Aku, Kamu & Dia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 17 December 2012

Menyukai yang sama, apa itu berarti salah ? Aku tak mengerti, kenapa kejadian seperti ini terulang lagi. Di saat aku menemukan sahabat-sahabat yang baru, kenapa ini harus terjadi lagi. Apa salah jika aku menyukainya ?
Namaku Andini Putriani. Aku hanya seorang gadis biasa. Yang mencoba membawa orang-orang di sekitarku merasakan kebahagiaan. Ya, meski aku sendiri harus merasa sakit. Tapi tak apa, demi mereka, aku rela.
Hari ini aku melihatnya lagi. Sosok yang selama ini berputar-putar di pikiranku. Sosok yang mampu membuat aku senang. Tapi juga sosok yang mampu membuat aku bimbang. Disaat banyak orang, kami memang tidak dekat. Kami seperti tidak saling mengenal.

Dan dia juga, yang membuat sahabatku menyukainya. Tanpa aku ketahui, diam-diam Nara juga menyukainya. Meski dia tak pernah mengucapkan kata itu, tapi dari tingkah lakunya aku tahu. Ya, aku bimbang. Apa yang harus lakukan ? Memang, aku tak pernah mengumbar perasaanku, tapi aku rasa Nara juga tahu jika aku lebih dulu menyukainya. Nara selalu menghindar, jika aku berbicara tentangnya. Ya Tuhan, kenapa aku ditempatkan di posisi seperti ini ?

“Andin….” panggil Tessa saat aku di depan kelas. “Ada satu hal yang ingin aku bicarakan.”
Aku merasa heran dengan Tessa. Dia adalah teman dekatnya Nara. Dia juga termasuk teman dekatku ketika dulu kami sekelas. “Bicara apa?” tanyaku. Lalu dia mengajakku ke taman sekolah yang berada persis di samping kelasku. Keadaan di sini lumayan sunyi. Jarang anak-anak yang datang ke sini. “Ini tentang Nara…” ucapnya mulai becerita, “Dan juga kamu..” lanjutnya.

Aku sudah dapat menebak apa yang ingin dia bicarakan. Tapi aku berpura-pura untuk tidak tahu. “Katakan saja” ucapku lirih. Sepertinya Tessa terlalu berat untuk mengatakan apa yang ingin dia ceritakan. “Sebagai teman kalian, aku tidak ingin pertemanan kita hancur karena kalian menyukai orang yang sama…” ujarnya nerhenti bercerita. Sudah ku duga.

“Memangnya kamu tahu siapa yang aku sukai” tanyaku mencoba bersikap biasa mendengar penuturannya. “Din, kamu tidak usah berpura-pura. Handi. Iya kan ? Dan apa kamu tahu, Nara juga menyukainya. Dan aku rasa, kamu juga sudah mengetahuinya lewat status Nara yang dia tulis di Twitter barunya..”
Aku tersenyum. “Ya, aku sudah membacanya. Apa gara-gara itu, dia tidak menjadikanku temannya di Twitter barunya? Apa gara-gara itu, hanya kamu & Handi yang dia follow ?”

Aku memang sudah tahu. “Maaf Din, jika aku sudah menutupi ini semua dari kamu” lirih Tessa menunduk. Aku mencoba mengatur kata untuk berbicara. Tiba-tiba saja aku sulit untuk berbicara. “Sa, ini tidak ada hubungannya dengan kamu. Ini juga bukan salah kamu, Nara ataupun aku. Ini semua masalah waktu. Dia mampu merubah dari yang tidak suka menjadi suka..” Akhirnya aku mampu mengatakan itu. Terdengar bunyi bel tiga kali, yang menandakan masuk. “Titip salam untuk Nara yaa…” Aku bergegas masuk ke kelasku, begitu pun dengan Tessa.
“Apa yang kalian bicarakan ? Sepertinya serius” tanya Handi yang melihat aku bertemu dengan Tessa. “Bukan apa-apa” jawabku acuh. Aku segera berlalu, masuk kelas. Aku tidak ingin ada yang terluka karena ini. Aku memang sudah lama menyukainya. Tapi jika dihadapkan sekarang ini, apa aku bisa memilih ?

Pagi ini cuaca cerah. Daun-daun di pepohonan bergerak-gerak dengan riangnya. Sepertinya pagi ini aku datang terlalu pagi. Memang, jam tanganku masih menunjukkan pukul 06.15. Aku tidak langsung masuk kelas. Aku berbelok menuju taman. Jika pagi seperti ini, suasana sejuk semakin terasa nyaman. Aku mencoba terpejam, menghirup udara yang sepertinya membantuku untuk merasa nyaman sejenak, lalu menghembuskannya perlahan. Andai, aku mampu menghilangkan rasaku ini seperti aku menghembuskan udara…
“Datang pagi sekali” ucap seseorang yang langsung duduk di sampingku. “Handi…” ucapku sedikit terkejut. Tidak biasanya dia datang sepagi ini. “Heran kenapa aku ada di sini ya” tebaknya. Aku mengangguk. “Biasanya bel masuk kamu baru datang”. “Apa aku salah kalau aku ingin berubah ?”

Aku menggelengkan kepalaku. Jika tidak ada orang lain seperti ini, dia memang lebih banyak berbicara denganku. Pandanganku menatap lurus ke arah bunga-bunga yang hidup subur di taman ini. “Bunga-bunganya cantik ya” ucapku basa basi. “Bukankah setiap bunga juga seperti itu” ucapnya.
“Tidak. Dari sekian banyak bunga itu, aku rasa yang berwarna merah terang itu paling cantik dari yang lain”
“Andin, Andin… di mana-mana itu setiap bunga ya seperti itu” ujarnya tak sependapat denganku.
“Pasti bunga itu yang paling banyak dihinggapi oleh kumbang, karena dia yang paling menarik” ucapku lirih. Tapi mungkin masih bisa terdengar olehnya.
“Berbicara denganmu, membuat aku harus pintar menebak makna dari setiap apa yang kamu bicarakan”
Aku tersenyum mendengar ucapannya. Dia ternyata mengerti maksudku.
“Pasti bukan hanya bunga & kumbang kan yang kamu maksud ?” tanyanya ingin tahu.
“Sama halnya dengan kumbang. Setiap cowok pasti menginginkan pendampingnya yang sempurna, cantik misalnya” ujarku. “Cewek yang cantik biasanya akan lebih dilihat oleh cowok, ya sama halnya dengan bunga cantik itu”
“Pendapatmu salah besar Din, bukan cantik yang seperti itu yang kami cari” ucapnya yang tak sependapat denganku lagi. “Bukan cantik dari luar, tapi cantik dari dalam hatinya”
“Tapi benar juga kan kataku tadi, tidak dapat ditepis memang seperti itu kan kenyataan yang ada”
“Berbicara denganmu sulit juga ya Din. Aku pergi dulu…”
Dia berlalu dari taman ini. Aku tertunduk. Butiran airmata ku tak ingin aku ajak kerjasama. Dia turun juga. “Aku hanyalah biasa, Nara yang menurutku luar biasa untuk kamu Han”
“Pagi-pagi kok ada yang menangis ya” tiba-tiba Reyhan sudah duduk di sampingku. Aku langsung mengusap airmataku. “Jangan diusap, kalau kamu ingin menangis, menangis saja. Aku tidak apa-apa melihatmu menangis” tuturnya. Reyhan adalah teman dekatnya Handi. “Apa gara-gara Handi ? Tadi aku melihatnya juga dari sini” tanyanya.

Aku menggeleng. “Bukan karena siapa-siapa kok” dustaku. “Ada masalah ? Ceritakan saja. Mungkin dengan cerita, kamu akan lebih tenang”
“Aku dan temanku menyukai yang sama”
Reyhan sempat berpikir sejenak mencerna kalimat yang baru saja aku ucapkan itu.
“Dia jauh lebih sempurna dari aku. Dia pintar, ramah dan cantik. Setiap orang pasti akan memilih dia dibandingkan aku…”
“Aku mengerti maksudmu. Siapa ? Apa Handi ?”
“Aku hanya takut, apa yang belum sempat aku miliki, akan dia miliki” ucapku yang tidak sesuai dengan pertanyaannya.
“Siapapun orangnya, cowok itu beruntung. Disukai oleh 2 orang yang ingin memilikinya” ucap Reyhan memaklumi jika aku tidak ingin menyebutkan namanya. “Dan aku yakin, kamulah yang nantinya akan dia pilih”
“Tidak usah menghiburku Rey, aku tidak apa-apa”
Berat memang jika berada di posisiku. Ini terlalu rumit untuk aku selesaikan. Tuhan, tolong hilangkan perasaan ini. Agar aku bisa melihat temanku bahagia.
Sudah beberapa hari ini, aku menghindar dari Nara ataupun Handi. Aku hanya tidak ingin jatuh terlalu jauh. Aku mencoba untuk tidak memikirkannya. Tapi apa? Hasilnya nihil. Dan hari ini, aku dan dia sama-sama berangkat terlalu pagi. Terpaksa, aku menanggapi sapaannya.
“Berangkat terlalu pagi lagi ?” tanyanya.
“Aku memang selalu berangkat pagi kan”
Dia menghampiriku. “Terlalu rajin itu namanya”
“Oh ya Han, ada seseorang yang selama ini menyukaimu’ ucapku spontan. Aku juga tidak tahu kenapa aku berbicara seperti itu. Dia terlihat terkejut mendengarku. “Siapa ?”
“Itu tugas kamu untuk mencarinya. Yang jelas dia sempurna, sesuai dengan kriteria setiap cowok”
“Di dunia ini tidak ada yang sempurna Din”
“Tapi dia mampu mewakili dari sempurna itu”
Dia mengambil nafas sejenak sebelum berbicara. “Meskipun sempurna, apa berarti aku juga harus menyukainya ?”
Aku membisu. Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya. “Din, jika ada yang menyukai ku secara sempurna, aku akan menolaknya….” ucapnya berhenti sejenak. “Bukan dia yang harus menyukai ku secara sempurna, tapi aku yang akan menyukainya secara sempurna. Aku tidak perlu seseorang yang sempurna, tapi yang aku butuhkan adalah seseorang yang mampu membantuku untuk mencapai sempurna”

Aku terdiam mendengar penuturannya. “Beruntung sekali orang yang kamu cintai Han” ujarku dalam hati. “Tetapi dia memang sempurna kok Han” aku mempertahankan pendapatku.
“Bukan dia yang sempurna yang aku butuhkan, tapi seseorang yang saat ini ada di hadapanku yang aku butuhkan” ujarnya tegas. “Jadi berhenti berbicara tentang dia yang kamu maksud”. Aku terhenyak mendengar ucapannya. “Din, aku tahu siapa ‘dia’ yang selalu kamu bicarakan. Dan aku juga tahu, siapa kata ‘kamu’ yang selalu kamu maksud dalam setiap tulisanmu ”
“Maksudnya ?” tanyaku tak percaya.
“Tessa. Dia sudah menceritakan semuanya. Nara menyukaiku kan ?”

Aku hanya tertunduk. Kata-kataku hilang untuk berbicara. “Tapi apa kamu tahu Din, kamu lah yang aku sukai”
Setelah lama terdiam, akhirnya aku bisa menjawabnya. “Maaf Han, aku tidak ingin Nara kecewa. Aku tidak ingin, orang-orang yang aku sayangi kecewa karena aku. Aku tidak ingin membuat Nara terluka”. Aku langsung keluar dari kelas sambil menahan tangisku. “Tapi Din, apa kamu ingin melihat aku kecewa” teriaknya yang berhasil memberhentikan langkah Andini sesaat.

Hari ini terlalu berat untukku. Jelas-jelas Handi menyukaiku, tapi bagaimana dengan Nara ? Aku tahu, aku tidak boleh egois. Tapi apa aku harus mengorbankan perasaanku sendiri ?

Aku hanya diam saat berpapasan dengan Handi. Aku tahu, pasti dia ingin menanyakan soal kemarin. Tapi aku berusaha untuk selalu menghindar.
“Andin…” panggilnya. Aku berusaha untuk mempercepat langkahku menuju kelas. Tapi dia lebih dulu menghadangku. “Bagaimana denganmu ? Aku masih menunggu jawabanmu…”
Sulit memang untuk mengambil keputusan ini. Tapi aku sudah bertekad untuk mengatakannya. “Han, jujur, aku menyukaimu juga. Sudah sejak dulu bahkan. Tapi, bukan hanya aku saja yang memiliki perasaan seperti ini. Meskipun perasaanmu sama denganku, tapi aku tidak boleh egois. Ada seseorang di sana yang mungkin akan terluka karena kita. Dan aku, tidak ingin menyakiti hati siapapun. Baik kamu ataupun Nara”
“Tapi Din, apa kamu mau mengorbankan perasaanmu sendiri ? Apa kamu ingin bersandiwara untuk tidak mencintaiku?”
“Mungkin itu lebih baik Han. Untuk saat ini, mungkin kita tetap berteman. Dengan seperti itu, baik aku, kamu ataupun Nara mungkin tidak akan ada yang terluka”

Raut wajah Handi terlihat kecewa. Dia menerima segala keputusanku. Maaf Han, aku tidak hanya memikirkan diriku saja, aku juga memikirkan sahabatku. Handi berbalik arah, membelakangiku.
“Tapi Din, tolong jangan larang aku untuk tetap menyimpan perasaan ini. Jangan salahkan aku, jika aku masih tetap menunggumu. Jangan hindari aku, bersikaplah seperti biasa, seperti tidak ada apa-apa. Anggaplah aku temanmu seperti yang lain, meskipun aku memiliki rasa yang beda yang tidak mereka miliki untuk kamu…”

Aku hanya bisa menatap dia berlalu, pergi meninggalkan aku. Aku masih terdiam di tempatku semula. Terkadang, kita harus merelakan seseorang pergi meninggalkan kita bukan karena kita menyia-nyiakannya. Tapi, karena ada perasaan lain yang mungkin sama dengan kita. Perasaan yang sama untuk orang yang sama.

THE END

Cerpen Karangan: Nurul Anggraini
Blog: Nurulalways29.wordpress.com
Facebook: Nurul Anggraini
Sekolah : SMA N 1 GONDANG, kelas XII IPA 2
Alamat : Sedah, Gondang, Sragen
TTL : Sragen, 29 Juni 1995
Twitter : @Nuruul_29

Cerpen Aku, Kamu & Dia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tersenyumlah (Part 1)

Oleh:
You Don’t Know How Precious It Is To Have A Body,Do You? Being Able To Touch And Feeling Warmth. You Have A Voice That Someone Else Can Hear And

Teman Hidup Sejati

Oleh:
Kata orang berlian itu sangatlah indah, namun menurutku dia lah yang paling indah. ‘Dia’, wanita yang membuatku jatuh hati pertama kalinya, rambut panjang lurus berwarna coklat gelap, namun ketika

Cinta dan Sahabat

Oleh:
Pagi ini seperti biasa aku harus menuntut kewajibanku sebagai seorang siswa. Sebenarnya hari ini aku malas sekali untuk sekolah, apalagi harus bertemu dengan Farel setelah kejadian semalam aku jadi

Ada Cinta di Ampera

Oleh:
Dini hari begini, masih saja kendaraan berlalu-lalang di jalan arah Jakabaring. Hembusan AC yang semilir ini membuat bulu romaku berdiri. Sudah tepat pukul dua, mata yang sebenarnya berat ini

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *