Aku Membencinya

Judul Cerpen Aku Membencinya
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 10 January 2017

Di suatu sekolah terdapat siswi SMA kelas 1 yang pintar, Tiza namanya. Sifat Tiza sangat berbeda dengan Zein. Zein adalah siswa yang malas, bodoh dan selalu mencontek PR Tiza. Zein selalu terlambat masuk sekolah, tidak memakai seragam rapi dan tidak disiplin saat upacara. Diantaranya lupa membawa topi dan ikat pinggang. Tiza selalu menasihati Zein supaya belajar dan mengerjakan PR sendiri di rumah. Tapi Zein keras kepala. Papanya pun sudah jengkel dengan sikap Zein. Tiza pun sangat kesal dengan Zein dan bahkan membencinya. Tapi meskipun Zein malas, banyak juga yang nge-fans bahkan suka padanya. Karena dia memiliki wajah ganteng dan tinggi dan putih. Dia juga anak basket. Bahkan hampir seluruh siswi sekolah itu menyukainya. Tapi ada juga yang tidak, yaitu Tiza salah satunya. Karena Tiza sudah memiliki pacar, namanya Victor. Victor adalah ketua OSIS di sekolah itu. Meskipun demikian, sedikit yang menyukainya.

Pulang sekolah, Victor mengajak Tiza untuk membeli novel terbaru. Tapi Tiza tak bisa karena nanti dia akan tes bahasa inggris. Victor memahaminya. Karena tak jadi membeli novel hari ini, keesokan harinya Victor mengajak Tiza lagi tapi Tiza tak bisa karena dia akan les matematika. Lalu keesokan harinya Victor mengajak Tiza lagi tapi dia tidak menemui Tiza hari ini. Kata teman-temannya Tiza buru-buru pulang karena dia harus belajar besok ulangan fisika. Victor kecewa, akhirnya dia beli novel sendiri. Sampai di toko, Victor tak sengaja menabrak seorang cewek yang membawa banyak buku. Sehingga buku-bukunya terjatuh semua. Victor membantu mengambil buku yang terjatuh. Tanpa disengaja tangan mereka menyentuh buku yang sama. Tangan mereka pun saling bersentuhan. Lalu mereka saling memandang. Kemudian mereka mengobrol.

“Maaf tadi aku nggak sengaja menabrak mu. Banyak buku yang ku bawa jadi aku nggak bisa melihat ke depan” ucap perempuan itu meminta maaf
“Iya nggak papa. Ngomong-ngomong kamu beli buku sebanyak itu?” tanya Victor
“Iya aku suka banget baca novel”
“Kamu suka baca novel? Berarti hobi kita sama donk. Aku juga suka baca novel. Kamu suka novel yang apa?” tanya Victor
“Aku suka novel yang horor dan misterius. Meskipun aku suka, tapi aku kalau gelap takut sih. Karena aku setelah baca, selalu kebayang hantunya itu”
“O… jadi kita sama donk. Aku juga suka novel hantu. Kamu kalau diajak ngobrol asyik juga ya. Oh ya sampai lupa nggak kenalan. Kenalkan aku Victor”
“Salam kenal aku Rose. Errr kamu punya nomor hp atau sosmed apa gitu?” tanya Rose
“Punya. Ini nomor aku”
Setelah bertemu dengan Rose, di dalam hati Victor terpikir bahwa Rose lebih nyaman diajak mengobrol dari pada Tiza yang hanya bisa dengan buku dan belajar.

Beberapa hari kemudian, Tiza mengajak Victor untuk belajar bersama. Vctor menolak dengan alasan ada latihan voli. Padahal Victor ingin menemui Rosi. Lalu di depan gerbang sekolah Zein melihat Tiza sendirian. Zein pun menyapa Tiza.

“Sendirian aja” kata Zein mengagetkan Tiza
“Apaan sih” jawab Tiza sinis
“Ditolak ajakannya ya” ejek Zein
“Bukan urusanmu, lagian dia harus latihan voli”
“Oh gitu…” kata Zein masih mengejek
“Ikut aku yuk” ajak Zein
“Kemana?” tanya Tiza masih kesal
“Ke tempat yang kamu suka. Mana lagi kalau bukan toko buku” ucap Zein. Mendengar toko buku Tiza pun bersemangat dengan ajakannya Zein dan dia mau. Kemudian mereka pergi bersama naik sepeda Zein. Tiza membonceng di belakang sepedanya tapi berdiri karena sepeda cowok.

Saat di toko buku, ketika membaca-baca buku mereka terlihat rukun seperti kakak beradik. Setelah ke toko buku sampai sore, malamnya mereka nongkrong sambil makan jagung bakar. Mereka telah banyak membeli buku. Tiza membeli buku pelajaran sedangkan Zein komik.

Karena Zein pulang sekolah malam-malam papanya memarahi Zein. Karena seharusnya malam digunakan untuk belajar dan istirahat. Apalagi Zein sangat malas belajar. Dia hanya bisa pergi, makan, main hp, lalu tidur. Tidak pernah belajar. Lalu papanya memutuskan Zein untuk les setiap hari (kecuali minggu). Zein pun membantah dia tidak mau les. Ia hanya ingin menikmati masa mudanya yang tidak akan terjadi 2 kali. Tapi Zein berlebihan menikmati masa mudanya. Lalu dipanggilkannya guru les. Zein harus belajar. Tapi belum sampai sehari, guru les Zein sudah tidak sabar mengahadapi Zein yang seperti itu. Lalu papanya menacari penggantinya sampai 5 kali tapi semua guru merasakan hal yang sama. Karena berputus asa diam-diam papanya Zein melapor ke guru. Lalu guru memberi solusi supaya yang mengajar les Zein adalah murid tercerdas di sekolah itu, saiapa lagi kalau bukan Tiza sang kutu buku. Kemudian, Tiza dipanggil ke ruang guru. Sang guru menceritakan semua. Sebenarnya Tiza tidak mau karena yang diajarinya itu Zein, cowok yang paling ia benci. Tapi mau bagaimana lagi guru dan papanya Zein menaruh harapan terakhir padanya.

Sebelum les, Tiza pergi ke rumahnya Zein. Zein yang mengetahuinya pun bertanya-tanya.
“Loh! Kok kamu ada di sini? Mau ngapain kamu?” tanya Zein tidak suka
“Pah, kok dia??” tanya Zein pada papahnya
“Iya dia sekarang itu menjadi guru lesmu. Jadi setiap hari kamu harus belajar dengannya ya” jawab papah
“Kenapa harus dia? Zein nggak mau! Pokoknya nggak mau!” kesal Zein
“Udah-udah! Zein cepat antar dia ke kamarmu. Biar kalian belajar!” perintah papa
Lalu dengan terpaksa Zein harus belajar dengan Tiza. Di kamar, mereka pun bertengkar.

“Ngapain sih kok kamu sok pinter! Jadi guru les ku segala lagi!” bantah Zein
“Ih! Sebenarnya aku juga nggak mau tau! Ini tuh gara-gara perintah guru. Sebagai murid teladan, Tiza harus menaati semua perintah orang tua. Dengan terpaksa aku jadi gurumu!” Kesal Tiza
“Ya udah emang gue peduli! Wlek!” Ejek Zein dengan menjulurkan lidahnya
“Wlek! Ya udahlah kita belajar aja!” ucap Tiza menghentikan pertengkaran
“Hmm” jawab Zein malas
Mereka pun belajar bersama. Banyak adegan romantis yang mereka alami saat belajar.

Sementara itu, semenjak Victor kenal dengan Rose, mereka sering chat-chatan dan kiranya mereka saling suka. Ingin Victor putus dengan Tiza. Namun akhir-akhir ini Tiza jadi jarang ditemui karena siang Tiza harus belajar dan malamnya harus mengajar les Zein. Tapi Victor belum tau kalau sekarang Tiza menjadi guru lesnya Zein. Kiranya kalau Victor harus menunggu untuk putus dengan Tiza itu terlalu lama. Karena Tiza sungguh jarang ditemui karena mereka juga berbeda kelas. Victor sudah tak sabar lagi untuk menyatakan perasaan pada Rose. Karena takutnya Victor sudah ada yang mendahului. Mungkin dirinya harus menyatakan kepada Rose dulu lalu jika ia sudah bertemu Tiza baru ia akan putus dengannya.

Keesokan harinya, setelah selesai mengajar Zein, karena lapar Tiza makan di restoran sendirian. Tak sengaja Tiza melihat Victor dinner bareng dengan perempuan lain. Tiza pun lebih mendekat lagi ke arah meja makan itu. Ternyata benar itu adalah Victor. Namun siapa perempuan itu? Karena tak terima Tiza dari belakang menumpahkan air ke tubuh Victor. Setelah itu mempermalukan Victor.

“Dasar lelaki buaya! Siapa cewek ini? Kok kamu sama dia sih?” tanya Tiza keheranan
“Ceh! Kamu nggak tau ya kalau kita ini dah putus!” kata Victor
“Putus? Sejak kapan?” tanya Tiza
“Sejak aku ngenal Rose. Ya aku pikir dia lebih baik dari mu. Dia lebih banyak mengeluangkan waktu buat aku. sedangkan kamu? Hidupmu hanya untuk belajar dan belajar! Kami juga memiliki hobi yang sama jadi aku pikir aku lebih cocok dengan Rose. Sebenarnya aku mau putus denganmu. Tapi kau selama ini jarang ditemui! Kemana aja sih kamu selama ini? Ya udah daripada aku nunggu kamu yang nggak perhatian dan entah kemana mending aku tembak aja cewek lain. Dan aku pikir setelah aku bertemu denganmu aku ingin mengatakan ‘KITA PUTUS’ dan kita sekarang hanya sebagai teman biasa. Nggak ada hubungan apa-apa” Jelas Victor panjang lebar
“Ya ok aku terima kalau kita putus. Emang selama ini aku yang salah. Aku yang kurang perhatian sama kamu. Dan kiranya lebih baik kita putus aja. Dari dulu kita emang nggak cocok. Semoga hubungan kalian langgeng” jawab Tiza sambil menangis harus meninggalkan orang yang dia cintai selama ini
“Tapi kita masih bisa menjadi teman atau sahabat” kata Victor sedikit menghibur Tiza. Tiza lalu mengangguk mau dan mengakhiri pembicaraan.

Di sekolah, Zein mengagetkan Tiza yang dari tadi bengong.
“Hei! Dari tadi bengong aja. Nih minum” kata Zein sambil memberikan Tiza minuman
“Ngagetin tau nggak” kata Tiza sebel
“Mikirin apa sih? Ooo aku tau pasti ini soal Victor ya?” tanya Zein
“Iy…ya” jawab Tiza gugup
“Victor mutusin aku” tambah Tiza
“Kok bisa?” tanya Zein. Lalu Tiza pun menceritakan kejadian kemarin. Zein dan Tiza sepertinya sudah semakin akrab dan mereka tidak bertengkar lagi. Meskipun belum resmi sebagai sahabat, tapi mereka sekarang seperti sahabat atau kakak beradik.

Setelah mendengar cerita dari Tiza, Zein pun ikut sedih. Akhirnya dia mempunyai solusi untuk menghibur Tiza. Zein mengajak Tiza pergi ke tempat liburan besok karena besok adalah hari Minggu. Tiza heran mengapa Zein mengajaknya pergi. Lalu Zein menjawab karena sebagai ucapan terimakasih sudah menjadi guru lesnya. Berkat Tiza, Zein yang dulu nilai ulangan matematika 5 sekarang menadi 9 di ulangan kemarin. Spontan Tiza memeluk Zein karena Tiza terlalu girang. Tapi Zein tidak balas memeluk. Karena satu kelas memperhatikan mereka. Menyadari hal itu Tiza pun melepaskan pelukannya.

Keesokan harinya, pagi hari Zein menghampiri rumah Tiza naik mobil. Ternyata Tiza sudah menunggu Zein di teras rumahnya. Lalu mereka pun berangkat bersama-sama. Mereka pergi ke taman mini Indonesia. Mereka banyak menaiki wahana seru. Mereka senang dan bahagia. Diantaranya mereka saling berfoto, makan arum manis bersama-sama, berpegangan tangan, dan lain lain. Orang-orang yang melihatnya pasti berpikir mereka pacaran, tapi sebenarnya tidak.
Setelah itu, mereka pergi ke sungai di taman itu dan menaiki kapal. Zein yang mendayungnya. Mereka terlihat romantis.

“Zein, sungai ini indah ya, cantik, airnya jernih. Aku suka deh tempat kayak gini” kata Tiza memulai pembicaraan,
“Kamu suka? Syukurlah. Kalau kamu senang aku juga ikut senang jawab Zein kalem”
“Au pikir kamu dulu itu orangnya menyebalkan, keras kepala, nakal. Ternyata tidak. Kamu bisa berubah. Aku heran deh Zein, kok kamu bisa berubah sedrastis ini dengan waktu sebulan. Orang lain yang senakal kamu pasti perlukan beberapa bulan. Apa yang menginspirasi mu berubah?” tanya Tiza penasaran sambil memandang wajah Zein dengan seyuman manis
“Kamu. Karena aku suka kamu” jawab Zein keceplosan. Tiza yang mendengarnya pun kaget. Zein yang tadinya menatap wajah Tiza sekarang berusaha berpaling darinya dan mengucapkan kata ‘maaf’
“Aku juga suka kamu kok” jawab Tiza dengan senyuman manis. Lalu Zein yang tadinya menoleh ke arah lain sekarang kembali ke wajah Tiza dan bertanya tanya. Dalam hatinya mengucapkan kata ‘beneran?’
“Iya aku suka” jawab Tiza seakan-akan bisa mendengar kata hatinya Zein.
Lalu mereka saling tersenyum dan berpandangan mata. Setelah itu mereka berpelukan. Tak sangka ternyata cowok yang selama ini ia benci lama-lama suka juga. Dan cewek yang paling jual mahal akhirnya membuka hatinya untuk mencintainya. Sungguh pertemuan dua insan yang indah.

Cerpen Karangan: Dinda Mutiara Az Zahra
Facebook: endang setyowati
IG: @D’zahra_kf
Tolong follow dan like fotonya

Cerita Aku Membencinya merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Menyayangi Bukan Dari Penyesalan

Oleh:
“Dek, tolong yang sebelah kiri ditarik lagi. Itu masih miring!” suara perempuan bernada tegas dan agak aneh karena pilek terdengar di depan kampus pagi ini. Aku yang baru saja

Love Or Terror Letter?

Oleh:
Matahari tersenyum kembali, menampakkan cahayanya dari arah jendela kamar Vanie. Dinding kamar yang berstiker panda dan kelinci tersenyum itu seolah ingin membangunkan dan menyapa Vanie yang sedang asyik tidur

Cinta, Barcelona dan Analogy

Oleh:
Barulah seabad saja, sinar cakrawala berwarna kuning emas itu tumbuh mengembang dari balik gagahnya Gunung Gambir nan hijau rupawan. Pelukan embun-embun musim kemarau merayapi ranting-ranting bunga Clerodendron Paniculatum dipekarangan

Cewek Dari Sosial Media

Oleh:
Kenangan yang gak akan gue lupakan, yang membuat seakan menjadi orang yang bodoh. Waktu itu gue masih duduk di bangku smp kelas 3. Awalnya gini sebelumnya perkenalkan nama gue

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *