Akhir dari Ambisi Mahapatih Gajah Mada (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati, Cerpen Sejarah
Lolos moderasi pada: 2 May 2021

“Bundaa… Aku harus gimana?”, tanyaku lagi sambil kembali memelukknya. “Aku sangat mencintai Adian”.
Bunda membalas pelukanku sembari mengelus punggungku.
“Bunda tidak bisa berbuat apa-apa, Sayang. Sejak dulu keluarga Ayah sama Bunda memang percaya sekali dengan larangan itu”, jawabnya.
“Itu hanya mitos, Bun, bukan larangan”, seketika aku melepaskan pelukanku setelah mendengar jawaban Bunda yang cenderung berpihak ke Ayah.
“Sasya, kamu harus sadar kalau kamu itu dilahirkan sebagai Orang Sunda”, pinta Bunda.

Aku tak mengatakan apa-apa lagi. Aku hanya bisa diam seribu bahasa. Entah kalimat apa yang bisa kuutarakan pada Ayah supaya bisa meluluhkan hatinya untuk menerima Adian. Yang ada di kepalaku hanyalah Gajah Mada, mahapatih yang terkenal pada masanya itu benar-benar membuatku sangat kesal. Meskipun aku belum menemui bagaimana wujud aslinya, aku hanya berambisi untuk menghabisinya kalau saja dia berada di masa sekarang. Kalau saja Hayam Wuruk dan Dyah Pitaloka jadi menikah waktu itu, mungkin jalan yang kulewati sama Adian tidak menemui batu besar seperti ini.

Langit mulai gelap dan bintang pun berserakan di awang-awang, tak hentinya aku menangis. Mataku semakin sembab, perasaanku hancur. Berkali-kali Adian menghubungiku. Berkali-kali pula aku mengacuhkannya, rasanya masih terlalu berantakan untuk bercerita ke Adian.

Tokk… tokk… tokk…
“Sya, makan dulu, Nak”, bisik Bunda dari balik pintu.
“Bunda makan dulu saja”, kataku lirih.
“Jangan gitu, Sya. Lusa kamu wisuda loh, harus dijaga kesehatannya”, Bunda berusaha membujukku. “Hayuuu, Geulis. Ayah sudah menunggu di bawah”.

Klekkk… Aku pun beranjak dan membuka pintu. Bunda masih setia menungguku di depan pintu. Wajahnya mendadak mendung setelah melihat raut mukaku yang benar-benar berantakan.
“Ya ampun, Sasya… Sudah, Nak, jangan begini terus. Kamu harus bangkit”, Bunda mengelus rambutku sambil mendekapku dengan peluk hangatnya.
“Yang buat Sasya kaya gini juga siapa?”, cetusku setelah melepaskan pelukan Bunda. Kedua mata Bunda nampak berkaca-kaca. Aku tak peduli, aku kemudian meninggalkan Bunda yang masih diam mematung.

Satu demi satu aku mulai menuruni anak tangga yang menggiringku ke meja makan. Benar kata Bunda, Ayah sudah duduk bersiap untuk menikmati makan malam. Tapi makan malam kali ini terasa sangat berbeda dari malam-malam sebelumnya. Ayah tak ada niat sama sekali untuk sekedar memandang wajahku. Dan mulutkupun membeku hanya untuk sekedar mengucapkan selamat malam.

“Malam ini Bunda masak makanan kesukaan kamu, Sasya”, ujarnya. Aku melihat ada perkedel jagung, makanan kesukaanku, tertata manis di sebuah piring.
“Terima kasih, Bun”, ucapku lirih. Suaraku terdengar serak dan berat karena tangis yang tak terhenti sejak tragedi bersama Ayah dan Bunda siang tadi. Sontak saja Ayah memandangku setelah mendengar keanehan dari suara yang keluar dari mulutku.
“Kenapa suaramu? Kenapa juga mata kamu sembab gitu?”, tanya Ayah bersama dengan ekspresi judesnya. Aku diam. Tak menjawab satu pun pertanyaan Ayah.
Brakkkk… Sontak aku terkejut bukan main. Bunda yang sedang mengambil nasi untuk piring Ayah pun merasakan hal yang sama. Tiba-tiba saja jemari-jemari Ayah yang kekar menggebrak meja makan yang berisi penuh masakan Bunda.
“Ayah…”, Bunda mengelus dada pujaan hatinya itu setelah meletakkan wadah nasinya.
“Buat apa kamu nangis-nangis seperti itu? Sampai suara kamu serak, mata kamu sembab dan penampilanmu sangat memalukan!” seakan-akan Ayah khawatir dengan keadaanku, tapi ia salah dalam mengungkapkannya. Kali ini tangannya menyibak kedua tangan malaikat milik Bunda, ia berdiri dengan pandangan yang tajam menusukku berkali-kali.
“Ayah, sudah, Yah. Kita makan dulu”, Bunda berusaha meredam amarah Ayah.
“Ayah…”, belum selesai kuberucap air mata yang sedari terbendung keburu mengalir deras.
“Nangis lagi! Nangis terus!”, bentak Ayah lagi. “Masih banyak laki-laki lain yang lebih baik dari si Adian itu. Ayah hanya tidak ingin anak Ayah satu-satunya ia sampai salah pilih pasangan”.
“Tapi, Yah. Adian itu orang baik-baik, Sasya tahu siapa Adian, Yah”, ujarku berusaha menampik ucapan Ayah.
“Ayah tidak mengatakan kalau Adian bukan orang baik-baik. Ayah hanya tidak suka kalau anak Ayah mengabaikan pesan dari nenek moyang keluarga kita, hanya itu saja. Titik!”.
“Sasya sudah bilang, Ayah. Itu hanya mitos. Jadi kita…”.
“Jadi kita apa? Kita harus melanggarnya gitu?” Ayah memotong ucapanku tanpa permisi.
“Ayah…”, ucapanku kali ini mendadak terhenti karena tiba-tiba seseorang mengetuk pintu dari luar.
Ayah menghela napas panjang dan menghembuskannya. Kedua mata Ayah masih menatapku tajam.
“Siapa, Bun?” teriak Ayah setelah mendengar Bunda mengobrol dengan seseorang. Bahkan nada suara Ayah masih terdengar begitu kesal.
Tapi tak kunjung ada jawaban dari Bunda, yang ada justru Bunda menghampiri kami yang masih bersitegang. Bunda datang tergopoh-gopoh dan segera menghampiri Ayah.

“Adian ada di ruang tamu”, ucapnya lirih.
“Siapa, Bun? Adian di mana?”, aku berusaha memperjelas apa yang baru saja telingaku dengar.
Ayah kemudian melirikku dengan raut muka yang seakan-akan ingin menerkamku. Entah apa yang dibicarakan Bunda, keduanya seakan-akan tak ingin aku mengetahuinya.

Ayah kembali menoleh ke arahku. Kali ini gigi-gigi Ayah bertabrakan, suaranya yang gemeretak terdengar jelas olehku.
“Kamu belum cerita ke Adian kalau Ayah sama Bunda tidak setuju dengan hubungan kalian?”, tanya Ayah dengan begitu kesal. Ia terlihat berusaha menahan amarahnya.
Aku diam. Hanya kepalaku yang menggeleng pelan dan setitik air bening meluncur dari pelupuk mata, kemudian jatuh tepat dipangkuanku.
“Tunggu apa lagi, Sasya? Kamu berjam-jam di kamar itu ngapain aja? Nangis doang?” kali ini suara Ayah semakin meninggi. Karena berusaha menghargai Adian yang sedang bertamu, Bunda berusaha menekan suara Ayah.

“Ayah memang tidak pernah mendengar curhatan Sasya. Makanya Ayah tidak pernah tahu bagaimana isi hati dan perasaan yang sedang dirasakan anaknya. Ayah dengan mudahnya mengatakan ‘nangis doang’”, aku mengakhiri penjelasan itu dengan tawa kecil. “Laki-laki yang telah menjadi Ayah, mau tidak mau harus memahami perasaan wanitanya, istri dan anak perempuannya. Tidak seperti Ayah”, tambahku.
Dann… Plakkkk… Sebuah tamparan keras mendarat hangat di pipi kananku. Bunda yang terkejut menyaksikan kejadian ini sontak menjerit dan dengan sigap menarik tangan Ayah yang ingin melayangkan tamparan keduanya. Aku tak bersuara sepatah katapun. Tanganku mengusap ujung pipi bekas tamparan Ayah yang memulai memanas.

Entah kapan datangnya, Adian ternyata sudah berdiri di dekat kami. Ayah masih berusaha mengembalikan emosinya, ia berdiri mematung sembari memandang Adian.
“Mohon maaf, Om, Tante, kalau Adian lancang masuk ke sini”, ucapnya merasa bersalah.
“Sejak kapan kamu di situ?” tanya Ayah.
“Belum lama, Om. Sejenak setelah mendengar Tante teriak. Adian berpikir ada sesuatu yang terjadi”, ujarnya.
“Ya, memang benar ada sesuatu yang terjadi. Dan kamu harus tau itu!”
“Sa-sa-saya, Om?” tanyanya gelagapan.
“Ya, kamu”, jawab Ayah singkat.
“Sudah, cukup! Adian, kamu tunggu di depan! Kita bicara di luar, aku mau ganti baju dulu”, aku menarik tangannya dan mendorong Adian untuk meninggalkan Ayah yang amarahnya sedang mendidih.

“Sas… Sasya, ini ada apa? Kenapa, kenapa kamu sembab kaya gini?” tanya Adian. Dihapusnya air mataku yang masih bercucuran. “Cerita ke aku, ada apa?” Aku tak menjawab, Adian kemudian meraih kedua tanganku berusaha untuk meyakinkan diriku.
Aku melepas paksa genggaman Adian, “Tunggu di sini, aku ganti baju dulu”, kataku yang kemudian meninggalkan Adian yang masih berdiri mematung di teras.

Selama perjalanan di mobil, aku dan Adian mendadak canggung. Sesekali ia menoleh ke arahku sembari tetap fokus pada setir bundarnya. Sementara aku, aku masih menikmati tangisku yang tak kunjung henti. Bahkan aku sampai sesenggukan. Mungkin ini membuat Adian semakin bingung.

“Ehm…”, deham Adian. Ia kembali memandangku sekilas.
“Sas, gapapa cerita aja ke aku. Ada masalah apa?” tanyanya.
Aku belum menjawab. Kemudian kuusap segelintir air yang jatuh menusuri wajahku.
“Kita mau ke mana sekarang? Ngopi? Makan? Nonton? Belanja?”, tanya Adian bertubi-tubi.
“Berhenti di sini saja”, kataku.
Jelas saja Adian seketika tampak terkejut dengan jawabanku. Memang benar selama perjalanan kami belum tahu mana arah yang akan kami tuju. Kemudian tiba-tiba aku meminta ia memberhentikan kemudinya dan berhenti di trotoar yang ramai akan hiruk pikuk kendaraan.
“Di sini? Bener?”, tanya Adian tak yakin sembari melihat sekeliling. Aku hanya menggangguk pelan.

Cerpen Karangan: Vira Maulisa Dewi
Penulis bernama Vira Maulisa Dewi, yang sering disapa Vira. Ia seorang mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Jember. Penulis berasal dari Pacitan, Jawa Timur. Menulis adalah salah satu hobinya. Menulis adalah cara ampuh untuk mengeluarkan isi hati yang terlampau lama dibumikan dalam tubuhnya. Untuk lebih kenal dengan penulis bisa dm melalui instagram @viramaulisadewi

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 2 Mei 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Akhir dari Ambisi Mahapatih Gajah Mada (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Once Upon A Time

Oleh:
Aku menyeka air mata yang perlahan keluar dari mataku. Orang yang nggak tahu pasti ngira aku lagi nangis. Padahal aku lagi mati-matian nahan biar nggak ketahuan lagi ngantuk, ujung-ujungnya

Kartini Selanjutnya

Oleh:
Aku tahu, jika sikapku ini akan mendapatkan pertentangan yang sengit, ketidaksetujuan yang lebih mendominasi. Tapi aku akan tetap melakukannya, meski seluruh dunia menentangku aku hanya perlu sebuah keyakinan besar

Women, Gossip & Reality (Part 1)

Oleh:
Apa yang ada di benak kalian tentang arti sahabat. Sahabat itu adalah suatu hubungan emosional antara dua orang atau lebih yang didasari oleh persamaan sifat dan karakter yang bisa

Confused (Part 1)

Oleh:
Cowok keren yang satu ini ialah Rendy Ferdinant yang merupakan seorang mahasiswa fakultas kedokteran semester tiga di salah satu perguruan tinggi di Bogor, Jawa Barat. Ia juga seorang mahasiswa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *