Akhir Cerita Sabtu Senja (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 24 May 2017

Malam harinya, usai belajar Yuris memasukkan buku, tiba-tiba Yuris teringat tas kecilnya. Saat akan menanyakan pada Hermin, Yuris teringat bahwa tas kecilnya pasti tertinggal di bawah pohon dekat jembatan. Tanpa pikir panjang, Yuris meraih jaket kemudian berencana mengambil tasnya.
Memiliki pengalaman menyeramkan, membuat Yuris sedikit ragu pergi ke jembatan seorang diri terlebih pada malam hari. Karena pastinya sedikit penerangan di sepanjang jalan menuju Jembatan terutama jalan yang dilewati adalah jalanan sepi. Tapi niat Yuris pasti mampu mengalahkan segalanya.

Di sepanjang perjalanan, bacaan ayat kursi tak berhenti dibaca hingga sepeda yang dibawa mulai memasuki sebuah kebun penuh dengan tanaman tingkat tinggi dan dikelilingi tanaman bambu.
Angin semilir datang membuat pohon bambu saling bergesekan berpadu bersama suara binatang membuat kesan menyeramkan yang pada malam hari. Yuris berusaha fokus menyetir dengan tangan gemetar.

Di tengah perjalanan, Yuris dikejutkan dengan kehadiran seorang pria berjongkok menghadap sungai. Awalnya Yuris mengira pria itu adalah orang gila, tetapi Yuris melihat sebuah alat pancing. Sehingga Yuris menyandarkan sepeda ke pohon, memberanikan diri dengan cara menghembuskan napas baru kemudian menghampiri pria itu sekedar ingin bertanya tentang tas. Namun, saat pria itu berbalik. Yuris tercengang seakan sulit berlari bahkan melangkahkan kaki. Melihat seluruh wajah pria itu datar. Yuris menutup mata sambil membaca ayat kursi berulang kali dan bergegas mengambil sepeda. Pria itu benar-benar tidak mempunyai hidung, mata dan mulut seperti manusia. Yuris langsung menyimpulkan kalau pria itu pasti makhluk halus.

Yuris melirik jam tangan yang ternnyata sudah menunjukkan pukul 21:30 WIB tepat. Belum saja mengayuh sepeda, Yuris lebih dulu dihadang pria berwajah datar.
“Aelah, om! Minggir dong, kalo mau ajak selfie kapan-kapan ya. Sekarang saya sibuk cari benda berharga.” Ujar Yuris terbata-bata karena ketakutan. Yuris juga berusaha meminta bantuan tapi tidak ada yang datang. Karena kepepet, Yuris terpaksa menabrak pria berwajah datar dan mempercepat kayuhan sepedanya.
“Astaga bagaimana aku bisa pulang. Kalau pria itu kembali. Ahhh terpaksa harus keliling dulu deh! Coba aja tadi gak ketemu flat face.” Keluh Yuris saat melewati sebuah pemukiman terdekat dari jembatan.

Kringgg
Suara jam beker memecahkan keheningan suasana pagi di kamar Yuris. Pengalaman malam itu seperti sebuah mimpi buruk yang terus membayangi Yuris. Sejak kejadian menyeramkan, Yuris sering begadang diliputi rasa takut dan cemas.
Mandi express, kuncir rambut asal-asalan dan memasukkan buku tanpa melihat jadwal pelajaran. Setelah itu, bergegas lari untuk berpamitan pada ayah dan ibu yang sedang sarapan. Seakan mengalami amnesia, Yuris lupa membawa sepeda, malah memilih berlari dari rumah. Kejadian itu membuat Yuris merasa gila.

Ketika akan memasuki sekolah, Wiwik menyambut Yuris dengan senyum termanis, namun Yuris seperti tak menganggap keberadaan Wiwik yang sudah berdiri di gerbang menanti kedatangannya. Yuris memprihatinkan. Penampilannya berantakan sangat sulit menemukan kata rapi dalam diri Yuris sejak beberapa hari lalu, rambut hanya dikuncir asal-asalan menjadikannya semakin terlihat aneh dan yang lebih parah Yuris seperti korban begadang. Melihat keanehan pada diri Yuris, Wiwik mengekor di belakang untuk mencari tahu penyebab perubahan Yuris.

“Apa semalam tidur nyenyak?” tanya Wiwik menyeimbangkan langkah.
“Pertanyaan basi.” Sahut Yuris tanpa menengok kearah Wiwik sedikitpun. Wiwik berhenti.
“Udah capek kali ya, tuh anak jadi cewek bloon” gumam Wiwik, sebelum menyusul Yuris yang sudah berada jauh di depan menuju kantin.
Angin menerbangkan rambut Yuris yang dikepang dua dengan pemanis berupa pita. Yuris mendengar langkah kaki, sejenak ia terdiam menengok ke belakang lalu kembali melangkah menuju koridor sekolah yang masih sepi. Yuris merasa masih dikelilingi suasana mistis.

Saat akan melewati lorong menuju kantin, Yuris merasa ada seseorang yang selalu mengawasi setiap ruang geraknya sehingga membuat Yuris tidak nyaman karena masih belum bisa melupakan kejadian waktu itu.
Jpret
Yuris beranjak dari duduk ketika menyadari intuisinya benar. Tetapi makhluk yang diprediksikan berbeda. Seorang siswa sekolah lain yang sejak kemarin mendatangkan masalah dalam hidupnya kembali datang.
“Apa…” belum rampung Yuris berbicara, laki-laki itu sudah memotong ucapannya. “Tenang. Aku sudah menghapusnya sebelum kau menyuruhku”
“Bagaimana bisa kamu ada di sini? Kamu kan tidak sekolah di sini?”
“Oh, apa aku juga butuh izin darimu agar bisa keluar masuk sekolah ini?”
“Tentu saja”
“Benarkah? Padahal aku hanya ingin mengembalikan tas jelek ini” ledek Wildan dengan senyuman manis yang membuat siapapun meleleh kecuali gadis yang sedang duduk di depannya. Sebelum menerima omelan karena sebuah tas, dengan kecepatan kira-kira 75 km/jam, Wildan lebih dulu memakai headphone yang menggantung di lehernya untuk mengantisipasi.
Benar saja, Yuris langsung memulai adu mulut lebih buruknya, Wildan merasa tidak terima hingga menciptakan adu mulut terpanas di pagi yang dingin ini.

Cukup lama adu mulut terjadi, tiba-tiba seorang gadis ceriwis yang lekat dengan aroma vanilla datang menengahi keduanya. Yah, siapa lagi kalau bukan Hermin. Entah sampai kapan Hermin akan menjadi penengah di antara keduanya. Meski terbilang masih belum terlalu mengenal satu sama lain, tetapi Wildan sudah menganggap Yuris dan Hermin seperti sahabat sendiri. Begitu juga dengan Hermin yang selalu welcome dalam urusan persahabatan.
“STOP!” teriak Hermin
“Diam!” gertak keduanya pada Hermin. Karena kesal, Hermin terpaksa menjitak Yuris dan Wildan yang tidak mau menghentikan adu mulut memalukan. Yuris diam sembari melihat suasana di sekitar. Sepertinya adu mulut yang terjadi telah menjadikannya pusat perhatian. Karena malu, Yuris langsung pergi dari kantin.

Hari berlalu begitu cepat berubah menjadi minggu. Tak bisa dipungkiri kalau persahabatan di antara Yuris, Hermin dan Wildan semakin erat. Ketiganya sering bertemu pada hari sabtu, di sanggar tari dan di jembatan untuk menanti sunset bersama.
Ekstra tari diliburkan, Yuris dan Hermin berniat menemui Wildan di jembatan. Kebetulan sungai sedang surut, sehingga Hermin memutuskan untuk menggunakan satu sepeda.

“Wild…” teriak Hermin
Siluet seseorang di kejauhan tampak melambaikan tangan. Yaps, karena Wildan sudah sibuk memutar-mutar lensa kamera untuk menyesuaikan fokus pada objek foto sehingga tak sempat sekedar menyapa hai.
Baru saja sampai, perhatian Yuris langsung tertuju pada sebuah bola basket yang ada di motor Wildan. Melihat Wildan masih sibuk mengajarkan cara memotret yang baik dan benar pada Hermin, Yuris tertarik melihat bola itu. Melihat Yuris penasaran pada bola basket, Wildan mendekatinya. Hermin membuka galeri foto yang ada di dalam kamera Wildan saat mengetahui Wildan sedang menghampiri Yuris. Hermin menutup mulut menggunakan tangan karena terkejut melihat semua isi galeri didominansi foto Yuris. Hanya ada beberapa yang murni foto semua murid di sanggar tari Mbak Lusi. Dari situ Hermin bisa menyimpulkan, kalau Wildan pasti suka pada Yuris.

Yuris melempar sebuah gantungan kunci yang ia temukan di aula ketika pertama bertemu Wildan. Laki-laki itu hanya tersenyum.
“Terima kasih. Oh ya, apa kau suka?” Tanya Wildan
“Em? Bahkan aku baru pertama kali melihatnya sedekat ini.” Sahut Yuris. “Awalnya aku pikir itu bukan bola basket”
“Lalu apa?”
“Telur dinosaurus.” Ujar Yuris polos membuat Hermin dan Wildan tergelak mendengar jawaban konyol Yuris barusan.
“Apa kita bisa selfie dengan ini?” tanya Hermin berusaha menarik perhatian Wildan dengan cara membuat topik pembicaraan baru.
“Bisa. Tapi percuma juga kamu selfie pakai kamera itu.” sahut Yuris.
“Memang kenapa? Bukannya hasil akhir lebih bagus kameraku daripada kamera handphone?” tanya Wildan bertubi-tubi membuat Yuris geleng-geleng kepala tanda tidak menyetujui pernyataan Wildan.
“Kelemahan kamera mahalmu itu, tidak ada efek yang bisa membuat cantik seperti aplikasi di dalam handphone.” ujar Yuris.
Gelak tawa Hermin dan Wildan kembali terdengar melengkapi senja sabtu ini. Seperti biasa, sebelum pulang ke rumah, ketiganya mengucapkan harapan dalam hati. Saling bergenggaman tangan menghadap ke arah mentari, merasakan kehangatan mentari senja, tiupan mendayu angin yang menenangkan membuat ketiganya ingin segera mengucapkan harapan masing-masing untuk hari esok yang lebih baik.

“Ciee kalian terlibat cinta segitiga ya?” suara Wiwik tiba-tiba hadir di antara ketiganya. Wiwik tak sendiri melainkan bersama Yenika. Wildan refleks melepas genggaman tangannya pada Yuris dan Hermin.
“Apa’an sih! Orang kita sahabat.” Sahut Hermin diikuti anggukan dari Wildan dan Yuris. Pernyataan Hermin sangat berbanding terbalik dengan apa yang ada dihati.
“Namanya, sahabatan sama cowok. Pasti ada salah satu yang falling in love gitu.” Timpal Yenika membuat Yuris geram.
“Dasar pembawa kayu bakar” runtuk Yuris tiba-tiba. Wildan hanya tersenyum melihat keempatnya memperdebatkan hal sepele.
“Eh sorry ya, kita bukan pembawa kayu bakar?” sahut Wiwik secepat kilat.
“Kalo bukan pembawa kayu bakar. Terus apa’an?” tanya Hermin mulai kesal.
“Kita pembawa roti bakar.” Ujar keduanya membuat Yuris, Hermin dan Wildan saling bertatapan heran. “Taraaa.” Wiwik menunjukkan sebuah kantong plastik berisi roti bakar berbagai rasa.
“Acara apa nih?” tanya Yuris dan Hermin antusias. Wiwik hanya tersenyum begitu juga dengan Yenika.
“Acara kita bersama.” Kekeh Wiwik sembari membagikan semua roti bakar pada teman-teman dekatnya.
Di tengah pembicaraan hangat, Yuris menceritakan idolanya yaitu Jordan. Hal itu membuat nafsu makan Wildan hilang seketika. Itulah kenyataan, Yuris memang sudah lama mengagumi Jordan diam-diam. Semua temannya juga mengetahui masalah itu. Yuris hanya berani chat dengan adik idolanya, bukan pada sang idola langsung.

Senja selalu menjadi waktu yang tepat untuk sahabat saling berbagi cerita kesehariannya. Perbedaan selalu ada, tetapi semua tergantung bagaimana kita menutupinya menggunakan kelebihan lain. Saling cinta sudah biasa, tapi apabila memendam untuk kebahagiaan sahabat adalah hal luar biasa. Semua orang berhak membangun persahabatan dan kisah cintanya sendiri, tapi seseorang sama sekali tidak berhak menghancurkan kebahagiaan orang lain.

Pagi ini adalah pagi yang cerah. Banyak penduduk sudah berlalu lalang untuk mengais rezeki. Anak kecil beriringan menuju sungai untuk menikmati hari libur dengan berenang bersama di sungai. Sedangkan para ibu sibuk menggosip sambil berbelanja pada tukang sayur.
Yuris duduk sendiri menunggu kedatangan Yenika di teras rumah. Melamun sepertinya sudah menjadi hobi baru bagi Yuris saat ini, sebenarnya Yuris hanya memperhatikan lingkungan sekitar tetapi pikirannya fokus pada seseorang. Siapa lagi kalau bukan Wildan, sejak bersahabat dengan Wildan mulai saat itu juga Yuris diam-diam mengagumi senyuman manis Wildan yang membuat setiap orang kecanduan.
Yenika yang baru datang heran melihat sahabatnya. Yuris tersenyum sendiri seperti menemukan hal lucu dalam benaknya.

“Hei, kamu kesambet?”
Yuris tersentak kaget melihat Yenika sudah ada didepannya. Yenika berdecak sebal lalu menarik Yuris menuju sepeda kayuhnya.
Kali ini, keduanya terburu-buru menuju kediaman Mbak Lusi karena Yenika dan Yuris akan mengikuti lomba tari. Bukan hanya Yenika dan Yuris tetapi juga semua murid di sanggar tari Mbak Lusi.
Bruuk
“Aww, gimana sih kalo nyetir!” omel Yuris kesakitan karena terjatuh dari sepeda.
Yenika beranjak dari duduknya kemudian bergegas menghampiri sepeda kayuh miliknya. Melihat kelakuan Yenika yang mengutamakan sepeda, Yuris berdecak sebal.
“Sepeda butut aja dimanja.”
“Apa?” teriak Yenika tak terima.
“Kenyataan!”
Keduanya berdebat tanpa tahu akar masalah. Beruntung, ada salah satu peserta lomba tari yang menengahi dan mengajak keduanya memasuki rumah Mbak Lusi untuk melaksanakan gladi bersih.
Di kejauhan, Hermin hanya diam berusaha menghindar dari Yuris. Semua terjadi karena beberapa hari lalu Hermin sudah mengetahui rahasia besar dari kamera Wildan.

Setelah gladi bersih semua peserta lomba memasuki bus sewaan. Yuris berdoa di sepanjang perjalanan menuju Gedung Seni. Di sisi lain, Yuris merasa ada yang aneh pada Hermin. Ia memilih duduk bersama orang lain dan diam tanpa sepatah katapun. Yuris berjanji pada dirinya sendiri akan menanyakan masalah tersebut usai lomba.
Hari ini akan terasa berbeda bagi semua peserta lomba. Masa depan sanggar tari milik Mbak Lusi ada di tangan mereka. Yah, seperti yang semua murid tahu bahwa sanggar tari milik Mbak Lusi akan ditutup apabila perwakilan tidak bisa meraih juara pertama pada lomba yang memperebutkan piala bupati. Semua peserta ekstra juga akan diserahkan pada pelatih baru.

Pelataran Gedung Seni sudah ramai peserta tari yang datang dari berbagai daerah. Tiba-tiba suasana hati Yuris berubah. Gugup menguasai dirinya, sebelum wajah dibubuhi make up. Yuris berjalan-jalan sebentar di sekitar Gedung Seni untuk menghilangkan gugup.
“Yur?”
Yuris menoleh, mendapati Wildan berdiri disana. Jantung Yuris terasa berdetak lebih kencang saat melihat Wildan dalam keadaan rapi berbalut almamater sekolah. Yuris tahu, Wildan memang tampan dari sananya, apalagi kalau naik kuda putih pasti semua orang mengira dia adalah pangeran.
“Udah siap?”
“Make up aja belum.”
“Terus ngapain di sini?”
“Ngilangin gugup.”
Wildan tertawa lepas. Astaga, pasti kalau ada Hermin bersama Yuris kejadiannya akan berbeda. Hermin akan meleleh seperti es krim yang terkena panas. Memang benar, Wildan terlihat lebih sempurna saat tertawa atau bahkan hanya tersenyum. Wildan menepuk bahu sahabat barunya berniat memberikan semangat kemudian pergi. Yuris tersenyum, tidak ada lagi gugup yang berhasil menguasai dirinya sejak Wildan datang dan memberi semangat padanya. Dengan sumringah, Yuris bergegas kembali ke rombongan.

Beberapa menit kemudian, setelah semua penari siap. Kini waktunya pertunjukan dimulai. Semua akan menjadi sorotan penonton yang ada di dalam Gedung Seni. Malam ini akan menjadi saksi perjuangan para murid mempertahankan sanggar tari milik Mbak Lusi.

Cerpen Karangan: Iwut Dinia
Facebook: Iwut Dinia

Cerpen Akhir Cerita Sabtu Senja (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kotak Musik Pengungkap Cinta

Oleh:
Sebelumnya aku tidak mengenal dia. Tapi sepertinya takdir berkehendak lain dan menuntutku untuk harus mengenalnya. Aku tak tau pasti kenapa perasaanku selalu tidak karuan jika melihatnya. Perasaan ini berbeda,

Masalah Di Persahabatan

Oleh:
Waktu shubuh telah tiba. Jam wekerku berbunyi keras hingga membangunkanku. Saat itulah aku langsung menuju kamar mandi, setelah itu, barulah aku shalat shubuh. Setelah selesai sholat, aku pun kembali

Pacar Invisible (Part 3)

Oleh:
Saat itu hari minggu, sejak Pagi hari Hanifa mengirim pesan singkat kepadaku. “Syaaa jangan lupa ya bentar lagi kita berangkat ke taman di tengah kota ya sama Arbie.” “iya

Diam Diam Suka

Oleh:
Namaku Angela Garavani S. Aku akrab dipanggil Angel. Ceritaku ini berawal dari aku duduk di bangku SMP. Aku sekolah di SMPN 1 CIKARANG UTARA. Aku mempunyai 2 sahabat yang

Terbanglah Balon Biruku

Oleh:
Aku gadis kecil berumur 13 tahun dan harus menderita dengan penyakitku ini. Penyakit itu yang membuatku menyerah untuk melanjutkan hidup. Kanker. Kanker, merupakan salah satu penyakit yang mematikan. Setiap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *