Aku Hanya Ingin Kakakku Kembali

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 9 May 2017

Handphone itu masih erat kugenggam, saat bulir-bulir air mata ini semakin melesat deras membanjirinya. Kuremas-remas benda tersebut menjadi semakin terkoyak. Kini barang itu remuk berkeping-keping dan kuhamburkan ke lantai begitu saja. Tangisku semakin menjadi saat memori itu kembali berputar, kenyataan yang baru beberapa menit yang lalu terjadi. Yah.. Aku ingat betul, telepon genggam warna merah dengan model kekinian. Meskipun merek China dan murahan, tapi aku tetap senang ketika ayahku menepati janjinya membelikan barang itu, telepon genggam yang akan membuatku lebih update dan gaul. Aihh… susah payah aku saat harus berjuang memenangkan olimpiade seprovinsi sehingga mendapatkan uang demi memenuhi harapan membeli handphone impian itu. Hanya karena sebuah pertengkaran kecil, kini barang itu sudah beralih menjadi rongsokan.

“Sini, aku pinjam sebentar,” ucapan kakakku yang masih terngiang dalam memori.
“Sebentar, aku masih main game nih,” elakku, menolak untuk memberikan handphone itu.
Hingga beberapa jam kemudian aku masih sibuk dengan permainan di HP baruku, bahkan aku tak sempat melihat rona wajah kakakku saat itu ketika ia tiba-tiba merebut Hp dari tanganku kemudian memukulinya dengan palu. Dan jadilah Handphone baru itu menjadi barang rongsokan seperti aaat ini.

Memang aku sangat menyesalkan kejadian tersebut. Tapi yang lebih menjadi bebanku adalah, mengapa kakakku berpikiran sangat sempit begini. Mengapa ia tidak berpikir dewasa sedikit untuk kemudian mengalah padaku, adiknya. Aku merasa ada yang berubah dengan kakakku, dia sepertinya tidak lagi mempedulikan perasaan orang lain, bahkan dengan aku saudaranya sendiri. Ia tidak menyesali ataupun meminta maaf padaku seusai meremukkan barangku itu. Dan sikap itulah yang membuatku merasa aneh. Raihan, kakak lelakiku yang kukenal sangat sopan, pemaaf, cerdas, penyabar dan tidak pernah menyakitiku kini menjelma menjadi musuh yang mengerikan di mataku.

Aku dan kakakku, kami hanya beda satu tahun. Tetapi kami selalu bersekolah pada tingkat yang sama. Aku memang disekolahkan lebih awal dari anak-anak seusiaku, sehingga umur 5 tahun aku sudah masuk SD bersama-sama dengan kakakku. Kami selalu satu sekolahan, hampir duabelas tahun dan sekarang pun masih satu sekolah. Kami sampai dikira anak kembar, bahkan dikira pasangan yang berpacaran. Sekian lama selalu bersama, aku cukup mengenalinya, tapi kurasa tidak untuk saat ini. Karena sepertinya kak Raihan telah banyak berubah. Ia sering merenung sendiri seperti ada hal yang sangat mengganjal di hidupnya.

“Ayo, cepetan! Nanti kita telat. Kalo telat kamu mau tanggung jawab po jika aku nanti dihukum,” ajakku kasar pada kakakku karena masih ada rasa marah akibat masalah HP kemarin.
Kakakku tak membalas apa-apa dengan omongan kasarku itu, ia juga tak mengangguk untuk sekadar mengiyakan. Ingin rasanya aku menumpahkan kejengkelanku sepuas-puasnya pada pagi ini. Tapi karena melihat reaksinya yang dingin dengan tatapan kosong, aku memilih untuk mengurungkan niatku.

Kami berjalan beriringan menuju halte bus tanpa kata-kata. Sudah sejak Subuh tadi kakakku tak bersuara, ia juga tak menanduki sama sekali setiap ucapan kasar dan makian yang keluar dari bibirku. Kakakku yang memang sangat dewasa, dia selalu diam mengalah untuk menghindari pertengkaran. Tapi diamnya kali ini, diam yang berbeda. Dia menatapku dengan tatapan asing, dan terkadang sangar seolah aku ini adalah musuhnya.

Istirahat siang itu aku lebih memilih untuk nangkring di kantin ketika salah seorang teman kak Raihan menepuk pundakku.
“Heh, kakakmu kok aneh sekarang. Dia gak mau keluar kelas, bahkan ia juga selalu menutupi wajah dengan kedua telapak tangannya,” ucap Denis teman sekelas kakakku di XII IPA 4.
“Ya, baguslah. Mungkin dia menyesal dengan apa yang dilakukannya kemarin,” jawabku sekenanya sambil mengunyah siomay.
“Loh, memangnya dia kemarin melakukan apa?, setauku kakakmu orang yang baik,” kali ini Denis menarik kursinya ke hadapanku dengan tatapan menginterogasi. Membuatku jadi keselek karena terkaget-kaget.
Aku kemudian menceritakan perihal rusaknya HaPeku pada Denis.

“Aku tak percaya kalau Raihan yang benar-benar melakukan itu. Dia sangat menyayangimu sebagai adik satu-satunya bukan?,” Denis geleng-geleng kepala.
“Tapi kenyataannya memang seperti itu,” aku masih menyalahkan kakakku.
“Kamu sebagai adik, apa tak merasa ada yang berubah dengan kakakmu?,” selidik Denis seolah tau apa yang menjadi pikiranku saat ini.
“Iya sih, aku merasa kakakku memang berubah,” jawabku jujur akhirnya.
“Kalo betul begitu, apa kau masih menyalahkan kakakmu? Lebih baik kau perhatikan kakakmu. Karena sikapnya akhir-akhir ini seperti orang depresi,” ucapnya serius.
“Iya deh, pak psikolog.. hehe,” celetukku bercanda
“Aku serius,” Denis seperti menggertakku, menandakan apa yang diucapkannya benar-benar serius.
Perbincangan kami berhenti sampai disitu ketika bel tanda masuk berbunyi.

Sepulang sekolah aku menuruti perkataan Denis, mencoba memperhatikan kakakku. Kuamati hidungnya, mulutnya, telinganya, rambutnya, sama saja tidak ada yang berubah. Tapi bukan itu yang dimaksud Denis, aku harus memperhatikan isi kepalanya. Jalan satu-satunya untuk mengetahui apa yang ada di hati dan pikirannya adalah mengintip tulisan-tulisannya. Karena sering kulihat, kak Raihan memang rajin menulis di buku diary-nya. Saat kakakku keluar rumah, aku diam-diam masuk ke kamarnya. Astaga… Aku sampai tak tau kalau kakakku sekarang beralih profesi menjadi pelukis dadakan. Kulihat seluruh dinding kamarnya belepotan gambar-gambar sayap terbang, kuda terbang, malaikat terbang, bidadari terbang, burung terbang mungkin juga piring terbang. Gambar-gambar itu terlihat menyeramkan, seperti lambang keputusasaan. Setelah nyungsep di kolong tempat tidur, akhirnya kutemukan juga buku diary itu. Sepertinya kakakku sudah lama tak menulis, karena buktinya buku itu penuh dengan sarang laba-laba.
Aku langsung berlari ke kamarku saat kudengar langkah kak Raihan menuju kamarnya.

Tak ada yang istimewa dengan diary itu saat aku membukanya, karena isinya memang tulisan semua. Hanya, mataku terhenti di halaman bertanggal 23 Agustus 2013.

Hari ini aku sudah memasuki tingkat 2 sekolah SMA-ku, SMA teladan yang sangat diimpi-impikan orang. Tak ada yang istimewa ketika aku naik ke tingkat ini, karena memang nilaiku pas-pasan. Berbeda dengan adikku, dia memang gadis yang pintar, dia selalu mendapat ranking satu. Semua orang memujinya, banyak juga teman lelakiku yang jatuh cinta padanya. Itu semua tak salah, justru aku sangat bangga bisa memiliki adik sepertinya. Yah.. meskipun kami orang tak punya, tapi setidaknya adikku bisa mengangkat derajat keluarga. Bersekolah di tempat elit seperti ini sebenarnya memang salah untukku. Karena orang tak punya sepertiku memang tak pantas berada di dalamnya. Alasan itu cukup logis yang membuat teman-temanku sering memperolok dan merendahkanku. Aku tak marah dengan cibiran mereka, karena apa yang mereka katakan memang suatu kenyataan. Tapi aku sangat tak terima ketika beberapa cewek menginjak-injak harga diri adikku karena masalah itu. Inginku, cukup biar aku saja yang diperolok, bukan adikku. Dalam pikiran, kubela mati-matian harga diri adikku. Meskipun pada kenyataannya aku hanya teronggok sembunyi melihat adikku menangis dibully oleh cewek-cewek elit tak berperikemanusiaan itu. Untung saja adikku memiliki ksatria-ksatria pelindung yang siap sedia menjaganya, yaitu cowok-cowok yang mencintainya. Aku cukup senang, meskipun sebenarnya batinku menjerit mengatakan bahwa aku ini cowok tak berguna, melindungi adik sendiri saja tak becus.

Aku terhenti membaca ketika penglihatanku menjadi buram karena air mata yang menggenang memenuhi pelupuk mataku. Aku sangat sedih, karena sudah selama ini aku bersamanya tak pernah memahami ketulusan yang terpancar dari hatinya. Aku juga tak pernah menghargai usahanya untuk selalu melindungiku. Kulanjutkan membaca diary itu. Kali ini bertanggal 24 Agustus

Sebenarnya aku bukan iri pada adikku, aku hanya ingin ada seseorang yang mau menghargaiku. Tak harus banyak orang yang mendukungku, aku hanya butuh seseorang saja. Karena kurasa, orang-orang di dunia ini semakin tidak ada yanhg mempedulikanku. Ya, memang benar, untuk apa mereka mempedulikanku, aku ini tidak berguna. Teman-teman sekelasku malah semakin getol mengejekku, mereka bilang aku ini cowok cemen yang gak bisa ngetrek seperti mereka, yang gak punya duit buat hangout sama orang-orang sekelas mereka. Lama-lama kepalaku pusing dibuatnya, hatiku panas. Tak ada sedikitpun niatku untuk membalas mereka, meski mereka mempermalukanku sekalipun. Aku hanya bersabar, sampai rasa sabarku memuncak di ubun-ubun yang membuatku terkadang kehilangan kendali sehingga jiwaku menjadi hilang. Aku sering lupa jatidiriku, semua itu semakin parah yang membuatku kedatangan bisikan-bisikan aneh untuk melakukan hal tak benar. Dan bodohnya, bisikan itu seolah perintah wajib yang membuatku selalu menurutinya. Aku juga sering berbicara dengan ilusi sehingga seperti berbicara sendiri. Oh.. Tuhan, aku sadar kalau aku gila.

Halaman itu sudah habis, membuatku tercenung menyesali segala sikap bodohku selama ini.

Keesokan paginya kakakku mengunci diri di kamar, jam menunjukkan pukul setengah tujuh, tapi ia tak kunjung siap-siap ke sekolah. Aku mengintip dari balik lobang kunci, kak Raihan seolah sedang berbicara pada seseorang, padahal aku tak melihat siapa-siapa di dalam kamarnya.
“Kak, buka pintunya. Hari ini kan hari Rabu, kakak tidak ke sekolah memangnya?” bujukku pada kak Raihan dengan tidak kasar lagi.
“Minggir kau b*jing*an!!, kau ingin membunuhku ya?” ucap kakakku dengan nada tinggi. Aku tersentak, ada apa dengan kakakku ini, dia tidak pernah mengataiku seperti ini sebelumnya, saat kita bertengkar hebat sekalipun. Aku mengintipnya dari balik lobang kunci sekali lagi, kulihat ia membenamkan kepalanya di bawah bantal seolah ada yang meneror.
“Kamu kenapa kak?, ini aku, Rena adikmu,” teriakku khawatir sambil menggedor-gedor pintu.
“Kubilang pergi, ya pergi. Jangan ganggu aku lagi!,” bentak kakakku kasar.

Aku memutuskan untuk berangkat duluan ke sekolah, karena hari sudah semakin siang. Lagian kakakku malah meracau tak keruan. Aku tak mengerti apa yang terjadi pada kakakku.

Aku buru-buru menuju kelas kak Raihan waktu istirahat, untuk memastikan apakah ia berangkat atau tidak. Tepat seperti dugaanku, kak Raihan memang tidak masuk sekolah. Hanya kujumpai Denis yang tengah duduk di bangku kak Raihan biasa duduk ketika aku masuk kelas XII IPA 4. Teman-teman gadis kakakku kemudian berkerubut menanyaiku, untuk sekadar memastikan apakah kakakku baik-baik saja dan menanyakan kenapa kakakku tidak masuk hari itu. Aku tidak tahu harus menjawab apa, jadi aku hanya menggeleng saja. Meskipun kenyataannya mereka protes bahwa sangat tidak mungkin aku tidak mengetahui keadaan kakak sendiri. Beruntung Denis segera menyelamatkanku dari berondongan pertanyaan mereka.
“Maaf ya, aku ada keperluan sebentar dengan Rena. Tolong kalian minggir dan beri kami jalan,” ujar Denis sembari menarik lenganku. Para cewek itu hanya nyengir kuda, meskipun ujung-ujungnya mereka mengalah dengan lelaki tampan anak pejabat DPR pusat ini.

“Hheh.. jadi gimana Raihan? Apa dia baik-baik saja?,” cecar Denis saat kami sampai di kantin.
“Kelihatannya kakakku kurang baik,” jawabku sedih.
“Kenapa bisa begitu? Coba ceritakan padaku,” kali ini lelaki itu memainkan sedotan plastik di minumannya. Aku menceritakan semua pada Denis, tentang tulisan di diary, sikap kakakku yang aneh tadi pagi, tak lupa juga gambar-gambar di dinding kamar kakakku. Denis menyimak detil setiap perkataanku sambil sesekali mengernyitkan dahi.
“Benar dugaanku, kakakmu memang sudah depresi.” tanggap Denis seusai aku bercerita.
“Hhahh, terus aku harus gimana? Apa yang harus aku lakukan?,” selidikku khawatir.
“Mendengar ceritamu dan kulihat gelagatnya akhir-akhir ini, sepertinya Raihan sudah masuk gejala skizofrenia. Kakakmu harus segera dibawa ke rumah sakit jiwa,” ucapnya sambil menggelengkan kepala.
“Kamu kurang ajar ya Den!, Berani-beraninya kamu menilai kalau kakakku itu gila. Kamu gak usah sok ngerti deh!,” Aku muntab mendengar ucapan Denis barusan.
“Maafkan aku Ren, bukan maksudku mengatai kakakmu seperti itu. Kamu tau sendiri kan? Ibuku psikiater, banyak kasus orang yang seperti Raihan, dan apa salahnya coba jika dikonsultasikan dengan dokter jiwa?” jelas Denis meyakinkanku.
“Tidak! Kakakku tidak gila! Dia hanya lelah. Aku tau betul, kakakku orang yang kuat menghadapi segala masalah,” aku mulai menangis tersedu-sedu.
“Sudahlah, jangan sedih. Aku akan membantumu, ibuku seorang psikiater. Besok aku akan berkunjung ke rumahmu,” ucapan Denis cukup menenangkanku.
“Terima kasih teman, kau memang benar,” ujarku tersenyum.
“Teman? Memang aku temanmu?,” Denis malah menggodaku.
“Lah kalo bukan teman memang apa?” jawabku sekenanya.
“Lebih dari temen nggak boleh?” ia semakin kurang ajar. Aku hanya terkekeh mendengar penjelasannya barusan.
“Hheh.. kenapa tertawa? Aku serius, jujur aku mencintaimu,” Nampak wajah Denis yang serius kali ini, membuatku berhenti tertawa karena merasa tidak enak.
Hingga beberapa menit kemudian aku hanya terdiam menggigit bibir, mencoba menerjemahkan apa yang barusan kualami. “Kurasa ini suatu kesalahan,” ujarku kemudian untuk memastikan apa yang terjadi. “Tapi, bukankah cinta tak pernah salah? Begitupun aku yang mencintaimu apakah itu suatu kesalahan? Bisa jadi ini memang rencana Tuhan untuk kita bukan?” Lelaki itu mencoba meyakinkanku.
“Teet.. teet… teet,” bel terdengar nyaring sekali di telingaku, yang membuat obrolan kami lagi-lagi terputus dan aku belum sempat menjawab pertanyaannya apalagi menanyakan seperti apa perasaan cintanya padaku.

Karena sibuk memikirkan kakakku, aku sampai lupa kalau aku harus menyiapkan olimpiade tingkat nasional yang tinggal seminggu lagi. Aku mewakili provinsi DIY di ajang ini karena kemarin aku menjadi juara 1. Aku belajar siang malam supaya dapat membawa nama harum sekolahku tercinta, dan yang terpenting bisa mengangkat harga diriku di mata orang-orang yang mengaggapku rendah.

Hari terakhir menjelang keberangkatan lomba, banyak teman-teman menyalamiku, guru-guru juga begitu seolah mereka sangat menaruh harap padaku. Aku terharu dengan iringan doa mereka, baru kali ini aku merasa semua orang begitu menghargaiku dan menganggapku ada. Ah.. aku jadi teringat kakakku, aku ingin dia sekarang juga berada di posisiku, menjadi orang yang disanjung dan dielu-elukan. Tergambar jelas di memoriku, kakakku yang selalu mengalah untuk memberikan semua padaku, supaya aku bisa menjadi lebih darinya, supaya aku bisa juara kelas, supaya aku bisa punya buku tulis lengkap dan supaya aku tetap tersenyum dengan guyonan-guyonannya. Sinar matanya yang menyorotkan ketulusan supaya aku dapat menggapai mimpi-mimpiku, terus saja menerorku. Membuat sudut mataku berlinangan air mata, menyayangkan keadaan kak Raihan saat ini, kakakku yang gagah dan tampan kini hanya tergolek meladeni halusinasi dan pikiran kacaunya. Aku merasa sangat bersalah, seharusnya dia tak seperti itu, karena ia sepantasnya bahagia setelah banyak mengorbankan kesenangannya untukku.

“Hei, kenapa bersedih? Ayo dong semangat! Kamu akan berlomba,” ucap Denis mengagetkanku.
“Oh, kamu. Aku gak papa,” jawabku sambil mengusap air mata. Meskipun orang spesial yang datang di hadapanku, hatiku tetap bersedih. Kenangan kakakku takkan tergantikan oleh siapapun.
“Aku tau apa yang kamu pikirkan dan rasakan, tapi kamu harus tetap memberikan yang terbaik dalam ajang ini. Bukankah ini cita-citamu?,” Denis mencecar mataku, mencari arti di sana.
“Kamu benar, tapi aku tetap menginginkan kakakku kembali,” balasku sambil menahan tangis.
“Fokuslah di perlombaan besok. Jangan pikirkan apapun, aku akan membantumu untuk mengembalikan Raihan sebagai kakakmu seperti dulu,” Denis tersenyum manis sekali. “Oh ya, di sana pasti dingin. Bawalah syal ini, jangan lupa aku juga bawakan bekal coklat untukmu, dimakan ya,” lelaki blasteran indo-Jerman itu mengalungkan syal di leherku, membuat jantungku berdegup gak karuan, dan kurasa perasaan cintaku padanya mulai tumbuh seperti rumput-rumput di penghujan, cepat sekalii.
Aku tak sanggup mengucapkan kata-kata, bahkan untuk sekedar berterimakasih, sampai ia kemudian pergi begitu saja dan meninggalkanku yang masih terbengong.

Sore itu juga aku berangkat ke Bandung menggunakan pesawat, aku menuruti saran Denis untuk fokus pada perlombaan, sehingga saat perasaan kacauku muncul, aku membuka bungkusan cokelat bekal dari Denis. Setiap bungkusan cokelat yang akan kubuka, selalu saja ada kertas note yang berisikan kata-kata seperti “Tetap semangat gadis manis!”, “Doaku selalu membersamaimu cantik,” atau kata-kata yang agak lebay, “Semoga malaikat selalu menjagamu bidadariku.” Aku hanya tersenyum simpul sambil terus membacanya sampai rasa sedihku menghilang sementara dan otakku menjadi sangat encer karena tidak ada beban sama sekali sehingga semua babak perlombaan dapat kuselesaikan dengan cukup baik dan aku mendapatkan medali emas yang kuimpi-impikan.

Memang mimpiku saat ini telah ujud, menjadi sang juara yang dulu kudamba kini benar-benar nyata. Tuhan memang sangat baik padaku. Siang itu sepulang dari Bandung, kupersembahkan medali itu pada keluarga, terutama kak Raihan, aku mencari-cari ia sambil meneriakkan kebanggaan. Saat kutemukan dia, aku bercerita panjang lebar sambil menunjuk-nunjuk medaliku. Tapi kenyataannya kakakku malah bersedih dengan tatapan kosong. Ia merebut medali dari tanganku, kemudian melepas rantai yang mengikatkan medali itu pada talinya dan dilemparkannya jauh entah kemana, mungkin menghilang ditelan kesedihannya. Aku hanya terpana, tanpa bisa marah-marah seperti saat kakak meremukkan handphoneku dulu. Untuk sekian lama aku terdiam, mencoba memahaminya. Aku memeluknya erat kemudian, mempelajari raut mukanya. Aku tau, aku tak butuh lagi medali itu, aku hanya butuh kakakku kembali. Masa bodo dengan harga diri, karena tiada yang lebih berharga selain kakakku.

Cerpen Karangan: Nida
Facebook: Nidaul Khasanah
Seorang gadis yang sedang beranjak dewasa

Cerpen Aku Hanya Ingin Kakakku Kembali merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Masa Kelam

Oleh:
Aku terlahir dari keluarga yang ekonomi nya sedang tidak stabil, kebetulan aku anak pertama dari 3 bersaudara, saat itu di sekolah banyak biaya yang belum terlunasi, Bapak dan Ibu

Lampung Yang Membuatmu Bangga

Oleh:
Sindy Putri Anastasya adalah anak dari bapak Darmawan dan ibu Santi. Dia lahir pada 26 Desember 1999, sekarang usianya 13 tahun. Shanti duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP)

Selalu Kompak

Oleh:
“Kenapa sih kalian berantem terus!? Coba sekali-kali kompak! Bunda capek kalau kalian begini terus!?” ujar bunda jengkel. Ferly dan Lyta tertunduk. “Kalian kembar. tapi kelakuannya selalu bertentangan! Harus ada

Dukun

Oleh:
Aku mematung seperti kena tenung. Ku lihat perlahan jari tengahnya merapikan poni rambutmu, terus memutar ramah di lengkungan telinga kirimu sampai akhirnya keempat jari yang lain turut ambil bagian

Perasaan Yang Terpendam

Oleh:
Aku selalu memandang sosok yang tampan dan lugu tapi pintar dan murah senyum itu dari jarak jauh, tetapi aku bisa melihatnya dengan jelas.. Seketika ku memandangnya terdengar langkah kaki

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *