Akhir yang Bahagia (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 29 December 2018

Enam bulan sudah aku meninggalkan rumah itu. Aku tak tahu keadaan Raka sekarang. Aku hanya bisa menangis bila mengingat tentang dirinya. Sekarang aku tinggal di sebuah masjid yang jauh dari rumah Raka. Beruntung pengurus masjid ini yaitu Pak Mamat sangat baik padaku dan memperbolehkanku tinggal dan memberikanku kamar untuk aku tidur. Aku merasa bersyukur aku mendapatkan tempat tinggal meskipun hanya kamar yang sempit. Aku biasanya membantu Pak Mamat membersihkan masjid. Meskipun aku diupah sekedarnya tetapi aku tetap bersyukur.

Tepat hari Jumat suasana masjid dipenuhi kaum adam karna mereka akan melaksanakan sholat Jumat. Biasanya aku berada di kamar sambil mendengarkan ceramah. Selesai sholat Jumat aku keluar dari kamarku menuju masjid untuk menunaikan ibadah sholat zuhur. Selesai sholat aku hendak kembali ke kamarku dan aku melihat seorang pria yang sedang mengamati pria yang di depannya. Kuamati gerak gerik pria di belakang itu sepertinya dia punya niat jahat karena kulihat dompet pria yang di depannya hampir keluar dari saku celananya. Ketika tangannya hendak mengambil dompet itu aku berteriak copet sehingga membuat pria itu kaget dan langsung lari tunggang langgang. Pria yang berada di depan langsung membalikkan tubuhnya mencari sumber suara teriakan tadi. Dia tidak melihatku karena aku masih berada di dalam masjid sementara dia berada di parkiran.

Aku hendak menghampiri pria itu karena sepertinya dia kebingungan dengan suara yang tadi. Aku mendatangi pria itu dan belum sempat aku berkata pria itu langsung membalikkan tubuhnya. Betapa kagetnya aku ketika melihat wajahnya begitu pula dengannya. Air mataku tiba-tiba jatuh membasahi pipiku. Pria itu adalah Raka kekasihku. Raka langsung memelukku dengan erat. Tiba-tiba papa Raka datang dan sontak aku melepaskan pelukan Raka. Raka terlihat bingung dengan tingkahku. Papa Raka mendatangiku dan tersenyum kepadaku. Beliau mengatakan bahwa dia merestui hubungan kami. Aku sangat senang mendengarnya.

Aku dan Raka berjalan-jalan sambil melepas rindu. Dia bilang kalau selama 6 bulan ini merasa sedih dan belum bisa move on. Akhirnya mamanya memutuskan untuk menikahkannya dengan anak teman mamanya. Dia menolak namun mamanya tidak menggubrisnya. Setelah puas bercerita tiba-tiba dia berlutut dan melamarku. Menurutnya ini satu-satunya cara agar dia tidak menikah dengan wanita pilihan mamnyaa. Setelah menimang-nimang dan mendapat saran dari papa Raka aku pun menyetujuinya. Pernikahan kami berlangsung di kantor KUA yang hanya dihadiri papa Raka dan 2 orang temannya yang menjadi saksi tentunya tanpa restu dari mama Raka.

Tak terasa sudah 3 bulan kami resmi menjadi suami istri. Raka yang masih kuliah juga bekerja paruh waktu di perusahaan papanya. Sebenarnya Raka tidak perlu bekerja karena papanya bisa memberikan uang untuk keperluan rumah tangga kami. Namun Raka tidak mau, dia ingin mandiri. Bahkan dia lebih memilih mengontrak rumah untuk Raka dan aku daripada harus tinggal bersama orang tuanya.

Raka keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah rapi. Dia mencium aroma makanan kesukaannya dan langsung duduk di meja makan. Kuberikan padanya sepiring nasi goreng plus telur mata sapi setengah matang. Matanya berbinar-binar melihat makanan yang ada didapannya. Dia memakan makanan itu dengan lahap.

Selesai sarapan dia langsung pamit karena dia harus menemui dosen. Kuantar dia sampai di depan pintu. Tak lupa aku mencium tangannya dan dia mencium keningku. Dia masuk ke mobil dan membuka kaca mobilnya. Kulihat dia tersenyum kepadaku dan kubalas senyumannya. Dia menancapkan gas dan pergi menjauh. Kulihat mobilnya semakin lama semakin hilang dari pandanganku. Entah mengapa tiba-tiba perasaanku menjadi tidak enak. Pikiran negatif muncul di kepalaku. Aku membuang pikiran negatif itu jauh-jauh dan berdoa semoga semuanya akan baik-baik saja.

Aku hendak mencuci piring bekas sarapan tadi. Ketika aku mengambil piring tanganku terasa licin dan membuat piring itu terlepas dari tanganku lalu pecah. Perasaanku semakin tak enak namun segera aku buang jauh-jauh perasaan itu. Kubersihkan serpihan piring itu dan kembali kuambil gelas kotor untuk kubawa ke bak cuci piring. Lagi-lagi gelas itu terlepas dari tanganku dan pecah. Kali ini aku benar-benar merasakan sesuatu yang buruk akan terjadi. Dan yang membuatku lebih kaget adalah piring dan gelas yang pecah adalah piring yang dipakai oleh Raka. Tanpa membersihkan serpihan itu aku langsung mengambil ponselku dan menghubungi Raka. Namun ponselnya tak aktif. Perasaanku menjadi tak menentu sekarang. Aku berdoa agar Allah melindungi suamiku.

Aku duduk di sofa berharap pikiranku bisa tenang. Kupijat-pijat keningku agar aku dapat berpikir jernih. Tiba-tiba ponselku berdering dan aku bergegas mengambilnya. Aku berharap kalau itu Raka yang menelepon namun ternyata tidak. Kulihat sebuah nomor yang tidak kukenali. Tanpa berpikir panjang aku menangkatnya dan ternyata itu adalah teman kampus Raka.

“Halo,” sapaku.
“Ini Nana ya?” tanya suara dari seberang.
“Iya, ini siapa?”
“Ini Rio, teman kampus Raka.”
“Ada apa ya?”
“Anu… ehh.. Raka Na..,” ujarnya gugup.
“Iya, ada apa dengan Raka?” tanyaku penasaran.
“Ngg.. Raka Na… Raka kecelakaan.”
Byaarrrrr…!!!
Bagai tersambar petir rasanya mendengar ucapan Rio. Aku terduduk karena rasanya kakiku sudah tak mampu menahan tubuhku. Seketika itu air mata langsung jatuh membasahi pipiku.

“Sekarang Raka di mana? Gimana keadaannya?” tanyaku sambil terisak.
“Dia ada di rumah sakit Puspita. Sekarang masih di UGD.”

Tanpa berpikir panjang aku langsung pergi menuju rumah sakit tanpa memperdulikan keadaanku yang tampak lusuh. Kebetulan tetanggaku hendak pergi ke pasar menggunakan motor. Aku memintanya untuk memboncengku menuju rumah sakit karena kebetulan jalannya searah. Dia menganggukan kepalanya menandakan setuju dan juga menyaranku agar tetap tenang dan juga berdoa untuk kebaikan Raka.

Di perjalanan menuju rumah sakit aku menelpon ayah mertuaku untuk memberitahu keadaan Raka. Dia terdengar shock dan panik mendengarnya dan akan pergi menuju rumah sakit Puspita segera. Sesampainya di rumah sakit aku langsung bertanya kepada resepsionis dimana ruang UGD. Setelah aku mengetahuinya aku berlari menuju ke sana. Di sana aku melihat seorang pria yang tak lain adalah Rio. Aku menghampirinya dan menanyakan keadaan Raka. Rio menyuruhku untuk tenang dan duduk. Aku duduk dan Rio menceritakan kronologis kejadiannya. Dia mengatakan bahwa dia melihat Raka di jalan dan tiba-tiba ada anak kecil yang berlari menyebrang jalan. Mobil Raka berusaha menghindar dari anak kecil itu dan berhasil namun sayang mobilnya kehilangan kendali dan menabrak tiang pembatas jalan. Rio langsung menghampiri Raka yang pingsan dan tubuhnya penuh dengan luka dan membawanya ke rumah sakit.

Tak berselang lama orangtua Raka datang dan menghampiri kami. Kulihat mama Raka yang sembab karena menangis. Mereka bertanya keadaan Raka dengan Rio. Rio menjelaskan seperti dia menjelaskan kepadaku. Lalu mama Raka menatapku dengan tajam dan menyalahkanku atas kejadian ini.
“Ini semua gara-gara kamu! Dasar wanita tak tahu diri!” Bentaknya kepadaku.
Aku hanya diam mendengar ucapannya. Dia selalu menyalahkanku apabila hal buruk terjadi kepada Raka. Suaminya menenangkannya dan mengatakan bahwa ini bukan kesalahanku melainkan kehendak-Nya.

Lama kami menunggu hingga dokter keluar. Kami langsung menghampiri dokter itu dan menanyakan keadaan Raka. Dokter menjelaskan bahwa Raka mengalami luka yang parah di bagian kepala dan keadaannya kritis. Air mataku mulai tak terbendung lagi apalagi ketika dokter mengatakan bahwa Raka mengalami koma. Aku ingin menemui Raka namun dokter melarangku untuk masuk dan aku hanya pasrah mendengarnya.

Kulihat Raka terbaring dengan selang-selang di tubuhnya dan juga perban yang melilit sebagian tubuhnya. Aku ingin sekali berada di sana dan memegang erat tangannya. Namun aku hanya bisa melihatnya dari balik kaca ini. Air mataku tak henti-hentinya keluar. Tiba-tiba aku merasakan mual. Aku tak tahan dan pergi menuju toilet. Aku merasa lega setelah berhasil memuntahkan sebagian makanan dari mulutku. Namun aku merasa tidak enak badan. Ya Allah kenapa di saat seperti ini aku harus sakit? Batinku.

Aku kembali ke ruangan dimana Raka dirawat. Mukaku pucat dan itu membuat ayah mertuaku khawatir dan menyuruhku untuk memeriksa keadaanku. Aku menolak namun dia terus memaksaku sehingga aku menurutinya. Dia menemaniku pergi menemui dokter. Setelah pemeriksaan selesai alangkah terkejutnya aku mendengar hasil pemeriksaan yang menyatakan bahwa aku sedang hamil. Aku menangis terharu mendengarnya namun aku sedih karena kau tidak bisa memberitahukan kepada Raka bahwa dia akan menjadi seorang ayah. Kesedihanku sedikit terobati karna kabar gembira ini.

Bersambung

Cerpen Karangan: Siti Aisyah
Blog / Facebook: Siti Aisyah

Cerpen Akhir yang Bahagia (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mahkota Cinta

Oleh:
Mobilku berjalan membelah gelapnya malam, jikapun bulan dan bintang keluar, pasti akan kembali membetulkan selimutnya dan berbaring di peraduannya, hujan lebat disertai angin kencang, akan membentuk dingin yang bisa

Kepergianmu

Oleh:
Pagi itu seperti biasa, aku kesiangan lagi berangkat ke sekolah. Oh iya, sebelumnya kenalin dulu nama Aku Mela panggil aja mel. Aku dilahirkan di keluarga yang sederhana, dan sekarang

Keep Black Skin

Oleh:
Siang semakin terang, matahari pun semakin bersemangat memamerkan cahayanya. Semua manusia yang berada di daerah tropis pun akan bertingkah sebagai cacing kepanasan. Terkhususnya anak sekolah. Cuaca panas, perut yang

Maaf, Aku Terlalu Memaksa

Oleh:
Hai selamat datang malam yang penuh dengan isakan sendu jangkrik-jangkrik, yang daunnya menari indah dilatari melodi alam yang merdu. Itu semua tak membuatku bergerak meskipun seinci. Aku sangat menikmati

Cinta Yang Dibawa

Oleh:
Suatu hari.. Aku sedang membeli telur di warung, lalu aku pun pulang dengan terburu-buru sambil berlari. Dan tidak sengaja aku menabrak seorang laki-laki. Aku pun meminta maaf padanya.. “Maaf!

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *