Akhir yang Bahagia (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 29 December 2018

Suara azan Subuh membangunkanku dari tidurku. Kulihat jam dinding menunjukkan pukul 4.30 pagi. Kulihat seseorang yang tidur di sebelahku masih berada dalam dunia mimpi. Aku sangat suka memandang wajahnya ketika sedang tidur karena dia terlihat lebih tampan dan manis. Wajahnya yang sangat tampan membuat semua kaum hawa akan terpukau melihatnya. Namun aku tak menyangka dia memilihku sebagai pendamping hidupnya. Aku merasa sangat beruntung.

Sebenarnya aku tak tega membangunkannya namun di pagi itu kami harus menjalankan kewajiban kami sebagai seorang muslim. Kugoncang-goncangkan tubuhnya sambil memanggil namanya. Perlahan dia membuka matanya dan duduk sambil mengucek-ngucek matanya. Setelah penglihatannya jelas dia menoleh ke arahku dan memberikan senyuman kepadaku. Aku membalas senyuman manisnya lalu kami beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi untuk berwudhu dan menunaikan ibadah sholat subuh berjamaah.

Selesai sholat aku langsung menuju dapur hendak menyiapkan sarapan sementara suamiku duduk di meja belajarnya dan menyelesaikan tugas kuliah yang belum selesai. Suamiku masih berstatus mahasiswa di salah satu universitas negeri di kota ini. Kami menikah di usia yang sangat muda yaitu 20 tahun. Ada alasan kenapa kami memilih untuk segera menikah yaitu karena ibu dari suamiku yaitu Raka tidak merestui hubungan kami. Aku memaklumi hal itu karena aku hanya wanita miskin yang yatim piatu. Aku hanya pembantu di rumah beliau. Pendidikanku hanya sampai SD saja. Tampangku juga pas-pasan. Sedangkan Raka adalah pewaris tunggal dari seorang pengusaha yang kaya raya. Parasnya saja sangat sempurna bahkan lebih dari kata sempurna. Raka sangat tampan. Matanya tidak terlalu besar ataupun kecil, bola matanya yang hitam, hidungnya yang mancung, bibirnya yang tipis, kulitnya putih dan tubuhnya atletis. Raka adalah kapten tim basket sewaktu dia SMA, jadi tidak heran dia memiliki tubuh yang atletis.

Raka sangat teguh dengan pilihannya sehingga ibunya terpaksa bertindak. Beliau hendak menikahkan Raka dengan wanita pilihannya. Raka yang tidak mencintai wanita pilihan ibunya memilih kabur dari rumah dan mengajakku untuk segera menikah. Awalnya aku bimbang untuk menerima ajakan dari Raka namun ayah Raka mendukung keinginan anaknya itu. Berbeda dengan ibu Raka, ayahnya merestui hubungan kami. Akhirnya aku menerima lamaran Raka dan berlangsunglah pernikahan kami tanpa restu dari ibu Raka.

Aku tidak pernah menyangka Raka nekat melakukannya. Namun aku mengetahui bahwa Raka sangat mencintaiku dan menerimaku apa adanya. Aku jadi ingat pertemuan pertamaku dengannya. Ketika itu aku berangkat dari kampung halamanku di Garut menuju ibukota. Aku berharap aku mendapatkan pekerjaan di ibukota karena aku tak mau menyusahkan bibiku yang selama ini mengasuhku. Bermodalkan uang seadanya aku berangkat ke ibukota untuk mengadu nasib.

Baru saja sampai di Jakarta, aku sudah merasakan kekejaman ibukota. Seorang pencopet menarik paksa tasku. Aku berteriak berharap ada orang yang mau menolongku. Ternyata teriakanku didengar oleh 5 lelaki pelajar SMA yang kebetulan lewat. Mereka langsung mengejar pencopet itu. Aku terduduk lemas sambil berdoa berharap mereka mendapatkan tasku kembali karena seluruh uangku ada di dalam tas itu. Ternyata Allah mendengarkan doaku dan tak lama kemudian pelajar SMA itu datang menghampiriku dan mengembalikan tasku. Mereka mengatakan bahwa pencopet itu sudah diamankan oleh satpam yang berjaga dan akan membawanya ke kantor polisi.

Aku berterima kasih kepada mereka dan tiba-tiba salah seorang pelajar itu bertanya kepadaku.
“Mbak mau ke mana?” tanyanya dengan senyuman yang menampakkan deretan giginya yang putih dan rapi.
“Saya nggak tahu mas,” jawabku dengan pelan.
Kulihat dia mengernyitkan dahinya pertanda dia bingung dengan jawabanku.
“Loh kok nggak tahu sih Mbak. Mbak tersesat?” tanyanya lagi.
“Bukan mas. Sebenarnya saya merantau kemari mau mencari pekerjaan tapi saya nggak punya saudara di kota ini. Saya berniat untuk menginap di masjid dulu sampai saya mendapatkan pekerjaan,” ujarku menjelaskan.
“Nekat bener mbak datang ke Jakarta sendirian. Nggak gampang nyari pekerjaan di ibukota ini. Ibukota ini kejam mbak. Mbak udah ngerasain kejamnya kan?” ujar salah seorang pelajar SMA yang lain.
Aku hanya bisa menundukkan wajahku mendengar ucapannya. Dia memang benar. Belum satu jam aku berada di sini, aku sudah merasakan kejamnya ibukota.

“Mbak punya keahlian apa? Apa mbak bisa melakukan pekerjaan rumah tangga?” tanya seorang pria yang pertama.
“Bisa mas. Saya bisa masak dan bersih-bersih.”
“Gini aja deh, kebetulan pembantu saya sudah berhenti bekerja beberapa hari yang lalu. Bagaimana kalau mbak bekerja di rumah saya,” ajak pria itu dengan senyuman yang indah.
Aku sangat senang mendengarnya dan menganggukkan kepalaku tanda setuju. Aku berani menerima tawarannya karena aku yakin dia adalah pria baik-baik.

Kami pun beranjak pergi meninggalkan tempat itu. Diperjalanan aku hanya diam sambil melihat mereka bercerita dan bersenda gurau sampai akhirnya pria yang mengajakku berpisah dengan teman-temanya karena rumahnya berbeda arah. Aku mengikuti pria itu dan tak lupa aku memberikan salam perpisahan kepada teman-temannya.

Ketika kami berdua barulah dia memperkenalkan dirinya. Raka, itulah namanya. Kami baru saja kenal namun dari cara kami berbicara sudah seperti sahabat lama saja. Entah kenapa aku merasa sangat nyaman bersamanya. Sampai akhirnya kami tiba di sebuah rumah yang sangat besar dan mewah dan di dijaga oleh 2 orang satpam. Dia mengajakku masuk ke dalam rumahnya. Aku terpana melihat keadaan di luar rumahnya dan aku semakin takjub melihat isi dalam rumahnya. Rumahnya seperti istana.

Di sebuah ruangan kulihat ada seorang pria dan wanita yang sedang duduk bersantai. Aku merasa kalau itu adalah orang tua Raka. Dan tebakanku benar, mereka adalah papa dan mama Raka. Awalnya mereka heran melihatku datang bersama Raka namun setelah Raka menjelaskan apa yang terjadi akhirnya mereka manggut-manggut tanda paham.
“Nana nggak keberatan kalau saya tes dulu?” tanya bu Mia yang merupakan mama Raka.
“Saya nggak keberatan bu.”

Aku menjalani tes dari bu Mia. Mulai dari memasak, bersih-bersih hingga merawat tanaman. Bu Mia puas dengan hasil pekerjaanku dan menerimaku sebagai pembantu rumahnya. Sejak hari itu aku mulai bekerja di rumah itu dan tinggal di sana.

Meskipun aku pembantu di rumah itu, Raka melarangku memanggilnya dengan sebutan “Tuan”. Dia bilang karna umur kami yang sama dan dia juga menganggapku sebagai teman. Aku baru mengetahui sebenarnya Raka merasa sangat kesepian bila berada di rumah karena orangtuanya jarang berada di rumah. Mereka sibuk mengurusi bisnis mereka masing-masing. Hubunganku dengan Raka semakin lama semakin dekat. Terkadang Raka curhat kepadaku. Entah itu tentang orangtuanya, teman-temannya dan lain-lain. Aku juga yang menyemangati dan menemaninya belajar agar bisa lolos seleksi masuk Universitas Indonesia.

Aku merasa Raka sudah menganggapku sebagai sahabatnya karena hanya akulah yang paling mengerti dirinya. Namun aku salah. Ternyata Raka memendam rasa denganku. Aku baru mengetahuinya ketika dia menyatakan perasaannya ketika dia diterima di Universitas Indonesia. Aku sungguh tidak percaya dengan apa yang dikatakannya. Dia lelaki yang sangat sempurna mau berpacaran dengan wanita sepertiku.

“Kok kamu diam aja?” tanya Raka sambil memenggam erat kedua tanganku.
“Kamu nggak salah Raka? Kamu kan tahu aku ini siapa. Aku cuma pembantu di rumah ini dan kamu suka sama aku?”
“Apa itu salah?”
“Raka kamu itu anak orang kaya sementara aku cuma wanita miskin.”
“Trus?”
“Aku yakin pasti orangtua kamu nggak ngerestuin hubungan kita. Kamu pernah bilangkan kalo mama kamu ingin kamu nyari wanita yang sederajat sama kamu.”
“Iya aku tahu tapi aku sayang sama kamu. Kita backstreet aja ya?”
“Tapi aku takut kalo nanti ketahuan.”
“Kita bakal urus itu nanti. Gimana? Kamu mau kan jadi pacar aku?”
Aku hanya menganggukkan kepala tanda setuju. Kulihat wajah Raka berseri-seri setelah mengetahui jawaban atas pertanyaannya. Hari itu kami resmi berpacaran. idak ada yang menyadari hubungan kami karna sebelum berpacaran kami sudah berteman dekat. Jadi tak ada yang mencurigai kami ketika kami sedang berdua-duaan termasuk orangtua Raka.

Satu tahun resmi kami berpacaran. Tetap tidak ada yang menyadari hubungan kami. Namun seperti kata pepatah “sepandai-pandainya orang menyimpan bangkai pasti akan tercium juga”. Hari itu mama Raka memergoki kami sedang berpacaran. Raka mengatakan I Love You kepadaku dan itu didengar oleh mama Raka.
“Raka!”
Suara mama Raka membuat kaget kami berdua. Kulihat wajah bu Mia merah padam dan matanya melotot ke arahku. Aku menundukkan kepalaku karena tak berani melihat wajahnya. Ditariknya lengan Raka dan dia membawa Raka ke kamarnya. Aku mendengar adu mulut antara Raka dan mamanya. Lama mereka beradu mulut sampai akhirnya mamanya keluar dan mengunci pintu kamar Raka. Kudengar Raka menggedor-gedor pintunya dari dalam dan berteriak meminta mamanya untuk membuka pintunya. Namun tentu saja mamanya tidak menggubrisnya.

Bu Mia berjalan ke arahku yang masih berdiri mematung sambil menangis. Aku masih tidak berani melihat wajahnya. Didorongnya tubuhku hingga aku terjatuh dan memakiku. Belum puas sampai disitu, dia menyuruhku untuk membereskan barang-barangku dan pergi dari rumah ini.

Aku berjalan terhuyung menuju pintu keluar sementara pembantu yang lain dan satpam hanya menatapku sedih. Kulihat bu Mia datang menghampiriku dan mencampakkan beberapa lembar uang pecahan seratus ribu ke wajahku sambil mengatakan untuk tidak kembali ke rumah ini dan mendekati Raka lagi. Kupungut uang itu dan pergi.

Bersambung

Cerpen Karangan: Siti Aisyah
Blog / Facebook: Siti Aisyah

Cerpen Akhir yang Bahagia (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bancinta

Oleh:
Aku segera membuka kunci kamar kosku dan segera berbaring di tempat tidurku, hari ini adalah hari yang melelahkan setelah seharian aku dan teman teman baruku mengikuti kegiatan ospek, setelah

Perjalanan Cinta Yang Sesungguhnya

Oleh:
Tring! Bel pertanda istirahat telah berbunyi. Semua murid berhamburan ke luar dari kelasnya masing-masing. Ada yang menuju kantin, untuk mengisi perut mereka yang telah mengeluh semenjak tadi pagi, kebanyakan

Kata Kata Bintang

Oleh:
Apakah kau pernah merasakan? Saat kau ingin berteriak tapi kau tau tak seorang pun di dunia ini kan mendengar… Saat kau ingin bercerita tapi kau tau rasanya seperti tertahan

Kisah Kamis

Oleh:
Siang itu begitu panas, sementara Kris sedang melajukan motornya ke kantor pajak. Hari itu dia dituntut untuk menyelesaikan laporan bulanan pajak. Namun sialnya hari itu laporannya ditolak oleh kantor

Cinta Yang Salah

Oleh:
Namaku Indah, usiaku 17 tahun.. umur yang kata orang dimana seorang remaja mengenal cinta. AKu duduk di bangku SMA tepatnya lagi kelas dua, tapi anehnya aku mencintai cowok yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *