Aku Melihat Cinta di Mata Suamiku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Sedih, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 2 July 2013

Berada di antara dua lelaki yang dicintai. Bahagia. Akan tetapi, aku harus memilih salah satu karena alasan tertentu. Cintaku sama besarnya. Aku tak mungkin memilih salah satu. Karena memang tak ada yang pantas untuk dibuang. Aku tak sanggup jika harus hidup tanpa seorang di antara mereka. Mereka berperan sama untuk hidupku. Mencintaiku. Menyayangiku. Menjagaku. Bagaimana mungkin aku harus memilih salah satu di antara mereka?

Aku hanya hidup dengan seorang papa. Tanpa mama. mama meninggalkan aku dan papa pasca melahirkan aku ke dunia. Sampai sekarang, papa tak pernah mencari pengganti mama. Oleh karena itu, papa tak perlu lagi diragukan kesetiaannya. Dia mengatakan hanya tiga wanita yang dicintainya di dunia ini. Nenek, mama, dan aku. Aku salut dengan papa. Aku berharap suatu saat nanti, aku akan dipertemukan dengan seorang lelaki seperti papa.

Kini aku tumbuh remaja. Usiaku kini menginjak 19 tahun. Aku memiliki kekasih yang bernama Arya. Akan tetapi, kisah cintaku dengan Arya tak bisa berjalan mulus karena papa. Aku tak mengerti kenapa papaku terlalu over dalam hal melindungiku. Aku sudah dewasa. Aku bisa memilah dan memilih mana yang terbaik untukku. Namun alasan papa adalah dia hanya tak ingin putri kecilnya terluka karena seorang lelaki.
“Papa, aku tahu Arya itu setia. Kami sudah jalan selama 2 tahun pa”
“Shil, Arya itu duda! Apa kamu mau, nantinya akan jadi janda karena Arya tidak betah dengan kamu?”
“Papa, apakah Shilla salah mencintai seorang duda? Arya pasti akan belajar dari pengalaman pa, setiap orang tidak akan mau mengalami kegagalan berkali-kali. Apalagi kegagalan dalam pernikahan. Maka dari itu, Shilla yakin, Arya akan dewasa dalam membina rumah tangganya nanti. Lagian pa, Arya bercerai dengan istrinya bukan karena Arya bosan atau tidak betah dengan pernikahannya. Tapi karena mereka tidak saling mencintai, mereka itu menikah akibat perjodohan pa”
“Jika kamu tetap melanjutkan semuanya, papa akan sakit hati”, Papa berlalu meninggalkanku.
Aku terdiam. papa terlalu keras kepala. Dia keukuh dengan kata-katanya. Aku tak mungkin menyakiti papa, namun aku juga tak mungkin melepaskan Arya begitu saja. Arya sudah terlalu lama hidup dihatiku. Akan sulit jika aku membunuh Arya dalam pikiranku. Aku juga punya hak untuk hidup dengan seorang suami yang aku cintai. Akan tetapi, aku tak punya hak untuk menyakiti papa. Aku tak punya hak untuk hidup dengan seorang suami yang aku cintai tanpa restu papa.

“Shill, besok malam aku pengen ke rumah kamu, ketemu papa kamu ya?”
“Arya, kamu tahu sendiri kan? papa masih belum merestui hubungan kita. Padahal aku sudah berkali-kali minta restu sama papa”
“Ya kalau gini terus kan kita nggak bisa apa-apa. Aku bakal coba datang ke papa dan bicara lagi minta restu beliau. Mudah-mudahan aja dia mau kalau aku langsung yang bicara. Ya kan?”
“Kamu nggak takut kejadian satu tahun lalu terulang lagi? Saat papa mengusir kamu mentah-mentah?”
“Memangnya kita pacaran anak kecil? Kucing-kucingan melulu kayak gini. Umur kita makin tambah tua sayang. Kita mesti perjuangkan. Oke?”, Arya menatapku dengan penuh harapan. Dia menarik kedua pipiku lebar-lebar agar aku bisa terlihat senyum, “Senyum dong, kita pasti bakalan bisa luluhin hati papanya Shilla”.
Begitulah, Arya selalu membuatku tenang. Kedewasaannya menjadikan motivasi dan semangat dalam hidupku. Bersamanya aku tak akan merasa hilang arah. Setiap hari mendengar suaranya, adalah kebahagiaan dan itu adalah anugerah.

“Shilla”, Terdengar suara papa sambil menggedor pintu kamarku.
“Ada apa sih pa? Kok nggak sabar amat?”, Protesku ketika pintu kamarku telah terbuka sempurna.
“Si duda itu datang”, Sikap papa terlihat dingin. Aku tahu dia tak suka. Akan tetapi, mau tak mau, semua ini harus kami jalani untuk memperjuangkan cinta kami.
“Dia Arya yah, dia punya nama. Ayo, sekarang kita keluar temuin Arya”, Papa mengikutiku. Kulihat Arya sudah duduk di ruang tamu. Kali ini sudah ada perkembangan. Setahun yang lalu, baru saja Arya datang langsung di suruh pulang oleh papa.
“Biar aku buatin minuman, mau minuman apa Arya?”, Tanyaku pada Arya setelah papa duduk di seberang Arya.
“Apa sajalah Shill”
Aku berlalu meninggalkan papa dan Arya. Aku tak tahu apa yang dibicarakan mereka berdua. Yang pasti, setelah aku mengantarkan minuman, Arya sudah beranjak dari duduknya.
“Lho, Arya, kok mau pulang sih? Minumannya baru jadi”, Kataku panik. Aku menatap papa, tapi papa membuang muka.
“Udah makasih Shill, aku pulang dulu ya, aku buru-buru. Dapet telpon dari client”, Hanya kata itu yang diucapkan Arya. Arya berlalu pergi. Aku tak habis fikir. Aku segera tahu apa yang barusan Arya dan papa bicarakan.

Sejak saat itu, Arya tidak pernah lagi menemuiku. Aku pun sudah putus asa untuk menghubungi Arya. Tidak ada satu pesanpun darinya sebelum benar-benar menghilang dariku! Aku tak mau tahu lagi tentang Arya yang tiba-tiba lenyap ditelan bumi begitu saja. Mungkin aku hanya bisa mencintai papa. Aku tak ingin mencintai lelaki lain lagi selain papa.
Kini aku tengah dekat dengan seorang teman papa, namun usianya tak seusia papa. Hanya terpaut jarak 4 tahun antara usiaku dan usianya. Aku tak punya rasa apa-apa dengannya, namun karena aku menyayangi papa, aku akan berusaha membahagiakan papa dengan menerima laki-laki pilihan papa untuk hidupku.

Saat Reindra dan aku makan bersama, tiba-tiba aku melihat sosok yang sangat familiar dipandanganku. Ada rasa aneh yang bergejolak dalam hatiku ketika melihat orang itu. Dia Arya, yang telah lenyap 1 tahun terakhir ini! Aku menghentikan aktivitas makanku dan berlari menghampiri Arya.
“Aryaaa”, Teriakku. Arya sempat menoleh dan dia berlari kencang ingin menghindariku. Aku pun berlari ingin menyusulnya.
“Shilla, Shill, mau kemana?”, Aku menatap asal suara, Reindra berdiri, dia juga ingin menyusulku. Namun aku tidak memperdulikan Reindra. Yang ada dipikiranku hanyalah ingin memeluk Arya. Ingin menanyakan semuanya, mengapa dia tega meninggalkanku tanpa meninggalkan satu pesanpun.
Braaakkk!!!

Aku tahu aku salah. Aku tahu aku tak seharusnya bertindak bodoh seperti itu. Kini calon suamiku, Reindra divonis akan mengalami kebutaan permanen. Seharusnya aku tidak berlari mengejar Arya dan tetap bersama Reindra. Papa selalu menenangkanku agar aku tidak terlalu merasa bersalah. Akan tetapi, setiap kali aku melihat Reindra, hatiku terasa miris. Aku menjadikan dunianya gelap karena aku. Satu-satunya cara yang dapat membayar semuanya adalah aku akan bersedia menjadi penerang dunianya.

Segala pengurusan tentang pernikahan aku dan Reindra telah beres. Sebentar lagi hubungan aku dan Reindra akan diresmikan. Aku yakin, nantinya cinta akan datang karena terbiasa.
“Shill, kamu yakin bersedia menikah denganku yang buta ini?”, Nampak wajah Reindra menunjukkan gurat kegelisahan dan kekhawatiran.
“Jangan khawatir Ndra, aku bakalan bersedia menerangi dunia kamu untuk menebus semuanya. Meskipun tidak seterang saat kamu bisa melihat, paling tidak aku bisa menjadi mentari untuk hati kamu”, Kataku berusaha tulus setulus mungkin.
Saat rencana pernikahan tinggal seminggu lagi, ada kabar dari rumah sakit bahwa Reindra dapat pendonor kornea mata. Aku sangat bersyukur. Namun, pihak rumah sakit merahasiakan identitas pendonor. Di tengah keheranan, aku cukup bahagia karena calon suamiku bisa melihat lagi.

Kini aku benar-benar resmi menjadi seorang istri dari Reindra Permana. Perasaan cinta yang kutunggu hadir tak kunjung datang. Akan tetapi, setiap aku memandang mata Reindra, ada perasaan aneh yang menggebu-gebu di dalam hatiku. Seakan kerinduanku bisa tersalurkan kesana, aku selalu menemukan kedamaian saat menatap mata itu. Setiap memandang mata Reindra, aku merasa selalu ingin bersamanya, tak ingin jauh, tak ingin lepas. Aku menemukan cintaku di mata suamiku yang tak kucintai.
“Shilla”
“Papa, ngagetin aja”
“Lagi apa?”
“Lagi nonton tv aja pa, kenapa?”
“Reindra mana?”
“Lagi kerja, pa”
“Kamu mencintai Reindra, sayang?”
Deg! Aku terdiam. Aku tak tahu harus menyahut apa kepada papa. Ingin sekali aku menjawab tidak mencintai Reindra, namun aku tak mungkin mengecewakan papa.
“Kenapa diam nak?”
“Cinta kok pa”, Aku berusaha tersenyum.
“Baguslah kalau begitu. Cintailah suamimu seperti kamu mencintai papa. Cintalah suamimu seperti mama mencintai papa, Shilla. Ini untukmu, tapi janji ya, setelah membaca ini, kamu jangan bertindak aneh yang membuat suamimu terluka lagi, papa sayang kamu sayang”, Papa menyerahkan selembar amplop padaku, dia mengecup dahiku dan berlalu keluar dari kamarku. Aku heran, segera saja kubuka amplop itu.

Dear, Shilla, maafkan aku pergi begitu saja meninggalkanmu tanpa sepatah kata pamit pun. Aku tahu bagaimana sakitmu, sayang. Tetapi ini semua kulakukan karena aku sangat mencintaimu. Aku tak ingin membuatmu bingung memilih antara aku dan papamu. Aku juga tak ingin menjadikan kamu sebagai seorang pembangkang papa kamu yang telah mengurusmu sebagai single parent di dunia ini.
Shilla, aku menyayangimu melebihi apapun. Aku pergi bukan karena aku tak cinta, melainkan untuk menjaga cinta kita. Aku sadar setelah papamu berbicara padaku. Bahwa jika aku mencintaimu aku mesti pergi jauh darimu. Kamu seorang gadis belia yang pantas mendapatkan masa depan cerah bersama Reindra, bukan bersamaku seorang duda yang usia kita terpaut jarak 10 tahun. Mungkin ada kesalahan di antara cinta kita sayang. Maafkan aku harus pergi.
Jangan cari aku lagi Shilla. Tataplah mata suamimu, disanalah kau akan temukan cinta. Jaga baik-baik papamu dan jangan kecewakan dia, sayang. Aku mencintaimu juga papamu. Jangan cari aku lagi, tetaplah berada di samping suamimu dengan setia. Cintailah dia seperti kamu mencintaiku dahulu. Kamu akan temukan cinta di mata suamimu. Dan kamu akan mendapat cinta tulus dari hati suamimu. Aku tahu dia sangat menyayangimu Shlla.
Aku mencintaimu.
Arya.

Air mataku tak bisa terbendung. Sekarang aku mengerti semuanya. Aku melihat kearah pintu kamarku. Suamiku tengah berdiri disana dengan wajah lelah. Aku menatap matanya. Tatatapannya seperti Arya menatapku. Kutemukan keteduhan disana. aku menemukan cinta di mata suamiku. Aku mencintai suamiku. Aku beranjak dari dudukku dan langsung memeluk suamiku erat sekali.
“Aku mencintaimu, suamiku. Maafkan aku”

END

Cerpen Karangan: Mutia
Blog: http://thiaputra.blogspot.com
Kunjungi blog saya thiiaputra.blogspot.com dan temukan saya via twitter @tiabcd_z. thanks sudah membaca cerpen karya saya 🙂

Cerpen Aku Melihat Cinta di Mata Suamiku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


One Time

Oleh:
“Felly! Gue tunggu di studio, ya?!,” ucap Bram dengan semangat saat mereka telah menjalani mid-semester di hari terakhir. Felly hanya dapat mengangguk mantap dengan senyuman yang lebar. Dan juga,

Termyata Aku Jatuh Cinta

Oleh:
Saatku masuk kejenjang SMA, aku mulai dapat merasakan semua perubahan yang ada di lingkunganku. Pada saat di kelas, guru meminta tolong kepadaku untuk membawakan buku tulis yang barusan kami

Surga On Stage (Part 2)

Oleh:
Dan dua minggu setelah itu aku mengetahui semuanya. Hokaido datang dengan jaket kaos lorek putih hitam dan celana putih, dia seperti bintang di pagi hari. Senyuman tidak pernah hilang

Seroja Kumala

Oleh:
Aku tak tau ini harus ku sebut sebagai apa. Aku gundah, aku seperti akan melemah. Tapi aku tak butuh dia kasihani. Aku ingin tetap merasakan ini, walau rasanya harus

Bunga Untuk Yang Terakhir

Oleh:
“Dear, Diary… Alira Faza Anindya. Itu namaku. Aku anak ketiga dari tiga bersaudara. Kakakku yang pertama bernama Ahzan Fauzi. Kakakku yang kedua bernama Alby Fazrial.”. Lembaran kenangan tulisanku waktu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Aku Melihat Cinta di Mata Suamiku”

  1. ciks says:

    baguss kak cerpennya 😀 !!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *