris itu hanya mengekor di belakang sahabatnya.
Yuris keluar kelas bersama gadis aneh yang bernama Wiwik untuk mencari keberadaan Hermin. Di tengah perjalanan, keduanya sempat bertemu tukang kebun sekolah.

Sampai di laboraturium bahasa, Yuris dan Wiwik belum bisa menemukan Hermin. Cukup lama mencari namun tak mendapat hasil, keduanya putus asa dan memutuskan istirahat sejenak. Belum saja keduanya menikmati waktu istirahat, terdengar suara benda jatuh di dalam ruang laboraturium, padahal pintu dalam keadaan terkunci. Bulu kuduk berdiri, desiran darah terasa memanas terutama saat keduanya menyadari bahwa hari ini sekolah pulang pagi karena ada kabar duka yaitu seorang kakak kelas meninggal dunia. Yuris dan Wiwik saling melempar pandangan sebelum mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu.

“Lari yok!” ajak Yuris
“Tapi aku kepo.”
“Kalo bukan manusia gimana?”
“Itu urusan belakangan. Ayo buruan jangan jadi pecundang! Lagian kita kan berdua. Kalaupun yang ada di dalam itu setan, dia kan sendirian. Kita keroyok aja, beres.” Ujar Wiwik panjang lebar sambil menggenggam erat tangan Yuris agar tetap bersamanya. Belum saja sampai di jendela kaca laboraturium yang tertutup gorden, Wiwik meminta Yuris untuk menggantikannya berjalan di depan. Yuris menolak, akhirnya Wiwik memutuskan secara sepihak bahwa ia mau berjalan di depan tapi dengan syarat Yuris yang memastikan bahwa tidak ada apapun di dalam ruang laboraturium. Mau tidak mau Yuris setuju.

Suasana terasa sangat menegangkan, aroma wewangian pandan dan vanilla berhembus, saat Yuris memberanikan diri untuk memastikan keadaan laboraturium. Angin semilir datang semakin menjadikan suasana terasa mistis.
Deg
Air liur Wiwik seakan enggan memasuki tenggorokan saat merasa ada sebuah tangan yang menyentuh bahunya. Mendengar bisikan Wiwik. Yuris mematung di tempat sembari mencoba menenangkan diri.
“Tanganya di-dingin banget bang, emang situ sejenis makhluk berdarah dingin ya?” tanya Wiwik terbata-bata karena ketakutan.
“Makhluk berdarah dingin? Komodo maksud kamu? Emang komodo punya tangan kayak manusia? Perasaan enggak deh. Tapi kalo iya sejak kapan?” cecar Yuris mendengar pertanyaan konyol dari Wiwik.
“Etdah, sejak dinosaurus beranak onta!” sahut Wiwik kesal. “Kenapa sih, Tuhan ngasih sahabat kayak dia. Apa jangan-jangan ketuker ya?” gumam Wiwik mulai frustasi dengan keadaan.
“Apa?”
“E-enggak. Cuma bilang, lebih baik dibawa sama makhluk berdarah dingin daripada harus setiap hari ketemu kamu” ujar Wiwik sambil nyengir.
“Ha? Jadi kamu lebih milih setan daripada sahabat? Gitu?” tanya Yuris, membuat Wiwik menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
Khem
Keduanya baru teringat masalah seseorang di belakang Wiwik. Hitungan pelan, saat angka ketiga disebutkan Yuris dan Wiwik berbalik. Refleks, suara jeritan menerobos paksa masuk ke telinga setiap manusia di dekatnya. Yuris dan Wiwik saling berpelukan membuat manusia yang dikira hantu sangat geram sekaligus geli.

“Idih dasar LGBT!”
Yuris dan Wiwik terdiam, saling bertatapan kemudian menjauh satu sama lain. Gadis dengan nametag Hermin terpaku melihat kedua aksi konyol sahabatnya.
“Aaa, hantu! itu pasti hantu yang lagi menyamar jadi si Mimin!” ujar Wiwik sambil menyembunyikan wajah pada punggung Yuris yang sebenarnya juga tak kalah ketakutan.
“Heh! Bilang apa tadi?”
“Hantu.”
“Bukan bagian itu!”
“Mimin.” sahut Yuris
“Dasar!”
Hermin mengejar Yuris dan Wiwik yang menghindarinya. Bukan ketakutan, Yuris dan Wiwik malah tertawa sembari terus mengejek Hermin dengan panggilan baru, yaitu Mimin.

“Salah kamu sendiri. Punya tangan dingin banget.” Ejek Wiwik mengitari di kelapa sawit.
“Eh, aku abis salat ya gak kayak kamu.” Sahut Hermin tidak terima.
“Astaghfirullah, nak. Ingat nasehat ini sembunyikan ibadahmu seperti kau menyembunyikan aibmu. Btw kalo salat, kok bau pandan?” tanya Yuris yang berdiri di teras perpus sambil mengawasi aksi kejar-kejaran kedua sahabat.
“Iya-iya maafkan saya ustazah. Masalah pandan, kalian aja yang pikirannya mistis! aku tadi abis makan roti rasa pandan.” Ujar Hermin berhenti mengejar Wiwik.
“Kenapa gak makan roti rasa kenanga sekalian!” ungkap Yuris membuat Hermin kembali mengejarnya.
Ketika melewati kelas almarhum kakak kelas, suasana menjadi berubah sangat sepi, tak lama terdengar suara ketukan pintu. Hermin yang baru saja datang, menerobos melewati kedua sahabatnya dan berdiri paling depan. Namun, Hermin diam saat tersadar bahwa ada suara asing di antara mereka.

“Gak usah bercanda deh” omel Hermin menengok kearah Yuris dan Wiwik yang ternyata juga mematung diam, mendengarkan suara asing dengan seksama.
Hermin ingat benar, kalau tukang kebun sekolah baru saja keluar bahkan sempat menyapa Hermin saat di mushola.
Diam-diam Hermin mundur, belum rampung Hermin melangkah sudah lebih dulu terdengar suara lemparan batu yang sangat keras. Ketiganya langsung lari terbirit-birit bergegas keluar dari sekolah.
Kepanikan ditambah terburu-buru membuat setiap orang lupa cara melakukan sesuatu bahkan hal sepele sekalipun. Hal itu terjadi pada Yuris dan Wiwik. Membuka gerbang sekolahan adalah hal tersulit saat ini.

“Cepetan dong! Kalau hantunya nyusul gak lucu nih! Jangan sampai aja deh.” omel Hermin sembari melihat ke belakang dan kanan kirinya.
“Eh, bantuin daripada bicara doang” sahut Wiwik mulai berkeringat seperti melakukan hal terberat di dunia. Yuris hanya diam dan memilih fokus melakukan tugas negara yang dilimpahkan padanya.
Cukup lama tertahan di gerbang bahkan sampai terdengar azan maghrib, membuat Hermin memutuskan turun tangan.
Klek. Gerbang langsung terbuka, membuat Yuris dan Wiwik saling bertanya lewat pandangan mata. Hermin berdecak sebal dan memilih meninggalkan kedua sahabatnya yang masih tercengang kebingungan.

Terik mentari siang hari membuat orang seringkali merasa malas melakukan aktivitas. Lain cerita dengan Yuris. Tanpa peduli rasa lelah dan panas Yuris mengayuh sepeda sekuat tenaga menuju sekolah. Meski masih sulit melupakan pengalaman horor 3 hari lalu tapi Yuris berjanji tidak akan mengubah apa yang seharusnya ia lakukan pada hari sabtu di mana Yuris bisa menyalurkan hobi menari.

Sesampainya di aula sekolah, Yuris mematung. Tak ada satupun peserta ekstra tari di dalam aula. Hanya seorang laki-laki berkalung SLR yang duduk santai di pojok aula. Yuris membalikkan badan berniat mencari tahu kemana perginya semua siswa yang mengikuti ekstra tari.
“Hei berhenti!” Yuris berhenti ketika mendengar ada suara langkah mendekat. Seorang laki-laki asing mengatur nafas karena baru saja berlari cukup jauh. “Apa kamu salah satu siswa yang tergabung dalam ekstra tari?” Yuris mengangguk pasti. “Kalau begitu tolong beritahu aku di mana tempat latihan tari?”
“Biasanya di aula tapi…”
“Apa kau terlambat?”
“Tidak juga”
“Lalu?”
“Kenapa kau terus bertanya? Apa kau ini detektif atau sejenisnya?” tanya Yuris sembari mengeluarkan sound system kecil bermotif army dan sebuah selendang merah.
Tak lama, suara gendhing khas Banyuwangi menggema di aula. Yuris ingin berlatih walaupun seorang diri karena lomba menari antar sekolah semakin dekat, Yuris melangkah menuju pentas aula dan meninggalkan laki-laki asing itu seorang diri di ambang pintu.
Tarian yang dibawakan sangat menarik. Durasi terhitung cukup lama, tapi Yuris sama sekali tidak terlihat lelah walau keringat tak henti menetes dari keningnya. Seakan tak mau kedatangannya sia-sia, laki-laki asing itu melakukan apa yang ia anggap benar.

“Apa kau tidak punya objek lain?” ungkap Yuris sinis menyadari bahwa seseorang telah mencuri fotonya saat menari. Yuris menadahkan tangan.
“Apa?”
“Berikan kamera itu!” ujar Yuris, laki-laki itu menggeleng, lalu memasukkan kamera ke dalam tas.
“Halo, baiklah.” Laki-laki asing itu terlihat sedang berpura-pura menerima telepon, karena ponselnya dalam keadaan mati. Yuris melipat kedua tangan di depan dada. “Maaf aku harus pergi sekarang.”
Sebelum laki-laki asing itu pergi. Dua gadis berseragam olahraga dan rambut dikuncir dua lengkap dengan pita menghalangi langkahnya. Laki-laki asing itu hanya melempar senyuman manis pada keduanya.

“Hermin, Yenika!” pekik suara dari dalam aula membuat Hermin sempat terkejut, efek kejadian 3 hari lalu. Kemunculan Yuris menciptakan rasa lega dalam diri Hermin yang masih menyimpan ketakutan.
“Eh, Yur. Siapa cowok tadi? Kecengan kamu ya?” tanya Hermin secepat kilat membuat Yuris berdecak sebal.
“Ah, mana mungkin. Aku saja baru sekali melihat wajahnya.” Jawab Yuris apa adanya.
“Iya juga sih wajahnya asing. Apa jangan-jangan dia anak kota yang rencananya mau mengambil foto ekstra kita.” Timpal Hermin.
“Iya, pasti dia tadi fotographer terkenal yang dibicarakan Mbak Lusi di pertemuan kemarin. Cepat kemasi barang-barangmu! Kita harus segera memberitahu Mbak Lusi.” Ujar Yenika
Saat merapikan perlengkapan menari, tak sengaja Yuris melihat sebuah gantungan kunci tergeletak di lantai aula. Sejenak, Yuris mencoba mengingat-ingat dan ia menemukan bayangan laki-laki asing yang diduga sebagai pemilik gantungan kunci itu.

Sesampainya di rumah Mbak Lusi, ketiganya bergegas memasuki sanggar tari. Hermin terdiam mendapati laki-laki tampan itu sudah sampai lebih dulu di rumah Mbak Lusi.
“Oh, aku pikir kalian semua tersesat. Kemarilah!” ujar laki-laki asing itu sok akrab tetapi langsung membuat Hermin terpesona.
Tak lama, Mbak Lusi datang dan memberi tahu perilah datangnya seorang tamu. Ternyata benar dugaan Hermin dan Yenika. Laki-laki asing itu memang tamu Mbak Lusi.
“Nama saya Wildan Samudra Pratama. Saya punya proyek untuk ekstra fotografi, jadi mohon kerja samanya” ujar laki-laki itu.
Semua tersenyum ramah tanda menyetujui kerja sama yang dibuat tanpa ada perjanjian resmi hitam di atas putih. Selama murid menari, tanpa jeda terdengar suara jepretan dari kamera milik Wildan yang secara tak langsung mengurangi konsentrasi Yuris.

1 jam berlalu, latihan berakhir. Semua murid bergegas pulang ke rumah masing-masing. Namun, tidak dengan Yuris dan Hermin. Seperti hari-hari sebelumnya, sepulang ekstra keduanya akan menanti sunset di jembatan dekat sekolah. Bersepeda bersama sembari bersenandung dan bercanda seakan sudah menjadi makanan rutin saat senja sepulang ekstra.
Yuris dan Hermin menyandarkan sepeda kayuh di pohon, lalu berjalan menuju jembatan diselingi candaan ringan. Hermin tampak sangat menikmati hembusan angin sore yang menenangkan dibalut tawa renyah Yuris.

Saat hening tercipta karena sang surya akan pulang diantar harapan. Tiba-tiba sebuah motor KLX datang, Yuris dan Hermin melempar pandangan penuh tanya. Saat pemilik motor membuka helm, Hermin membulatkan mata tak percaya sedangkan Yuris hanya diam, pura-pura tidak menyadari kehadiran Wildan. Mood Yuris hilang seketika karena hadirnya Wildan di saat tidak tepat.

“Wow! Kenapa kalian tidak memberi tahuku kalau ada spot bagus di sini?” Tanya Wildan mengeluarkan kamera.
“Kita kan baru kenal, mana mungkin kamu tahu kita ada di sini?” ujar Hermin balik tanya.
“Dia pasti penguntit baru bukan fotographer seperti yang dikatakan Mbak Lusi. Jadi, berhentilah percaya pada orang asing seperti dia.” Ungkap Yuris sembari melangkah berniat mengambil sepeda kayuhnya. Yuris sangat benci kehilangan momen di mana ia seharusnya bisa mengucap harapan. Hermin berdecak sebal melihat Yuris melakukan hal tidak sopan. Yuris selalu bersikap kaku pada laki-laki terutama yang baru saja dikenal. Wildan menghampiri Hermin dan Yuris yang masih berdebat di bawah pohon besar.
“Bolehkah aku menjadi temanmu, Yuris dan Hermin?” Tanya Wildan. Yuris kaget begitu juga dengan Hermin yang kebingungan. “Aku tahu dari Mbak Lusi”
“Kita pergi.” Pamit Hermin.
Tanpa Yuris sadari, tas kecil berisi bekal dan perlengkapan menarinya tertinggal di bawah pohon. Menyadari itu, Wildan berteriak dan melambaikan tangan kepada keduanya tapi sayang mereka sudah lebih dulu ditelan tikungan. Akhirnya Wildan memutuskan membawa tas itu bersamanya.

Cerpen Karangan: Iwut Dinia
Facebook: Iwut Dinia

Cerpen Akhir Cerita Sabtu Senja (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berkat Lori Aku Bisa Sekolah Lagi

Oleh:
Anto berlari menyelusuri jalan-jalan pintas di sebuah permukiman kumuh yang terletak di utara kota Jakarta. Walaupun napasnya terengah-engah dan keringat bercucuran di hampir seluruh tubuhnya karena sinar matahari yang

Harapan Hati

Oleh:
Harapan ini hadir karenamu. Harapan yang jauh dari kenyataan. Harapan yang hanya khayalan dan mimpi belaka. Harapan untuk bisa bersamamu entah kapankah itu. Aku lancang ya? Telah masuk ke

4900 Sekon With You

Oleh:
Dan waktu. Dan waktu pun terus berlalu. Menemani hari-hari kita. Indah. Semua sempurna. Waktu itu adalah waktu yang sangat berarti baginya. Waktu yang membuatnya tak pernah lupa dengan seseorang.

Keputusan Sepihak

Oleh:
Ya aku ziah seorang wanita yang tak bisa lepas dari handphone. Suatu hari ketika libur sekolah aku hanya asyik dengan handphone, suatu hari ketika aku sedang asyik bermain bbm

Kado Akhir Tahun

Oleh:
Disaat sedang mengumpulkan sisa – sisa pikiran, di saat kepala masih pening, di saat pagi yang dingin. yang sebenarnya enggan untuk bangkit menuju kamar mandi, enggan terkena air. Tapi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Akhir Cerita Sabtu Senja (Part 1)”

  1. Ghaitsa Ghayati says:

    Cerpen yang teman-teman buat sangat bagus dan judulnya juga sangat menarik…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *