Akhirnya Beneran (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 24 March 2016

“Gak apa-apa sih, tapi kayaknya gak bisa deh males ah mending gue ngegame aja di rumah,”
“Masa? Beneran nih, tapi Dini juga ikutan loh,”
“Kok lo tahu sih?”
“Ya tahulah apa si yang gue gak tahu, dan Dini pasti akan maksa lo buat ikut walaupun lo gak ada pasangannya dan dia akan terus maksa lo sampai lo mau,”
“Ya udah deh gue ikut, eh tadi pagi ngapain lo ngasih bunga ke gue?” tanyaku penasaran.
“Gak apa-apa pengen aja, lagian nyokap gue lagi panen bunga di rumah jadi gue bawa satu buat lo, gimana lo suka nggak?”
“Kalau bunga itu punya nyokap lo sih gue suka,”

“Terus suka gak sama yang ngasih?”
“Ih apaan sih, ya gak lah,”
“Masa? Kalau gue yang suka gimana?”
“Suka apa?”
“Suka kamu,” ucapannya membuatku geli mendengarnya, yang dikatakannya tadi beneran atau tidak ya, aku bertanya dalam hati ada perasaan senang menyusup di hatiku.
“Woy! Bengong aja lo, mending pilih baju aja yuk,” Aku hanya mengiyakan saja, sekuat apa pun kalau aku nolak apa yang dikatakannya dia pasti berusaha buat aku bisa ngikutin apa maunya dan ujungnya gue yang selalu kalah. Sekarang Dion sedang memilih baju yang akan dipakainya nanti dan sekarang ia sudah menemukannya.

“Sekarang giliran buat lo,”
“Buat gue?”
“Iya ayo cepetan,”
Aku hanya mengikutinya, aku mulai memilih baju tapi semuanya gak ada yang aku suka, Dion ikut membantuku memilih baju. “Nah ini cocok buat lo,”
“Ah gak mau gue gak suka,”
“Tapi ini udah paling cocok buat lo, pokoknya lo harus pake ini oke, biar gue yang bayar,”
Dion langsung membayarnya tanpa menunggu aku berkata iya, dasar suka maksa banget nih orang.

Malam minggu pun tiba, aku sudah bersiap-siap dengan gaun yang tempo hari dibelikan Dion, aku yang gak suka dandan hanya berdandan ala kadarnya aja, saat aku ingin ke luar mamahku masuk dan bilang kalau Dion sudah datang menjemputku tapi sebelum aku ke luar kamar mamahku mengomentari penampilanku dan kata mamah dandanannya kurang bagus jadi mamah mulai mendandaniku dan aku hanya diam saja tanpa berkomentar.

“Nah gini kan lebih cantik, ternyata anak Mamah cantik banget ya,” kata mamah memujiku.
“Dari dulu keles Mah,”
“Ya udah cepetan sana temuin Dion kasihan udah nunggu lama,”
Aku langsung menemui Dion, dia rupanya sedang menunggu di ruang tamu.
“Kita berangkat sekarang?” tanyaku padanya yang masih duduk dan dia memandangiku dengan tatapan yang tak bisa ku gambarkan dan aku merasa risih dia melihatku seperti itu.

“Kenapa lo lihatin gue kayak gitu?”
“E..E..Enggak apa-apa, lo cantik banget malam ini,”
“Berarti kemaren-kemaren gue gak cantik dong?”
“Ee…..Eee….Maksud gue bukan gitu,”
“Terus apa?”
“Lo itu emang udah cantik, tapi malam ini lo cantik banget,”
“Makasih,” hanya itu yang bisa ku ucapkan.
“Kita berangkat sekarang,”

Setelah berpamitan dengan kedua orangtuaku kami langsung menuju pesta dansa tersebut, kali ini Dion membawa mobil dan tidak dengan motor kesayangannya, selama di perjalanan kami hanya diam, karena tak ada bahan perbincangan yang kami perbincangkan setelah sampai di tempat tujuan aku yang hendak membuka pintu mobil ditahan oleh Dion, “Tunggu dulu deh kayaknya ada yang kurang,”

“Apa?” Dion mulai mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya, “Nah kalau lo pake ini, kan kelihatan lebih cantik dan lo gak boleh nolak, gue tahu banget lo pengen liontin ini kan,” dan ternyata itu liontin yang waktu di mall yang gue suka, dan Dion yang memakaikannya sementara aku diam tak bisa menolak lagi. Saat hendak ke luar dari mobil Dion yang membukakan pintunya, dan kami mulai memasuki tempat pesta tersebut, dan aku terpaksa menggandeng tangan Dion karena dia yang menyuruhku tadi.

“Eh lo dateng juga De,” ucapan Dini mengagetkanku dan ternyata Dini datang bersama pacarnya.
“Iya Din, gue bingung nih mau ngapain, lo temenin gue dong,”
“Sorry De, lo kan udah ada Dion dan gue juga lagi sama pacar gue, lo bisa ngerti kan, terus ini kesempatan lo buat pdkt sama Dion,”
“Apaan sih din, ngawaur aja lo, ya udah sana temenin aja pacar lo,”
“Ya udah De, gue duluan nikmati pestanya ya,” Dini beranjak pergi.
Aku yang jarang sekali ke pesta hanya diam dan hanya mengikuti ke mana Dion pergi.
“Kita dansa yuk,” ajak Dion.
“Hah?! Dansa? Gue gak bisa,” tolakku namun sepertinya Dion tidak menghiraukanku dan langsung menarikku untuk berdansa.

Aku tidak bisa kabur dan aku pun hanya mengikuti Dion. Saat kami mulai berdansa semua orang melihat ke arah kami sebenarnya aku sangat malu kalau dilihat oleh banyak orang tapi apa boleh buat. Dan perlahan aku mulai bisa mengikuti dan menikmati gerakannya, sebenarnya aku sangat deg-degan saat kami saling menatap, tapi aku tak bisa mengalihkan pandanganku dan aku hanya bisa diam terpaku dan aku merasa berbeda sekali dengan perasaan ini, mungkin aku telah jatuh cinta padanya tapi segera ku tepis perasaan itu karena Dion kan masih mencintai Rini mantan pacarnya itu. Setelah acaranya selesai kami langsung pulang, angin malam ini berhembus begitu kencang hingga hawa dingin menyeruak menembus kulitku dan rasanya sampai ke tulang-tulang di tambah lagi ac di mobil menambah dinginnya malam ini.

“Lo kedinginan ya,” tanya Dion.
” I ..Iya,”
“Nih pake jaket gue aja kebetulan tadi gue bawa jaket,”

Aku langsung menerimanya dan memakainya karena aku tak dapat menahan rasa dingin. Mobil pun melaju dengan kecepatan sedang aku mulai mengantuk dan aku tertidur. Saat aku terbangun aku sudah berada di kamarku, perasaan tadi aku tidur di mobilnya Dion kok sekarang aku udah di kamar. Tiba-tiba sebuah pesan masuk, “Hai cantik udah bangun belum? Maaf ya tadi malam aku langsung membawamu ke rumah tanpa membangunkan kamu terlebih dahulu, habisnya aku tak tega membangunkanmu yang sedang tidur nyenyak.” Ternyata Dion yang mengantarku, tapi ada yang aneh dengan pesannya, dia pake bahasa aku-kamu bukan gue-lo maksudnya apa ya. Ah gak usah dipikirin, aku lebih baik mengabaikannya saja. Aku langsung mandi dan bergegas sarapan.

“Dea, liontin kamu baru ya?” tanya mamah saat kami sedang sarapan.
“Baru ya Kak?” adikku ikut-ikutan bertanya.
“Iya Mah,” jawabku.
“Kamu ini loh liontin mulu yang dibeli buat apa sih,”
“Cuma buat koleksi aja Mah, lagian liontin ini aku gak beli kok, Dion yang ngasih,” aku keceplosan spontan aku menutup mulutku, mamah papah dan adikku menatapku seakan ingin menerkamku.

“Kamu pacaran ya sama Dion?” tanya papahku.
“Enggak kok Pah enggak aku cuma temenan aja kok, nanti aku balikin deh,” jawabku ketakutan.
“Takut banget sih Kak, kamu pacaran sama Dion Papah restuin kok ya nggak Mah?”
“Iya tuh bener kata Papah, dan Mamah pengennya kamu sama Dion aja ya jangan sama yang lain,”
“Tapi Mah Dion kan belum tentu cinta sama aku dan dia sering bilang ke aku kalau dia pengen balikan sama mantan pacarnya,”
“Itu cuma modus dia aja untuk mendekati kamu. Mamah lihat juga kayaknya Dion mencintai kamu,”

“Masa si Mah, Mamah jangan sok tahu deh,”
“Beneran, kalau nggak percaya tanya aja tuh sama Papah,”
“Udahlah jangan bahas itu, aku mau ngegame aja. Ayo dek,”
Dengan perasaan yang agak sedikit kesal karena diledek tadi aku menuju ruang keluarga untuk sekedar ngegame dengan adikku. “Dea ada Dion tuh, cepet temui sana,” mamah tiba-tiba memanggilku yang dari tadi aku tidak mendengar ada bel berbunyi.
“Dion? Ngapain dia ke sini Mah?”
“Mana Mamah tahu, mending kamu temuin aja sana,”
“Iya Mah,” Aku langsung menuju ruang tamu.

“Hai Dion ngapain lo ke sini,”
“Ih lo mah gitu ya, pacarnya dateng bukannya disambut malah dijutekin,”
“Apa? Pacar? Kita kan cuma pura-pura,”
“Iya si, ya udahlah lupain aja,”
“Oh ya misi kita gimana nih biar Rini balik ke lo,”
“Gue udah gak berharap lagi dan gue putusin untuk gak balikkan lagi sama dia?”
“Kenapa? Apa karena ada cewek lain yang lo suka?”
“Iya,”
“Siapa tuh, gue kenal gak, satu sekolah atau beda sekolah?”
“Kalau lo mau tahu mending lo ikut gue sekarang,”
“Ke mana?”
“Pokonya lo ikut aja,”

Dion pun langsung mengajakku untuk mempertemukan aku dengan cewek yang udah buat dia move on dari Rini, tapi dia menyuruhku untuk menutup mataku dan aku hanya mengiyakannya saja. Saat mobil berhenti mungkin kami sudah sampai. Dion mulai menuntunku dengan hati-hati dan aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan cewek itu.
“Sekarang boleh buka matanya gak?”
“Silahkan,” Perlahan aku mulai membuka penutup mataku dan…

“Aku mencintaimu Dea,” pernyataan yang begitu singkat yang Dion ucapkan sambil memberikan setangkai bunga mawar yang indah dan berlutut di depanku, aku tak tahu harus apa, kami berada di sebuah taman yang indah dan di pinggir danau yang begitu tenang. Aku masih terpaku diam dan tidak tahu harus berbuat apa.
“Would you be my girlfriend?”
“Eee…. Aku.. Ee,” aku bingung mau menjawab apa.

Tatapan matanya padaku membuatku tak bisa berkutik lagi dan dia sangat mengharapkan jawabannya dariku. Akhirnya aku hanya menjawab dengan anggukan saja. “Jadi kamu terima cintaku?” Aku mengangguk lagi, Dion langsung memelukku dan dia terlihat sangat gembira. Ternyata cintaku padanya terbalas juga, awalnya pura-pura akhirnya jadi pacarnya. Benar kata Dini suatu saat kami akan saling jatuh cinta.

The End

Cerpen Karangan: Gany Fitriani
Facebook: Gany Fitriani

Cerpen Akhirnya Beneran (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pemuda Tampan, Katanya

Oleh:
Cerita ini tentang kehidupan seorang pemuda tampan yang takut pada ibunya. Hm, bukan itu. ini tentang pemuda tampan yang menemukan jati dirinya. Sebut saja dia James. Gila, keren banget

You and My Life

Oleh:
Mendung yang tak bergeming masih tertahan di langit. Tak jenuh namun juga tak ceria. Penuh aura negatif bagi kebanyakan orang, tapi tidak denganku… laut yang tenang tetap tenang tanpa

Matamu Mengingatkanku

Oleh:
“Apakah ada yang ditanyakan?,” tanya Felly tegas dengan meandang seluruh General Manager. “Kalau tidak ada, kalian bisa kembali ke meja masing-masing. Kalaupun ada masalah hari ini, kalian bisa menghubungi

Keanehan Aldi

Oleh:
Di pertama Aldi masuk kelas, sifatnya tampak berubah. Tidak seperti biasanya. Dia lebih senang menyendiri. Apalagi saat melihat Rifan, sahabatnya dari kecil. Wajahnya diselimuti kekesalan. Apa yang terjadi dengan

Cinta Dalam Melodi

Oleh:
Di sini tempat ku berdiri.. Agar aku dapat melihat senyum manis dari bibirmu, dan di sini tempat ku bersembunyi, agar kau tak pernah menyadari tentang hadirku di sini. Karena

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *