Akhir yang Bahagia (Part 3)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 29 December 2018

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, tapi Raka belum juga bangun dari komanya. Sudah 9 bulan dia tidak sadarkan diri. Perutku juga sudah semakin membuncit dan tinggal menunggu hari saja. Kupegang erat tangannya dan kutatapi wajahnya yang sedang tidur. Biasanya aku sangat suka ketika melihat dia tidur tapi sekarang aku ingin melihatnya bangun.

Pintu ruangan terbuka dan kulihat ibu mertuaku datang membawa makanan.
“Makan dulu ya sayang. Biar mama suapin,” tawarnya dengan senyuman.
Aku menganggukan kepalaku. Ibu mertuaku sudah mulai menerimaku ketika aku hamil muda. Dia merasa iba melihatku yang bolak-balik ke rumah sakit dan tidak memperdulikan akan kesehatanku padahal aku sedang hamil. Akhirnya hatinya luluh dan mulai menjagaku dan menemaniku di rumah sakit. Dia mengatakan aku harus menjaga kesehatanku karna aku sedang mengandung cucunya.

Dia menyuapiku makan namun tiba-tiba aku merasakan sakit di perutku. Rasanya sakit sekali. Ibu mertuaku berusaha menenangkanku dan mengatakan kalau aku akan melahirkan. Ibu mertuaku memanggil dokter. Dokter segera datang dan menyuruhku untuk pindah ke ruangan lain. Namun aku menolak. Aku ingin melahirkan di ruangan tempat dimana Raka dirawat. Dokter menerima permintaanku.

Aku merasakan sakit yang luar biasa. Ibu mertuaku memegang tanganku dan mengatakan kalau aku harus banyak-banyak beristigfar agar persalinannya lancar. Aku menuruti perkataannya. Keringat mengucur ke seluruh tubuhku. Kugenggam erat tangan ibu mertuaku. Lama aku merasakan sakit dan akhirnya…

“Oweeeekkkkkkk…”
Suara tangisan bayi menggema di ruangan itu. Aku senang sekali mendengarnya. Akhirnya buah hatiku lahir.
“Bayinya laki-laki, Bu,” kata seorang suster yang langsung memberikan bayi itu kepadaku.
Aku melihat bayi itu dan tak terasa air mataku jatuh. Kudekap dan kucium bayi itu berkali-kali. Kulihat ibu mertuaku sedang sibuk dengan ponselnya untuk menelepon ayah mertuaku tentang kelahiran cucunya. Selesai dengan ponselnya, dia datang menghampiriku dengan senyum yang lebar.

“Kamu sudah menjadi ibu sekarang, Nana,” katanya sambil menggendong cucunya.
“Kamu sudah memberikannya nama?” tanyanya.
“Belum ma. Nana gak sempat memikirkannya.”
“Itu karena kamu terus memikirkan Raka,” katanya sambil melirik putranya yang masih terbaring lemah.
“Nana bingung ma. Nana harus senang atau sedih. Kapan mas Raka bakal bangun?”
“Mama juga gak tahu sayang. Tapi kamu harus tetap tegar demi anak kamu.”
Aku hanya mengangguk pelan.

Pintu ruangan terbuka dan kulihat papa datang. Dia tersenyum ke arahku lalu berpaling ke bayi yang sedang mama gendong. Dia menghampiri bayi itu dan langsung menggendongnya. Papa tak kuasa menahan air matanya. Aku bahagia melihat mereka begitu antusiasnya dengan kelahiran cucu pertama mereka. Namun aku juga merasa sedih karena mas Raka belum bangun dari komanya. Namun aku teringat dengan ucapan mama. Aku harus tegar demi anakku.

Lamunanku terhenti ketika mendengar tangisan bayiku. Papa langsung memberikannya padaku.
“Mungkin dia lapar,” kata mama.
Kuberikan ASI-ku padanya, namun dia tidak mau. Dia terus menangis meski aku sudah mengoyang-goyangkan tubuhnya. Aku kewalahan sehingga mama membantuku untuk menenangkannya namun itu tidak berhasil. Aku dan mama berusaha menenangkannya.
“Biarkan dia menangis,” kata papa.
Aku dan mama terkejut mendengar ucapan papa. Apa maksud papa mengatakan hal itu. Belum sempat aku bertanya alasannya papa lalu berkata lagi.
“Lihatlah,” katanya sambil menunjuk Raka. Dia mungkin sedang membangunkan ayahnya.

Aku dan mama melirik Raka dan kaget melihatnya. Aku sungguh tak percaya dengan apa yang kulihat. Jari-jari tangan Raka bergerak dan kulihat matanya perlahan terbuka. Papa dan mama langsung menghampiri Raka. Mama langsung memeluk Raka dan dia tak kuasa menahan tangis ketika melihat putranya terbangun dari komanya.
“Ma.. Pa.. Raka di mana?” tanyanya dengan lirih.
“Kamu di rumah sakit nak,” jawab mama masih dengan tangisnya.
“Raka kenapa ma? Kenapa Raka ada di rumah sakit?”
“Kamu kecelakaan dan kamu koma selama 9 bulan nak.”
“Apaaa!!! Sembilan bulan?”
“Iya nak.”
“Nana gimana ma? Nana di mana? Apa Nana baik-baik saja?”
“Aku baik-baik aja mas.”

Raka menoleh ke sumber suara. Kulihat wajahnya terkejut melihatku berada di ranjang yang tak jauh dari ranjangnya. Ternyata dari tadi dia tidak menyadari keberadaanku. Aku memaklumi raut wajahnya yang kaget karena melihatku sedang menggendong seorang bayi.
“Ini anak kita mas,” ucapku sambil menangis haru.
“Anak kita?” tanyanya dengan raut wajah yang masih heran.
“Iya mas. Aku maklum kamu tidak mengetahuinya karena aku baru menyadari kehamilanku di hari yang sama ketika kamu kecelakaan mas. Aku gak bisa memeberitahukan kabar gembira itu mas karena kamu koma. Tapi aku selalu berdoa agar kamu bangun dan bisa melihat anak kita. Dan aku gak menyangka, Allah mengabulkan doaku mas.”

Raka tak sanggup menahan air matanya. Kulihat senyuman tersungging di bibir pucatnya. Aku senang akhirnya aku bisa melihat senyuman itu lagi.
“Maafin aku Na. Aku gak bisa jadi suami yang baik bagi kamu. Aku gak ada saat kamu hamil. Kamu pasti sangat kesusahan karena aku yang terbaring koma sementara kamu sedang hamil. Maafin aku Na.”
“Gak mas. Ini bukan salah kamu jadi kamu gak perlu minta maaf. Ini sudah takdir Allah mas. Aku ikhlas mas menjalaninya. Yang lalu biarlah berlalu mas. Yang perlu kita pikirkan adalah masa depan mas.”
“Na, biarkan aku melihat anak kita dari dekat.”

Aku berusaha bangkit dari tempat tidurku. Papa melarangku dan menyuruhku untuk memberikan bayiku kepadanya agar dia dapat memberikannya kepada Raka. Aku menolak. Aku ingin memberikan bayi ini ke Raka dengan tanganku sendiri. Papa hanya pasrah dengan hal itu dan membantuku berdiri. Aku berjalan ke arah tempat tidur Raka. Tak kurasakan sakit sama sekali ketika berjalan. Padahal aku baru saja melahirkan. Mungkin itu karena kebahagiaan yang sedang aku rasakan sekarang sehingga aku sama sekali tidak merasakan sakit apapun.

Kuletakkan bayi itu di samping Raka. Kulihat wajah Raka yang berseri-seri melihat anaknya.
“Anak ini telah membangunkanmu dari tidur panjangmu mas,” ucapku sambil menggenggam erat tangan Raka.
Raka hanya tersenyum mendengar perkataanku.

“Aku punya permohonan mas.”
“Apa itu Na?”
“Azankan anak kita mas.”
“Pasti Na. Aku akan melakukannya.”

Sungguh hari yang membahagiakan dalam hidupku. Aku mendapatkan rezeki yang tak terkira dari Sang Maha Kuasa. Hari ini aku resmi menjadi seorang ibu dan akhirnya suamiku terbangun dari komanya.

SELESAI

Cerpen Karangan: Siti Aisyah
Blog / Facebook: Siti Aisyah

Cerpen Akhir yang Bahagia (Part 3) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Salahkah Menantimu?

Oleh:
Hari demi hari berlalu, tahun demi tahun aku lewati, waktu pun terus berjalan mengikutiku tanpa pernah menatap kembali sang mentari yang dahulu telah pergi. Aku masih disini menantimu, mengharapkan

Pelukan Keluarga

Oleh:
Felly berulangkali berganti handuk hanya untuk menghilangkan keringat yang terus mengalir dari dalam tubuhnya. Meski senja itu telah basah karena air hujan, hawa panas tubuh Felly tidak pernah berhenti

Pelesiran

Oleh:
Tak ada yang membahagiakan Asih selain terus bersama dengan Arifin. Lelaki yang ia idam-idamkan. Hatinya berbunga, melambung, seakan semua kayalannya sempurna nyata. Ketika Asih merajuk manja, memohon tanpa berniat

Long Distance Relationship

Oleh:
Bermulai ketika libur kami bertemu di acara liburan ke gunung bromo yang diadakan sebuah tempat kursus, sebelumnya kami tidak mengenal satu sama lain hanya sesekali bertatap muka saling berpandangan

Selalu Ada Maaf

Oleh:
Malam ini begitu menyedihkan bagiku, aku menatap sekeliling kamarku kenapa harus begini, ku kira semua akan sesuai rencanaku tapi ternyata tidak, padahal seharusnya hari ini jadi hari yang membahagiakan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *