Aku Mawar

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Patah Hati
Lolos moderasi pada: 26 October 2013

Namaku Warda, tapi kau sering kali memanggilku Mawar. Katamu, Warda itu bahasa arab yang artinya bunga mawar. Aku pun hanya bisa mengiakan saja dan tersenyum perlahan saat kau memanggilku Mawar di setiap kali pembicaraan semu kita.
Aku akan menceritakan padamu tentang perasaan yang dulu pernah berlabuh di hatiku. Perasaan yang sampai saat ini, jujur, membuatku tak bisa melupakanmu.
Aku tak pernah menyangka akan berkenalan denganmu pada perayaan lomba se-jawa timur di Jember tahun lalu. Awalnya, kita berteman seperti biasa. Beranjak menjadi sahabat, dan entah mengapa setelah itu aku merasakan suatu hal yang ganjil sekali.
Padamu, kuceritakan semua yang terjadi di hidupku, kisah-kisah cintaku, bahkan hal-hal yang tak seharusnya kuceritakan pada orang lain. Tapi aku menceritakannya padamu. Semuanya. Tanpa terkecuali. Entahlah hal apa yang membuatku begitu percaya padamu waktu itu.
Tak lupa, aku ceritakan padamu tentang diriku yang suka sekali bermain pria. Kau pun tahu, setelah aku ditinggal oleh orang yang sangat aku sayangi, aku sakit hati dan kulampiaskan semua itu dengan mempermainkan hati banyak sekali pria.
Tapi kau tetap, memperlakukanku seperti biasa. Kau tak menjauhiku karena hal itu. Bahkan yang membuatku kagum padamu, perlahan kau mencoba merubah sifatku. Dengan perlahan dan penuh perhatian, yang pada akhirnya aku benar-benar bisa berubah. Kulepas semua sifat jelekku. Aku pun melepas mereka semua hingga aku tak punya siapa-siapa lagi. Yang kupunya tinggallah seorang sahabat yang sangat aku kagumi, dirimu.

Sebagai sahabat, kau juga ceritakan padaku tentang alur hidupmu, alur kisah cintamu. Kau kisahkan padaku bahwa kau menyimpan rasa cinta selama sembilan tahun untuk seorang wanita yang kau sebut ia rembulanmu. Kau kisahkan padaku semua, seperti halnya diriku yang menceritakan padamu segalanya.
Kau kisahkan padaku tentang bagaimana selama ini kau mempertahankan rasa cintamu untuknya. Ya, alur hidupmu sangat jauh berbeda dengan kebanyakan. Kau di kagumi lalu di cintai terlebih dahulu. Selama ini, sejak sembilan tahun lalu. Namun kau anggap hal itu hanya sekedar rintangan yang menguji keteguhanmu mempertahankan rasa cinta untuk seseorang yang kau sebut ia rembulanmu.
Entah mengapa saat itu, ada rasa ketakrelaan disini, di hatikku ini. Aku hanya mampu berangan-angan tentang betapa beruntungnya orang yang kau sebut rembulanmu itu. Hah, andai saja…
Jujur, aku ingin sekali menjadi tokoh rembulan dalam alur hidupmu.

Seiring dengan bergantinya hari, akhirnya aku tahu bahwa ternyata dirimu lebih dari orang biasa. Ya, setelah kutahu dirimu keturunan darah biru, aku lantas memanggilmu ‘Ra’, panggilan akrab untuk seorang putra kiai bukan?
Awalnya kau begitu enggan mengakuinya dan tak mau kupanggil begitu. Namun aku tetap bersikeras yang akhirnya kau pun mengalah dan membiarkanku memanggilmu dengan panggilan apapun sesukaku. Dengan sangat-sangat terpaksa.
Waktu itu, aku hanya bisa membayangkan wajah keenggananmu di seberang sana sambil menahan tawa sebab bayangan wajah yang kususun, agaknya terlalu lucu dan membuat perutku geli membayangkannya. Kenangan yang sungguh begitu indah.
Saat kutanya perihal keenggananmu itu, kau hanya menjawab bahwa kau tidak suka jika dipanggil begitu oleh orang-orang terdekatmu. Ah, saat itu, ada yang sedikit mengganjal di hatiku. Akankah aku sudah menjadi orang terdekat bagimu?
Ra, aku tidak hanya ingin menjadi orang terdekat bagimu. Tapi juga orang yang berarti di hidupmu.
Tapi di balik semua itu, ada satu keresahan di hatiku. Akankah aku pantas buatmu? Kau jauh lebih baik dariku. Semuanya. Kau terlalu baik dariku, dari semua sisi di kehidupanku yang sungguh begitu sederhana ini.
Meski kau sahabatku, aku tak menceritakan semua itu padamu. Aku terlalu malu untuk menceritakan atau bahkan mengutarakan semua itu dengan sebenar-benarnya padamu. Karena itu menyangkut perasaanku yang terdalam pada satu-satunya sahabat yang aku sayangi. Padamu.
Aku hanya bisa mencurahkannya di status-status akun facebook-ku saja, itu pun hanya kata-kata kiasan agar orang-orang tak tahu siapa dirimu sebenarnya.
Dan alangkah paniknya aku ketika kau membacaya dan menanyakannya padaku dengan terus-terus memojokkanku. Aku panik. Ada yang berdegup tak seperti biasanya. Aku bingung. Aku ingin kau tahu yang sebenarnya. Tentang keadaanku. Tentang perasaanku. Tapi aku terlalu takut untuk mengakuinya. Aku ingin kau tahu bahwa aku mencintaimu, aku juga menginginkan kau tak tahu saja hal itu.
Ah, betapa cinta telah membuatku tersiksa waktu itu.

Aku masih mengingat dengan sempurna percakapan kita malam itu,
“Dia bukan siapa-siapa, Ra. Hanya saja Warda merasa kalo dia terlalu baik buat Warda.”
“Lho, kamu ini gimana, War? Katamu, dia bukan siapa-siapa, tapi kamu merasa dia terlalu baik buatmu. Aku jadi penasaran siapa dia sebenarnya, pondo’an ta?”
Aku ingin sekali menjawab orang itu kamu, Ra. Dirimu sendiri. Tapi aku tak mampu.
“Gini aja, aku tahu kamu bingung sekarang. Menurutku, sekarang kamu tanyakan pada hatimu yang terdalam, alasan mengapa kamu menyukainya. Jika kamu tidak menemukan alasan itu, maka teruskanlah dan jaga baik-baik perasaaan itu, karena berarti itu tulus dari hatimu. Dan aku, sebagai sahabatmu, akan terus mendukungmu, Mawar.”
“Tapi, Ra. Bukan itu masalahnya. Warda merasa gak pantas aja jika sama dia. Keadaan Warda kayak gini, sedangkan dia?”
“Ssstt. Itu berarti kamu masih melihat dari sisi materi duniawi saja. Mawar, kamu perlu tahu perasaan itu datangnya dari hati, dan hati itu pemberian Allah agar manusia bisa merasakan rasa cinta tanpa memandang materi duniawinya seperti apa. Hati itu hanya memandang tulus apa gak nya saja. Tanpa sedikitpun peduli pada ganteng-cantik, kaya-miskin, atau apa pun. Hati tak pernah memandang semua itu. Jadi sekarang sebaiknya kamu tanyakan kembali hatimu, apakah perasaan itu tulus atau karena hal-hal yang berbau duniawi saja?”
Aku mencintaimu tulus, Ra. Tak memandang apa pun. Kata ini yang di jawab hatiku waktu itu. Aku ingin sekali mengutarakannya padamu. Namun lagi-lagi aku tak mampu.

Setelah pembicaraan kita itu, aku hendak terlelap bersama kantukku. Aku pejamkan mata, di depanku seakan tampak bayanganmu sewaktu di jember lalu. Bagai putaran video saja. Membuatku rindu, makin rindu padamu.
Aku bolak-balikkan badan berharap bisa terlelap dengan cepat. Tapi tetap saja. Aku tak bisa terlelap, meski malam tertelan senyap. Bayanganmu, masih terus menghiasi pejamku. Aku baru bisa terlelap saat kantuk benar-benar menguasaiku. Mengalahkan segalanya.

Esoknya aku bangun, segera kuambil handphone seusai prosesi shalat subuhku. Untuk kukirim pesan selamat pagi padamu. Kau bertanya, tumben aku menghubungimu pagi sekali. Aku jawab sejujurnya, bahwa aku rindu padamu. Kau pun hanya bisa tertawa kecil dan berucap ‘ada-ada saja’.
Aku selalu mengingat kata itu sampai kini. Kalimat yang seringkali kau ucapkan selain ‘entahlah’ dan ‘mungkin saja’. Aku masih begitu hafal betul kata-kata itu, seperti halnya dirimu yang menyukai kata ‘aich, palang’ dariku. Entahlah, sekarang kau masih mengingatnya atau tidak. Aku tak pernah tahu.

Hari demi hari kian berat kujalani dengan tetap memendam rasa ini. Aku berusaha untuk semakin jarang menghubungimu, namun kau bertanya ada apa, maka kuurungkan niatku dan melanjutkan hubungan persahabatan kita seperti biasanya.
Aku masih sempurna menghafal hampir setiap hal berkesan yang terjadi antara kau dan aku. Termasuk malam itu, saat kau menelfonku dan memintaku keluar rumah untuk bersama menyaksikan malam yang tengah bertabur bintang. Meski kita berada di tempat yang berbeda, namun kau membuatnya seakan dekat. Sungguh begitu dekat.

Banyak sekali tema yang kita bicarakan malam itu. Mulai dari teman-teman di jember lalu, persiapan lomba-lomba yang segera kuhadapi, juga tentang kisah-kisah cintamu yang terkadang membuat dadaku sedikit sesak mendengarkannya.
Malam itu, kau bercerita panjang lebar tentang perasaanmu yang tak tersampaikan selama sembilan tahun pada orang yang kau sebut ia rembulanmu. Kau bercerita padaku semuanya. Tanpa tersisa. Kau tak sama sekali mempedulikan malam yang telah terenggut usia. Juga tak mempedulikan perasaanku.
Aku tak mungkin menyalahkanmu yang telah menyebabkan dadaku sedikit sesak waktu itu. Aku tak mungkin menyalahkanmu karena kau tak tahu apa-apa tentang perasaanku ini padamu. Aku hanya bisa menekan dadaku dan berteriak sekeras-kerasnya dalam hati, bahwa aku cemburu. Sangat-sangat cemburu mendengar kisahmu.

Malam semakin larut, tapi kau tak henti menyiksaku dengan terus menceritakan kisah itu, sebelum akhirnya keadaan itu berubah,
“Oh ya Mawar, ini mungkin jadi malam terakhir buat kebersamaan kita. Besok sore, aku balik ke pondok. Aku harap kau bisa mengerti itu.”
Aku begitu terkejut dengan ucapanmu itu. Seketika ada ketakrelaan disini, di hatiku ini. Langsung kutepis kantukku, dan ingin sekali melewati malam itu bersamamu. Hanya bersamamu.
Kuutarakan inginku, dan kau menyetujuinya. Kita pun berbincang hingga adzan subuh menggema.

Seusai shalat subuh, kukirim pesan singkat padamu, karena aku ingin hari terakhir ini selalu bersamamu. Tak sedetik pun terlewati tanpamu. Tapi kau tak kunjung membalas pesanku. Aku rebahkan diri sambil terus menatap handphone ku. Satu dua menit kutunggu, kau tak kunjung membalas pesanku. Hingga tanpa terasa, aku terbawa kantukku. Kantuk yang tak tetunaikan sebab berbincang semalam suntuk bersamamu.

Begitu bangun, langsung kucek handphone ku, ada dua pesan dan satu panggilan tak terjawab darimu. Aku sedikit menyesali keadaan itu. Aku menyesali diriku sendiri yang tak cepat membalas pesanmu karena terkalahkan kantukku sendiri. Aku menyesali diriku sendiri.
Dengan cepat kubalas pesanmu. Dan setelah itu, pesan demi pesan kita, mengalir seperti biasanya.
Hari itu, agaknya kau sangat sibuk sekali. Mulai dari mencuci baju, merapikan kamar, dan persiapan-persiapan lain untuk kau kembali ke pondokmu. Hingga di hari terakhir itu, waktuku banyak terbuang percuma. Tak bisa selalu besamamu.
Sore hari, kau mengirimiku pesan. Kau bilang hendak berangkat beberapa saat lagi. Aku masih belum bisa melepasmu. Aku lalu menelfonmu, tanpa peduli pulsaku yang sudah menipis sekali.
Aku ingin sekali mendengar suaramu. Kali ini saja.

Masih dengan sempurna kuingat waktu itu, kita tak berbantah-bantah seperti biasanya. Kita lebih banyak diam. Menunjukkan ketakrelaan masing-masing. Dan tanpa terasa, ada yang sesak di sini, di hatiku ini. Ketakrelaan ini penyebabnya. Sesak yang lama kelamaan berubah menjadi rasa sakit. Dan perlahan, ada yang meleleh dari dua mataku.
Kau membuka percakapan.
“Lho, kenapa nangis, Mawar?”
“Ah, gak apa-apa, Ra. Hanya saja, warda agaknya masih belum bisa menerima kenyataan ini.”
Hening sejenak.
“Sudahlah, War. Relakan kepergianku. Toh aku Cuma sebentar di pondok. Dua bulan lagi liburan”
Ia, Ra, Warda tahu. Tapi sehari saja tanpamu adalah neraka bagiku. Ingin sekali aku berucap begitu. Namun entah mengapa aku tetap saja tak mampu.
“Oh ya, mulai sekarang, kamu harus fokus dulu sama persiapan lombamu. Jangan lagi terlalu memikirkanku”
Aku tundukkan kepala. Ada yang semakin deras mengucur dari dua mataku.
“Sebenarnya, aku juga berat menerima semua ini. Sangat berat. Namun aku bisa apa?”
Hening kembali.
“Ya sudah, aku berangkat dulu ke pondok. Kamu sudah bisa merelakan aku, kan?”
“Iya, Ra” ucapku sambil sesekali menyeka airmata.
Dan percakapan kita itu pun berakhir seketika setelah ulukan salam. Kutatap handphone. Menatapnya lama. Terbayang di depanku dirimu yang kian menjauh, tinggalkan aku.

Kembali ada yang mengucur dari mataku. Buliran ketakrelaan atas kepergianmu. Ketakrelaan itu berlanjut hingga malamnya aku tak bisa pejamkan mata. Aku keluar rumah, memandangi malam yang tengah berhias bintang. Teringat lagi malam terakhir kita. Menyakitkan sekali. Aku begitu rindu padamu malam itu, rindu sekali.

Sejak saat itu, aku berusaha menyibukkan diri dengan persiapan lombaku. Berusaha sedikit mengalihkan perhatian dan pikiranku yang selalu tertuju padamu. Tapi aku tak mampu. Bayangmu selalu muncul di hadapanku, pejamku, hayalku, bahkan dalam bidang catur dalam setiap latihanku.
Aku tak mampu menepis bayangmu, Ra. Aku tak mampu.
Dan saat perayaan lombaku telah tiba, aku seakan tak memiliki gairah untuk berkompetisi sama sekali. Seakan ada yang hilang dari jiwaku. Kata-kata motifasimu, canda tawa itu, semuanya. Aku butuh semua itu. Aku ingin kau temani langkahku, temani setiap hembus nafasku.
Setiap waktu, hatiku selalu bermunajat, mengharapmu kembali temani langkahku. Ingin sekali aku mendengar kata-kata motifasimu lagi untuk mengembalikan semangatku. Mengembalikan separuh jiwaku yang terbawa olehmu.
Di malam sebelum aku berjuang mengharumkan nama provinsi kita, semangatku benar-benar tiada. Pikiranku kosong, hambar terasa kulalui semua ini tanpamu.
Aku sangat putus asa malam itu, sebelum akhirnya nada pesan hp-ku berbunyi. Ada satu pesan. Kubuka, membacanya perlahan. Ternyata darimu. Akhirnya aku bisa kembali membaca kata-kata motivasimu. Bahagia sekali. Aku berjingkrak, melompat-lompat bahagia. Aku masih tak percaya. Kubaca lagi. Mengulangnya beberapa kali. Saat itu aku merasa, separuh jiwaku telah kembali.
Aku masih dengan sempurna mengingat, bahkan menyimpan pesanmu hingga kini. Satu-satunya pesan singkat yang membawa perubahan besar bagiku.
Dari pesanmu dapat kubayangkan usahamu mencari hp di tengah-tengah pesantren yang melarang beredarnya hp. Kau berusaha mengirimiku satu pesan saja. Satu pesan yang sangat berarti bagiku. Mengubah segalanya.
Terimakasih, Ra. Terimakasih banyak.
Malam itu, tanpa sedikit pun bosan, aku terus membaca pesanmu. Berulang kali. Tanpa henti. Hingga kantuk hendak mengalahkanku. Kupeluk hp-ku. Kurasakan ketenangan dan bahagia yang sangat waktu itu. Dan akhirnya aku terlelap bersama ketentraman jiwaku karenamu.

Esoknya, aku bangun dengan ketentraman jiwa yang luar biasa. Semangatku telah kembali. Separuh jiwaku telah kembali lagi.
Setiap kali aku membaca pesanmu, semangatku bertambah dan terus bertambah yang pada akhirnya aku benar-benar dapat mewujudkan harapanmu. Ya, seperti kau tahu, aku juara satu di perlombaan se-nasional itu. Aku begitu bahagia waktu itu. Setelah pertandingan terakhir selesai dan aku pemenangnya, aku berjingkrak bahagia. Namun saat itu juga aku teringat padamu. Bagaimana caraku menyampaikan kabar bahagia ini padamu? Ingin sekali aku mengabarimu tentang semua itu, namun lewat apa? Aku pun pasrah dan hanya bisa menundukkan kepala sebab kebahagiaan yang kurasakan belumlah sempurna.
Hingga pada akhirnya, saat libur pesantrenmu tiba, kau menelfonku. Menanyakan tentang kabarku, lombaku, semuanya. Lalu aku pun dengan sangat bahagia menceritakan segalanya. Dan kebahagiaanku itu pun akhirnya sempurna.

Waktu itu, hari demi hari tak kulewati dengan percuma, sebab aku tahu liburan waktu itu tak sepanjang liburan sebelumnya. Tiap waktu yang kulewati bersamamu, selalu saja getaran itu lagi-lagi menghantuiku. Memaksaku untuk mengungkapkan segalanya. Tentang hatiku, perasaanku, semuanya.
Perlahan kukumpulkan tekadku. Mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan yang sebenar-benarnya padamu. Meski ini tak lumrah terjadi, aku harus berusaha, sebab semakin lama kupendam ini semua, jiwaku semakin tersiksa.

Di malam terakhir libur pesantrenmu, bermula dari pesan-pesan singkat yang biasa, perlahan kuarahkan agar semakin merucut ke kehidupan pribadi kita. Dan malam itu, dengan bahasa-bahasa kiasan, aku mengungkapkan segalanya padamu.
Kau tak mengerti dengan maksudku, padahal aku tahu, kau pura-pura tak mengerti semua itu.
Kau anggap semua itu hanya leluconku saja. Padahal aku benar-benar serius waktu itu. Ini pengalaman pertama kali aku mengungkapkan perasaanku terlebih dahulu, dan aku tak mungkin main-main dengan hal itu.
Aku terus meyakinkanmu bahwa semua itu benar-benar tulus dari hatiku. Aku mencintaimu tulus, meski awalnya dimulai dengan rasa kagum yang sangat kepadamu.

Malam itu, tanpa terasa kita bermain pesan hingga sunyi benar-benar menguasai malam. Dan malam itu, kau gantungkan asaku. Kau menyuruhku tidur dan menunggu keputusanmu keesokan harinya. Maku pun mengiakan. Meski malam itu, jujur, aku tak bisa sedikit pun memejamkan mata. Perasaan lega, senang, harap-harap cemas, semua bergelayut di pikiranku waktu itu.
Aku benar-benar ingin kau menjadi imamku, Ra. Menjadi lentera hidupku.
Paginya, dengan harap-harap cemas yang sangat, aku mengirimimu pesan terlebih dahulu. Dan apa yang aku takuti selama ini benar-benar terjadi. Kau menolakku. Ya, kau menolakku dengan dalih ingin meneruskan penantian panjang untuk seseorang yang kau sebut ia rembulanmu.
Saat itu tanpa kusadari, ada yang menetes dari kedua mataku. Sakit, kecewa, malu bercampur aduk waktu itu. Namun aku sadar, aku memang tak pantas buatmu.

Sejak saat itu, kita kembali menjalin hubungan persahabatan seperti biasanya dan seakan tak pernah terjadi apa-apa.
Perlahan aku mulai penasaran, siapa orang yang kau sebut rembulanmu itu. Kuungkit-ungkit dan akhirnya kau pun menceritakan segalanya padaku. Tentang santri dan familimu yang lebih dulu menyukaimu sewaktu MTS, 4 wanita yang lebih dulu menyukaimu kini, termasuk aku, hingga rembulanmu yang kau sebut bernama Icha itu.
Dan kini aku telah dengan sempurna membaca catatan “kesetiaan purnama”mu. Dengan bahasa yang mengalir, membuatku makin semangat meniru jejakmu, menumpahkan goresan tinta untuk menciptakan alur-alur yang indah.
Kini mungkin kau tengah sibuk dengan tugas-tugas kuliahmu, begitu pun aku. Maka dari itu, kuhaturkan banyak terimakasih padamu, karena kau telah pernah atau bahkan selalu merubah alur hidupku. Dan maaf jika catatanku ini tak seirama catatanmu, karena aku tak sepertimu yang sudah begitu mahir dengan beragam kata-kata itu.
Ohya aku lupa, ini hari ulang tahunmu. Maaf aku tak bisa menghadiahimu apa-apa. Hanya mampu berdoa dan bermunajat pada Yang- Esa, semoga kau selalu dalam lindungan cahaya-Nya.
Sekian dariku.

Mawar
Wiraraja, 09 Oktober 2012.

Cerpen Karangan: Fairuz Zakyal Ibad
Facebook: Fairuz Zakyal Ibad

BIOGRAFI PENULIS
Fairuz Zakyal ‘Ibad, merupakan nama pena dari Ach. Fairuzzabadi.Seorang pengagum cahaya, rembulan, dan kesunyian.Lahir di sebuah desa kecil yang dikelilingi aliran sungai, Lengkong Bragung Guluk-Guluk Sumenep Madura.Mulai menulis sejak mengenyam bangku Madrasah Tsanawiyah di Raudlah Najiyah, Lengkong, dan tetap aktif menulis hingga kini. Lebih senang menikmati oretan pena sendiri di antara kesunyian dari pada mengirimkan ke berbagai media massa. Tengah bermukin di Pondok Pesantren Annuqayah Lubangsa Selatan dan penggiat di Komunitas Cinta Nulis (KCN) sekaligus “pengasuh” Komunitas Sastra Embun Pagi Raudlah Najiyah putri. kini tengah merampungkan buku kedua dengan judul, Tentang Kita, setelah buku pertama terbit dengan judul, Kesetiaan Purnama (2012)

bisa dihubungi di:
email: genangan.cahaya[-at-]gmail.com
fb: Fairuz Zakyal Ibad
hp: 081939455238

Cerpen Aku Mawar merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Berawal Dari Facebook

Oleh:
Ini kisahku sekitar 3 tahun yang lalu. Ya 3 tahun yang lalu memang ada kejadian yang sungguh mengesankan. Namaku Tasya duduk di bangku SMP kelas 7, Mula-mula aku terkejut

Kenapa Harus Gue?

Oleh:
Lamunan Rahma buyar ketika terdengar derit pintu kamarnya terbuka. Di lihatnya sahabatnya telah berdiri di depan pintu. “Ngelamunin apa sih non?” “Menurut lo?” “Oh ya gue tau si cowok

Aku Merindukannya

Oleh:
Silih berganti, datang dan pergi. Hari demi hari, ada saja yang datang dan pergi. Namun mereka tak berarti apapun, semuanya tetap sama walau ada yang datang dan pergi. Mereka

Lentera Bintang (Part 1)

Oleh:
“Reeeeennndy, bangun sayang udah siang!!!” “Bentaran napa mi, masih pagi,” kata gue sambil meluk guling membelakangi mami gue. “Bangun gak sekarang, kamu jangan bikin mama kesel kenapa sih Ren?”

Diary Putri

Oleh:
“Hidup ini indah dan akan lebih indah bila kita bisa memiliki seseorang yang kita sayangi. Dan jika engkau merasakan cinta pada seseorang, katakanlah. Berani jujur dan jangan ragu mengungkapkannya.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *