Aku dan Aku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penyesalan, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 December 2016

Sepulang mabal sekolah di sore hari, aku berdiri di tepi jalan menunggui angkot menjemputku pulang ke rumah. Bagiku sekolah seperti penjara karena tidak memberiku kebebasan dalam berpenampilan, dipaksanya aku untuk menuruti aturan juga memakai pakaian yang sama, rambut yang rapi, menjawab soal ujian yang membuatku selalu merasa menjadi makhluk paling bodoh di planet ini. Ah, mungkin memang seharusnya begitu dalam hal kemanusiaan, untuk membedakan manusia dengan binatang liar yang tak pernah tahu apa itu pendidikan dan sekolah.

Setelah melambaikan tangan kananku angkot pun berhenti. Aku pun masuk dan duduk di pojok paling belakang. Tak kusangka dan tak diduga seorang bidadari telah sedang asyik duduk manis tepat di hadapanku. Ketika menatapnya ingin sekali rasa ini mengajaknya berkenalan, tapi wajahnya yang jutek membuat nyaliku mengkerut. Ciut. Walaupun begitu wajah yang jutek sekali itu tetap cantik dan indah, layak untuk dipandangi berlanjut. Bahkan sampai membuatku merasa penasaran dimanakah gerangan akan hendak turun.

“Kiri, kiri.”
Suaranya yang lembut menyentuh lubuk jiwa ini, maka aku pun ikut turun bersamanya. Setelah dia dan aku membayar angkot, aku berpura pura berjalan dan berhenti di seberang jalan, kulihat dia berjalan masuk gang. Berarti! besok pagi, ketika hendak pergi ke sekolah dia pasti akan menunggu dan naik angkot di jalan yang sama, di jalan ini! Pikirku. Aku pun pulang menaiki angkot yang sama tetapi dengan arah yang sebaliknya karena jalan menuju rumahku sudah terlewati cukup jauh.

“Siapa sih kamu! Dari tadi ngeliatin terus! Baru pertama kali liat gadis cantik naik angkot, yah! Huh!” Itulah bunyi isi hatiku ketika itu, di sore hari sepulang sekolah, saat aku pertama kali bertemu dengannya. Habisnya dia bikin aku risih, dari pertama kali dia naik dan duduk di depanku dalam angkot, dia menatapku seperti orang baru pertama kali melihat bidadari turun dari khayangan. Melongo. Belum pernah melihat gadis cantik yah, huh!

“Kiri, kiri.”
Itulah kata kata yang harus aku katakan jika hendak akan turun dari angkot di Bandung. Sepertinya di Kota lain pun begitu, tapi entahlah itu tidak penting juga bagiku yang masih duduk di kelas dua SMP ini. Ketika aku turun dan hendak membayar, anak laki laki yang sedari tadi menatapku juga ikut turun. Aku sih tidak menaruh curiga sedikit pun, karena wajar saja namanya juga angkutan umum, barangkali memang dia hendak turun di sini, sama sepertiku.
Setelah membayar, aku pun lantas berjalan masuk gang untuk menuju rumahku, karena setelah turun dari angkot aku masih harus berjalan kurang lebih 40 meteran. Ketika sedang asyik berjalan, tiba tiba aku merasa seperti ada yang mengikutiku dari belakang, tapi ketika kutengok ke belakang tak ada apa apa, sepi, hanya ada bayanganku. Aku pun mempercepat langkahku menuju rumah.

BESOKNYA. Pagi sekali aku bangun. Memakai seragam putih biru, dengan menaiki angkot, segera aku menuju dan turun di tempat kemarin sore dia turun. Sesampainya di tepi jalan, kulihat jam tanganku menunjukan pukul lima, “ah, kurasa masih terlalu pagi,” aku pun berjalan mencari sebuah warung untuk membeli air minum dan sebongkah roti. Setelah berjalan sekitar lima belas meter akhirnya aku menemukan sebuah ruko kecil di atas trotoar.
Aku duduk di sebuah kursi panjang dan membaca buku tentang Seni Reak Kuda Lumping sambil memakan roti yang telah kubeli. Karena keenakan membaca buku. Tak terasa, kulihat jam tanganku menunjukan pukul enam lebih sepuluh menit. Aku pun bergegas mengantongi buku yang telah sedang kubaca, kemudian berlari dengan tergesa gesa sambil memanjatkan doa “semoga dia belum berangkat naik angkot,” doaku terkabul, kulihat dia sudah sedang hendak akan menaiki sebuah angkot, maka aku pun menambah kecepatanku berlari.

Hampir saja. Dengan menyeruduk masuk, aku berhasil duduk di sampingnya. Keringatku bercucuran, gerah kurasakan, duduk berdesakan. Beberapa orang menatapku sinis, apalagi dia. Tapi tak apa, mukaku kan tebal, hehe. Tadinya aku mau menghadirkan sebuah puisi untuknya, tapi situasi dan kondisi tidak memungkinkan. Aku pun hanya terdiam dan sekali dua kali aku meniupkan udara ke dada lewat kerah bajuku yang terbuka.

Sudah tiga puluh menit dia duduk di sampingku, semakin dalam perasaanku untuk intens dengannya. “Kiri, kiri.” Suaranya begitu lembut di telingaku. Dia bergegas berdiri dari duduknya, ke luar, dan membayar angkot, begitu pun aku yang mengikuti di belakangnya.

Ketika di gerbang sekolah tiba tiba dia berhenti berjalan dan berbalik ke arahku lalu menyentakku.
“Heh! Dari kemarin sore. Kamu sengaja yah, ngikutin aku?!”
Huh, dia tambah cantik saja kalau sedang marah, berarti kalau begitu dia memperhatikanku sedari kemarin sore, asyiiik, pikirku.
“Enak aja, kalau iya kenapa?! Kamu gak liat nih!” Jawabku, yang sambil menunjukan Bet di lengan kiri seragamku. Dan kulihat wajahnya menjadi merah merekahkan hatiku. Deuh.
Dengan wajah yang merah juga jutek tapi cantik di mataku, dia langsung berjalan ke depan dengan langkah kecilnya yang manja dan cepat. Ketika aku hendak menyusulnya, tiba tiba temanku yang gendut menarik tas gamlokku.
“Mau kemana? Udah ayo nongkrong atau main PS di tempat biasa.”
“Duh, gimana yah? Nantilah sepulang sekolah.”
“Sok, rajin. Udah ayo! Saya yang teraktir” katanya yang sambil merangkul punggungku. Aku mengikut saja, karena rejeki kan tidak boleh ditolak.

BESOKNYA. Pagi sekali aku sudah berada di tepi jalan menunggui angkot. Dari kejauhan kulihat sebuah angkot sedang menuju arahku, ketika semakin dekat aku pun mengangkat dan melambaikan salah satu tanganku, untuk menghentikan laju angkot. Ketika masuk dan hendak duduk, tiba tiba seorang anak laki laki menyeruduk masuk dan duduk di sebelahku, kebetulan angkot waktu itu sedang penuh, jadi berdesakan, sampai sampai kurasakan napasnya yang terengah engah seperti habis berlari dikejar anjing.
“Huh! Masih pagi juga, sudah bikin kerusuhan. Mana keringetan lagi!” bunyi isi hatiku ketika itu. Ternyata anak laki laki itu adalah anak yang membuat aku risih dengan tatapan matanya, waktu kemarin sore di dalam angkot. Asal tahu saja hal tersebut hampir membuatku tak bisa tidur karena terbayang bayang terus tatapan matanya yang tajam ke arahku.

“Kiri, Kiri.” Kataku sesampainya di depan gerbang sekolah. Dalam arti yang sebenarnya, angkot yang kutumpangi memang langsung berhenti di depan gerbang sekolah. Aku terkejut ketika hendak membayar, ternyata anak laki laki itu ikut turun bersamaku, dan mengikutiku berjalan ke gerbang sekolah dan hal tersebut membuatku kesal, aku pun berhenti dan membalikan badanku untuk menyentaknya.
“Heh! Dari kemarin sore. Kamu sengaja yah, ngikutin aku?!” Kataku padanya di gerbang sekolah. Begitulah aku kalau sedang kesal dengan seseorang, terkadang selalu terus terang.
“Enak aja, kalau iya kenapa?! Kamu gak liat nih!” jawabnya, yang sambil menunjukan Bet di lengan kiri seragamnya.
Malu aku jadinya, sungguh malu. Ternyata dia memang satu sekolah denganku, tapi sungguh aku baru pertama kali melihatnya, dari pertama masuk sekolah. Aku pun tak menghiraukannya lagi sambil berjalan agak cepat menuju kelas. Tapi ketika aku menoleh ke belakang kulihat dia bersama seseorang yang tubuhnya lebih besar darinya, mungkin temannya. Mereka berjalan ke arah lain, maksudku meraka berjalan ke luar gerbang, menjauh dari sekitar sekolah. Ah, untuk apa mepedulikannya. Aku pun kepikiran, pantas saja aku tidak pernah melihatnya, sekolahnya saja cuma sampai gerbang.
Tapi walaupun sekolahnya hanya sampai gerbang, dia akan menjadi pacar pertamaku

Ah, rasanya aku tidak akan pernah melupakan kejadian itu. Mungkin dia pun begitu, karena satu minggu kemudian, aku mengikuti lomba membaca puisi di sekolah. Kebetulan, sudah jauh jauh hari aku menulis puisi untuknya. Ketika hari H, puisi puisi yang akan dibacakan untuk lomba ternyata sudah disediakan oleh panitia lomba. Puisi puisi tersebut diantaranya: 3 puisi karya Sapardi Djoko Damono, 3 puisi karya Umar Khayyam, dan 3 puisi karya Chairil Anwar.
Tapi ketika giliranku tiba, aku membacakan puisiku sendiri, walau tidak sesederhana dan serapih, selugas, sebagus mereka. Tapi aku tetap percaya diri, karena semua karya sastra tidak ada yang tidak bagus, hanya selera dan rasa yang menjadikannya demikian.

“Saya akan membacakan sebuah puisi untuk seorang gadis cantik yang seminggu lalu naik angkot bersama saya menuju sekolah di pagi buta”,

“Jadilah Pacarku
Kan kubangunkan pagi untukmu
Agar kau tidak dipatok ayam
Ayam kalap kampung kampang
Angkot berlayar menerjang aspal kota
Begitu manja, mengudara di pagi buta
Bersamamu menuju penjara
Duduk di sampingmu
Jiwaku tandas oleh mesra
Di gerbang sekolah
Kau adalah pacarku”.

Ketika selesai kubacakan, kulihat para panitia dan dewan juri terjadi sesuatu, ah mungkin mereka mencoba merusak mentalku, tetapi mereka bertepuk tangan. Apalagi ketika kutatap ke depan, dia sedang menatapku dan tersenyum simpul.
Puisi Cinta pertamaku, dia.

Aku ingat sekali bagaimana dia menembakku, bagaimana dia memaksaku untuk menjadi pacarnya. Kenapa kubilang dia memaksaku, karena dia menembakku dengan puisinya yang terdengar memaksa, tapi aku suka. Puisinya begitu segar di kepalaku, yang dimana kejadian itu baru seminggu berlalu. Maksudku kejadian yang waktu di gerbang sekolah, soalnya aku malu menuduhnya mengikutiku padahal dia memang satu sekolah denganku.
Ketika dia membaca puisinya yang berjudul “Jadilah Pacarku” para panitia sempat menyuruhnya berhenti, tapi para dewan juri sebaliknya mereka malah mengapresiasi dengan memberikannya kesempatan untuk menyelesaikan puisinya itu, lalu kemudian mereka bertepuk tangan, begitupun para penoton yang menyaksikan.
Hahaha. Aku selalu tertawa sendiri kalau mengingat hal itu. Soalnya seenaknya saja mengatakan agar kau tidak dipatok ayam memangnya aku ini apa?! Setelah dia membacakan puisi itu dia menatapku, karena kebetulan ketika menontonnya aku berada di barisan paling depan, soalnya aku suka sekali melihat dan mendengarkan orang yang membacakan puisi, karena itu adalah hal yang tidak bisa aku lakukan. Maksudku bukan tidak bisa, tapi aku tidak punya keberanian untuk ditonton banyak orang, karena aku tipe orang yang sedikit pemalu.
Ketika dia menatapku, seperti yang aku bilang, kalau dia memiliki tatapan mata yang tajam dan seolah olah seperti sebuah sinyal padaku untuk menemuinya di belakang panggung. Dan entah kenapa kakiku terasa ringan sekali ketika melangkah untuk menemuinya.

Kulihat dia sedang mengobrol entah dengan siapa, yang jelas itu bukan temannya karena postur tubuhnya yang besar dan tinggi, juga tidak memakai seragam. Ternyata setelah kudengar kabar burung terbang bebas menebas cakrawala, itu adalah seorang jurnalis yang ingin menerbitkan puisinya di salah satu koran harian. Ah, tapi itu tidak terlalu penting, yang terpenting adalah ketika dia melihatku dan tersenyum sampai membuatku tersipu malu, dia mendatangiku setelah bersalaman dengan jurnalis itu.

“Kamu mau enggak sama puisiku tadi?” Tanyanya padaku sambil cengengesan.
“Maksudnya? Kamu jadikan aku objek ketika menulis puisi itu?” Jawabku yang keheranan, karena dia tuh gitu orangnya gampang gampang susah dimengerti, aneh.
“Hehe, maksudku, kamu itu sudah jadi pacarku sejak di pintu gerbang sekolah. Karena Tuhan yang memberikan izin. Masa, kita, manusia makhluk ciptaan Tuhan, mau menentang kehendak-Nya?”
“Iiih, kamu tuh yah! Nama saja aku gak tau. Masa udah dipaksa buat jadi pacar!” jawabku ketus yang sambil mencubit tangannya. Sejak itu aku selalu mencubit tangannya, kalau aku sedang kesal, atau mengacak ngacak rambutnya yang tidak pernah disisir itu.
“Aw! Bukannya wanita suka dipaksa paksa buat dijodohkan sama pilihan orangtuanya? Jangan jangan kamu udah dijodohkan lagi sama orangtuamu?!”
“Iiih, enak aja! Harusnya perkenalan dulu. siapa namamu, gitu.” Kataku yang sambil mengulurkan tangan kanan dan grogi mulai kurasakan.
“Asyiiik. Itu tandanya berarti kamu memang mau jadi pacarku. Ah, nanti juga kamu tahu.” Jawabnya sambil menjabat tanganku erat.
Sejak itu aku dan dia benar benar resmi pacaran. Jadi jangan dengarkan omongannya, kalau dia bilang aku adalah pacarnya sejak kejadian di gerbang sekolah pagi lalu.

Pokoknya aku tidak mau tahu! Yang jelas sejak di gerbang sekolah pagi itu, dia sudah jadi pacarku. Tidak ada yang bisa menentang kehendak Tuhan. Karena kalau bukan kehendak-Nya, aku dan dia pasti tidak akan pernah dipertemukan. Kan perkenalannya waktu sore sore di dalam angkot, pedekatenya waktu di dalam angkot juga pagi pagi, yang selama tiga puluh menit duduk rapat di sampingku erat, waktu itu.
Entah ada apa dengan diriku, sejak aku pacaran dengannya. Aku jadi rajin masuk sekolah. Tidak seperti biasanya, yang hanya sampai gerbang sekolah lalu balik lagi untuk mampir main PS di warung kecil belakang sekolah. Selain itu, semua hal hal yang katakanlah “negatif” sedikit demi sedikit menuju positif karena permintaannya. Karena dia tidak suka kalau sampai aku bolos sekolah, malak, berkelahi, kongkow kongkow di sekitaran sekolah sehabis bubaran sekolah, atau merok*k.
Aku akui aku pernah merok*k tapi itu hanya mencoba tidak lebih dan sampai batuk batuk. Aku sudah bilang padanya kalau aku tidak merok*k seperti teman temanku, yang mungkin lebih baik pulang jalan kaki sambil merok*k daripada uangnya dipake ongkos buat naik angkot. Dan satu hal aku juga tahu kalau merok*k itu berbahaya untuk kesehatan, bahkan bisa sampai membunuhmu bukan membunuhku.

Sudah satu tahun aku pacaran dengannya dan aku merasa senang sekali karena dia selalu nurut dengan apa yang aku katakan atau yang aku minta atau yang aku mau, seperti jangan lagi mabal atau bolos sekolah, jangan berkelahi atau jangan malakin orang lagi, jangan sampai enggak ngerjain PR, dan lainnya. Pokoknya banyak deh. Dan yang paling penting adalah dia tidak boleh merok*k karena aku enggak suka. Aku sih percaya gak percaya sama dia waktu bilang kalau dia memang pernah merok*k tapi “cuman nyobain aja” sampai batuk batuk, kesananya enggak coba coba lagi. Bahaya katanya, bisa sampai membunuhmu bukan membunuhku.

Memang sih gak ada salahnya kalau cuman nyoba, tapi lebih bagus tidak sama sekali, soalnyakan rok*k memiliki endorphin atau efek ketagihan, kan bahaya. Belum lagi rok*k mengandung banyak senyawa kimia yang berbahaya. Tapi dia pernah bilang gini “BEKERJA merupakan pembunuh yang lebih besar daripada minum minum, nark*ba, dan merok*k, sekitar dua juta orang meninggal setiap tahun karena berbagai kecelakaan dan penyakit yang berhubungan dengan bekerja. Dan di seluruh Dunia, pekerjaan yang paling berbahaya adalah dalam bidang pertanian, pertambangan, dan konstruksi. Malahan, katanya dia pernah baca di salah satu majalah, mengatakan, Menurut Biro Statistik Pekerja Amerika Serikat, pada tahun 2000, 5.915 orang meninggal saat bekerja -termasuk mereka yang mengalami serangan jantung di tempat kerja.” Gitu katanya, aku sih percaya gak percaya sama omongannya itu soalnya itu kan kejadiannya di Amerika, tapi dia orangnya emang suka baca buku apalagi kalo menyangkut dengan karya sastra seperti prosa, pusi, novel, dan lainnya juga seperti berita di koran atau majalah dan sejenisnya. Kalau aku sih suka gak suka sama membaca, soalnya aku sukanya baca buku yang aku suka kalau gak suka gak akan aku baca, gak kaya dia.

Selama satu tahun berlalu. Aku mulai merasakan ada yang hilang dalam diriku tapi aku tak tahu apa, yang jelas rasanya aku asing sekali pada diriku sendiri. Dan begitupun kata teman temanku, “kini kau beda. Enggak seperti biasanya,” aku menjawab setiap temanku yang berkata demikian dengan bercanda, “iya beda lah, embe sama kuda mah, walaupun sama sama makan rumput,” kami pun tertawa kecil bersama. Tapi aku merasa perkataan teman temanku memang benar, mungkin ini karena aku terlalu serius menanggapi setiap keinginannya.

Sejak itu sedikit demi sedikit aku mulai kembali melakukan hal hal yang tidak disukainya. Sehabis pulang sekolah aku mulai kongkow kongkow lagi di depan sekolah atau di warung kecil belakang sekolah main PS bersama teman teman. Aku juga mulai bolos sekolah lagi, kalau yang ini aku punya alasan tersendiri, kenapa aku sampai bolos sekolah!

Entah kenapa setelah satu tahun berlalu dia tiba tiba berubah, dia jadi sedikit cuek dengan apa yang aku katakan, dia juga mulai nongkrong nongkrong lagi setiap pulang sekolah dan hal itu membuatku selalu mencubitnya dan memaksanya untuk cepat pulang, sampai sampai aku jadi lebih sering menggandengnya karena aku merasa setiap aku menggandengnya dia tidak pernah membuat alasan atau melawan dan sebagainya, pokoknya dia langsung nurut dengan apa yang aku katakan, hehe.

Sampai pada hari itu aku benar benar kesal padanya karena kudengar kabar dari teman sekelasnya kalau dia tidak masuk sekolah, sakit, katanya. Aku pun mendatangi rumahnya sepulang sekolah dan ketika sampai di rumahnya hanya ada kakaknya yang mengatakan kalau dia tidak ada di rumah atau belum pulang dari sekolah dan kakaknya juga bilang “enggak gak sakit, malahan dia pergi ke sekolah dengan penuh semangat kaya yang mau ketemu sama seorang bidadari.” Aku tersenyum malu ketika mendengar perkataan terakhir kakanya itu hehe, tapi aku benar benar merasa sangat kesal padanya.
Dia telah membohongiku dengan melanggar janjinya sendiri. Ketika itu dia bilang tidak akan pernah mabal atau bolos sekolah, dia akan rajin pergi ke sekolah, janji, katanya padaku. Tapi kenyataannya ketika aku pamit untuk pulang kepada kakaknya tiba tiba dia muncul dengan masih memakai seragam sekolah. ketika dia melihatku dia langsung membalikan tubuhnya ke belakang dengan asap yang mengepul. “hah, kok ada asap mengepul?” Pikirku, ketika itu. Dan aku, aku langsung berlari sekuat tenaga dengan tangis yang deras mengalir membasahi perjalananku pulang menuju rumah. Betapa hancurnya hati dan jiwaku.

Lima tahun lalu. Sempat aku berkhayal; Kurasa hujan ini takkan pernah reda, akan terus turun membasahi pipiku dalam kamar yang gelap dengan pintu yang terkunci dan terus diketuk oleh Ibuku.
“Nak, sudah sudah, tadi temenmu kesini mau minta maaf.”
“Iya, bu. Aku juga denger, tapi akunya masih kesel, ibu tahu kan gimana rasanya dibohongin.”
“Ya sudah, tenangin dulu yah. Mungkin, dia juga punya alesan kenapa sampai bolos sekolah atau berbohong sama kamu, udah kamu tanya?”
Aku tak menjawaab pertanyaan ibu. Karena terlintas di kepalaku rasanya aku sudah terlalu posesif padanya. Aku pun hanya terdiam, dan benar juga, kenapa tidak aku tanyakan terlebih dulu! Bodohnya aku yang terlalu terbawa emosi. “Maafkan aku,” kata hatiku.

Besoknya. aku menemuinya ketika jam istirahat di kantin sekolah.
“Maappin aku yah” kataku yang sambil mendekatinya yang sedang makan bakso.
“Eh, kok, harusnya aku yang minta maap udah ingkar janji plus bohongin kamu” katanya yang sambil meletakkan mangkok bakso di pinggirnya dan memegang tanganku.
“Iya, maappin aku juga yah. enggak tanyain kamu dulu, soal kenapa kamu gak masuk sekolah. Aku tahu kamu pasti punya alasan soal itu!”
“Nah, iya. Jadi kemarin itu aku diajakin, kamu tahu kan temenku yang gendut? (aku mengangguk) nah dia minta aku buat bantuin ayahnya ngisi acara sunatan”
“Maksudnya? Sunatan gimana aku gak ngerti?” jawabku bingung. Dia tuh gitu suka bikin aku bingung.
“Nah, jadi gini aku jelasin yah, kemarin tetangganya temanku itu disunat, terus orang yang biasa main gamelan gak ada, sakit, kebetulan aku bisa main gamelan jadi aku diminta buat bantuin gantiin gitu. Kamu tahu kan Seni Reak Kuda Lumping?”
“Enggak?” kataku yang sambil geleng geleng kepala. Dia pun menarikku untuk duduk di sampingnya di sebuah kursi panjang dan memintaku untuk menyuapinya yang sambil menjelaskan apa itu Seni Reak Kuda Lumping.

“Seni Reak adalah satu kesenian yang muncul di Desa Cinunuk Kecamatan Cileunyi yang dalam pelaksanaannya kesenian ini mempunyai fungsi sebagai sarana upacara, hiburan, juga pertunjukan. Seni Reak ini terdiri dari serangkaian kesenian yang bersifat magis dan terangkum dalam upacara tradisional yang disebut Seni Reak Kuda Lumping. Pada saat sekarang ini kesenian ini selain dipergunakan untuk kegiatan adat juga dapat dipergunakan sebagai hiburan di upacara khitanan. Dalam perkembangannya tidak banyak perubahan dari segi pelaksanaannya dari mulai kemunculan hingga sekarang ini, hanya fungsi pementasannya saja yang mengalami perkembangan. Ini disebabkan peran pendukungnya yang menjadikan kesenian ini dapat bertahan dan dapat melestarikannya. Peran serta masyarakat, lingkungan, dan pemerintah setempat merupakan pendorong utama bertahannya keberadaan kesenian ini, selain unsur keunikan dan daya tarik yang diberikan pada penyajiannya yang menjadi pendorong utama bertahannya kesenian ini…”

Tak terasa bel pulang sekolah sudah berbunyi, aku dan dia tidak masuk kelas kami terus mengobrol dan bercanda di kantin. Itu sungguh pengalaman yang takkan pernah kulupakan. Sampai ketika kami lulus dan melanjutkan ke SMA, kami bersekolah di tempat yang berbeda. Sejak itu aku dan dia lost contact, bahkan sampai saat ini aku belum pernah bertemu lagi dengannya.

Satu hal yang paling aku ingat dari perkataannya mengenai Seni Reak Kuda Lumping “kalau dalam pertunjukan Seni Reak Kuda Lumping itu tidak ada pemain wanitanya, ini dikarenakan bentuk pertunjukan memperlihatkan kekuatan dan di luar alam sadar dalam melakukan geraknya. Ini disebabkan masyarakat Desa Cinunuk mempunyai keyakinan, kalau dilakukan oleh wanita, maka kesenian itu bukan lagi kesenian yang dianggap keramat, dan kalau saja wanita yang melakukan permainan kesenian ini berarti sudah melanggar etika dan norma-norma. Dengan demikian pertunjukan ini hanya diperbolehkan bagi kaum laki-laki saja.”
Aku hanya bisa berkhayal seperti itu, tak lebih. Terimakasih Banyak yaaah… Semoga engkau sehat selalu, bahagia, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama pada pasanganmu lagi…

Lima tahun lalu. Sewaktu aku melewatkanmu karena aku kecewa pada diriku sendiri yang telah berbohong, ingkar janji, dan tak mencarimu sepenuh hati untuk meminta maaf. Ketika sore itu, aku berkhayal; Sepulang dari bolos sekolah kudatangi rumahmu. Namun, mungkin kau sedang tidak ada di rumah. Entah mungkin kau belum pulang dari sekolah, hanya untuk sekedar main sebentar bersama teman temanmu. Dan ibumu. Hanya ibumu yang menjawab salamku dan membukakan pintu untukku.
“Mau ke siapa, yah?”
Entah apa yang membuatku tak mampu menjawab pertanyaan ibumu. Tiba tiba aku terdiam mematung, tubuhku kaku, mulutku kelu, kurasa waktu yang menginginkan aku begitu. Selama satu menit lebih aku terdiam di depan ibumu, yang tiba tiba menyuruhku masuk. Aku pun masuk begitu saja, dengan mengucapkan salam. Ibumu yang menjawab salamku sambil lalu menyuruhku duduk di sebuah kursi di ruang tamu. Namun, aku yang lesu berfikiran, tujuanku ke rumahmu bukan untuk mengobrol dengan ibumu, tetapi untuk menemuimu.
“Cari siapa, Nak? Sudah makan belum?”
Pertanyaan ibunya terasa janggal, tapi aku yang lesu tidak terlalu memikirkannya, mungkin karena aku terlalu fokus padamu.
“Saya…, sudah, sudah makan bu. Saya kesini ingin meminta maaf sama anak gadis Ibu. Saya benar benar tak bermaksud begitu, sungguh. Saya, hanya…” Aku bercerita panjang lebar dengan tangis tak tertahan. Air mata itu benar benar mengalir lembut begitu saja dari kedua mataku.
“Lalu apa yang bisa Ibu bantu dan lakukan, Nak?”
Pertanyaan itu sungguh membuatku terdiam. Diam yang sangat panjang. Dalam diam pikiranku terbang melayang pada dirimu. Yang entah dimana dan sedang apa disana, bersama siapa saja yang kau kenal. Teman. Yah, teman temanmu. Tiba tiba ide itu terlintas di benakku. Aku akan menyambangi satu persatu teman temanmu. Dan akan kusampaikan pesanku untukmu pada setiap teman temanmu, kalau aku ingin bertemu dan meminta maaf padamu.

Aku pun pulang dengan penuh kehampaan dari rumahmu, dengan berpamitan pada ibumu yang baik dan ramah, mengusap rambut dan punggungku. “maafkan saya” batinku. Seandainya kau rasakan kesakitan ini. Tapi untuk apa? Kurasa sakit yang kau rasakan melebihi yang kurasakan, ketika kulakukan kesalahan itu padamu. Semoga kau memaafkanku, kelak. Suatu hari nanti ingin sekali aku dipertemukan lagi. Untuk menebus semua kesalahanku. “Maafkan saya,” batinku. Aku berjalan dengan menundukan kepala dan mata air terjun bersalah terus mengalir lembut membasahi pipiku. “Maafkan saya, yang cengeng” batinku.

Pantas saja setiap perkataan dan pertanyaan ibumu terasa janggal ternyata kau telah memberitahu ibumu tentangku sebelumnya. Semoga kau yang sedang berada di dalam kamar entah sedang menangis atau tidak, kesal atau tidak, mendengar setiap perkataan maafku padamu, lewat ceritaku pada ibumu. “Maafkan saya” batinku. Memang, sepertinya maaf saja takkan cukup, untuk menebus setiap kesalahanku padamu.

Ah, mungkin aku hanya bisa berkhayal seperti itu. Hujan ini adalah khayalan yang takkan pernah reda dan takkan pernah aku lupakan, dan semoga dia pun berkhayal tentangku. Doaku hanya satu untuknya, “semoga engkau sehat selalu dan bahagia di sana, juga ciptakan mimpi menjadi nyata, dan selalu bersinar dengan pasangan yang setia abadi.

Cerpen Karangan: Fajar Sidik
Facebook: fajarwbhdeath[-at-]rocketmail.com

Cerpen Aku dan Aku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kejutan Ulang Tahun Yang Ke 17

Oleh:
Pagi itu bel masuk berbunyi anak-anak berlari memasuki kelas masing-masing. Aku duduk berdua dengan Ayu temanku sejak kelas 1 SMA. “PR-mu udah cin?” “udah dong” “Aku pinjem dong, lihat

Cukup Sampai Di Sini

Oleh:
Entah kapan aku akan bebas, ketika dulu kau tak mau bersaksi di pengadilan untuk kesalahan yang kau buat sendiri aku tak menyalahkan kau jikalau kau datang ke pengadilan waktu

Kekecewaanku

Oleh:
Aku mengenalnya sejak aku masuk sekolah di SMK swasta di daerah Purwokerto. Aku masih hafal betul ketika aku pertama bertemu dengannya. Ya sebut saja dia Anissa. Ketika itu Anissa

Need More Chance

Oleh:
Kubenahi letak kaca mata hitam yang menutupi sebagian wajahku. Banyaknya orang yang menegur, seperti sebuah dengungan yang sama sekali tak ingin kutanggapi. Retina mataku hanya terfokus pada satu titik.

Inikah Rasanya Cinta

Oleh:
“Pasti bahagia bukan kalau punya cowok atau cewek yang kita sayang. Rasanya.. yah pokoknya seperti orang paling beruntung di dunia.” Ucapku dalam batin seraya memperhatikan sepasang kekasih berseragam putih

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *