Akhir dari Ambisi Mahapatih Gajah Mada (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati, Cerpen Sejarah
Lolos moderasi pada: 2 May 2021

“Diann…”, akhirnya tangisku benar-benar pecah, air mataku jatuh tak tertahankan dan kemudian menggenangi mobil Adian.
Seketika ia kembali dikejutkan olehku. Adian mendadak kaku, tangannya bergerak-gerak ingin memelukku. Mungkin ia ragu, karena selama ini kita jarang bertemu dan belum pernah sama sekali berpelukan. Setelah berdebat dengan dirinya sendiri, akhirnya Adian memutuskan untuk mengelus rambutku yang tergerai. Aku membungkuk, berusaha membungkam wajahku yang basah.

“Apa yang sebenarnya terjadi, Sas? Cerita ke aku, jangan dipendam sendiri seperti ini”, Adian terlihat begitu mengkhawatirkanku.
“Diann… Aku rasa hubungan kita tidak bisa dilanjutkan”, ucapku sebelum kembali menderukan tangis. Kemudian kuangkat kepalaku dan kembali membenarkan posisi dudukku.
Adian yang awalnya mengelus-elus kepalaku, berusaha menenangkan diriku. Tiba-tiba ia mendadak dia mematung, mulutnya tak bersuara. Mata tajamnya mendadak berkaca-kaca. Ini adalah kali pertamanya aku melihat seorang laki-laki menangis karena ucapan wanitanya. Karena ucapanku.

Tak berselang lama, setitik bening dari mata kanan Adian jatuh ke pangkuannya. Kemudian diikuti tangis mata kirinya. Namun ia masih mematung, mulutnya bergerak-gerak tapi sampai sekarang belum bersuara. Jemariku yang juga basah karena tangisku sendiri bergerak mengusap tetesan air mata Dian. Laki-laki yang selama ini kudambakan menjadi belahan jiwaku.

Kutarik nafas panjang-panjang dan menghembuskannya. Hembusan itu terdengar begitu keras, Adian memandangku sejenak. Dann…
Adian menyambarku dengan pelukan. Kali pertama Adian memelukku. Tapi, tapi aku tak membalasnya. Tanganku tak kuasa untuk membalas pelukan Adian. Karena aku yakin, kata-kata yang keluar dari mulutku ini nanti akan sangat menyakitinya.

Adian masih menangis sembari memelukku. Tetesan air matanya terasa basah di punggungku.
“Maafkan aku, Adian”, ujarku sambil melepaskan pelukannya.
“Kenapa, Sas? Apa yang terjadi?”, tanyanya. “Bukankah siang tadi suasana hatimu sangat cerah? Apa gerangan yang membuatmu mendadak mendung seperi ini? Apa angin yang berhembus setelah kepergianku tadi membawa kabut yang tebal”, tambahnya lagi.
Aku mengangguk.
Raut wajah Adian mendadak pudar.

“Hubungan kita tidak mendapat restu dari kedua orangtuaku. Mana mungkin kita akan melanjutkan sebuah hubungan, jika orangtua sebagai perantara restu-Nya saja tidak merestui hubungan ini”, jawabku sedih.
“Aku tahu kok, Sas, hal seperti inilah yang mungkin akan terima suatu hari nanti. Dan ternyata, telah kuterima malam ini”, Adian tertawa ditengah-tengah tangisnya.
“Aku… aku…”, mendadak mulutku membeku dan sulit untuk mengeluarkan sepatah dua patah kata. “Ini adalah hal yang sangat sulit untuk kuterima, Dian. Aku, aku mungkin tidak bisaaaa…”, aku pun kembali menangis.
Kemudian Adian mengusap air matanya yang masih tersisa. Ia juga mengatur pernapasannya, membenarkan posisinya duduk.
“Sas.. Sebelum memutuskan untuk berangkat ke sini, kedua orangtuaku sudah berpesan. Ya, aku tahu kok alasan orangtua kamu tidak merestui hubungan ini. Dan juga, orangtuaku selalu mendoktrinku untuk selalu kuat dan tegar dengan segala jawabannya yang mungkin tidak enak didengar”.
“Dan jawaban yang tidak enak didengar itu, baru saja aku ucapkan”, ujarku penuh penyesalan.

“Aku benci sama orang-orang zaman dulu, aku benci Gajah Mada, aku benci orang-orang Majapahit”, umpatku.
“Sasya…”, Dian memegang kedua pundakku. “Kita tidak bisa begitu saja menyalahkan masa lalu yang kebenarannya kita sendiri belum tahu. Bukankah hal-hal seperti ini termasuk cerita mitos?”.
Kemudian aku memandang wajah Adian. Kedua mata kami saling bertemu dalam tatapan yang sama.

“Kita tidak bisa menjalani hidup di masa sekarang ini tanpa adanya masa lalu, Sas. Entah itu masa lalu yang buruk ataupun yang baik”, tambahnya.
“Tapi, Dian. Gara-gara ulah orang di masa lalu, hubungannya kita harus seperti ini”, kataku ngeyel.
“Ada banyak cara Tuhan menjodohkan makhluk-Nya, dan ada banyak cara pula untuk memisahkannya. Bukankah kamu sering mendengar kalimat ini?”
Aku kembali mengangguk.
“Tapi…”, Dian membungkam mulutku dengan hati-hati.
“Percayalah bahwa Tuhan telah menyiapkan jodoh yang sangat baik untukmu, dan tentu orang itu bukan aku”, ujarnya. Entahlah, semakin ke sini Adian semakin terlihat tegar.
“Tapi, Dian, itu hanya mitos. Kita tidak…”, lagi-lagi ia menghentikan ucapanku. Kali ini ia menghentikannya dengan sebuah gelengan kepala, isyarat bahwa ia menolakku bicara.
“Kita tidak boleh percaya begitu saja dengan mitos, itu kan yang ingin kamu katakan?”
Lagi-lagi kepalaku mengangguk.

“Memang benar, Sasya. Mitos itu tidak harus dipercaya, namun beberapa orang itu percaya dengan mitos. Dan kita tidak boleh melarang begitu saja supaya orang lain tidak lagi percaya mitos. Sama seperti?” Adian melempariku sebuah pertanyaan.
“Seperti aku melarang Ayah dan Bundaku untuk tidak percaya dengan mitos ini”, kataku.
“Nahh… tuh kamu tahu”, ujarnya. “Kita kan sudah sama-sama dewasa, ayoklah kita ubah jalan pikiran kita dan cara pandang kita. Semakin terbuka dengan apa yang ada di sekitar kita. Jangan terlalu mementingkan ego. Restu orangtua itu hal terpenting dalam sebuah hubungan. Jadi, kita juga harus terima kenyataan kalau kita diciptakan hanya sebatas menjadi seorang teman, bukan teman hidup seperti apa yang pernah kita harapkan”. Dian mengusap air mataku yang kembali jatuh.

“Sekarang kita pulang, lusa kamu wisuda kan? Kamu istirahat, jangan mikir yang aneh, jaga kesehatan”, ucapnya sembari membenarkan sabuk pengamanku.
Aku tak menjawab, hanya kepalaku yang mengangguk.
“Dah siap”, kata Dian setelah selesai membenarkan sabuk pengaman yang melilit ditubuhku. “Sudah, jangan nangis lagi. Ini bukan akhir dari hubungan kita. Senyum donggg…”, pintanya. Ia menatapku dengan saksama, menantikan senyum yang terukir di wajahku.
“Nah, gitu dong”, ucapnya sembari mencubit hidungku setelah melihat senyum tipis yang baru saja kulukis. “Sekarang kita pulang. Nanti aku mau ngomong sama Ayah dan Bunda kamu. Kamu jangan khawatir”, tambah Dian sambil mengacak-acak kepalaku. Aku pun kembali melebarkan senyum padanya.

Adian memarkirkan mobilnya di halaman. Aku keluar tanpa menunggu ia membukakan pintu untukku. Terlihat Bunda yang mengkhawatirkanku, ia duduk menungguku di teras sendirian. Melihat kedatanganku dengan Adian, ia segera bangkit dan menyambarku dengan pelukan.

“Sasya baik-baik saja kok, Tante”, cetus Adian.
“Ayah sudah tidur?”, tanyaku.
Bunda menggeleng, “Belum, Ayah masih menyelesaikan pekerjaannya di dalam”, jawabnya.
“Dian katanya mau ngomong sama Ayah dan Bunda”, kataku. Bunda kemudian memandang Dian. Sembari melebarkan senyumnya, Adian menganggukkan kepalanya.
“Hayuu masuk dulu”, Bunda mengajak kami masuk. “Tunggu dulu ya, Bunda panggil Ayah dulu”, katanya setelah mengantar Adian ke ruang tamu.

Tak berselang lama, Bunda kembali bersama Ayah. Sebelum duduk, Ayah berdeham sambil memusatkan pandangannya ke Adian. Adian pun membalasnya dengan senyum khasnya yang lembut, geraknya yang sopan, dan pembawaan yang tegar.
“Ada apa, Nak Dian?” tanya Ayah dingin.
“Mohon maaf, Om, mengganggu waktu istirahatnya”, Adian mengawali ucapannya.
“Ah, tidak”, kata Ayahku.
“Jadi maksud Adian, Adian ingin meminta izin kepada Om dan Tante. Adian ingin menghadiri wisuda Sasya”, aku yang sebelumnya belum tahu sontak mendadak kaget. Tangankku mencubit pahanya pelan, tapi ia justru membalasnya dengan senyuman.
“Nak Dian. Sebelumnya Om mohon maaf yang sebesar-besarnya, bukan maksud Om dan Tante tidak menyukai Nak Adian, tapi…”, Ayah tak melanjutkan ucapannya.
“Tadi Sasya sudah cerita banyak ke Adian kok, Om, Tante”, ujarnya dengan senyum yang terus mengembang. “Om dan keluarga tidak perlu minta maaf ke Adian, atau keluarga Adian. Sebelum berangkat ke sini, Adian sudah diberitahu konsekuensi yang mungkin saja akan Dian terima, Om, Tante”, tambahnya.
Ayah kembali berdeham.
“Izinkan Adian untuk menghadiri wisuda Sasya, Om, Tante. Sebelum Adian kembali ke Banyuwangi, Adian ingin menyaksikan sebuah momen sakral Sasya. Dan tentunya, Adian akan datang sebagai seorang sahabat, yang senantiasa mendukung keberhasilan sahabatnya”, jelasnya kepada Ayah dan Bunda.
Tiba-tiba wajah Ayah berbinar, senyumnya mengembang. Ia memandangku, kemudian memandang Adian.
“Sebuah kebahagiaan untuk Sasya jika Nak Dian datang di wisudanya besok. Tentu Om mengizinkannya, bukannya begitu, Bun?”, ujarnya yang kemudian melempar pertanyaan ke Bunda. Dan Bunda pun mengangguk kepalanya. Akhirnya senyum dan tawa kecil kami kembali bersemi, menghiasi malam yang mulai sunyi.

Ternyata Tuhan menciptakan aku dan Dian hanya untuk bertemu, bukan bersatu. Hanya berteman, bukan menjadi teman hidup. Hanya bersandar, bukan menjadi sandaran hidup. Terima kasih Adian. Semoga kita bisa bertemu kembali, meski sudah dalam keadaan yang berbeda.

Cerpen Karangan: Vira Maulisa Dewi
Penulis bernama Vira Maulisa Dewi, yang sering disapa Vira. Ia seorang mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Jember. Penulis berasal dari Pacitan, Jawa Timur. Menulis adalah salah satu hobinya. Menulis adalah cara ampuh untuk mengeluarkan isi hati yang terlampau lama dibumikan dalam tubuhnya. Untuk lebih kenal dengan penulis bisa dm melalui instagram @viramaulisadewi

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 2 Mei 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Akhir dari Ambisi Mahapatih Gajah Mada (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mas Tegas, Hanya Untuk ku

Oleh:
Pagi itu, Aku berangkat dengan sepeda matic ku, dari rumah menuju sekolah pertamaku tingkat SMA, masih dengan seragam putih-biru ku dan cara dandan yang masih kanak-kanak, maklum lah.. baru

Bunga Mawar

Oleh:
Kali ini aku akan bercerita tentang manis pahitnya jalan menuju pernikahan, dua tahun sudah aku menjalani kisah percintaan dengannya, suka duka, canda tawa dan air mata menyelimuti perasaan yang

Penantian Untukmu Tha

Oleh:
Semilir angin senja menerpa rambut indah Septariani membuat aku semakin mengagumi kecantikannya. Masih teringat aku 3 bulan yang lalu ketika dia pulang dari kota, sebuah kejutan yang kuterima sungguh

Dasar!

Oleh:
Aku menepis asa yang telah lama kupendam selama ini. Aku selalu berharap Tuhan dapat menjodohkan aku dengannya namun ini terlihat seperti semacam pukulan kecil yang menyadarkan aku dari mimpi

Keajaiban Yang Membingungkan

Oleh:
Apa kau mencintaiku? Setelah semua kenangan manis itu, esok lusa, hari yang ditunggu tiba. Tapi? Apa aku mencintainya? atau apa dia benar mencintaiku? Aku sudah berusaha menghalau pikiran itu.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *