Akhir Cerita Sabtu Senja (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 24 May 2017

Penampilan tak kalah mengesankan dari peserta lomba tari lain, namun penentuan kemenangan ada di tangan para juri yang duduk di urutan kursi paling depan.
Semua rombongan menangis saat tidak bisa mendengar nama sanggar tari Mbak Lusi disebutkan dalam deretan pemenang. Semua penari saling berpelukan untuk menyembunyikan kesedihan dari Mbak Lusi.
Tap.. tap..
Langkah sepatu terdengar nyaring di telinga membuat siapapun yang mendengar menengok ke sumber suara. Secara otomatis, Hermin menghampiri Wildan padahal ia sebenarnya ingin menjauh dari Wildan dan Yuris, tetapi semua sulit dijelaskan dan dipaparkan bagaimana perasaan serta penyesalan seorang penari yang gagal mempertahankan sanggar tarinya sendiri.
“Tenanglah. Ini bukan akhir dari segalanya” ujar Wildan pada Hermin yang masih belum bisa menerima kekalahan. Wildan merasa sedih melihat sahabatnya menangisi kekalahan.

Yuris memilih pergi dari Gedung Seni untuk mencari pelampiasan emosi, Yuris berjalan seorang diri mengelilingi gedung. Tak sengaja Yuris melihat seorang pelatih dari sanggar tari yang meraih juara 1 sedang bercengkrama bersama salah seorang juri. Kecurigaan Yuris dimulai. Cukup lama Yuris berdiri untuk mendengar percakapan di antara keduanya setelah juri pergi, Yuris bergegas mencari Wildan untuk meminta bantuan menyelidiki keganjalan dalam lomba. Karena kurang berhati-hati Yuris tidak sengaja menabrak seorang laki-laki yang terlihat lebih tua darinya.
“Apa kau tidak bisa melihat dengan baik?” tanya laki-laki itu membuat Yuris kesal.
“Aku kan sudah minta maaf. Kenapa kamu nyolot!” omel Yuris
“Itu hak”
“Andai tidak ada HAM, aku akan mengulitimu di tengah keramaian! Jadi bersyukurlah karena aku masih tahu hukum!” teriak Yuris kesal penuh emosi pada laki-laki asing yang sudah menjauh darinya.

Wildan heran melihat tingkah aneh Yuris. Dengan hati-hati, Wildan menepuk bahu Yuris bermaksud menegur.
“Apa kau juga mau mencari gara-gara denganku? Hm?!” Yuris menurunkan nada bicara saat melihat Wildan ada di belakangnya.
Hening melanda. Untuk menghilangkan kecanggungan yang tercipta, Wildan tertawa renyah membuat Yuris merasa kikuk.
“Siapa yang membuatmu mengomel dengan kecepatan seperti itu? Apa dia seorang laki-laki?” tanya Wildan di tengah tawanya.
“Tentu saja. Seperti yang kau tahu semua laki-laki di dunia sama saja. Mereka menyebalkan.”
“Apa kamu lupa kalau sahabatmu ini adalah laki-laki?” tanya Wildan membuat Yuris kembali bungkam.
Yuris menatap mata elang Wildan cukup lama, menamati dan mencoba mengingat betapa manis senyumannya.
“Apa kau suka pada orang di depanmu ini?” tanya Wildan. Yuris tersadar sembari memukul lengan Wildan.
Dikejauhan Hermin merasa Wildan memang aneh. Ketika bersamanya Wildan sangat formal, tetapi tidak saat bersama Yuris.
Yuris menceritakan apa yang baru saja ia lihat di luar gedung. Wildan tertegun mendengarnya. Sebagai salah satu bagian dari panitia, Wildan merasa ada salah satu juri yang berkhianat. Tanpa menunggu selesainya cerita Yuris, Wildan bergegas pergi menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi pada acara besar ini.

Wildan pergi, Yuris bergegas mencari Hermin untuk menanyakan soal sikap anehnya sejak sabtu lalu. Yuris kembali melangkah untuk mencari Hermin. Tak lama, Yuris berhenti berlari saat melihat bayangan seseorang di dalam ruang make up.
“Hermin!” sapa Yuris tak mendapat respon dari Hermin. Gadis itu meraih tas punggung melangkah berniat pergi. Namun beruntung, Yuris lebih dulu menahan tangan Hermin. “Kenapa kamu diemin aku?”
“Karena aku masih tidak percaya kamu melakukan semua padaku. Jadi, biarkan aku sendiri.” Ujar Hermin sembari meninggalkan Yuris sendiri di ruang make up.
“Memangnya apa yang aku lakukan padamu?” teriak Yuris.

1 bulan berlalu
Wildan sudah memberitahu semua kecurangan salah satu peserta, sehingga secara tidak langsung sanggar tari milik Mbak Lusi mendapat juara, walaupun tidak mendapat juara 1. Setidaknya usaha selama ini terbayar lunas dan tidak terbuang sia-sia.

Sabtu kembali datang, seperti biasa dengan penuh semangat Yuris mengayuh sepeda menuju sanggar tari. Hari sabtu selalu istimewa, Yuris bisa menyalurkan hobinya, menikmati sunset bersama sahabat dan yang lebih istimewa adalah hari ini bertepatan dengan hari ulang tahun Wildan. Yuris, Wiwik dan Yenika sudah mempersiapkan kado spesial. Hari ini rencananya Mbak Lusi juga memberikan kejutan pada Wildan yang sudah menyelamatkan sanggar tarinya.

Setelah memarkir sepeda, Yuris bergegas memasuki sanggar tari. Yuris langsung mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru sanggar tari. Tak ada sosok yang ia cari. Mbak Lusi menegur Yuris yang mematung. Perasaan Yuris tiba-tiba tidak karuan.
“Mbak izin ke kamar mandi.”
“Iya. Hati-hati.”

Saat Yuris berjalan menuju kamar mandi sembari berusaha menghubungi kontak bernama WILD, tak sengaja pandangan Yuris tertuju pada seorang gadis yang duduk sendiri di ayunan. Yah, gadis itu adalah Hermin yang duduk termenung seorang diri di ayunan depan sanggar tari. Hermin masih saja diam. Semenjak mengetahui segalanya Hermin memilih bungkam pada siapapun. Namun hingga latihan tari berakhir, Wildan belum datang bahkan ia tidak bisa dihubungi oleh siapapun.

Keesokan harinya,
Kehampaan diam-diam merayap masuk dalam hati Yuris dan Hermin. Rasa kehilangan akan sosok humoris dan suka menggoda menyusup dalam diri keduanya. Untuk mengurangi rasa bosan tanpa adanya Wildan. Yuris pergi ke Telkom. Di sepanjang perjalanan, Yuris tak hentinya memikirkan kebersamaannya bersama Wildan dan Hermin.

Sesampainya di Telkom, Yuris tersenyum bermaksud menyapa Hermin dan Wiwik. Namun, Hermin malah pergi dari Telkom. Wiwik berusaha menghilangkan ketegangan, dengan mengajak Yuris bergabung bersama.
“Eh, bukannya ini si Wildan! Oh, jadi dia ngilang karena liburan ke Bromo.” Ujar Wiwik menunjukkan sebuah foto di ponselnya. Entah mengapa Yuris merasa kecewa pada Wildan. Semua orang sudah menyiapkan kado spesial dan kejutan tapi Wildan tidak datang bahkan menghilang tanpa kabar bak ditelan bumi.
Sebuah pesan mengalihkan perhatian Yuris. Ia mengembalikan ponsel Wiwik dan fokus pada laptop yang loading cukup lama, membuat Yuris semakin dibuat penasaran. Beberapa menit kemudian pesan baru muncul, Yuris tercengang melihat balasan dari adik sang idola. Setidaknya pesan itu membuat dirinya bisa tersenyum.
“Ciee uhuy nih brondong banget yak.” Ledek Wiwik.
Ada pesan lain dari email yang menggunakan nama samaran tokoh kartun. Email misterius itu menanyakan tentang tempat yang biasa dikunjungi Wildan. Setelah pesan terkirim kepada akun misterius, Yuris menutup laptop kemudian bergegas menuju Jembatan seorang diri. Ada banyak tanda tanya dalam benak Wiwik yang tidak bisa diungkapkan dalam kata-kata atau bahkan sekedar pertanyaan untuk sang sahabat. Wiwik memilih mengikuti Yuris diam-diam daripada bertanya.

Sepeda kayuh terkesan sederhana menciptakan bayangan khas di jalan setapak menuju Jembatan. Sang pemilik yang tak lain adalah Yuris sangat tegang setelah mendapat pesan melalui email dari akun misterius yang mencurigakan. Karena terburu-buru di tengah jalanan licin, Yuris sampai terjatuh dari sepeda. Beruntung, Yuris tidak jatuh ke sungai yang ada di kanan kirinya. Yuris meniup luka pada lutut dan siku tangannya berniat meredakan rasa sakit. Tiba-tiba sebuah bayangan, menghalangi sinar mentari senja yang biasa menghangatkan wajah Yuris.

“Apa kau penari itu?” Yuris berusaha bangkit untuk mensejajarkan tubuhnya dengan lawan bicara yang dibalut pakaian serba hitam lengkap dengan masker dan topi.
“Ada banyak penari. Penari seperti apa yang kamu cari?” tanya Yuris.
Hening.
Angin menerbangkan anak rambut Yuris yang hitam dan indah. Laki-laki asing melangkah menuju pohon besar di dekat jembatan. Yuris mengekor merasa ada rahasia yang ingin diungkapkan laki-laki misterius itu.
“Apa ada penari lain yang sering datang ke tempat ini?” Yuris mengangguk. “Siapa dia?”
“Sahabatku.” Sahut Yuris singkat. Laki-laki itu berdiri membelakangi Yuris. Tangannya meraih ponsel dari saku jaket, terdengar samar sedang membicarakan sesuatu dengan seseorang.

Tak lama, seorang pria setengah baya datang membawa tas kamera yang sangat Yuris kenal. Jantung Yuris seakan sedang berpacu di arena balap. Pemuda itu mengeluarkan memory card dari SLR, kemudian meminta pria setengah baya itu mengcopy semua isi sebelum diserahkan pada Yuris. Pemuda itu beranjak pergi namun dicegah oleh pertanyaan Yuris.
“Di mana pemilik kamera itu?”
“Cari jawabannya sendiri.”
Pria setengah baya itu menyerahkan memory card kepada Yuris kemudian pergi mengikuti langkah laki-laki misterius.
Yuris segera mengeluarkan laptop dan menghidupkannya pada saat itu juga. Yuris sangat penasaran dengan isi memory card di tangannya.
Klik
Yuris membulatkan mata saat melihat semua foto yang ada di memory card tak lain adalah fotonya. Dan beberapa foto kebersamaan cerita persahabatannya. Yuris menutup laptop kemudian berlari mengejar laki-laki misterius yang akan memasuki sebuah mobil. Yuris menahan pintu mobil dengan tangan luwesnya.

“Kau?”
“Katakan di mana Wildan?”
“Apa yang akan kau lakukan jika aku memberitahumu di mana Wildan?”
“Aku akan bertanya kenapa dia tiba-tiba menghilang tanpa kabar saat ulang tahunnya! Aku akan menanyakan kenapa Hermin…”
“Lihatlah dirimu! Penari yang menghancurkan impian adikku. Dan sekarang kau ingin bertemu dia hanya untuk menanyakan hal bodoh?”
Yuris mengepalkan kedua tangan mendengar tuduhan laki-laki misterius yang ternyata adalah kakak Wildan. Wiwik tiba-tiba datang membawa sepeda dan tas Yuris di tengah suasana tegang. Melihat kedatangan Wiwik, pemuda itu membuka masker dan topinya. Yuris menganga melihat pemuda itu adalah seseorang yang pernah ia tabrak di Gedung Seni.
“Dia kan teman mbak.” bisik Wiwik. Yuris menatap lekat Wiwik.
“Aku akan menjelaskan semua dan menjawab pertanyaan di mana keberadaan adikku sekarang. Agar kalian tahu di mana posisi kalian.”
“Katakan!” ujar Yuris sinis.
“Setelah acara lomba kesenian, Wildan harus lengser dari jabatannya sebagai ketua ekstra fotografi di sekolah. Karena dia dinilai membela sanggar tari yang bekerja sama dengannya.”
“Tapi itu jelas ada kecurangan.” Sahut Yuris tak terima sanggar tarinya di jelek-jelekan.
“Astaga kau naif sekali. Asal kau tahu, kebenaran bisa dibeli dengan uang. Apa kau tahu apa yang terjadi selanjutnya? Wildan dikeluarkan dari club fotografi. Untuk memasuki club itu, Wildan rela bertengkar dengan orangtuanya. Tapi setelah dia berhasil memasuki club bahkan saat dia sudah menjadi pimpinan. Kau menghancurkan perjuangannya.”
Wiwik merasa tidak terima dengan kata-kata kakak Wildan yang dinilai menyudutkan Yuris. Namun, Yuris meminta Wiwik tidak ikut campur dalam urusan ini.
“Sekarang di mana dia?”
“Dia pergi meninggalkan dunia fotografi. Dia meninggalkan impiannya sejak kecil. Dia pergi untuk menempuh pendidikan yang tidak dia sukai karena kalah dalam kesepakatan yang dia buat bersama Ayah. Dia harus pergi jauh dari kota kelahirannya hanya karena seorang penari.” Ungkap kakak Wildan lalu meninggalkan Wiwik dan Yuris.
Yuris segera pulang ke rumah, tanpa peduli pada Wiwik yang berusaha menenangkannya. Yuris tidak mengetahui kalau impiannya telah menghancurkan impian orang lain.

Yuris masuk kamar dengan mata berkaca-kaca, Yuris merasa dirinya egois karena mengorbankan orang lain demi tujuannya. Yuris merebahkan tubuh di atas tempat tidur dan menerawang langit-langit kamar dengan mata berkaca-kaca. Dengan kasar, Yuris mengusap air mata dan berusaha menghilangkan pola aliran bekas air mata di pipi. Yuris menuju cermin.
“Aku tidak akan menari lagi. Mulai sekarang, aku bukan lagi penari!” Bisik Yuris pada dirinya sendiri.
Yuris mau menerima resiko apapun atas keputusannya. Termasuk omelan semua sahabatnya. Yuris tidak mau menghancurkan impian orang lain untuk yang ke dua kalinya.

Tok… tok…
Yuris segera membuka pintu. Saat itu juga seseorang berhambur dalam pelukannya. Hermin, itu benar-benar dia. Tanpa sadar, air mata menetes dari kelopak mata masing-masing.
“Maaf..”
“Aku sudah tahu kalau kamu suka pada dia, tapi aku tidak tahu kalau dia…”
“Sudahlah aku tidak mau mendengar lanjutannya.” Ungkap Hermin sambil terkekeh.
Semua berakhir dengan perpisahan, meski tujuan akhir tidak sama tapi ada satu kebahagiaan yang muncul. Di mana saja keberadaan sahabat, mereka tetap mempunyai ikatan takdir yang selalu menyatukan entah di masa sekarang atau masa datang.
“Semoga kami selalu bisa bersama dalam keadaan apapun, semoga tidak ada yang berani memisahkan kita selain takdir.” Ujar Yuriska dalam hati.

Sabtu senja tanpa Wildan. Hanya Yuris dan Hermin untuk saat ini. Mungkin, juga untuk masa yang akan datang. Karena kepingan puzzle hati mereka telah hanyut terbawa arus sungai di bawah jembatan.
“Apa keinginanmu?” tanya Yuris.
“Semoga di masa datang, kita bisa melihat sunset bersama lagi. 3 kepingan puzzle. Bukan hanya dua seperti ini.” Ujar Hermin.
“Sebaiknya kau mengambil jurusan sastra.” Kekeh Yuris membuat Hermin dongkol.
Sabtu senja memang tidak bisa dinikmati dari tempat yang sama. Tetapi, Yuris dan Hermin selalu yakin. Di manapun Wildan berada, pasti dia tak akan membiarkan sabtu senja pergi sia-sia.

Cerpen Karangan: Iwut Dinia
Facebook: Iwut Dinia

Cerpen Akhir Cerita Sabtu Senja (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Selamat Tinggal Sahabatku

Oleh:
Tersinar sebuah cahaya yang masuk di dalam kamarku terkejut kubangun. Dengan malas aku meninggalkan kamar. Seperti biasanya ada yang harus kukerjakan. Apalagi kalau bukan ke sekolah. Suhu udara sangat

Ingatan Yang Pertama (Part 2)

Oleh:
Setelah aku masuk ke dalam bis, benar saja, Ribka duduk di dekatku, hanya terpisahkan oleh gang di dalam bis. Gary mengabsen semua mahasiswa di dalam bis dan setelah selesai,

Bidadari Jilbab Biru

Oleh:
Pagi itu mentari datang seperti biasa, hanya ada sedikit perbedaan yang tidak begitu mencolok. Langit terlihat begitu biru, hanya ada sedikit awan putih di beberapa sudutnya. Tapi suasana pagi

Percaya

Oleh:
Adakah yang bisa kulakukan? Kalimat yang selalu kufikirkan sejak dahulu. Banyak hal yang sudah kulewati hingga saat ini, tetapi tidak banyak yang sudah kuperbuat. “Pemalas” mungkin itu julukan yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *