Akhir Yang Selalu Sama

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 30 September 2021

“Aku merasa cocok denganmu, lagipula aku malas untuk beradaptasi dengan perempuan baru”, katamu.
Aku selalu tertegun dengan pernyataanmu itu, tetap saja aku selalu merasakan ketidakpastian darimu.

Kita hanya teman di suatu Ekstrakulikuler yang sama pada masa SMA.
Tahun Pertama, ketika aku melihatmu entah mengapa rasanya kau sudah sangat mencuri perhatianku, padahal kau laki-laki yang biasa saja, bahkan terlihat tidak ada yang istimewa darimu.
Dulu aku hanya bisa menghubungimu kalau ada sesuatu yang penting saja, tidak mampu untuk membahas hal lain.
Namun suatu hari komunikasi kita semakin dekat, bahkan kau sering meminta waktuku untuk sekedar bertukar cerita pada malam hari.

“Sebenarnya aku menyukaimu, kamu mau tidak jadi pacarku?”
Tak lama kau pun menyatakan perasaan kepadaku, namun aku menolaknya karena aku merasa belum mengenalmu dengan baik, tapi sebenarnya aku sudah lebih dulu menyukaimu.

Aku kira setelah kejadian itu kita bisa tetap dekat seperti sebelumnya, ternyata aku salah, kau menghilang dan menghindariku setiap saat, meskipun aku hanya membahas soal ekstrakulikuler pun, rasanya kau enggan untuk berbicara denganku.

Tahun Kedua, aku sudah tidak pernah berkomunikasi lagi denganmu, kau tidak pernah mengikuti kegiatan ekstrakulikuler lagi, bahkan setiap aku mencoba menghubungi jawabanmu selalu tidak sesuai harapanku. Tapi aku sudah mulai terbiasa, lagipula aku sudah jarang sekali memikirkanmu.

Tahun ketiga, aku menghubungimu karena aku sedang kesulitan mengurus ekstrakulikuler ini dan membutuhkan bantuanmu, awalnya kau selalu menolak dan berdalih sibuk, namun akhirnya kau mau menemuiku.
Setelah bertemu denganku dan menyelesaikan permasalahan yang ada, kau mulai sering menghubungiku lagi, bahkan kita lebih sering bertemu dan berkomunikasi daripada sebelumnya.
Aku bahagia, sungguh. Padahal tidak pernah sedikitpun terpikirkan olehku bahwa kita akan sedekat ini.

Aku ingat pertama kali kita memutuskan bertemu di akhir pekan, pada hari ulang tahunmu, kita banyak bercerita tentang kehidupan masing-masing, bahkan bertukar pikiran soal topik hangat saat itu, lalu tiba-tiba kau membahas mantan pacarmu saat tahun kedua, dia adik kelas satu tahun dibawah kita, kau bilang hubungan kalian hanya berjalan kurang dari satu bulan karena kau merasa sangat tidak cocok dengannya. Entah mengapa perasaanku rasanya tidak nyaman, rasanya aku tidak ingin melanjutkan pembahasan ini, tapi setidaknya aku tahu alasanmu sangat menghindariku waktu itu.
Semenjak itu kita semakin dekat, kau banyak membantuku dan banyak menghubungiku, aku sungguh senang bisa mengenalmu sejauh ini.

“Kita kan sudah kenal lama, sekarang mau tidak kamu jadi pacarku?”
Beberapa bulan berlalu dan kau menyatakan perasaanmu lagi, tapi berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, kali ini aku menerima perasaanmu, aku rasa mungkin ini waktu yang tepat untuk mulai membuka hati dan menjalani hubungan denganmu.

Namun lagi-lagi perkiraanku salah, setelah mempunyai hubungan yang pasti pun kau malah sering menghilang, tidak mengabariku sama sekali, bahkan membuatku selalu menerka-nerka apa kesalahanku, tapi aku selalu berusaha untuk tetap membuka jalan untuk berkomunikasi denganmu, hal yang paling penting dalam menjalani hubungan itu komunikasi bukan?
Sampai hari ulang tahunku pun kau tidak ingat, dan kau tetap jarang sekali mengabariku berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Setelah itu aku mulai mempertanyakan soal hubungan ini kepadamu, kau sepertinya muak dengan sikapku yang terus mempertanyakan hal itu kepadamu.

“Aku mau menganggapmu sebagai pacarku kalau kamu menemaniku dari nol”
“Kita berteman saja”, Katamu.
Pernyataan singkat darimu yang membuatku sedih dan kecewa, bukankah sekarang ini masih nol? Kau belum maju ke tahap selanjutnya dan aku masih menemanimu, jadi maksudmu aku harus menemanimu dari kapan?, dulu kau terlihat bersungguh-sungguh agar aku menerimamu, dan sekarang kau dengan mudah mengakhirinya.

Tahun keempat, kita sudah lulus dan aku memutuskan untuk menunda kuliahku dan mulai mencari pekerjaan, aku sudah berusaha untuk mengikhlaskan semua yang telah terjadi, aku harus lebih menyayangi diriku sendiri.
Aku bersyukur telah lulus seleksi wawancara dengan lancar, padahal dunia ini sedang tidak baik, Tak lama aku dengar kau juga mendapat pekerjaan sesuai dengan bidangmu, aku menghubungimu dan mengucapkan selamat atas keberhasilanmu kali ini.

Sejak saat itu kita mulai dekat lagi, kita dekat layaknya seorang teman, seperti dulu. Sekarang penampilanmu terlihat lebih dewasa. Setelah berbulan-bulan komunikasi kita terus berjalan, dan kau tiba-tiba memperkenalkanku kepada keluargamu, tidak pernah kusangka sebelumnya, semenjak itu kau pun selalu me=minta untuk memperkenalkanmu kepada keluargaku juga.

Namun aku selalu mencari alasan, aku tidak bisa begitu saja memperkenalkan laki-laki, bagiku orang yang sudah diperkenalkan kepada keluarga itu haruslah orang yang sudah benar-benar serius dan bertanggung jawab soal hubungan kami kedepannya, Pada akhirnya aku memperkenalkanmu, lagipula kau sangat berusaha terlihat oleh keluargaku.

“Aku mau bicara sesuatu, bagaimana kalau kita bertunangan saja? Setidaknya kalau kita berkuliah di tempat yang berbeda aku tidak mencemaskanmu, kali ini aku sangat serius”, katamu tiba-tiba dan membuatku keget, tapi aku menolaknya, lagi-lagi aku ragu soal perkataanmu itu.

Aku kira karena hubungan kita sudah menyangkut dua keluarga, kau akan benar benar serius untuk berkomitmen kedepannya, meskipun sekarang kita tidak berpacaran, tapi kau selalu mengutarakan soal berkomitmen bersamaku, tapi kau masih sama. Masih dirimu yang lama, masih sering pergi untuk menghindari masalah, datang kembali ketika masalah itu sudah dingin, tidak pernah hadir disaat aku sedang kesulitan dan benar-benar membutuhkanmu, masih selalu membuatku ragu tentang hubungan ini, sampai aku memutuskan untuk benar benar berpisah dan tidak mau kembali kepadamu.

Kali ini aku berhasil, rasanya aku benar-benar melupakanmu, namun sepertinya siklus ini masih belum berakhir, kau menghubungiku lagi, meminta maaf atas semua yang telah terjadi, tapi aku sudah membulatkan tekad.
“Maaf, aku sudah tidak ada perasaaan apapun lagi untuk kamu”, kataku tegas
“Maaf, tapi tolong berikan aku kesempatan untuk mengembalikan perasaan itu kembali”, katamu

Semenjak saat itu setiap minggu kau selalu bertanya hal yang sama kepadaku
“Kamu sekarang sudah suka aku?”
“Kalau sekarang bagaimana? Apa aku sudah berhasil?”
“Aku akan terus berusaha! Apa sekarang kamu sudah berubah pikiran?”
Pada akhirnya lagi-lagi aku luluh, akhirnya aku bersedia untuk memulai semuanya dari awal.
Aku melihat kau menjadi pribadi yang lebih baik kali ini, kau selalu mengabariku, selalu bertukar cerita setiap harinya, kau mulai menghadapi dan menyelesaikan masalah, kau tidak pernah menghilang lagi.

Tahun kelima, kau mulai ragu dan takut tentang masa depanmu, tapi aku meyakinkanmu untuk selalu berusaha dan berpikir positif karena usaha tidak akan mengkhianati hasil. Kita pun akhirnya bertekad untuk berkuliah tahun ini, aku selalu mendukung dan mendorongnya untuk selalu percaya diri, Tapi pada akhirnya aku memutuskan untuk menunda kuliahku lagi karena ada urusan yang lebih penting yang harus aku selesaikan, kau sepertinya tahu sebelum aku memberitahu, akupun bertanya kepadamu soal kuliahmu, tapi jawabanmu tidak sesuai harapanku.

Hari ini hari ulang tahunmu, karena sudah lama kita tidak berkabar, jadi aku mengucapkannya lewat email, aku kira kau tidak akan langsung membacanya, ternyata kau langsung membalas dan berterimakasih kepadaku.
Sudah sebulan lamanya tapi kita masih seperti ini, aku sedang membutuhkanmu, aku butuh tempat untuk bercerita, tapi pada akhirnya kau tetap tidak disini.

Aku mendapat kabar bahwa kau telah diterima di suatu universitas pilihanmu, pilihan kita, aku senang akhirnya kau tidak memusingkan diri soal itu lagi, aku selalu berusaha menghubungimu dan membahas topik acak, tapi responmu buruk sekali, membuatku merasa ditinggalkan dan tidak dibutuhkan lagi.

Hari ini ulang tahunku, kau tidak mengingatnya lagi, aku terlalu naif berharap tahun ini kau ingat seperti aku selalu mengingat hari spesialmu. Aku selalu bertanya apakah aku membuat kesalahan, apakah aku membuatmu marah, apakah aku melakukan sesuatu yang tidak bisa dimaafkan atau bagaimana, tapi setelah aku ingat-ingat kejadian ini sangat familiar.

Aku sangat ingin mengatakan bahwa kau jahat sekali, kau datang dihidupku dengan janji-janji manis, lalu menghilang disaat aku begitu mencintaimu, kenapa siklus ini tidak pernah berakhir? Mengapa kita selalu berputar di siklus yang sama? Kenapa kau selalu begitu ketika aku sangat membutuhkanmu? Kenapa kau tidak pernah menjelaskan sampai selesai? Rasanya lebih baik ada kata berakhir darimu daripada aku menunggu kejelasan yang tidak pernah datang darimu, kau selalu datang lagi dengan cara yang baru melupakan apa yang telah terjadi sebelumnya, aku sudah cukup lelah, sungguh. Tapi terima kasih untuk segalanya, kau mengajarkan banyak hal soal kehidupan kepadaku

Ternyata meskipun awalnya berbeda, sebanyak apapun kita saling meminta maaf dan memperbaiki kesalahan, sebanyak apapun aku berusaha mempertahankan hubungan ini, akhirnya tetap sama.

Cerpen Karangan: Anggia Brenda Segita
Blog / Facebook: Anggia Brenda Segita
Seorang Akunting yang terkadang jenuh dengan pekerjaan dan mencoba mengurangi kejenuhan dengan menulis

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 30 September 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Akhir Yang Selalu Sama merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bumi Perkemahan (Part 2)

Oleh:
Esok hari adalah jum’at. Mereka akan mengadakan senam. Salah seorang memohon izin kepada Pak Wali Jorong dan penjaga mesjid untuk mengundang warga yang mau berpartisipasi dalam senam pagi yang

Arloji Cinta Najwa (Part 1)

Oleh:
Matahari yang masih tampak di sebelah timur, langit yang mulai membiru menghiasi pagi itu. Pagi yang indah untuk bersantai, ah sangat disayangkan sekali. Wanita itu lebih memilih bangkit dari

Pemimpi

Oleh:
Aku pernah bermimpi menjadi sorang raja, semua yang ku inginkan akan terkabulkan tapi setelah ku lihat raja-raja yang ada di indonesia ini, tidak ada satu pun yang bisa aku

Beyond The Limit (Part 1)

Oleh:
Suara angin yang berbisik-bisik menelusuri malam terasa begitu menusuk kulit. Embusannya memukul-mukul dinding putih planetarium yang berdiri kokoh di tepi bukit kecil. Halamannya dikelilingi rumput hijau, dengan pohon-pohon rimbun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *