Aku dan Dia (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 11 November 2016

Rasanya masih terasa hangat sapaan-sapaan manis dari bibirmu kemarin, rayuan yang mampu membuat diri ini meleleh seketika saat kau bilang “i love u” untuk pertama kalinya padaku. Disaat itu, kamu tengah sibuk dengan acara besar di sekolah kita. Disaat itu pula kamu mulai mendekatiku dan mengajakku berbicara juga bercerita tentang banyak hal, mungkin saking keseringannya kita melakukan hal tersebut tiba-tiba aku merasa sesuatu yang baru. kenyamanan, kepercayaan dan saling menghargai satu sama lain, itulah sesuatu yang baru yang aku rasa.

“aku ingin lebih mengenalmu lebih dalam…”, masih teringat kata-kata itu disaat kita asyik bercerita lewat chat media sosial. Aku yang sebelumnya tidak mengerti apa maksud dari kata-kata itu hanya bertanya-tanya pada hati sepi ini “jangan terlalu merasa kalau ini bertanda dia menyukaimu, bisa saja dia hanya ingin menjadi sahabatmu yang lebih mengenal secara dalam…” gumamku. Hingga akhirnya aku tarik kesimpulan dan langsung membalas chatmu yang sedikit aneh ini “apa kau ingin menjadi sahabatku? Ok, aku terima itu…”.

Setelah semalamn kemarin kau tak membalas lagi balasan chat dariku, kau terlihat gelisah dan kacau. “apa yang terjadi?” tanyaku. “tolong temani aku, aku butuh penyemangat yang selalu ada ketika aku merasa sendiri…” jawabnya. Entah apa maksud dari kata “penyemangat” tersebut, ini adalah kata kedua setelah kata semalam tadi yang aneh. “aku akan selalu menjadi penyemangatmu, kau sudah tahu kan? Aku ini sahabatmu, partner kerjamu yang selalu siap membantu dan menemanimu!” ucapku dengan mata lurus memandang wajahnya yang terlihat takut kehilangan. Memang, akhir-akhir ini kata orang-orang dia terlihat aneh dari biasanya terhadapku. Tapi entahlah, aku merasa dia biasa-biasa saja. Sama saja seperti saat pertama kali aku bertemu, berbicara dan bercerita dengannya.

Aku dan dia pertama kali dipertemukan dalam sebuah organisasi yang bisa dibilang banyak peminatnya, tahun ajaran ini adalah dimana saatnya kami mengemban amanah jabatan yang diberi dari pejabat-pejabat sebelumnya. Kebetulan jabatan aku dan dia kurang lebih sama, hanya ada beberapa perbedaan yang tidak terlalu signifikan. Pertama kali aku berbicara padanya ialah saat dimana aku menanyakan sebuah materi yang kurang aku pahami, lalu dia menjelaskannya secara detail namun terlihat sedikit kaku. Wajar, itu adalah pertama kalinya aku bekerjasama dengannya. untuk hari-hari selanjutnya aku masih bertanya-tanya seputar materi yang harus disampaikan, aku memang tidak terlalu mahir dalam jabatan ini dan hasilnya aku bekerja dengan banyak meminta bantuan. Mungkin dari sinilah kedekatan kami terasa, didukung pula dengan rasa nyaman karena sering bertemu yang mulai mengalahkan kekakuan di antara kami.

Setiap hari dia memberi materi kepada 18 anggota pasukannya, tanpa melihat cuaca yang terjadi saat itu. Entah panas? Hujan? Atau mentari berawan. Yang pasti dia tetap menjalankan tugas jabatannya supaya menghasilkan penampilan yang bagus dan sempurna. Tiap jam istirahat atau jam pulang dia sering menghampiriku yang sedang menunggunya, lalu menceritakan apa yang terjadi hari ini dalam kesehariannya. Dimulai dari kekonyolan 18 anggota pasukannya, rasa lelah ketika menjalankan tugasnya, kondisi keluarganya, pusing dengan tugas kelasnya yang mulai menumpuk dan hal-hal kecil lainnya. Tak semua dia ceritakan padaku, ada beberapa kejadian yang dia rahasiakan padaku dan mungkin hanya dia yang tahu. Rutinitas berdongeng ini mulai kita lakoni saat pertama kali aku banyak bertanya padanya dan aku tak tahu sampai kapan ini akan terus berlangsung. Entah mungkin sampai aku lengser dari jabatanku, ataukah lebih cepat dari itu? Atau bisa jadi lebih lama dari waktu itu? Entahlah, yang pasti saat itu kami menikmati hari-hari dengan tambahan rutinitas itu.

Dua bulan berlalu, kamu semakin mendekatiku dan terasa lebih dekat daripada seorang sahabat. Hingga suatu malam kamu mengatakan kata “i loveu” untuk pertama kalinya padaku, entah apa yang harus aku jawab. Jika aku mengatakan iya, aku takut kamu berubah dan tidak menjadi seperti biasanya. Tetapi jika aku mengatakan tidak, hal begitupun bisa terjadi. Jika kau tahu saat itu apa yang kurasakan terhadap sebuah kata darimu itu. Aku bingung! Memang aku nyaman denganmu, mungkin bisa dibilang aku juga sayang terhadapmu. Tapi aku takut, jika suatu saat nanti kamu berubah dan aku kehilangan kamu. Hingga akhirnya aku menjawab kata darimu itu hanya dengan sebuah kalimat “kita sahabatan saja…”.

Tapi seakan-akan kau sangat menginginkan status itu, status lebih dari sahabat. Kurang lebih tiga kali kamu menyatakan kata itu dan berulang kali juga aku menjawab hal yang sama, dan saat itu pula kau mulai berubah menjadi apa yang aku takutkan sebelumnya. Kau mampu membuatku merasa rindu ketika kau tak memberi kabar kepadaku, tak bercerita tentang apa yang terjadi dalam keseharianmu, kamu menghilangkan rutinitas tambahan yang aku sukai itu.
Hingga untuk terakhir kalinya kamu menyatakan kata itu lagi, dan terakhir kali juga aku menjawab hal yang sama. Mungkin itu seharusnya yang aku lakukan dari awal, tapi aku tak sanggup menahan rasa rindu ini pada rutinitas itu. Hingga akhirnya aku memilih untuk menjawab “iya” dan apa yang terjadi? Akhirnya kamu kembali seperti dulu, menjadi seseorang yang baru aku kenali lagi. Rasanya bahagia sekali aku merasakan itu, melihat kamu senang dan menjadi dirimu kembali.

Akhirnya rutinitas itu kembali berlaku dalam kehidupanku, menceritakan lagi tentang segala hal tentang dirimu. Namun kali ini berbeda, aku bisa mendengarkan ocehan lelahmu, teriakan kesedihanmu dan kekesalanmu, juga saat bahagiamu dengan waktu yang lebih lama dari sebelumnya. Mulai saat itu pula, banyak waktu yang aku habiskan untuk melihat wajahmu dan menggenggam tangan hangatmu. Saat itu pula, kebahagiaan selalu ada di sekeliling kita. Sungguh aku bahagia ketika kamu selalu ada untukku, menemaniku dan tertawa bersamaku. Awalnya memang sulit untuk membiasakan kebiasaan baru ini dan aku mulai belajar untuk menghilangkan sikap cuek dan bertingkah seperti bocah ini yang amat sulit dihilangkan, juga dengan semampuku untuk bisa menyayangimu melebihi dari persahabatan. Aku selalu mencoba itu.

Tiga bulan berlalu, rutinitas itu masih berlaku dalam hubungan antara kita. Masih dengan rutinitas yang sama yaitu menceritakan hal-hal kecil, selama ini kamu tidak pernah memarahiku secara langsung. Yang aku tahu, kalau kamu marah pasti yang kamu lakukan hanya diam tak berucap meski aku mengajakmu tertawa dengan cerita-cerita konyolku. Lambat laun kamu mulai mengenalku lebih dalam dan juga sebaliknya, hingga pada saat memasuki bulan ke empat aku merasa kamu berbeda. Dan itu berlangsung hingga bulan kelima.

“maafkan aku jika kehadiranku memberimu beban dalam kehidupanmu. Aku menyesal banyak marah terhadapmu karena alasan kamu tiba-tiba hilang tanpa kabar…” ucapku, namun saat pertemuan singkat itu kamu hanya terdiam tak merespon pernyataanku. Apa yang terjadi? Apa kamu bosan denganku? Atau ada yang lebih mampu membuatmu nyaman dibandingkan aku? Atau karena apa? Tolong jawab pertanyaan hatiku yang ketakutan ini! Tapi kau tetap diam, tak berucap. Hanya tatapan kosong yang kudapat darimu, hingga dengan berat hati aku meninggalkanmu dalam pertemuan itu dan menyimpan rasa amarah ini padamu.

Cerpen Karangan: Ajeung Nur Fauziah
Facebook: Ajeung Nur Fauziah

Cerpen Aku dan Dia (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dari Balik Jendela Kelas

Oleh:
“Teng… teng… teng…” Jam istirahat sudah berbunyi, pelajaran matematika kali ini ditutup dengan pr yang diberikan oleh guru. Kami menarik nafas lega. Akhirnya bisa santai setelah tegang pelajaran tadi.

Penantian

Oleh:
Terik matahari seakan seakan memercikan sinar apinya ke sudut kamarku, ku tersadar dari tidur panjangku semalam yang menyisakan mimpi sejuta impian. Aku bergegas mengambil handuk yang tergantung di sudut

Endless Love With IBU

Oleh:
Setiap orangtua punya caranya masing-masing untuk menyayangi anaknya. Mungkin kadang anak merasa tak adil dengan yang diberikan orangtua, namun itulah caranya. Aku mempunyai orangtua yang entah tak tau apakah

Not Goodbye (Part 1)

Oleh:
Brukkkkkk… Suara hantaman keras berasal dari atap rumah Dera. Semua orang buru-buru keluar dan melihat apa yang terjadi. “Ma itu suara apa sih? Ganggu tidur Dera ajah!” ucapnya sembari

Asal Kalian Bahagia

Oleh:
DRRTT.. DRRTT… Suara hand phoneku bergetar beberapa kali. Pertanda ada satu pesan singkat yang masuk. Dari nomor tak dikenal, siapa yah? Padahal, dari awal aku punya handphone, aku tak

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *