Akhirnya

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 2 September 2017

Semenanjung angin sore di tepian Pantai Anyer. Serasa begitu membahagiakan dan senantiasa menyentuh diriku dengan alunan sepoain anginnya yang begitu manja.

Sungguh, berdiri dengan kaki telanjang, sembari menikmati sunset merah yang anggun kemilauan, diiringi oleh pemandangan langit penuh akan burung-burung yang terbang bersama saling berdampingan, semuanya, seakan kembali memutar kenangan yang pernah terjadi kepadaku, tepat di tempo 4 tahun yang lalu. Semua bertepatan, ketika diriku masih di Pekanbaru dan berstatus seorang mahasiswi.

Sedalam-dalamnya perasaanku, aku masih merindukan semua akan kenangan indahku tersebut. Tetap saja, walau saat ini, aku telah berstatus sebagai seorang dosen, namun, semua kenangan dikala aku masih mahasiswi, masih melekat kuat di dalam ingatanku. Satu kenangan yang tidak akan pernah kulupakan adalah, kenangan asam manisku yang berbica tentang cinta. Sebuah kisah cinta di dalam hidupku yang selau berakhir dengan tanda tanya. Berakhir tanpa ada status yang mengikat, dan tanpa seuntai pernyataan cinta yang selalu aku harapkan sebagai endingnya.

Tidak bahagia, itu yang dapat kukatakan. Namun apa dayaku, walaupun sempat ku berpikir, andaikan saja di antara secercah kisah cintaku, ada yang terwujud sesuai yang kuharapkan dalam doaku, sepertinya itu adalah mustahil dan naif jika untuk kupikirkan. Hingga selanjutnya, seiring berjalannya waktu, aku kemudian mengambil keputusan, pergi dan mengucapkan selamat tinggal akan semua kisah cintaku dan semua hal yang berbicara tentang cinta. Termasuk salah satunya, tentang jatuh cinta yang kurasakan kepada kak Eza. Tapi, tidak bisa kupungkiri, perasaan ini masih tetap saja sama.

Aku kemudian memulai waktuku untuk berpikir tentang mimpi, dan indahnya cita-citaku.
Selalu aku mengucapkan rasa syukurku, jikalau tanpa kepelitan kisah cinta, aku juga dapat bernapas dengan lega dan tersenyum bersama mama dan papa serta kelima sahabatku. Senantiasa aku selalu merefreshing otakku dan bakatku. Ini sudah menjadi kebahagiaan terindah bagiku hingga aku melupakannya.

“Avira?, gerangan apa yang kamu pikirkan sejak 2 jam tadi di depan pantai Anyer ini?, mungkinkah, kamu berpikir tentang jodoh?”, tiba-tiba Kaila teman karibku, datang menemuiku sembari mengusilku dengan sebuah pertanyaan yang sangat mengusikku.
“Tidak, aku tidak berpikir mengenai hal tersebut. Aku hanya menikmati lembutnya udara yang segar di Pantai Anyer ini, ketika di sore hari”, kataku sembari tersenyum kerahnya.
“Betulkah itu?, oh ya Vir, bukankah ini adalah malam terkahir kita di Pantai Anyer ini. Dan besok pagi, selepas breakfast, kita akan langsung pulang ke Pekanbaru. Apakah kamu tidak ada sesuatu yang ingin kamu sampaikan di sini. Menurut buku filsofi yunani cinta yang kubaca, jika kamu menutup mata kamu di senja hari di depan pantai yang sangat indah, kemudian membisikkan sebait kata tentang apa yang kamu pikirkan ketika itu, maka insyaallah akan terwujud. Apalagi, jika kamu memikirkan seseorang yang sedang kamu tunggu. Percaya deh, kamu akan berjodoh dengannya”.
“Heheheheh, kamu ya, di zaman modern beginipun, masih percaya juga dengan yang begituan. Kaila, aku hanya percaya, jika jodoh itu datangnya dari Allah. Dan, semua itu sudah dituliskan atas ketentuannya. Jadi, kita tidak perlu khawatir”.
“Hehehe sorry deh, itu kan hanya saran usilku aja Vir. Tetapi, sejujurnya aku bingung dengan kamu, bukankah kamu sekarang sudah di usia 25 tahun kan?, Alhamdulillah, kamu juga sekarang sudah bekerja dengan karir yang bagus. Vir, selama usia 25 tahun kamu, apakah kamu tidak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta?. Karena, selama 3 tahun aku menjadi teman baik kamu selama kita sekolah magister di Bandung, kamu tidak pernah bercerita perihal sedikitpun mengenai kisah cinta kamu. Dan juga, aku heran, setiap ada pria yang mencoba pdkt dengan kamu, bahkan si Alif yang paling alim itu pun, kamu juga gak mau. Sejujurnya tipe kamu ini, yang seperti apa sih Vir?, dan kamu tidak apa-apakan?”.

Melihat pertanyaan darinya, entah mengapa seketika saja, membuatku ingin tertawa geli mendengarnya, “Hehehehe, oalah Kaila, kamu tenang saja, aku tidak apa-apa kok. Aku bahkan baik-baik saja. Memang saat ini, aku masih fokus dengan karir yang sedang aku jalani. Aku masih bersyukur dengan semua itu yang allah kasih kepadaku, itulah alasan mengapa aku tidak bisa menerima taaruf dari Alif dan pernyataan cinta dari semua pria yang mencoba mendekatiku selama ini. Aku masih ingin bersahabat dengan kamu dan juga bermanja dengan mama dan papaku. Dan untuk masalah jatuh cinta, sejujurnya aku sudah lama merasakannya Kaila, namun, aku selalu mencoba untuk menjaganya. Karena, jatuh cinta itu adalah fitrah dan tidak boleh berlebih-lebihan, sampai kepada kita mengetahuinya, diakah yang terbaik untuk kita ataukah tidak”.
“Ohhhhh, benarkah kamu sedang jatuh cinta?, dengan siapa Vir?, ayolah, kamu harus certa denganku. Ini adalah yang perdana untukku mendengar curhatan kamu tentang cinta”.
“Tidaklah Kaila, aku malu berceritanya, besok-besok saja ya, jika sudah berjodoh. hehehehe”
“Hah??, itu mah lama sekali Vira. Kapan lagi coba, aku mendengarkan curhatan dari sahabatku ini?. Sementara minggu depan, aku akan menikah”, gerutu Kaila berwajahkan kesal.

Namun, seketika aku akan menceritakannya kepada Kaila, aku tidak mengerti, dirinya, yang telah membuatku merasakan jatuh cinta, datang berjalan di sekitar bibir pantai sembari membawa kamera. Masih terlihat sama ketika SMA, dia masih terlihat tampan dan rapi. Dari arah jauh aku melihat, dengan hobinya yang masih sama, dengan menguntai senyum, dia terus memotret beberapa pemandangan indahnya langit Pantai Anyer di sore hari.
“Ya allah, pertanda apakah ini?, sekian sudah 7 tahun lamanya aku tidak bertemu dengannya, dan selalu menyimpan perasaan jatuh cinta ini kepada dirinya, tepat di usia 25 tahunku, di Pantai Anyer ini, aku kembali bertemu dengannya dan melihatnya. Sungguh, dirinya adalah pria yang sangat tampan dan sempurna. Entah mengapa, selama 7 tahun pula, aku tidak berani untuk menyapanya dan memulai untuk berbicara dengannya, aku hanya berani mengaguminya dan melihatnya. Sungguh, engkaulah yang maha tahu, bagaimanakah akhir dari perasaanku jatuh cintaku ini kepada kak Eza. Karena jatuh cinta adalah fitrah yang harus dijaga darimu. Namun, satu hal yang sedikitnya membuatku bahagia ya Allah, jatuh cinta ini, telah membawaku untuk berhijrah menjadi wanita yang lebih baik sekarang. Terimakasih ya Allah”, kata hatiku sembari tersenyum tipis ke arahnya.

IN PEKANBARU
“Assalamualaikum, Avira, apakah mama boleh masuk sayang?”.
“Waalaikumsalam, iya ma, tentu saja dong boleh”, kataku kepada mama, yang sedang menintip diriku yang sedang bercermin di dalam kamarku.
“Kamu siang-siang begini rapi banget?, kamu mau kemana sayang?, bukankah ini adalah hari minggu?”
“Iya ma, siang ini, Avira mau makan siang diluar sembari menemani Kaila mencari souvenir untuk pernikahannya dengan Anton”

Mama kemudian melihatku dan memperhatikanku. Sembari tersenyum dan memegang kedua pipiku dengan lembut, mama mecoba menguntai pertanyaan yang sedikit membuatku bingung untuk menjawab, “Sayang, apakah kamu tidak memiliki seorang pacar ataupun seseorang yang membuat kamu nyaman untuk ke jenjang yang lebih serius?”.
Aku tertawa kecil dan kemudian dengan ringan, kucoba menjawab pertanyaan mama dengan tersenyum, “Ma, jodoh Avira insyaallah Allah yang maha tahu. Sejujurnya, sudah 7 tahun ini, Avira sudah jatuh cinta dengan Eza, kakak kelas Avira ketika SMA dulu. Dan selama 7 tahun pula, Avira tidak pernah berani untuk menyapa dan memulai pembicaraan dengannya. Namun, kemarin ketika liburan di Pantai Anyer, Avira bertemu kembali dengannya. Avira melihatnya kembali ma, tetapi tetap sama, Avira hanya diam dan tidak menyapanya. Ma, mungkin tidak, pertemuan kembali seperti itu, bisa dikatakan jika dia adalah jodoh Avira?”.
Tampak jelas, dengan tulus, mama kemudian tersenyum kepadaku, “Sayang, sudah saatnya sekarang ini, kamu jatuh cinta. Mama dan papa tidak akan melarang kamu lagi untuk masalah ini. Namun, mama bahagia, karena kamu tetap amanah untuk tidak berpacaran. Berdolah, jika dia adalah jodoh kamu, maka dia adalah yang terbaik. Semoga saja dia belum menikah”.
“Mamaaaaaaaa”, jawabku dengan nada kesal kepada mama.
“Oh iya sayang, nanti kamu pulangnya cepat ya, baru saja papa sms mama, jika nanti malam akan datang teman lama papa sewaktu SMA dulu. Namanya pak Handoko, dia merupakan teman akrab papa kamu yang sudah lama tinggal di Bali. Sudah 6 tahun papa dan pak Handoko tidak bertemu. Rencananya pak Handoko bersama keluarganya akan dinner bersama kita di rumah”.
“Iya ma, sipppp”, kataku.

DI MALAM HARINYA
Dan ternyata…
Sungguh, apa yang harus kukatakan, seketika dimana aku akan mengeluarkan minuman dan menyajikannya di atas meja makan, tepat di sebelah kanan pak Handoko, dengan tampan dan rapinya, kak Eza, seseorang yang selama ini telah membuatku jatuh cinta, melihatku dengan mengutarakan senyum manis. Aku begitu canggung dan merasa bingung, gerangan apakah yang harus aku lakukan untuk menyambut senyuman manisnya. Dalam hidupku, inilah untuk pertama kalinya kak Eza, tersenyum kepadaku.

“Avira, perkenalkan, ini Eza Handoko, putra dari pak Handoko, sahabat papa sewaktu SMA”.
“Assalamualaikum”, sapaku kepada kak Eza dan juga ayahnya.
“Waalaikumsalam”, jawab kak Eza dengan santunnya.
“Oh iya pak Aris, bagaimana kesepakatan kita?, apakah Avira setuju?”.
Dengan cekatan, aku mencoba melihat ke arah papaku dan mamaku, “Pa, hemmmm kesepakatan apa?”, tanyaku.
“Avira, papa dan mama sudah lama bersepakat dengan pak Handoko, untuk menjodohkan kamu dengan Eza. Dan papa juga sudah tahu, ternyata, Eza ini merupakan kakak kelas kamu sewaktu SMA. Dan mama juga sudah cerita, ternyata kamu sudah lama mengagumi Eza. Jadi, sepertinya perjodohan ini tidak salah menurut papa. Bagaimana menurut kamu sayang?”.

Aku sangat terkejut mendengar pernyataan papa. Entah apa yang harus kulakukan disaat ini juga, aku hanya bisa menunduk malu di depan ka Eza dan tidak mampu berkata apapun.
“Tidak masalah nak Avira, tidak perlu malu. Sepertinya apa yang kamu rasakan, sama dengan yang dipikirkan oleh Eza. Betulkan Eza?”.
“Iya ayah. Avira, ambil deary saya ini, dan silahkan Kmu membacanya, sudah saatnya kamu mengetahui semuanya”, tiba-tiba dia menyerahkan buku diarynya yang bersampul merah muda kepadaku sembari mengulurkan senyuman manisnya yang mempesona.

Akhirnya, semua telah berakhir dengan indah. Tidak pernah kusangka, ternyata, dibalik diamnya kak Eza kepadaku sejak dahulu, secara diam-diam, sesungguhnya kak Eza juga membalas perasaan jatuh cintaku.
Dari arah jauh, dia juga selalu mencoba memperhatikanku seperti layaknya diriku yang juga memperhatikannya. Sungguh, begitu bahagianya aku, kisah cinta ini menjad kisah cinta yang sempurna, dan terimakasih ya allah, engkau telah berhasil menjaga kefitrahan perasaan jatuh cintaku kepada kak Eza, hingga berujung kepada sesuatu yang selama ini aku mimpikan.

Cerpen Karangan: Aisyah Nur Hanifah
Facebook: Aisyah Nuir Hanifah (Nur)

Cerpen Akhirnya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sssttt It’s Secret

Oleh:
Catatan-catatan kenangan yang sempat aku coba akhiri, dari perasaan hina yang masih kuusahakan untuk diakhiri, dari ingatan yang sempat terhalang rimbunnya tawa kecil, hingga perasaan membiarkan beriringan dengan langkah

Rasa Risa (Ruang Hati)

Oleh:
Tahun pun sudah berganti, namun masih ada ruang di hati Risa untuk Doni. Walau dia tak tau saat ini Doni berada di mana. Ruang yang ada sendirinya dan susah

Apa ini Dari Nya?

Oleh:
Malam pekat dengan deru angin yang mecekam. Mendidih dalam dingin. Berdiri dalam sederet bulu tubuh yang mencekar. Merasuk dalam tulang. Menerobos gerbang hati. Mengetuk dalam getaran jiwa tuk bangun

Satu Menit Pandangan

Oleh:
Udara pagi yang sejuk, membuatku semangat untuk menyambut hari yang bahagia ini. Setelah 3 minggu kita berlibur sekolah, meskipun libur sekolah kemarin bukanlah hari yang membahagiakan bagiku. Karena saat

Rasa Benci Akan Rindu

Oleh:
Perpisahan tanpa kata, senyum atau tangisan. Beberapa orang bilang kalau itu perpisahan idaman. Layaknya maling yang mengendap keluar rumah tanpa jejak dan berusaha tak memunculkan sedesah suara pun. Seperti

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *