Akhir Yang Bahagia Untuk Kita

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 25 February 2017

Pagi itu Handphone Lina berdering membangunkan untuk segera mandi dan bersiap-siap pergi ke sekolah. Cuaca di luar tak begitu bersahabat sehingga membuat Lina enggan untuk pergi ke ke sekolah. Tetapi tak lama kemudian mama membangunkannya. “Nak, bangun udah jam 6. Nanti kamu kesiangan” Kata Mama. Seketika itu Lina terkejut dan langsung bergegas ke kamar mandi.
Rumahnya ke sekolah lumayan cukup jauh. Sebelum Lina pergi ke sekolah tak lupa Lina selalu berpamitan kepada orangtua dan meminta restu agar pembelajaran hari ini lancar.

Saat sedang berjalan dengan hati yang gelisah karena kesiangan tiba tiba ada motor berhenti di sampingnya “Hei Lina, ayo bareng biar gak kesiangan.” Ujar Reino. “terimakasih. Tapi kan Reimo kalo ngendarain motor suka ngebut. Masa iya Tuan Putri dibawa ngebut-ngebutan” seru Lina sambil meledek. “Ya udah kalo mau kesiangan sih gak apa-apa. Gak maksa” Ujar Reino sambil menyalakan mesin motornya kembali. “Eh iya deh aku ikut bareng kamu, tapi jangan ngebut ya” Ujar Lina. “iya tuan putri” ujar Reino.

Reino dan Lina memang bersahabat dari TK Sampai sekarang. Bahkan teman temannya selalu bepikiran bahwa mereka itu berpacaran. Tapi Lina selalu menyanggah dan memberikan fakta yang sebenarnya. Tetap saja teman-temannya tak percaya. Saat Reino dan Lina hampir memasuki pintu gerbang ternyata pintu gerbang sudah tertutup. Alhasil Reino dan Lina dihukum karena keterlambatannya datang kesekolah “Sial, kena hukuman lagi” Ujar Lina sambil kesal “Siapa suruh ngejalanin motornya gak boleh ngebut. Ngebut dikit dicubit ngebut dikit dicubit” “ya udah maaf lain kali gak bakal gitu lagi” ujar Lina.

Saat hukuman telah selesai karena Lina dan Reino berbeda kelas akhirnya mereka berpisah dan memasuki ruang kelasnya masing-masing. “Aku duluan ya” Ujar Lina sambil tergesa-gesa. Dan Reino hanya mengangguk saja. Sesampainya di kelas teman-teman Lina menggoda “Ciee katanya nggak pacaran kok berangkatnya bisa bareng” Ujar Dena teman sebangku Lina. “Dena aku nggak pacaran sama Reino. Jangan bikin gosip, baru juga nyampe capek nih.” Ujar Lina manja. “Terus kenapa bisa barengan?” Ujar Dena penasaran. “Kebetulan aja dia lewat terus ngajak bareng, ya aku ikut. Masa Rezeki ditolak sih” Seru Lina.

Tak lama kemudian Bu Kila selaku guru Matematika pun memasuki ruangan kelas XI IPA 3, kelas yang Lina tempati saat ini. Materi demi materi bu Killa sampaikan hingga akhirnya bel istirahatpun berbunyi. Dan anak-anak yang tadinya mengantuk menjadi segar kembali “Oke anak-anak pelajaran kita sampai disini. Untuk tugasnya kalian kerjakan saja di buku paket hal 150. Minggu depan dikumpulkan” Ujar bu Killa.

Akhirnya rasa penat berjam-jam berdiam di kelas telah hilang dan kini Lina dan Sahabatnya itu pergi ke kantin untuk membeli makanan karena perut mereka mulai keroncongan. “Lina, ke kantin yu” Ajak Dena. “Let’s go” Seru Lina dengan semangat. Saat hendak menuju kantin tiba-tiba Lina bertemu dengan kakak kelas yang Lina sukai secara diam-diam setahun belakangan ini. “Lina denger aku curhat gak sih?” seru Dena karena dari tadi Dena curhat tidak diperhatikan sama sekali “Hah, Oh iya aku denger kok” Ujar Lina. “Kamu lagi liat siapa?” Ujar Dena karena penasaran dari tadi mata Lina fokus pada seseorang yang tidak diketahui Dena. “Nggak lagi liat siapa siapa” Ujar Lina.

Mereka pun memesan makanan dan tak lama makanan yang dipesan pun datang tapi Dena masih saja penasaran karena dari pertama mereka sampai kantin sampai duduk pun Lina masih saja menatap seseorang “Dari tadi liatin orang terus siapa sih? Jadi penasaran” Ujar Dena sambil membalikkan tubuhnya. Tetapi saat Dena membalikkan tubuh ternyata tidak ada siapa-siapa. “Kok gak ada siapa-siapa. Terus kamu liatin apa?” Ujar Dena. “Aku kan udah bilang aku nggak liat siapa-siapa” Ujar Lina padahal sebenarnya Lina tahu bahwa orang yang dilihatnya sedang mengambil uangnya yang terjatuh di kolong meja. Setelah mereka selesai makan dan membayarnya bel pun berbunyi memberitahu bahwa pembelajaran selanjutnya akan segera dimulai. Dan lagi-lagi Lina melamun memikirkan sesosok pria tampan dari kelas XII IPS 5 yang tadi Lina jumpai di Kantin.

Hingga bel pulang berbunyi Lina masih saja memikirkan sesosok pria itu. “Hei, jangan melamun aja nanti kesabet” Ujar Nina teman sekelas Lina yang selalu Ranking satu itu. “Siapa juga yang ngelamun” ujar Lina “kamu mau pulang nina?” lanjutnya “iya aku mau pulang, mau bareng?” Ajak nina. “Nggak makasih, aku bareng Dena aja ya Den” Ucap Lina sambil menoleh ke arah Dena “Loh kok Dena nggak ada?” Tanya Lina. “Kamu sih dari tadi melamun. Tadi itu Dena udah pulang bareng sama Fahmi soalnya Fahmi bawa motor dan kebetulan mereka searah” Ujar Nina. “Oh gitu ya, Oke deh aku pulang bareng kamu aja” Seru Lina.

Saat mereka sedang berjalan tiba-tiba ada seseorang yang memanggil nama Nina “Hei Nina” Nina menoleh ke belakang dan ternyata orang yang disukai Lina. Dia mendekat menuju Lina dan Nina “Eh kak Syahrul, ada apa kak?” Ujar Nina. “Oh ternyata Syahrul namanya” ujar Lina dalam hati, Lina memang suka sama kak Syahrul selama setahun kebelakang tapi dia tidak tahu namanya siapa. Dan Lina pun malu jika dia harus menanyakan kepada temannya siapa kakak tampan dari kelas IPS itu. “Buku sejarah kamu ketinggalan jadi kakak mau balikin sama kamu” ujar Kak Syahrul. “Terimakasih ya, pantas saja aku cari kemana-mana nggak ketemu” Ujar Nina sambil memasukkan buku itu ke dalam tasnya “Kak Syahrul mau pulang bareng sama kita?” Ajak Nina. “Boleh, Ayo” Ujar kak Syahrul. Deg, tiba-tiba jantungku berdegup dengan kencang saat kak Syahrul menerima ajakan Nina. Memang rumah kami searah wajar saja bila Nina mengajak Kak Syahrul. “Ayo Lina kita pulang” Ajak Nina.
“Kamu Lina temen sekelasnya Nina?” Tanya Kak Syahrul. Jantungku semakin berdegup kencang apalagi saat kak Syahrul bertanya “iya kak” Jawabku dengan nada rendah. “Kakak kak Syahrul kelas kakak yang dekat dengan kelas kamu kelewatan 5 kelas ke samping kiri” Canda kak Syahrul. Aku hanya bisa tersenyum tapi sebenarnya dalam hatiku aku berbunga-bunga bahkan sangat berbunga-bunga.

Sesampainya di rumah aku hanya cengengesan sambil menatap handphone yang sedang kulihat. “Hayo, kenapa adek kakak yang satu ini? Kayaknya lagi berbunga-bunga? Apa lagi jatuh cinta?” Goda Kak Leni, kakak kandungnyaa yang selalu menggoda apalagi jika Lina sedang bahagia, contohnya ya seperti sekarang. “Apa sih kakak pengen tau aja urusan anak muda” Ujar Lina sambil menjulurkan lidahnya. “Dasar ABG Labil, bentar lagi juga sedih daritadi senyam-senyum terus” Ujar kak Leni. “Hu, kakak sok tau” Ledek Lina.

Keesokkan harinya Lina bersemangat sekali ke sekolah untuk bertemu dengan Kak Syahrul, tapi ketika sampai di sekolah Lina kaget melihat Kak Syahrul berboncengan dengan Nina, karena kak Syahrul jarang sekali berboncengan dengan perempuan. Lina singkirkan pikiran buruknya terhadap Nina. Tetapi saat Lina memasuki ruang kelas ternyata semuanya sibuk membicarakan gosip. “Lina tahu nggak kalau ternyata Nina itu pacaran sama kak Syahrul, kakak yang ganteng itu loh” Seru Dena. Hati Lina merasa tak karuan, apakah yang dikatakan mereka benar atau hanya isu? Yang bisa Lina lakukan hanya mempertanyakan di dalam hati.

Di rumah pun Lina tak konsen untuk mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan esok hari. Hingga akhirnya Lina berbaring sejenak dan mengambil handphonenya di atas meja. Saat Lina buka instagram, Nina mengunggah foto. Lina tak menyangka Nina dan kak Syahrul foto bersama dengan caption “Terimakasih untuk segalanya”. Pikirannya tak dapat berpikir dengan jernih, dan hatinya terasa sakit ketika membaca bahkan melihat foto tersebut.

Saat Lina di sekolah Lina tak konsen belajar. Hingga sampai saat istirahat pun Lina tidak banyak berbicara seperti biasanya. “Lina kamu sakit?” Tanya Dena dengan nada khawatir. “Nggak aku lagi nggak mood belajar aja” Jawab Lina. “Mau ke kantin nggak?” Ajak Dena. “Aku lagi nggak mau ke kantin. Gak apa-apakan kamu pergi sendiri?” Seru Lina. “Ya nggak apa apa” Ujar Dena sambil berlalu meninggalkan Lina.

Karena Lina merasa jenuh di kelas akhirnya Lina berjalan menuju perpustakaan dan bertemu dengan Reino sahabatnya itu. Saat Lina hendak membaca buku yang dibawanya tiba-tiba Reino bertanya “Lagi galau ya Lina? Muka kamu kok cemberut gitu. Mana ada tuan putri cemberut” “Diem Rei, aku lagi nggak mood bercanda” Ujar Lina. “kok bisa sih Lina yang selalu kelihatan ceria jadi cemberut gini. Kenapa? Ada masalah?” Tanya Reino. “Nggak kok” Jawab Lina. “Jangan bohong. Keliatan kok dari mata kamu kalau kamu lagi ada masalah” Ujar Reino. “Nanti aja deh kapan kapan aku cerita sama kamu” Ujar Lina. “Oke berarti nanti pulangnya bareng ya. Soalnya aku penasaran nih kenapa tuan putri bisa sebegitu cemberutnya sampai-sampai bibirnya semakin di depan gitu. Tuh liat” Canda Reino. “Apa sih Reino. Tagline kali semakin di depan” Ujar Lina sambil ketawa.

Begitu bel pulang dibunyikan. Lina langsung pulang tanpa basa-basi dulu sama teman-temannya. Dan tanpa menyapa Nina, yang setiap saat hendak pulang selalu disapa. Saat menuju parkiran Reino sudah diam menunggu Lina di parkiran. “Lama banget kayak siput” Ujar Reino. “Baru aja bel disebut lama” ujar Lina “ini itu udah paling cepet tau” lanjut Lina. “ini yang paling cepet? Kebayang yang paling lamanya kayak gimana” Ujar Reino. “Gitu aja dipikirin, mau pulang nggak?” Tanya Lina. “Eh iya lupa. Ini tuan putri pakai dulu helmnya.” Ujar Reino. Lina pun mengambil dan memakai helm tersebut. Saat di perjalanan tiba-tiba Reino berhenti di sebuah warung bakso yang lumayan cukup jauh dari sekolah “Makan dulu ya. Tenang aku yang bayar” Ujar Reino. Lina hanya menggangguk saja. Ketika bakso yang dipesan Reino telah datang, Reino langsung memakannya seperti orang yang benar-benar kelaparan. “Makannya pelan-pelan” Ujar Lina. “Oh iya tadi mau bicara apa?” Ujar Reino. “Kamu anak basket kan?” Tanya Lina. “Iya, kenapa?” “Kamu tahu kak Syahrul?” Tanya Lina kembali. “Oh kak Syahrul XII IPS 5? Kamu suka ya?” Ujar Reino. “kak Syahrul benar udah punya pacar?” Tanya Lina. “Oh jadi karena itu kamu tadi cemberut” Ujar Reino “Kalau Reino kurang tahu. Tapi lebih baik kamu langsung aja tanyain sama perempuannya. Bukannya perempuannya itu sekelas sama kamu kan?” Ujar Reino. “iya sih tapi masa aku harus tanya langsung sama dia? Lina kan nggak mau ada yang tau kalau Lina suka Kak Syahrul ya baru kamu sih yang tau” ujar Lina. “saran aku mending besok temuin temen kamu itu terus pura-pura tanya aja ceritanya kamu sok pengen tau gosip-gosip terhangat” Saran Reino. “Oke besok aku coba tanyain sama dia” Ujar Lina. “Makan kali baso nya jangan didiemin gitu nanti dingin gak enak. Tenang aku yang bayar” Ujar Reino. Saat kami meninggalkan warung bakso itu, Lina masih tetap saja bertanya di dalam hati. Berani tidak ya besok tanya langsung?

Hari ini Lina akan bertanya tentang gosip yang membuatnya patah hati. Ketika Lina memasuki kelas dan Lina melihat Nina awalnya Lina ragu. Apalagi tadi pagi Lina melihat Nina berangkat bareng dengan Kak Syahrul. Tapi Lina memberanikan diri untuk bertanya. Lina hampiri Nina dengan rasa gugup. “Nina kamu pacarnya kak Syahrul ya?” Tanyanya dengan sedikit gugup. “Aku dulu deh yang bertanya boleh?” Ujar Nina, Lantas saja pertanyaan itu membuatnya semakin gugup. Apakah Nina tahu Lina suka sama kak Syahrul? “Boleh mau tanya apa?” Jawabnya. “Kenapa kamu berpikiran aku berpacaran?” tanya Nina. “Emangnya nggak pacaran? Kok bisa waktu itu Nina boncengan sama Kak Syahrul. Kak Syahrul kan jarang bonceng perempuan. Terus tadi juga berangkat kok bisa bareng?” Ujar Lina. Nina hanya tersenyum sambil menjawab “Oh itu. Soalnya aku baru tahu kalo kak Syahrul itu saudara. Pas waktu kumpul keluarga besar ada kak Syahrul, dan kak Syahrul itu anak Paman. Keluarga kak Syahrul waktu itu kan tinggal di sumatra jadi aku gak tau kalau keluarga kak Syahrul itu pindah ke Bandung karena yang terakhir aku denger itu keluarga kak Syahrul itu pindah ke Jakarta, dan gak ada yang nyebut syahrul di keluarga yang aku tau Cuma arul itu aja.” Singkat Nina. “Terus kenapa kamu unggah foto sama kak Syahrul dengan caption ‘Terimakasih untuk segalanya’ ?” tanya Lina lagi. “itu karena kak Syahrul selalu ngajarin aku. kan waktu itu aku ada lomba olimpiade fisika tingkat provinsi dan alhamdulillah menang. Jadi aku unggah foto itu.” Ujar Nina. “Aku baru inget. Kalau kak Syahrul itu suka sama kamu dari pertama kali kak Syahrul kenalan sama kamu, tapi aku suka lupa buat bilang sama kamu.” Lanjut Nina. “Masa iya kak Syahrul suka sama aku?” “iya dia bilang kamu itu baik, apalagi kamu itu manis jadi kak Syahrul tertarik sama kamu. Kak syahrul suka minta PIN BBM kamu tapi aku harus izin dulu sama kamu kali aja kamu nggak izinin.” Ujar Nina. Hati Lina tiba-tiba menjadi senang bagaimana tidak? orang yang dia suka setahun kebelakang ini ternyata juga tertarik sama Lina. “Kalau untuk silaturahmi kenapa nggak boleh.” Ujar Lina. Saat jam istirahat Handphone Lina bergetar, ternyata kak Syahrul menginvite pin Lina.

Beberapa hari berlalu tetapi kenapa kak Syahrul belum juga chat Lina. Katanya kak Syahrul tertarik sama Lina gerutu Lina di dalam hati. Tak disangka tiba-tiba kak Syahrul nge-PING Lina dan bertanya “Assalamua’alaikum. Ini Lina temennya Nina kan? Masih ingat sama kakak?”
“Waalaikumsalam. Iya, inget kak. Kakak gimana sehat?”
“alhamdulillah. Besok bisa nggak ketemu sama kakak di kantin? Sebentar kok”
“iya kak bisa”
Percakapan mereka terhenti karena Lina sudah merasa ngantuk dan tertidur.

Keesokkan harinya Lina bertemu dengan kak Syahrul di kantin tentu tidak berduaan. Lina mengajak Nina dan kak Syahrul pun mengizinkan. Sesampainya di kantin Lina melihat kak Syahrul sedang asyik memainkan Handphonenya. Saat Lina sudah berada dekat kak Syahrul langsung Lina sapa “Kak Syahrul”. “Udah dateng? Dari tadi?” Tanya kak Syahrul. “Nggak baru dateng kok” Ujar Lina. “kakak mau bicara apa?” Tanya Lina. “Kakak denger kamu suka sama kakak?” Tanya Kak Syahrul. “Kok bisa tahu sih? Dari siapa?” gumam Lina dalam hati. “Maksud kakak?” Ujar Lina pura-pura nggak ngerti. “Kakak denger dari Reino kamu suka sama kakak setahun belakangan ini. Apa betul?” Tanya kak Syahrul. “Kalau boleh jujur memang betul Lina suka sama kakak tapi Lina nggak bisa berbuat apa-apa.” Ujar Lina. “Kakak minta maaf ya selama ini udah buat kamu mendem perasaan sama kakak. Apalagi kakak udah pernah buat kamu sakit hati.” Ujar kak Syahrul. “iya kak gak apa-apa kok.” Ujar Lina. “kakak minta doanya ya buat UN minggu depan supaya kakak bisa lulus.” Ujar kak Syahrul. “iya kak pasti Lina doakan.” Ujar Lina. “Kakak balik lagi ke kelas ya.” Sambil berdiri dan berjalan menuju kelasnya “Hanya itu. Cuma mau ngomong itu? Ternyata jahat banget ya kak Syahrul. Percuma buang-buang waktu kayak gini.” Gerutu Lina. “Kenapa Lina? Kok bicara sendiri?” Ujar Nina yang dari tadi makan mie. “nggak kok. Ke kelas lagi yu.” Seru Lina. Sampai akhirnya Lina ingin membuang perasaannya jauh-jauh karena yang Lina dapat hanya sakit hati. “katanya kak Syahrul suka sama Lina kok nggak bilang aja tadi?” Gumam Lina dalam hati “Ah sudahlah sekarang lupakan saja dia” lanjutnya.

Hari demi hari bulan demi bulan telah berlalu. Akhirnya hari kelulusan pun diumumkan. Dan ternyata kak Syahrul lulus. Meskipun Lina berusaha untuk membuang perasaannya jauh-jauh. Tetap saja Lina penasaran apa yang dilakukan kak Syahrul dan bagaimana keadaannya. Tak terasa Lina pun sudah menginjak kelas XII yang artinya Lina akan lulus dari sekolah ini setahun kemudian. Singkat cerita Ujian demi Ujian Lina lalui hingga akhirnya Lina lulus dari sekolah tersebut dengan melupakan semua kenangan bahkan perasaan yang Lina alami selama 3 tahun di sekolah itu.

Selang beberapa tahun kemudian saat Lina telah lulus tiba-tiba orang yang Lina sukai 6 tahun lalu menanyakan keadaan Lina lewat Messenger. Tentu saja Lina menjawabnya tapi kali ini Lina berusaha untuk tidak menyukai kembali sesosok pria yang menyianyiakan perasaanya. Tapi yang dianehkan tiba-tiba kak Syahrul bertanya di messenger itu “Lina boleh ya kakak besok main ke rumah?” Ujar kak Syahrul di Messenger. “Boleh saja pintu rumah Lina terbuka untuk siapapun yang mau silaturahmi.” Jawab Lina. “Oke, kakak besok datang jam 9 ya.” Ujar kak Syahrul. Setelah itu Lina tidak membalas kembali messenger yang kak Syahrul kirim.

Keesokan harinya Lina tidak menganggap hari ini spesial. Bahkan Lina anggap ini hari biasa saja dengan bukan orang yang spesial. Agar Lina tak ingat masa masa yang telah berlalu itu. Seperti biasa pagi harinya Lina bersih-bersih rumah. Kebetulan hari itu hari minggu hari libur bekerja. Saat rumah sudah rapi dan Lina pun sudah mandi. Lina akhirnya menyiapkan makanan yang akan disajikan bila ada tamu yang akan datang ke rumahnya. Ketika Lina sedang beres-beres di dapur adiknya memanggil Lina “kakak sini deh, kok banyak mobil di depan rumah kita” serunya. Mama dan ayah Lina pun bergegas keluar untuk memastikan apa yang terjadi. Ternyata kak Syahrul datang ke rumah Lina bukan hanya main biasa tapi kak Syahrul ingin melamar Lina. Lina sontak kaget dan terdapat rasa bahagia sekaligus bingung di dalam hatinya.

Ketika hari telah siang kak Syahrul mendekati Lina yang sedang duduk di teras rumah “Lina maaf ya waktu dulu kakak nggak bilang suka sama kamu, karena kakak nggak mau hanya dengan mengucapkan kata-kata saja. Atau hanya mengumbar janji saja. Tetapi kakak ingin buktikan kalo kakak memang serius suka sama kamu. Maaf ya, jangan marah.” Mata Lina berkaca-kaca dan kemudian Lina menangis bahagia setelah mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut kak Syahrul. Akhirnya beberapa bulan kemudian mereka menikah dan pernikahan itu menjadi akhir yang bahagia bagi Kak Syahrul dan juga Lina.

Cerpen Karangan: Fatihatul Rizki
Facebook: fatihatul tia

Cerpen Akhir Yang Bahagia Untuk Kita merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lembayung Pagi

Oleh:
“Felly! Tunggu!,” seru Bram yang masih mengejar Felly di tengah kobaran hati Felly. Felly terus berjalan meninggalkan Bram. Namun, langkah kakinya tehenti saat ia melihat hal yang selalu ia

Berbagi Rasa (Part 3)

Oleh:
“Kak Dika ngapain kita malem-malem ke SMA-ku dulu kak?” “Turunlah nanti juga kamu tahu.” Kita berjalan menuju tempat di mana dulu kita sering bertemu di pagi hari sebelum aku

Maafkan Aku

Oleh:
Embun pagi yang membasahi dedaunan, matahari yang menyinari dunia, dan kicauan burung yang sangat merdu. aku terpojok di sebuah ruangan kamar, yang berwarna ungu, di sebuah tirai jendela ,hanya

Panggil Aku Chubby

Oleh:
Tepat pukul 06.59 aku tiba di sekolah. Aku memutuskan untuk berlari agar cepat sampai di gerbang sekolah karena takut pintu gerbang akan ditutup. Saking bersemangatnya aku tak mempedulikan keadaan

Cinta Petak Umpet

Oleh:
Hai bintang, gimana kabar lo? sorry yah malam ini, gue lagi-lagi nggak bisa nunjukkin siapa pacar gue. Seperti malam-malam sebelumnya, gue cuma doyan ngasih janji. Nama gue Riski, cowok

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Akhir Yang Bahagia Untuk Kita”

  1. dinbel says:

    Waaaaaahhhhh, bagus ceritany

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *