Aku Lebih Memilih Setia

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Penantian
Lolos moderasi pada: 2 September 2014

Pikiranku kembali menerawangi langit dikala senja. Ya, karena aku adalah gadis pengagum senja. Dan senja bagiku adalah teman sejatiku disaat aku kehilangan teman nyataku. Sesekali aku melihat deburan ombak yang menyentuh kulitku. Nyes. Sejuk itu merasuk hingga ke dalam jiwakku. Aku yang tengah asyik bernostalgia dengan senja dan ombak, tiba-tiba dikagetkan oleh seorang pria.
Aku menolehnya dan ia tersenyum padaku. Senyuman itu yang selalu menjadi penghuni hatiku saat ini. Ia mendekatiku dan duduk di sampingku seraya memainkan butiran-butiran pasir.
“Mau pulang sekarang atau nanti,” tanya pria itu. Namun pandanganku masih menatap luas ke arah laut yang tiada batas itu.
“Sebentar lagi ya mas, aku masih mau menikmati angslupnya senja itu di balik Pantai Pacitan ini.”
“Nanti tidak dicariin ibu?”
“Aku tadi sudah meminta izin untuk keluar bersamamu.”

Pria itu masih tetap diam, dan mengikutiku menikmati angslupnya senja. Lantunan tabuhan gendang dari arah surau sudah kudengarkan perlahan. Aku bangkit dari tempat dudukku dan menuju tempat parkir sepeda motor, juga diikuti Mas Farhan. Ya, pria itu adalah Mas Farhan yang kukenal 4 tahun yang lalu.

Perkenalan itu terjadi saat aku menghadiri resepsi pernikahan temanku di desa jenangan dan aku hampir lupa bagaimana pertemuaan itu dulu. Namun aku masih ingat pertemuan itu meninggalkan rasa kagum di hatiku.

Beberapa menit kemudian, sepeda motor yang aku tumpangi bersaama Mas Farhan itu memasuki halaman rumahku. Bapak ibu mempersilahkan Mas Farhan masuk dan kudengar mereka tengah asyik berbincang. Selesai kubersihkan diriku, aku menemui mereka di ruang tamu yang hanya ada beberapa sofa yang sudah tua.
“Rencananya, insyaallah minggu depan saya akan merantau keluar kota.” kata Mas Farhan.
“Lha kapan kiranya nak Farhan mau melamar Yuyum?” tanya bapak setelah menghisap sulutan rok*knya.
“Insyaallah secepatnya pak.”
“Berapa lama mas?” tanyaku.
“Insyaallah secepatnya dek. Do`akan mas supaya cepat punya modal untuk melamarmu”.
Semua orang di ruang tamu terlihat diam, termasuk aku dan Mas Farhan.

Selesai perbincangan itu Mas Farhan pamitan pulang. Dan sejak itu aku sangat takut kehilangan Mas Farhan, apalagi ia ingin menikahiku.

Seminggu kemudian yang ditunggu datang juga. Mas Farhan akhirnya berangkat merantau juga. Ia juga berjanji akan mengirimkan kabar padaku sesering mungkin.
Bulan pertama ia sering menelefonku. Entah basa-basi atau sekedar menanyakan keadaan bapak ibu. Begitu selanjutkan beberapa bulan kedepan.
Ku mulai menghitung 3 bulan terakhir ia jarang menghubungiku, jangankan untuk menanyakan keadaan bapak ibu, menanyakan keadaanku saja ia jarang sekali. Awalnya alasan banyak kerjaan dan lama-lama alasan itu sudah tidak masuk akal. Hatiku mulai resah. Bagaimana tidak, aku wanita yang sudah berumur hampi 27 ini belum dinikahi juga. Kuhitung lagi 1 bulan terakhir ia sudah menghubungiku lagi. Aku semakin sepi dan bertanya-tanya, mau dibawa kemana hubungan ku ini?.

Masalah ini menyita waktu ku juga pikiranku. Ibu yang selalu memperhatikan ku juga sedih melihat keadaanku.
“Bagaimana dengan Farhan?” tanya ibu suatu hari di teras rumah yang melihatku duduk termenung sendiri.
“Ndak tahu bu. Dia sudah tidak menghubungiku lagi”.
“Lha terus kapan ia akan melamarmu?”
Aku hanya diam dan menikmati butiran air hujan yang turun menyentuh pucuk-pucuk daun itu.
“Daripada lama-lama menunggu dia tanpa kabar, ya kamu cari saja yang lain.”
“Ndak semudah itu bu.” Ibu hanya diam saja melihat diriku seperti ini..

Hari berganti hari, minggu telah berganti minggu. Penantian ini masih nihil hasilnya. Nyatanya Mas Farhan sampai saat ini belum menghubungiku. Akhirnya dengan kesepakatan bersama, aku mau dijodohkan dengan lelaki pilihan bapak dan ibu.

Mas Yusuf, lelaki yang akan dijodohkan denganku itu. Dia tidaklah tampan seperti Mas Farhan, namun ia lebih soleh dan menomor satukan agama. Dua minggu aku mengenalnya dan Mas Yusuf melamarku. Jujur saja tidak ada sedikit pun rasa cinta ini untuknya. Aku lakukan semua ini demi kepatuhanku sebagai anak kepada orangtuaku, dan disamping itu aku sudah menunggu Mas Farhan terlalu lama. Akhirnya aku dan kedua orangtuaku menerima lamaran itu. Mereka juga sudah menentukan tanggal pernikahannya.

Sebulan sudah aku dilamar Mas Yusuf, dan sepuluh hari sebelum acara itu dimulai. Aku dikagetkan oleh kedatangan seseorang yang telah menghilang dulu, Mas Farhan. Ia datang untuk menepati janjinya.
“Dek, sekarang aku datang. Aku akan menepati janjiku.”
“Janji apa? janji itu sudah melayang, sudah pudar.”
“Maksud kamu?”
“Selama ini mas kemana saja. Dulu mas berjanji akan selalu memberiku kabar atau menelefonku. Tapi beberapa bulan terkahir mas menghilang begitu saja tanpa pamitan padaku, nomor mas juga tidak bisa dihubungi. Sekarang mas datang dan mau menepati janji.” suaraku sedikit sinis.
“Maafkan mas dek, waktu itu mas benar-benar sibuk dan nomer mas sudah mas ganti. Karena banyak teroris yang selalu menghubungi mas”.
“Sudah lah mas, semua alsan mas itu mas simpan sendiri. Maaf mas, aku sudah dijodohkan dengan orang lain pilihan bapak ibu.”
Air mata menetes di pipi Mas Farhan, kulihat wajahnya sangat pilu, luka dan mungkin sangat perih.
“Maafkan saya mas. Saya lebih memilih setia pada suami saya, meski saya tahu cinta mas begitu besar. Ini semua demi kepatuhanku terhadap bapak ibu yang jasanya tiada pernah bisa kuhitung”.
“Jika pilihan dek Yuyum begitu, baiklah mas hanya bisa mendo`akanmu semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawadah, warahmah. Aamiin.” katanya sedikit serak.
Setelah itu Mas Farhan pamitan pulang, dan aku. Aku akan terus setia pada Mas Yusuf juga akan menjadi istri yang soleha baginya.

Cerpen Karangan: Bunga Sholekha
Facebook: Bunga Sholekha

Cerpen Aku Lebih Memilih Setia merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hujan Hari Jumat

Oleh:
Hujan, hujan itu berkah dari yang Maha Kuasa, hujan patut disyukuri. Hujan memberi berkah tersendiri bagi dunia ini. Tak terkecuali denganku. Sore itu aku duduk di koridor sekolah menanti

Umur 25 and Still Counts

Oleh:
Seminggu lalu gua dikirimin undangan pernikahan dari temen deket. Dia temen semeja gua waktu SMA. Dari WA, gua ngucapin makasih dan minta maaf karena gua gak bisa dateng. Pas

Dia buta

Oleh:
Sungguh dia cantik sekali, rambutnya terurai ke bawah, matanya bening, dan dia begitu menawan. Hanya satu yang tak pernah ku lihat darinya, senyumnya. Aku tak pernah melihat itu. Sudah

Dari Pengagum Menjadi Kekasih

Oleh:
Hari itu adalah hari pertamaku untuk memulai prakerin di sebuah universitas swasta di kota Malang, rasanya senang bisa memulai prakerin di sana bukan karena Universitasnya namun ada seorang mahasiswa

Harusnya Aku Menikah

Oleh:
Harusnya aku menikah tahun ini. Tahun Naga, 2012. Tahun yang akan membawa keberuntungan banyak buatku. Tahun yang akan menguatkan aku dalam berbagai situasi. Tahun yang akan menebarkan benih-benih kebahagiaan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Aku Lebih Memilih Setia”

  1. ibat says:

    kasihan farhannya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *