Aku dan Ilalang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 10 June 2013

Sabtu, 19 Januari 2013
Mulai hari ini, komitmen itu harus ada. Aku harus bisa melupakan dia untuk sekarang atau bahkan mungkin untuk selamanya. Mungkin jalan yang aku pilih ini adalah salah. Aku telah salah dalam menaruh hati dan perasaan padanya. Dan sekarang, aku harus benar-benar tahu bahwa apa yang aku lakukan itu tidaklah benar. Aku harus sadar akan semua itu. Mungkin untuk selama ini aku salah dalam menganggap. Selama ini, aku salah dalam menilai dan tanpa ku sadari aku sendiri terjebak dengan perasaan ku pada nya. Aku tidak tahu bagaimana harus mengelola semua perasaan ini. Aku tidak tahu bagaimana harus menghalau semua rasa yang sudah ada dan menyelusup dalam relung hati yang mendalam. Semua menjadi ada dan hadir tanpa aku sadari. Bahkan semua serba terlanjur. Ini sudah hampir setengah tahun aku berhubungan dengannya. Dan selama itu aku selalu berinteraksi terus dengannya, tanpa terlewati sekian detik sekalipun.

Hal inilah yang sulit untuk aku kendalikan. Ketika aku sudah berniat untuk tidak menghubunginya, pasti dia selalu yang menghubungi aku, dan itu yang justru membuat aku semakin dekat dengannya. Sebenarnya aku sudah berusaha dan selalu membuat komitment untuk tidak berhubungan lagi dengan nya setiap hari, tetapi dia sendiri yang memulai dan aku tidak bisa menghalau semua itu. Entah mengapa aku merasa nyaman untuk selalu bersamanya. Dulu di awal aku menganggapnya sebagai teman, hanya sebatas itu dan tak pernah lebih. Namun lama kelamaan rasa itu telah berubah, rasa itu telah berubah menjadi sebuah perasaan yang memang aku sendiri tak tahu apa namanya. Sebuah rasa yang dulu tak pernah ada, namun kini ada dan merusak segalanya. Aku bingung. Dilain sisi aku sangat mengharapkan dia sebagai teman cerita yang aku sendiri tak pernah menemukan itu pada orang lain, mengharapkan dia sebagai sahabat yang bisa mengerti aku, tapi kenapa rasa ini semakin berlebih dan mengharapkan dia untuk yang lebih.

Aku tak mau itu terjadi. Aku tak ingin aku merasakan semua itu. Dan aku sangat ingin menghalaunya jauh dari pikiranku, sekarang dan selamanya. Jauh dan sangat jauh sekali, hingga aku tak akan mampu lagi untuk menemukannya.
Tuhan, sampai kapan kah semua ini akan ada? Akankah ini terus berlanjut, sementara aku sendiri sudah tidak sanggup lagi dengan keadaan yang semakin menyiksa ini?

Rabu, 23 Januari 2013
Hari ini aku belajar untuk memahami. Ya, memahami dia yang aku rasa masih belum bisa melupakan masa lalunya dengan orang yang dulu pernah dekat dengannya. Entah mengapa ada sedikit rasa sakit yang tiba-tiba menyusup dalam relung hatiku yang mendalam tentang dia dan orang itu. Tuhan, apakah ini yang di namakan dengan cemburu? Ya, mungkin, inilah yang namanya cemburu, sebuah rasa tidak suka yang hadir secara tiba-tiba dan sulit untuk aku cerna. Dan kini, aku merasakannya.

Aku merasakan apa yang dinamakan dengan cemburu. Saat dia cerita tentang orang itu, atau mungkin sekarang kembali dekat dengannya, entah mengapa aku merasa ketidaksukaan menyelimutiku tiba-tiba. Hatiku terasa kian sakit saat melihat kenyataan itu. Namun entah mengapa, aku tak pernah mau mengakuinya. Ya, aku selalu berusaha menepis semua itu dengan berbaik sangka padanya. Tetapi, entah mengapa, lama kelamaan, aku merasakan sakit sendiri. Sakit itu benar-benar menguasaiku tanpa terkendali. Terkadang aku berfikir bahwa aku telah salah meletakan harapanku padanya. Aku merasa dia belum bisa mengambil keputusan yang tepat. Dia menginginkan aku dekat dengannya, tapi dia sendiri belum bisa melupakan masa lalunya. Bukankah ini tidak adil bagiku?

Mungkin perasaan yang aku rasakan saat ini sama seperti halnya dengan ilalang. Ya, aku menyamakan perasaanku dengan tanaman itu. Tentu semua tahu bagaimana itu ilalang. Ia adalah tanaman yang tumbuh tanpa diharapkan. Dan tidak seharusnya aku membiarkan ilalang ini tumbuh dengan subur dalam hatiku. Tidak seharusnya aku memberikan pupuk dan air untuk membuatnya tetap bertahan di sini. Tidak seharusnya aku menumbuhkembangkan ilalang ini yang aku sendiri tahu, bahwa ia akan tumbuh dengan subur dan merusak ekosistem kehidupanku. Dan tidak seharusnya aku justru berpangku tangan untuk membiarkan semua ini terjadi. Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Semua serba rumit. Aku terjebak dengan ilalang-ilalang yang kini sudah semakin meninggi. Bahkan setiap aku pangkas ilalang itu, selalu saja tumbuh tanpa aku sadari. Dan lihat lah, ia semakin menguasai halaman hati ku yang sedang kosong.

Rasanya sulit bagiku menepis ilalang yang tumbuh di antara aku dan dia. Sulit bagiku untuk memangkas ilalang itu. Aku merasa ia tumbuh dengan sudah mengakar di sini, di dalam hatiku. Dan entah sampai kapan semua ini akan berlanjut, aku tidak tahu. Mungkinkah ilalang itu akan berubah menjadi tanaman yang bermaslahat? Atau justru menjadi tanaman yang tak bermanfaat dan merusak segala yang ada? Aku tak tahu itu …

Minggu, 27 Januari 2013
Kali ini aku benar-benar merasa yakin bahwa apa yang aku rasakan ini adalah salah. Ya, salah dan sangat fatal. Ini kembali berbicara tentang aku dan ilalang. Tidak seharusnya aku menumbuhkembangkan ilalang itu lagi. Dan tidak seharusnya aku melakukan tindakan bodoh yang benar-benar menjatuhkan aku sekarang. Sejak awal, sebenarnya aku sudah tahu bahwa semua ini akan terjadi, bahwa penyesalan ini akan ada dan muncul dari dalam hati yang mendalam. Melukai dan memberikan bekas yang tak bisa dihapuskan bahkan dihilangkan, di sini, di dalam hatiku. Namun, entah mengapa aku selalu acuh terhadap hal itu. Aku juga selalu tak pernah peduli dengan semua yang terjadi. Bahkan aku berusaha menepisnya mentah-mentah. Dan kau tahu alasan apa yang membuat aku melakukan semua itu? Jawabannaya sangat simpel. Bahkan mungkin kau pun tahu akan hal itu. Satu kata yang bisa aku jadikan jawaban. Aku telah jatuh cinta kepadanya. Dan ilalang itulah buktinya. Suatu bukti nyata yang tak bisa aku pungkiri. Bukti nyata yang benar-benar ada dalam kehidupanku. Aku berada dalam kondisi seperti itu tanpa ku sadari. Sama seperti kemarin. Hari ini pun aku masih sulit untuk menganalisis apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan ilalang. Sulit bagiku untuk menjelaskan ada apa sebenarnya. Semua terasa ada begitu saja seiring dengan berjalannya waktu dan perputaran roda kehidupanku.

Hal yang sampai sekarang masih aku pikirkan sebenarnya adalah jalan keluar. Ya, aku sangat bingung bagaimana caranya menemukkan dimana jalan keluar atas masalahku ini. Terkadang aku merasa nyaman dengan ilalang ini. Tapi juga terkadang aku merasa terganggu dengan kehadirannya. Mungkin aku masih terlalu labil untuk menempatkan ilalang itu dalam perkarangan hatiku, namun kenapa aku tidak bisa menghindarinya? Kenapa aku harus terjebak dengan semua ini? Bahkan jalan terang yang aku cari pun sekarang belum tampak. Bagaimana aku harus mensikapinya? Bagaimana aku harus keluar dari keadaan ini? Dan bagaimana aku harus memperbaikinya?
Semua serba terlambat untuk ku sadari sekarang. Dan kini, aku hanya bisa menyesalinya. Aku menyesal karena membiarkan semua ini terjadi tanpa sedikitpun ada suatu tindakan untuk mencegahnya. Dan aku juga menyesal membiarkan perasaan ini berlarut–larut singgah di dalam hatiku. Mau di revisi atau diperbaiki sekali pun itu sudah terlambat. Tuhan, apa yang harus aku lakukan sekarang? Berikan aku petunjuk – Mu?

Sabtu, 26 Januari 2013
Hari ini aku belajar akan suatu hal. Ya, suatu hal yang memang seharusnya aku pelajari sejak lama, dan mungkin kini aku sudah terlambat untuk mempelajarinya. Ini adalah tentang keikhlasan. Ikhlas untuk melepaskan sesuatu karena memang yang di lakukan itu adalah salah. Dan ini tentang ilalang lagi.

Kesalahan terbesar yang aku lakukan adalah sejak awal aku membiarkan ilalang itu tumbuh di halaman hatiku. Tumbuh subur dan sangat lebat sekali, bahkan tanpa aku sadari aku sering memupuk dan menyiraminya setiap hari. Dan lihatlah ketika ia sudah tumbuh dewasa menjadi sebuah ilalang besar, bukannya tumbuh bermaslahat, namun malah bermudharat bagiku. Berbagai masalah datang silih berganti karena ketidakmanfaatan ilalang yang tumbuh itu. Bahkan pertumbuhannya yang tak terkendali itu justru menimbulkan hal-hal yang seharusnya tidak terjadi. Sudah berulang kali aku berusaha untuk memangkasnya, namun tanaman itu tetap tumbuh, dan parahnya, sekarang justru menganggu ekosistem kehidupanku.
Ya, ekosistem kehidupanku kini benar-benar sangat terganggu dengan pertumbuhan ilalang itu. Dan disinilah letak kesalahan terbesarku lagi. Aku berpura-pura tak tahu tentang hal itu, padahal aku sangat tahu bahwa pada akhirnya itu semua hanya akan menimbulkan ketidak mamanfaatan bagiku. Dan lihat, apa yang aku lakukan untuk itu? Yang aku lakukan justru hanya menunggu, menunggu ilalang itu berubah menjadi pohon besar yang kokoh dan bermanfaat untuk perkarangan hatiku. Tidak seharusnya kan aku membiarkan itu terjadi? Dan tidak seharusnya pula aku membiarkan hati ini untuk menunggu sebuah ilalang yang tak tahu apakah akan berubah atau tidak?

Sungguh, aku semakin berusaha keras untuk memikirkan cara bagaimana menghalau ilalang itu. Namun, entah mengapa sampai saat ini sulit sekali bagiku untuk menemukan cara itu.
Dan kini, lihat lah, tanpa aku sadari, ilalang itu perlahan meranggas dan pergi dengan sendirinya. Satu persatu daunnya berguguran jatuh ke tanah, dan terbang terbawa angin. Ranting-ranting yang bercabang mulai retak dan patah.

Tuhan, akankah ilalang itu musnah? Akankah ilalang itu pergi untuk selamanya? Hanya Engkau yang Maha Tahu, dan aku tak akan pernah tahu tentang hal itu, sampai pada akhirnya waktu yang akan menjawabnya.

Senin, 31 Januari 2013
Kembali aku bercerita. Masih seperti yang kemarin. Ini tentang ilalang lagi. Ilalang yang tumbuh dalam hatiku itu kini semakin hari semakin tak bisa aku mengerti. Ya, pertumbuhannya serba abu-abu. Bahkan aku tak bisa melihatnya dengan jelas. Entah putih atau hitam, aku tak tahu.
Ilalang itu kadang tumbuh dengan baik, tapi juga kadang tumbuh sangat menganggu. Hal yang tak dapat aku mengerti adalah ketika ilalang itu mulai meranggas, kenapa sang hujan justru ada? Kenapa ia menyiram ilalang itu dan membuatnya tumbuh kembali sekarang? Kenapa?

Aku tak tahu sampai kapan cerita ini akan selesai. Entah berlanjut atau berhenti aku tidak tahu. Hanya waktu. Ya, hanya dia yang bisa menjawab semua ini. Dan aku, aku bisa apa sekarang?

Oh Tuhan, apa langkah yang harus aku ambil? Bagaimana aku harus mensikapi semua ini? Haruskah aku berhenti atau aku harus tetap bertahan dengan hal yang membuat aku kepikiran?

Kamis, 14 Februari 2013
Berat rasanya bagiku untuk mengungkap semua ini. Haruskah aku move on sementara hati dan perasaan ini sulit untuk ku tepis? Buat aku, sulit banget rasanya untuk membangun, namun kenapa kenyataan justru malah mengukungku untuk menghancurkannya?

Jika di tanya kenapa aku bisa suka padanya, mungkin akan sama jawabannya jika kamu tanya aku 1 + 1 kenapa bisa sama dengan 2. Karena aku tak bisa menjelaskannya. Rasa ini tumbuh begitu saja. Bahkan aku sama sekali tak bisa menyangka dan menduganya akan seperti ini.

Cerpen Karangan: Dewi Apriani
Facebook: Dewi Apriani

Cerpen Aku dan Ilalang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Rumah

Oleh:
Kalau bagimu bahagia adalah terus berpindah, bagiku bahagia adalah menghirup satu meter kubik udara yang sama denganmu. Mengeksresi karbon dioksida dalam dimensi ruang yang sama, berbagi lelucon yang sama

Candra Abyad

Oleh:
Awan kelabu dengan hembusan angin sejuk menyapa ritmik setapak langkah. Menyegarkan dengan tetesan embun dan juga warna pekat awan mengundang guyuran hujan hingga menjadikan view luar bandara menjadi lebih

Lugunya Hati

Oleh:
Cinta, kata yang selalu melekat dengan usia remaja. Dan mungkin sampai kapanpun akan tetap menjadi bagian dari kisah hangat remaja. Kata itu adalah kata misterius, karena menjadi sebab akan

Bahagiaku Bertaruh Nyawa

Oleh:
Nizdhan, mahasiswa hukum di salah satu universitas negeri terbesar di Makassar, selain itu saya juga hobi bermain game online di ponsel ataupun di komputer. Juli 2016, Saat itu sedang

Sesempit Inikah Dunia?

Oleh:
“cieeee… dhifa lagi liatin foto siapa tuhh?” Ucapku sambil melirik ponsel miliknya “eee.. eenngga.. kok ray gak liatin foto siapa-siapa..” ucapnya gugup Seketika alisku naik seraya menatapnya dengan tatapan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Aku dan Ilalang”

  1. devi says:

    bagus banget cerpen nya 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *