Aku Akan Menunggu, Karena Aku Yakin!

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Islami
Lolos moderasi pada: 3 May 2019

Senja di ufuk Barat begitu mempesona, membuatku terbuai hingga aku lupa akan segalanya. Ya, segala masalah yang membuatku gundah, resah dan gelisah. Aku benci ketika seorang diri. Karena, kenangan-kenangan itu akan muncul lagi dalam memori ingatanku. Dan luka itu akan menganga kembali. Perih. Dan pada akhirnya sesak, seakan paru-paruku terhimpit. Menunggu datangnya senja membuat pikiranku berjalan jauh menapaki lorong masa lalu. Namun, senja pulalah yang melegakan hati ini. Hingga sesak itu sejenak pergi.

“Assalamualaikum”. ucapku seraya membuka pintu rumah. Nampaklah Abi dan Umi hendak ke Masjid untuk menunaikan shalat Magrib. “Waalaikumsalam”. jawab Abi dan Umi serentak. Aku menyunggingkan senyum lalu berjalan menyalami Abi dan Umi mengecup tangan mereka bergantian dengan takzim. “Dhil… lain kali kalau ke pantai pulangnya jangan menjelang malam begini tidak baik nak”. nasihat Abi. “iya bi… Dhilla minta maaf.” ucapku dengan wajah menyesal. “ya sudahlah nak… Abi dan Umi hendak berjamah di Masjid. Kamu tidak ikut?”. Umi angkat bicara. “Tidak mi, Dhilla shalat di rumah saja.” jawabku. “Ya sudah… kamu di rumah saja. Kami pergi dulu ya nak”. pamit Umi. Abi dan umi beranjak pergi. Lantas aku pergi ke kamar.

Usai melaksanakan shalat Magrib, aku merebahkan tubuhku di kasur yang nyaman ini. Hari ini rasanya melelahkan. Mengingat kenangan pahit itu membuatku lemah. Tidak. Aku tidak boleh lemah. Hati dan logikaku terus berdebat hingga Kumandang Adzan Isya membuyarkan keasikanku.

Aku bergegas mengambil wudhu. Menunaikan shalat Isya. Dalam do’a kupanjatkan permohonan… agar hati ini dilapangkan. Agar bisa berdamai dengan keadaan. Aku menangis tersedu… hingga terdengar ketukan dari luar pintu kamarku. Dengan segera kuusap air mata yang membasahi pipi. Mencoba tegar. “Siapa?”. tanyaku lirih. “Ini umi nak”. jawab Umi dari balik pintu. Aku bergegas membukakan pintu lalu aku memeluknya erat. Sangat erat. Umi mengelus puncak kepalaku lembut. “Cerita pada Umi nak, ada apa sayangku?”. ujarnya mencoba membuatku terbuka atas apa yang terjadi padaku. “Dhilla… merasakan sakit lagi mi. Hati Dhilla sakit mi.” ujarku terisak. Umi memelukku erat menggiringku menuju kasur. Kami berdua duduk di tepi kasur. Umi menghela nafas dan berkata “Sabar nak… kamu kuat. Umi yakin kamu bisa hadapi ini.” ujar Umi menenangkanku. Aku terus terisak hingga tertidur di pelukan Umi yang menentramkan hati. Umi membaringkanku lalu menyelimutiku. Umi memang selalu tahu masalahku. Aku merasa memiliki tempat berbagi.

Aku menapaki lorong kampus yang sepi. Sendirian. Hingga suara seseorang dari arah belakang menghentikan langkahku. “Dhil!.” serunya. Sungguh, aku mengenal suara itu. Sangat mengenal. Aku bimbang haruskah aku menyapanya?. Ya Rabb beri aku kekuatan. Derap langkah semakin mendekatiku. Aku yakin itu langkah sang pemilik suara. “Dhil… apa kabar? sudah lama kita tidak bertemu.” ujarnya antusias. “oh… iya. Kabar baik ky. Iya ya… kita sudah sangat lama tidak bertemu.” jawabku. “iya kamu benar Dhil. O… iya. Apa kamu tidak ingin tahu kabarku? kamu kenapa menjadi sangat cuek terhadapku.” tanyanya. Ya ampun aku benar-benar bingung dengannya. Aku harus jawab apa? aku gugup. Pertahananku bisa roboh jika ia terus menatapku (aku membatin).

Disa melambai-lambaikan tangannya di depan wajahku. Aku tersadar “eh… emm maaf tadi kamu bicara apa ky?”. tanyaku polos. Raut mukanya tampak berubah muram. “Lupakan. Ayo kita mengobrol di kantin saja.” lantas ia menarik tanganku dan membawaku ke kantin. Aku bergeming. Sesampai di kantin yang masih lumayan sepi ini ia memesan dua gelas teh tarik. Aku terhenyak. Dia Rizky Fauzan masih hafal minuman favoritku. Dia yang selama ini membuat hatiku porak-poranda tak karuan. Cinta pertamaku yang berakhir membuatku tak ingin jatuh cinta lagi. Masih ingat minuman favoritku. Lantas tak bolehkah secerca bahagia menyelinap di lubuk hatiku?. Bolehkah aku merasa tersanjung?. Tidak. Tidak boleh. Logikaku berkata begitu. Akhirnya aku hanya diam menyibukkan diri mengamati sekitar.

“Ekhem…” Rizky berdeham. Refleks aku pun menoleh menatapnya. Menatap wajah indahnya. “Hm… tolong dong jangan diabaikan cowok seganteng dan sekeren aku ini.” ujarnya dengan percaya diri. Dan itu membuatku ingin tertawa, namun yang nampak di wajahku hanya guratan senyum. Setelah pesanan datang lalu dia meminumnya dan berkata “Kau tahu Dhil berhadapan denganmu yang terus menatapku itu membuatku Dehidrasi. O.. ya aku di sini menjadi Dosen loh. Akhirnya setelah bersusah payah menyelesaikan pendidukan Masterku di Australia tak sia-sia.” ujarnya panjang lebar. Aku pun tak tahan ingin mengajukan pertanyaan yang sudah dari tadi memenuhi pikiranku. “Apakah setelah menikah kalian tinggal di sana?” tanyaku akhirnya. “Tidak. Aku tidak pernah menikah dengan siapapun Dhil.” jawabnya sendu. “Aku hanya ingin menikah denganmu”. tambahnya. “Mak…sud ka…mu.. a…pa?” tanyaku terbata. Aku bingung dengan sikapnya itu. Dulu dia tiba-tiba pergi dan muncul kabar ia telah bertunangan. Sekarang dia tiba-tiba kembali dan dengan mudahnya berkata dia hanya ingin menikah denganku. Bualan macam apa itu? Aku tak percaya. Setelah ia membuatku hampir bunuh diri karena depresi. Tiba-tiba ia pergi setelah berjanji akan setia menungguku. Dia pergi dan datang kembali setelah tujuh tahun berlalu. Semudah itukah?.

“Dhil… aku minta maaf.” ujarnya memecah lamunanku. “Apa yang perlu kumaafkan.” tanyaku akhirnya. “Semuanya Dhil.” ia menatapku lekat. Kutatap balik matanya, tak kutemukan keraguan dari ucapannya. “Aku… minta maaf karena telah menbuatmu sakit. Sakit mendengar kabarku yang telah bertunangan. Jujur, kabar itu memang benar adanya. Tapi… kini aku telah sendiri bukan tunangan siapapun lagi. Aku… minta maaf.” ujarnya menyesal. “Apakah kamu tidak tahu betapa sakitnya jika kamu berada di posisiku. Apa maaf cukup untuk mengobati luka di hatiku?. Tidak.” ujarku tegas. “Aku tahu, apapun alasanku itu semua tak ada artinya… karena pada akhirnya aku tetap melukai hatimu. Namun, aku hanya minta satu kesempatan lagi padamu. Untuk mengizinkan aku mewarnai hari-harimu. Menyembuhkan luka yang pernah kutorehkan.” pintanya memelas.

“Bagaimana aku bisa percaya bahwa kamu tidak akan melukai hatiku ini untuk yang kesekian kalinya?. Aku telah memaafkan semua kesalahanmu, percayalah.” ujarku. “Aku akan berusaha… meyakinkanmu Dhil.” ujarnya meyakinkanku. “Baiklah… berusalah meyakinkanku. Aku tunggu.” jawabku. Kulihat ada setitik bahagia tergambar di wajahnya. “Terimakasih”. ujarnya. Lalu aku pergi meninggalkannya. Lalu dia memanggilku dan berkata “Aku akan melamarmu, tunggu aku.” Aku tak menghiraukan ucapannya terus berjalan membelakanginya.

“Assalamualaikum… mi, Dhilla pulang.” ujarku sembari menutup pintu dan berjalan menuju ruang keluarga. Aku terkejut karena di ruang keluarga terdapat keluarga Rizky. Aku terkejut. Sangat. “Eh… kamu sudah pulang. Alhamdulillah nak Rizky kembali bersama keluarganya, memintamu menjadi pendamping hidupnya.” ujar Umi menjelaskan. Aku tak percaya. Aku bahagia, sungguh. Tujuh tahun aku berusaha melupakannya, namun cintaku terhadapnya semakin tumbuh subur. Aku selalu memohon yang terbaik untuk hidupku. Ia Maha Adil, Pengasih, dan Penyayang mengabulka do’ku. Syukur selalu terucap dalam hatiku. “Aku tak akan melepaskanmu lagi. Ini bukan janji Dhill… tapi tekad.” ujar Rizky.

Tiga minggu lagi kami akan melangsungkan pernikahan. Kau tahu… cinta yang sejati pasti mengajak yang halal. Tak kan jauh pergi. Pasrah dan tawakal. Sungguh, ketika kau terluka dan mendekat pada-NYA. Maka, Ia akan menyembuhkan lukamu. Patah hati jangan sampai merusak imanmu. Tapi, jadikan itu sebagai jalan mengokohkan iman dalan hati. Jodoh cerminan diri. Seperti Firman-NYA dalam Q. S an-Nur ayat 26.

Cerpen Karangan: Nur’Aini Hidayatul Fatimah
Blog / Facebook: Aini Fatimah
Panggilan akrab saya Aini.
Saat ini tinggal di Kota Rembang, Jateng.
Duduk di kelas 12 Madrasah Aliyah.
Ini cerpen perdana saya. Terimakasih telah membacanya kritik dan saran silakan hubungi saya lewat akun e-mail atau fb. Terimakasih ^_^

Cerpen Aku Akan Menunggu, Karena Aku Yakin! merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sebuah Nama Sebuah Cerita

Oleh:
“Mas, bisa minta tolong starterin motorku?” Pintaku pada seorang pria tinggi di depanku waktu aku selesai mengisi bensin. Tak biasanya aku meminta bantuan kepada orang lain, apalagi dengan orang

Karena Reuni Mempertemukan Kita

Oleh:
“Na, ntar loe nanya Nicholas, rangkumanku udah di FotoCopy apa belom”, ucapku pada sahabatku, Venna. “Sipp! Ntar aku kasih tau”, jawabnya. “Okay! Byee”, kataku sambil berjalan pergi. Aku keluar

Faith (Part 2)

Oleh:
Setelah aku bangun dari tidur sore aku langsung mandi dan salat maghrib. Setelah aku hampir lupa mau bbm Nadya tapi untungnya saja aku langsung ingat dan menaruh hp-ku lagi

Andai Kau Tahu

Oleh:
“Alisti dan Muaz, kalian sekelompok.” Kata pak Satya sebelum mengakhiri kelasnya hari ini. Aku dan Muaz bertatap sebentar, sampai akhirnya mengulum senyum. Sepertinya kami sama sama senang bisa setim.

For You My Prince (Part 1)

Oleh:
Pernahkah kamu jatuh cinta? Cinta yang bagaimana? Cinta yang terbalaskan atau sebaliknya? Cinta yang terang-terangan atau cinta yang hanya mengagumi dalam diam? Cinta yang diperjuangkan atau hanya sebatas angan?

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *