Aku, Dodol dan Bintang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja, Cerpen Romantis
Lolos moderasi pada: 21 September 2022

“…duh kamu yang termenung, kemarilah…
kembangkan senyummu
dan jadilah kekasihku…”

Dodol.
Kata itu selalu saja meluncur dari bibir mungil milik Bintang, setiap kali aku mencoba menyatakan perasaanku padanya. Seperti kemarin, saat jalan bareng sepulang sekolah,

“Bintang…”
“Hemm…”
“Kamu tau nggak?”
“Apa?”
“Kamu manis.”
“Dodol!”
“Bener, Ntang, kamu manis.”
“Dodol, ah…”
“Beneran. Itu sebabnya aku suka sama kamu.”
“Iiiiih, dodol kamu,” katanya sambil mencubitku, seperti biasanya.
“Kok, dodol melulu sih,” ujarku meringis, sedikit kesal.
“Habiiis, emang kamu dodol sih.”
“Kenapa?”
“Yaa, dodol aja,” jawabnya kalem, sedikit nyengir.

Entah kenapa, Bintang selalu saja begitu. Padahal aku benar-benar suka padanya. Bukan tanpa sebab kalau aku berani mengungkapkan perasaanku pada gadis bermata indah itu. Hal ini aku ketahui dari sikapnya selama ini padaku. Sepertinya Bintang juga punya perasaan yang tidak berbeda denganku.
Buktinya, waktu aku dekat dengan Arista sebulan yang lalu, saat persiapan kegiatan lomba baca puisi antarsiswa, Bintang tampak uring-uringan. Ia tidak mau menyapa, dan sering mengelak kalau aku tanya kenapa ia bersikap demikian. Tampaknya ia tidak bisa menerima, jika aku dekat dengan Arista, Sekretaris Osis, yang juga seorang model itu. Bukankah itu pertanda bahwa Bintang sebenarnya cemburu melihat kebersamaanku dengan Arista?

Belum lagi kalau aku kesal karena ada sikap Bintang yang kadang tidak aku sukai, kemudian aku menegurnya, ia pasti akan minta maaf sambil menggenggam tanganku. Biasanya ia akan merengek kalau aku pura-pura tidak memberinya maaf.
Aneh memang.

Terus terang, aku tidak pernah menyalahkan Bintang dengan kesukaannya pada dodol. Apalagi makanan ini sering menjadi senjataku saat Bintang tengah merajuk, kontan ia akan mencium pipiku, kalau aku membawa sekotak Dodol Garut kesukaannya.
Tapi kenapa mesti kata dodol yang ia ucapkan setiap kali aku serius mengutarakan perasaanku kepadanya?

Malam Minggu, tepat jam 8 di serambi muka rumah Bintang,
“Ini yang kesekian kali, lho.”
“Apa?”
“Aku suka kamu, Bintang…”
“Dodol…” katanya sambil tersenyum, matanya mendelik.
“Beneran, Ntang. Aku sayang sama kamu.”
“Dodol kamu, Lu.”
“Ah, kamu memang dodol, Ntang,” ucapku dengan nada kesal yang tertahan.
“Enak aja!” ketus Bintang, matanya melotot ke arahku.
“Habis kamu gitu sih.”
“Kenapa?”
“Selalu saja dodol, apa nggak ada yang lain?”
“Misalnya?” nada Bintang mulai turun.
“Wajik misalnya, atau Jenang barangkali. Madumongso juga boleh.“
“Nggak suka. Nggak mau,“ kata Bintang sambil mencibirkan bibir mungilnya.
“Nah, itu jelas.”
“Apa yang jelas?” Bintang mengerenyitkan dahinya.
“Nggak suka, nggak mau. Itu kan kata kamu?”
“Maksudnya?”
“Maksudnya, kalau kamu nggak suka sama aku, kamu nggak mau jadi pacar aku. Bilang aja, aku nggak apa-apa, kok.”
Bintang mengangguk-angguk.

“Gimana?” tanyaku kemudian.
“Apa?”
“Kamu mau jadi pacar aku?”
“Uuuh, dodol.”
“Tuh, kan.”

Bintang hanya tersenyum, mata indahnya berbinar, tapi tak sempat kunikmati. Ada rasa kesal yang pelan-pelan masuk ke dalam hati, ketika Bintang terlihat senang dengan senyum merekah layaknya seorang pemenang. Dan hal ini, tentu saja membuat hatiku tak bisa tenang.
Malam ini aku kalah, dan Bintang masih asyik tersenyum menang.

Sudah satu setengah tahun lebih, aku kenal dan dekat dengan Bintang. Menurutku, Bintang itu asyik dan menyenangkan. Selalu ada hal seru yang terjadi setiap kali ia ada di dekatku. Dan Bintang memang nyaris tak pernah tidak berada di dekatku. Bahkan sebagian teman dan guru di sekolah, mengira kami sudah resmi pacaran.
Ironis memang.
Karena kenyataannya, aku masih belum bisa memiliki hati gadis asal Kota Bogor itu sepenuhnya. Padahal aku yakin, Bintang juga tidak pernah ingin jauh dariku. Lantas kenapa Bintang tidak bersedia jadi pacarku? Apakah ia sudah punya pacar? Atau mungkin, Bintang lebih suka berada pada ruang abu-abu bernama friendzone?

Aku lelah dengan caranya, dan ini tidak boleh dibiarkan berlangsung lebih lama. Aku harus mendapatkan kepastian, sekalipun jawaban itu akan mengecewakan. Bintang tidak boleh mengabaikan perasaanku. Aku harus cari cara untuk mendapatkan kepastian itu. Ada ide?

“Bintang…” ujarku setelah lama saling terdiam.
“Hmm…”
“Aku kecewa.”
“Kok!?”
“Ya, aku nggak bisa terus seperti ini.”
“Terus mau jadi apa? Jadi dodol?” Bintang malah meledek, nyengir.
“Bisa nggak kamu serius, Ntang?”
“Dodol, ah.”
“Kamu juga dodol, Ntang!” ucapku melepas kesal.
Bintang menatapku, “Kamu marah ya, Lu?”
Aku diam. Lalu meneguk air yang sedari tadi belum sempat aku sentuh.

“Lu…” nada bicaranya mulai melemah dan menyesal.
Aku masih diam, kemudian mengambil dodol dari piring dan memasukkannya ke saku bajuku. Iseng, karena sebenarnya aku tidak terlalu suka dodol.
“Lu…” ada nada khawatir dari suara Bintang. Ia sadar, aku tidak seperti biasanya. Wajah masam aku membuat Bintang bertanya-tanya. Ada apa dengan, Lu? Kenapa Lu tetiba jadi sensitif begini. Demikian kira-kira yang ada dalam benak Bintang.

“Sudah malam, Ntang. Sudah jam sembilan. Aku pulang dulu, ya,” kataku mohon diri, padahal biasanya jam 10.00 lebih sedikit aku baru pamit pulang.
Bintang diam tidak menjawab. Wajahnya tertunduk, masih ada sesal di sana.
“Jangan lupa, dodolnya dimakan sebelum tidur ya, Ntang,” aku coba melucu meski sadar suasana hati Bintang tidak dalam keadaan toto tentrem kerto raharjo.

“Kamu mau kemana, Lu?” tanya Bintang pelan.
“Mau cari jodoh, eh, cari dodol dulu,” jawabku, “terima kasih ya kamu sudah mau nemenin aku selama ini.”
“Lu?” Bintang menatapku dalam, gelisah.
Aku cuma tersenyum, menatapnya lembut.

Bintang masih diam ketika akhirnya aku benar-benar pulang. Ia tidak mengantarkan aku sampai ke depan gerbang seperti yang biasa ia lakukan selama ini. Aku tahu ia masih ingin berlama-lama denganku. Tapi aku sudah terlanjur minta diri.

30 hari sudah sejak malam itu, aku menghindar dari Bintang. Selama itu pula aku mencoba untuk tidak berangkat sekolah bareng, pun tidak mengantar pulang Bintang saat sekolah usai. Bahkan aku tidak pernah lagi melintasi koridor kelas 11. Aku sengaja untuk tidak menemuinya, di sekolah maupun di rumah. Ini langkah berat, tapi semoga berbuah manis seperti Dodol Garut kesukaan Bintang. Doain, ya!

Terus terang, sebenarnya aku tidak sanggup. Aku begitu rindu pada binar mata indahnya, juga pada senyum manja sekaligus menyebalkan yang biasa ia lemparkan padaku setiap kali aku melewati kelasnya.

Gelak tawa renyahnya pun, kini tak pernah kudengar lagi. Aku rindu, rindu pada sikap dan tingkah konyolnya. Rindu pada setiap yang ada pada Bintang. Saat ini, sekumpulan rindu itu menyeruak masuk dan menari-nari di jiwaku.

Tepat hari ini, setelah sebulan sejak rencanaku dimulai, aku menemui Bintang di perpustakaan yang kebetulan sepi.
“Halo, Ntang,” sapaku sambil menarik kursi dan duduk di hadapannya.
Bintang mendongak.
“Eh, kamu Lu,” balasnya kikuk, ia membalikkan buku yang tengah dibacanya.
“Kok sendirian? Nggak ngumpul sama anak-anak?”
Bintang menggeleng pelan.
Aku perhatikan ada yang berubah pada gadis yang kusebut bidadari mata indah ini. Tubuhnya tampak agak lebih kurus, sorot mata cerianya seolah redup. Bintang yang selama ini kukenal, adalah Bintang yang lucu dan menggemaskan. Entahlah, kenapa ia berubah menjadi gadis pendiam.
Sejauh itukah perubahanmu, Bintang.

“Ntang, kamu sakit?” kucoba menanyakan keadaannya.
Bintang menggeleng lagi, masih pelan.
“Tapi kamu nggak seperti biasanya?” selidikku ragu.
“Kamu kemana aja, Lu…” kemudian tanyanya pelan dan lembut, tanpa menjawab pertanyaanku.
“Beberapa hari belakangan ini aku sibuk, Ntang.”
“Urusan teater?”
“Bukan.”
“Klub menulis?”
“Bukan juga.”
“Ujian taek won do, ya?”
“Juga bukan.”
“Pasti lagi bikin sajak buat aku, kan?” terkanya dengan nada harap.
“Bukan dong,” aku menggeleng sambil tersenyum.
“Lalu?” Bintang penasaran.
“Dong, bukan.”
“Ah, males!”

“He he, sekarang ini aku lagi seru jalan sama pacarku,” tenang aku menjawab.
“Kamu?” Bintang memandangku berusaha menutupi keterkejutannya.
Aku mengangguk pelan, “Yaa, baru dua minggu ini. Aku suka karena dia manis.”
Bintang mencari kesungguhan di mataku, kemudian menunduk menghindari tatapanku.

“Kok nggak pernah bilang, Lu.”
“Untuk apa?”
Bintang diam.
“Kamu nggak apa-apa kan, Ntang?”
Kembali Bintang menatapku, lalu mengangguk lemah.
“Kamu nggak cemburu kan, Bintang?”
Bintang masih diam, ada resah menggelayuti wajahnya.
“Kamu nggak merasa kehilangan aku? Aku bukan siapa-siapa kamu, bukan?”
Bintang memandangku, kali ini ada bening yang nampak di kedua matanya.

“Kamu juga kenal dia kok, Ntang,” kataku datar.
“Arista?” Bintang mengira-ngira.
“Ah, she’s not my type.”
“Lily?” tampak jelas nada suaranya tidak menyimpan gairah
“Dia kan sudah sama Andri.”
“Lalu siapa?” penasaranmu belum hilang, “anak komplek?”
“Cewek-cewek di komplekku nggak semanis ini.”
Bintang membuka buku yang ada di hadapannya, tapi tidak ia baca, raut wajahnya menyimpan kecewa.

“Bintang, aku yakin kamu juga suka dia kok.”
“Ya, tapi siapa?” Bintang menghela napas panjang, ada butir bening yang mulai mengalir dari sudut matanya.
“Mmmh, dia itu…”
Bintang memperhatikan bibirku, ada cemas yang menunggu di sana.
“Dia itu, siapa ya? Kok aku lupa namanya.”
Bintang mendelik, ujung jarinya mengusap bening yang mengambang di sudut matanya, “siapa dong, Lu?”
“Yakin mau tahu? Buat apa?”
Bintang diam.
Aku diam.
Seisi perpustakaan diam.

“Kamu nggak apa-apa kan, Ntang?”
“Apa yang nggak apa-apa?”
“Kalau aku pacaran sama dia?”
“Dia itu siapa, Lu?”
“Pentingnya apa buat kamu, dia itu siapa.”
“Kamu yang penting buat aku, bukan dia.”
“Aku nggak ngerti.”
“Kamu nggak akan bisa ngerti.”
“Lho, kenapa?”
Bintang menarik napas panjang, menghembuskannya dengan cepat, “kalau dia, yang aku nggak tahu dia itu siapa, nggak baik buat kamu, bagaimana?”
“Kenapa kamu khawatir tentang itu?”
Bintang mengangkat bahu, kemudian diam.
Aku pun terpaksa ikut diam.

Seisi perpustakaan juga masih memilih diam. Tentu saja, karena di perpustakaan hanya ada aku, Bintang, dan Bu Parti, petugas perpustakaan. Oh, maaf, di ujung bagian dalam sebelah kiri yang jendelanya menghadap ke laboratorium, ada Tatang dan Fadya, mereka asyik berdiskusi tentang proses fotosintesis, atau mungkin tentang proses reproduksi, soalnya apa yang mereka bicarakan tidak terdengar jelas dari sini.

“Mereka pacaran, ya?”
“Siapa?” tanya Bintang.
“Fadya sama Tatang.”
“Nggak tahu.”
“Oh, kalau aku sih pacaran dong.”
“Iya, tapi sama siapa?” tanya Bintang seraya beringsut menyembunyikan gundah.

“Oke, aku kasih tahu. Tapi janji nggak pake dodol, nggak pake cubit.”
Bintang mengangguk, tapi lalu menunduk.
“Dodol. Pacarku namanya dodol,” ujarku santai serupa tak peduli.
Bintang mengangkat wajahnya dan ada seulas senyum mengembang di sana, walau mungkin masih tidak percaya. Aku mengangguk sambil meraih tangan Bintang untuk kugenggam.

“Bintang, kamu mau jadi dodol itu?”
Bintang menggeleng, “nggak mau.”
“Jadi?” perlahan kulepas genggaman tanganku.
“Aku cuma mau jadi pacar kamu, Lu”
“Ah, kamu,” akhirnya kataku lega.
Bintang menatapku tersenyum, binar mata indahnya kembali tampak.

“Jangan jauh-jauh dari aku ya, Lu.” Bintang yang kali ini menggenggam tanganku.
Aku mengangguk, dan dengan bahagia kuacak rambut Bintang, “Dodol kamu Ntang.”
“Eh, itu punya aku.”
“Iya, aku pinjem. Nanti aku kembaliin.”
“Nggak boleh!” katanya dengan sedikit tawa, sambil tak lupa mencubit lenganku.
“Aaw!”
Bu Parti menoleh ke arah kami, kepalanya menggeleng, kemudian memasang jari telunjuk di bibirnya, “Ssst!”

Bandung, 7 Agustus 1992
Last Edited – Serang 18 September 2022

Semua Medsos saya (Riva Renoza – @rivarenoza)

Cerpen Karangan: Riva Renoza
Facebook: facebook.com/rivarenoza
Riva Renoza, asal kota Serang, Banten, sudah menulis cerita pendek dan puisi sejak masih duduk di bangku SD. Namun baru semasa kuliah, cerpen cerpennya dimuat di beberapa majalah remaja pada masanya (1990 an).

Cerpen Aku, Dodol dan Bintang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Alif Sekolah Baru, Teman Baru

Oleh:
Sebuah handphone di atas sebuah meja lampu tidur terus berulang berbunyi dengan kerasnya, untuk membangunkan pemiliknya yang masih tidur dengan lelapnya di dalam selimut. Tetapi, tetap saja tidak berhasil,

Penyesalan Sang Perwira

Oleh:
Matahari bersinar menerangi bumi ini membuat bunga-bunga bermekaran dengan indahnya, tapi cahaya yang terang itu tidak dapat menyinari hati dan perasaan Laras. Laras adalah seorang gadis yang tumbuh dengan

Hubungan Antara Kau Dan Aku

Oleh:
Suasana malam yang sangat indah dan juga hening. Bentuk sang rembulan yang sempurna, tidak terhalang awan hitam sedikit pun, cahayanya pun terlihat sangat cerah dari jendela kamarku. Aku duduk

Kabut

Oleh:
Peluh mengalir tak hentinya dari pelipisku, sudah dua jam aku berada di sini. Sunyi dengan kabut yang mulai menutupi gunung. Tak kusangka, pilihanku menghabiskan weekend dengan pengalaman menanjak gunung

Akhirnya, Cinta Tak Terbalas

Oleh:
Hari Rabu, di sekolah… Semua anak anak kelas XII sibuk mempersiapkan camping yang akan dilaksanakan 2 minggu lagi, yaaa mungkin karena ini terakhir untuk seluruh kelas XII merasakan kebersamaan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Aku, Dodol dan Bintang”

  1. moderator says:

    Renyah sekali cerita ini… kakak suka… ^_^
    ~ Mod N

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *