Akibat Fisika

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta
Lolos moderasi pada: 7 February 2016

Petang ini aku akan menonton pertandingan futsal sahabatku. Ya meskipun aku tidak begitu paham tentang futsal. Namun karena pertandingan futsal inilah aku bertemu gadis cantik yang bernama Cerel. Pertemuan kami berawal dari ketidaksengajaan usai pertandingan futsal. Sebelum pulang aku menyempatkan diri untuk menemui dan memberi selamat kepada sahabatku yang kala itu memenangkan pertandingan.

Namun belum sempat bertemu dengan sahabatku, aku mendengar suara pertengkaran. Karena penasaran, aku langsung menuju sumber suara itu. Akhirnya aku sampai ke tempat suara itu berasal. Ku lihat seorang gadis yang merasa kesakitan karena tangannya ditarik dan digenggam kuat oleh seorang pria. Pria tersebut adalah salah seorang dari pemain futsal. Aku sangat kasihan melihatnya. Bingung rasanya ingin menolongnya atau tidak. “Aku harus menolongnya.” Kataku dalam hati. Tanpa ragu aku mendekati mereka. “Maaf bukannya bukannya gila urusan atau semacamnya, tapi aku nggak suka caramu memperlakukan wanita. ” Kataku menegurnya. Dengan nada keras pria itu menjawab, “Lo siapa ya? Mau jadi pahlawan?”
“Tidak. Aku hanya ingin menolong gadis itu.” Balasku.

Akhirnya dia melepaskan genggamannya dari tangan gadis tersebut. Gadis tersebut langsung lari ke arahku. Matanya sangat penuh harap kepadaku. Tanpa sadar pria itu sudah berada di depanku sambil mengayunkan pukulannya. Untunglah reponku cepat sehingga pukulannya dapat aku tahan. Meskipun rasanya sedikit sakit. Tanpa henti dia terus menyerangku, meskipun semua pukulan dan tendangan darinya dapat ku tangkis. Aku tidak ingin membalasnya karena aku tak ingin memperpanjang masalah.

Tidak lama kemudian rekan setim pria tersebut datang dan memisahkan kami. Awalnya ku pikir mereka semua akan mengeroyokku karena aku yang memulai masalah. Tetapi semua itu salah, mereka semua ternyata baik. Malah sebelum pergi, mereka sempat menanyakan keadaanku. “Kamu nggak apa-apa kan?” tanya salah seorang dari mereka. “Nggak. Nggak apa-apa kok.” Jawabku sambil berusaha menahan rasa sakit. “Sorry ya teman gue emang kayak gitu, emosian. Kalau begitu kami pamit dulu.” Katanya pergi meninggalkan kami berdua.

Setelah mereka pergi, aku buru-buru ke arah gadis itu dan menanyakan keadaannya. “Kamu nggak apa-apa kan?” tanyaku. “Nggak apa-apa kok. Kenalin nama gue Cerel. Kamu?” tanya balik dari dia mengulurkan tangannya.
“Gue Ray.” menyambut uluran tangannya. Hari sudah larut malam, aku memutuskan untuk mengantarnya pulang. Di perjalanan kami terlibat obrolan yang cukup seru. Topik demi topik kami bahas, hingga ke topik pelajaran yang paling kami benci. Cerel lebih membenci pelajaran olah raga sedangkan lebih membenci pelajaran fisika.

“Fisika? Kamu nggak suka pelajaran fisika?” tanya Cerel dengan serius.
“Iya. Emangnya kenapa?” tanya balik dariku. “Ya ampun fisika itu seru tahu.
Tertawa kecil. “Seru apanya coba?” Tepisku.
“Seru tahu. Mungkin kamunya aja yang tidak mengerti atau benci sama gurunya.”
“Mungkin.” Jawabku singkat. “Kalau kamu mau saya bisa bantu kok. Hitung-Hitung sebagai ucapan terima kasih.” Tawar Cerel. “Mau. Mau banget.” Balasku dengan penuh semangat. Tak terasa kami sudah tiba di depan rumah Cerel. “Jangan lupa besok datang. Aku masuk dulu. “Cerel mangakhiri obrolan melambaikan tangan dan masuk ke rumahnya.

Keesokkan harinya, sekitar pukul 03.00 sore aku tiba di rumahnya. Dia sudah menunggu. Tanpa basa-basi dia mengajakku masuk ke dalam rumahnya. Aku sempat tercengang saat memasuki rumahnya, bagaimana tidak ruang tamu rumahnya dipenuhi oleh medali dan piala. Dan yang lebih mencengangkannya semua itu adalah medali dan piala lomba fisika. Kami lalu duduk dan mengambil buku fisika. Materi yang ku anggap sulit kami dahulukan. Entah kenapa materi-materi itu langsung connect ke otakku. Tak terasa jam sudah menujukkan pukul 05.00 sore. Aku memutuskan untuk pamit pulang. “Cer, gue balik dulu ya. “Ucapku berjalan meninggalkan ruang tamu. “Iya. Hati-hati di jalan.” Balas dari Cerel. “Oh ya, Besok gue boleh datang lagi nggak? Masih banyak materi yang belum aku paham.” tanyaku. “Boleh.” Jawaban dari Cerel.

Hari demi hari berlalu. Tidak terasa sudah satu minggu lebih ini aku ke rumah Cerel. Hubungan kami semakin dekat. Hingga suatu ketika mataku dan matanya bertatapan. Jantung berdetak kencang. Semenjak kejadian itu aku selalu memikirkannya, memikirkan wajah dan senyumnya yang manis. Aku rasa aku telah jatuh cinta. Tiap kali aku bertemu Cerel, jantungku langsung berdetak tak karuan. Salah tingkah saat bertatap muka dengan dia. Dan selalu merindu walau hanya satu detik tak melihatnya. Perasaanku ini semakin menggebu-gebu. Sampai suatu hari ku beranikan diri untuk mengungkapkan isi hatiku. Ku ajak Cerel jalan ke taman. Rencana di sana aku akan menyatakan perasaanku. Sesampainya di sana kami memilih tempat duduk yang cukup nyaman. Tanpa basa-basi yang panjang saya langsung mengungkapkan perasaanku.

“Cer! Gue mau ngomong sesuatu.” Kataku memulai obrolan. “Iya ngomong aja.” Jawab Cerel mempersilahkan.
“Sebenarnya… Gue…” Sepotong kata yang ke luar dari mulutku namun dipotong oleh Cerel. “Kamu kenapa Ray?” Potong Cerel. “Sebenarnya aku suka sama kamu. Kamu mau nggak jadi pacarku?” Kalimat itu ke luar dari mulutku begitu saja. Cerel agak sedikit kaget dengan ucapanku. Rasanya makin deg-degan menunggu jawaban dari Cerel. Yang ada dipikiranku cuman satu “Ditolak atau diterima, bodoh amat. Yang penting semua sudah kuungkapkan.” Kemudian Cerel menghela napas, tampaknya dia akan menjawab pertanyaanku.

“Iya gue mau,” menganggukkan kepalanya. “Sebenarnya gue udah lama suka sama kamu, Ray. Bahkan saat pertama kita bertemu.” Terus terang Cerel. Rasanya sangat senang. Sampai aku tak bisa berkata-kata lagi. Jadi inilah yang namanya Cinta Pertama.

TAMAT

Cerpen Karangan: Deo Dangnga’
Facebook: Deo Dangnga’
Deo Dangnga’.12-06-1999.SMAN 1 Rantepao

Cerpen Akibat Fisika merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menerawang Jauh Ke Negeri Seberang

Oleh:
Jam dinding berdetak, seakan sebuah melodi di ruang kosong dan gelap tempat aku duduk sekarang. Memandang langit cerah di luar sana yang seakan lukisan hidup yang sangatlah indah. Tatapan

Chemistri Cinta Adit

Oleh:
“Fire, fire, fire dduduudduuud” suara BBM adit terdengar. dia masukan nomor kode HPnya dan membuka BBM, ternyata dia adalah ely nurjannah yang akrab dipanggil kak elen. Adit temukan Kak

Hari Ini Lebih Tenang Dari Sebelumnya

Oleh:
Suara jangkrik-jangkrik bergemerincing di telinga Faiz saat terik matahari Agustus menyelimuti tubuhnya yang sibuk menyirami bunga-bunga mawar di depan rumahnya. Lamunannya tak terpecahkan oleh suara keras dari serangga-serangga berisik

Relation Goals

Oleh:
Nama gue Rina. Gue punya cowok, dia bernama Nugie. Gue dan dia sudah menjalin hubungan selama 3 tahun. Dari awal kita pacaran, kita tidak pernah bertengkar hingga berlarut-larut. Kita

S pangkat 2 (SS)

Oleh:
Saat ini Aku sedang duduk di kelas 6 SD. Tetapi, pengertianku akan cinta begitu dalam. Beberapa kali Aku dekat dengan cowok. Sekarang Aku sedang sangat dekat dengan adik kelasku

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *