Akhir dari Ambisi Mahapatih Gajah Mada (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati, Cerpen Sejarah
Lolos moderasi pada: 2 May 2021

Suara hiruk-pikuk kendaraan yang lalu lalang di pusat Kota Bandung sangat mengusik telingaku yang tengah suntuk, kesal memikirkan seribu beban yang tengah kupikul. Aku yang sedang berjalan menyusuri trotoar setelah pulang dari kuliah mencoba untuk tetap fokus. Cuaca cerah sekali. Seolah-olah sang raja siang sedang memamerkan kuasanya padaku. Setelah berjalan sekitar lima belas menit dari kampus, akhirnya aku berhasil menemukan tempat fotokopian langgananku. Beruntung sekali, aku datang di waktu yang tepat. Siang ini tidak begitu ramai, jadi aku tidak perlu menunggu terlalu lama. Seperti menunggu kedatangannya.

Dua hari lagi aku akan menjalani prosesi wisuda, jadi wajar saja jika akhir-akhir ini mondar-mandir mengurus beberapa dokumen yang harus dipenuhi. Sampai sekarang aku merasa belum sadar kalau waktu berjalan begitu cepat. Ternyata terakhir kali aku ketemu Adian dua tahun lalu, laki-laki jangkung yang mengaku menjadi pacarku sejak lima tahun yang lalu. Maklum saja, Adian seorang prajurit berseragam loreng hijau. Dia ditugaskan ke sana ke mari. Bahkan seingatku, setelah dia masuk militer kami hanya bertemu lima kali. Tak bisa dipungkiri, selain karena dia jarang pulang juga karena kami berasal dari kota yang berjauhan. Aku yang tinggal di Bandung, anggap saja ujung baratnya Pulau Jawa, sedangkan kampung halaman Adian di Banyuwangi, ujung timurnya Pulau Jawa.

“Kak, Sasya…”.
Betapa terkejutnya aku ketika mendapati Avian, adiknya Adian. Aku masih tertegun sambil memandang Avi berlari ke arahku. Ia langsung menyambarku dengan pelukan eratnya. Ternyata ia tak lupa denganku, meski baru bertemu sekali dan itu pun dua tahun lalu.

“Kakak, gimana kabarnya?”, tanyanya sembari memelukku dengan erat.
“Kakak baik-baik saja kok. Kok kamu bisa di sini?” tanyaku.
Avi, begitu sapaan akrabnya. Ia kemudian melepaskan pelukannya. Wajahnya berbinar dan mata bulatnya berkaca-kaca. Tanpa permisi ia meraih kedua tanganku.
“Jadi, aku ke sini sama Mama dan Papa. Kata Kak Adian, lusa Kakak mau wisuda. Kak Adian ngajak kami datang ke sini”, jelas Avi kegirangan.
Sontak aku terkejut bukan main mendengar cerita Avi. Aku bingung, mulutku bergerak-gerak. Entah kata apa yang ingin aku ucapkan.

“Tadi Kak Adian, Mama, sama Papa ke rumah Kak Sasya”, tambahnya.
“Hah??”, mataku terbelalak mendengar ucapan Avi barusan.
“Kenapa, Kak?”, aku menggelengkan kepala. “Kakak belum tau kalau Kak Adian pulang?”
“Sekarang di mana Kak Adian?”, tanyaku tergesa-gesa.
“Masih di rumah Kakak, sama Mama dan Papa”, jawab Avi polos. Makhlum saja dia masih kelas 5 SD.
“Tadi kamu ke sini sama siapa?” tanyaku lagi.
“Diantar sopirnya Ayahnya Kak Sasya, ketika aku melihat Kakak keluar dari kedai itu Pak Amat langsung kembali ke rumah Kakak”, tuturnya sembari mengarahkan pandangannya ke kedai fotokopian yang baru saja aku tinggalkan.
“Ayo pulang ke rumah Kakak”, ajakku. Aku menggandeng tangan Avi, berjalan beriringan menyusuri trotoar
Pikiranmu berkecamuk, melayang ke antah brantah. Apa tujuan Adian datang ke rumah. Bahkan sampai sekarang aku pun belum bercerita apa-apa soal Adian ke Ayah sama Bunda.

Jarak dari kampus ke rumah memang tidak terlalu jauh. Dengan berjalan sekitar 15-20 menit aku sudah tiba di rumah. Dan benar, di depan rumah terparkir sebuah mobil berwarna hitam. Mungkin itu mobil keluarga Adian. Entahlah, tiba-tiba ada keraguan untuk melangkah masuk ke rumahku sendiri. Jantungku berdegup kencang. Aku diam mematung di halaman rumah.

“Kak?” goyangan tangan kecil Avi berhasil membuyarkan lamunanku.
“Ah, iya. Hayu masuk”, kataku dengan logat khas orang Sunda.

Setelah berhasil mengumpulkan niat, akhirnya aku memberanikan diri untuk masuk bersama Avi. Avi yang pemberani berlari mendahuluiku setelah mulutku mengucap salam. Ia langsung naik ke pangkuan Mamanya. Aku melebarkan senyum sembari memandang orang-orang yang tengah duduk di ruang tamu. Di meja nampak beberapa makanan ringan dan minuman hangat di cangkir. Laki-laki gagah, seperti Adian, perempuan cantik yang mewariskan wajahnya ke Adian, dan juga Ayah dan Bunda. Mereka menyambutku dengan senyum masing-masing. Beberapa saat aku masih tertegun, berdiri membeku di ambang pintu.

“Hayu masuk..”, Bunda datang menghampiriku bersama senyumnya yang khas.
Aku duduk di samping Bunda. Adian memandangku sesaat, kemudian mengedipkan matanya yang lebar. Kembali lagi, aku memberikan senyuman untuk Mama dan Papanya.

“Uuumm… Dian, boleh bicara sebentar?”, tanyaku memecah keheningan. Adian mengangguk, sementara kedua orang tua kami hanya tersenyum kecil.
Adian beranjak dari duduknya, membututi langkahku ke ruang belakang.

“Kamu apa-apaan sih, An!”, kataku dengan nada kesal.
“Selow dong girl. Kok ngegas gitu, katanya kangen sama aku?”, ledeknya.
“Kok kamu tiba-tiba datang bawa rombongan gitu? Aku belum cerita apa-apa soal kamu ke Ayah sama Bunda”, ujarku.
“Bukannya kamu sendiri yang bilang, kalau laki-laki yang pemberani bukan hanya berani di medan perang tapi juga berani menghadap kedua orangtua wanita impian”, jelas Adian yang tiba-tiba memelukku. “Miss you more, Sya”.
“Miss you too, Diannnn…”, akhirnya akupun nangis dipelukkan Adian. “Lain kali kalau ke sini kabari dulu ya”, ucapku lirih. Sementara Adian hanya mengangguk pelan.

“Lusa kamu wisuda kan ya?” tanyanya setelah melepaskan pelukan. Aku mengangguk.
“Tadi kamu apa ngomong ke Ayah sama Bunda?”
Adian diam sejenak, sesekali berdeham. “Aku melamarmu”, jawab Adian kegirangan.
Aku tertegun mendangar pengakuan Adian. Apakah aku masih bermimpi, gumamku dalam hati.
“Gimana Ayah sama Bunda?” tanyaku lagi.
“Uumm… Katanya mereka masih mau membicarakannya denganmu, soalnya kamu belum cerita apa-apa ke mereka”, ujarnya. “Aku masih terus berpikir, hampir lima tahun loh kita pacaran, kok kamu belum cerita? Kakakku dulu aja ya, baru dua bulan pacaran sudah curhat sama Mama”.
“Maaf..”, kataku sambil menunduk. “Ke depan, yuk!”, ajakku.

Beberapa saat kemudian, Adian dan keluarganya pamit pulang. Mereka menginap di salah satu hotel yang tidak jauh dari sini. Adian dan keluarganya akan kembali ke Banyuwangi setelah menghadiri wisudaku lusa, ujarnya sebelum mereka pamit.

“Makan dulu, Sya”, pinta Bunda setelah mengantarkan keluarga Adian ke luar rumah.
“Belum lapar, Bun”, jawabku. Kemudian kuhempaskan badanku ke sofa yang ada di ruang keluarga. Tanganku meraih remote, menyalakan televisi yang bertengger tepat di depanku. Ayah datang entah dari mana.
“Bunda… Sini, Bun. Ayah mau ngomong”. Deg! Seketika jantungku berdegup kencang. Membayangkan suara keras Ayah ketika marah. Hatiku menciut ketika Bunda datang dan duduk di sampingku. Jadi, saat ini posisiku sangat kaku. Aku duduk diapit oleh Ayah dan Bunda. Tatapan Ayah seolah-olah mengisyaratkan sesuatu yang buruk.

“Sejak kapan kamu kenal sama Adian?”, tiba-tiba Ayah bertanya tentang hal itu.
“Sudah lima tahun, Yah”, jawabku.
Entah mengapa, aku mendengar Bunda menghela napas sangat panjang. Raut wajahnya menunjukkan sebuah kekecewaan. Sementara Ayah, raut wajah Ayah menyiratkan masih ada seribu pertanyaan yang ingin ia lontarkan.

“Kenapa kamu ngga pernah cerita sama Ayah atau Bunda, Sya?” tanya Bunda yang memang pembawaan orangnya lemah lembut.
“Kamu tahu kan kalau Adian orang Jawa?” nada suara Ayah semakin meninggi, membuatku semakin meringkuk ketakutan.
Aku terdiam. Aku tahu Ayah pasti akan marah karena hal ini.

“Sasya!” bentak Ayah karena aku masih terdiam. Bunda beranjak mendekatinya, mengelus pundaknya yang kekar untuk menurunkan suhu kepala Ayah.
“Iya, Yah, Sasya tau. Tapi itu hanya mitos, Ayah”, jawabku setelah berhasil mengumpulkan keberanian.
“Ayah ngga setuju sama hubungan kalian! Lebih baik kamu akhiri hubungan itu, sebelum melangkah lebih jauh”. Sontak air mataku mengalir deras, membasahi seluruh wajah. Aku tidak pernah berpikir, Ayah akan mengatakan ini padaku. Hatiku rasanya sakit sekali. Ada berjuta kata yang ingin aku katakan untuk menyangkal ucapan Ayah. Tapi, apalah daya. Saat ini aku hanya bisa diam, diam, dan diam. Masih tak percaya dengan kata-kata Ayah. Masih tidak mengira kata-kata itu diucapkan Ayah untuk aku, anak semata wayangnya.

“Sya, kamu kan tau kalau keluarga kita percaya dengan ucapan leluhur kita. Orang Sunda itu pamali menikah sama orang Jawa”, kata Bunda yang berusaha menenangkan tangisku. Ia beranjak dan kembali duduk di sampingku.
“Bundaa…”, aku memeluknya dengan erat. “Itu hanya mitos, Bun, Sasya ngga percaya sama mitos itu”, kataku sambil menangis.
“Tahu apa kamu soal mitos itu?”, pertanyaan Ayah yang terlontar sangat keras telah mengusik keheningan.

Aku bangkit dari pelukan Bunda, berusaha untuk kembali menjadi Sasya yang tegar. Aku ngga boleh jatuh terlalu dalam. Tanganku kemudian menghapus air mata yang masih bercucuran, ia ikut andil untuk menguatkanku diriku sendiri.
“Sasya tau, Ayah. Itu hanya mitos, mitos karena kesalahan zaman Majapahit dulu. Kita ngga salah, Ayah, itu hanya kesalahan di masa lalu”, jelasku.
“Memang, ini kesalahan di masa lalu, jadi jangan kamu ulangi kesalahan itu di masa sekarang!” Ayah masih saja menyangkal perkataanku.
“Ayaahh…” aku berusaha menenangkan diriku. “Mitos ini berawal dari lamaran Raja Hayam Wuruk kepada Dyah Pitaloka, anak Raja Sunda. Tapi ketika rombongan itu dalam perjalanan ke Majapahit, mereka mendengar berita kalau pernikahan ini sebagai bentuk penyerahan Sunda ke Majapahit. Semua ini karena ambisi Patih Gajah Mada untuk mewujudkan Sumpah Amukti Palapanya, Ayah. Jadi kita yang hidup di masa sekarang tidak perlu lagi percaya mitos seperti ini”, jelasku panjang lebar.
Ayah masih diam. Bunda hanya tersenyum ketika aku memandangnya. Tangannya yang lembut mengelus rambutku yang tergerai sepunggung.

Tiba-tiba Ayah tertawa, seakan-akan mengejek penjelasanku itu.
“Ohhh, jadi ini materi sejarah yang kamu dapatkan ketika sekolah?”, Ayah melihatku dengan tatapan tajam. “Kenapa kamu tidak masuk jurusan sejarah aja, sekalian biar bisa menjawab pertanyaan Ayah dengan ilmu-ilmu dan kajian sejarah kamu dapat di kampus”, pungkasnya.

Tak berkata lagi, Ayah meninggalkanku dan Bunda. Raut wajahnya yang kesal dan menakutkan seakan-akan masih tertinggal di sofa bekas ia duduk. Tangisku belum terhenti. Mataku yang belum kering memandang punggung Ayah yang berjalan menuju kamarnya. Tangannya yang kekar itu menutup pintu dengan sangat keras, hingga membuat Bunda terkejut.

Cerpen Karangan: Vira Maulisa Dewi
Penulis bernama Vira Maulisa Dewi, yang sering disapa Vira. Ia seorang mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Jember. Penulis berasal dari Pacitan, Jawa Timur. Menulis adalah salah satu hobinya. Menulis adalah cara ampuh untuk mengeluarkan isi hati yang terlampau lama dibumikan dalam tubuhnya. Untuk lebih kenal dengan penulis bisa dm melalui instagram @viramaulisadewi

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 2 Mei 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Akhir dari Ambisi Mahapatih Gajah Mada (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


She Is, Who Left Behind (Part 3)

Oleh:
Chenxiao memahami kebingungan dan keresahan Yanxi. Tapi bagaimanapun semua ini akan menyakitkan, tetap saja Yanxi perlu tahu apa yang sebenarnya telah terjadi. Dan setelah berjalan melewati beberapa barisan batu

Surat Cinta 45

Oleh:
Malam itu bulan seakan begitu bahagia dengan memancarkan cahayanya, terang benderang. Bahkan aku bisa melihat wajahnya dengan jelas tanpa sorotan lentera teras rumah yang menyala redup. Malam itu kami

Singgasana Melodi

Oleh:
“Felly, lo masih inget kan dengan undangan untuk manggung hari ini?,” tanya Bram mengingatkan. Felly hanya terdiam. Tetap fokus dengan partitur musik yang ada di depannya. “Fel, jawab kenapa

Menggapaimu Bukanlah Mimpiku

Oleh:
Ku tak bisa menggapaimu Tak kan pernah bisa Walau sudah letih aku Tak mungkin lepas lagi Lagu itu menggambarkan perasakanku kepada pemain basket di sekolahku, namanya Rizky, siswa yang

Pengkhianat

Oleh:
Hmmmm, pagi yang indah mentari pagi mulai menyinari indahnya dunia ini, kulihat semua orang bersemangat awali hari yang indah ini. Setiap hari adalah hari baru bagiku dengan semangat dan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *