Aku Mencintai Hujan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Galau, Cerpen Perpisahan
Lolos moderasi pada: 23 November 2019

Karena ketika kau mencintai hujan kau tak perlu merasakan basahnya air hujan, cukup nikmati saja hujan dalam senja mungkin cintamu akan lebih bermakna terhadap hujan.

Banyak orang menjadikan hujan sebagai motivasi entah itu dari segi keindahan setelah hujan, kesejukan hujan atau bahkan makna yang sebetulnya tersirat namun berhasil ditafsirkan oleh beberapa orang yang mempunyai cara sendiri untuk menikmati hujan. Begitu juga denganku aku memaknai hujan sebagai sesuatu yang spesial karena hujan memberikanku kenangan meski aku tak bersentuhan secara langsung dengan hujan, hujan di senja itu adalah awal dari ceritaku yang kutulis dalam uraian kata-kata lembar catatan kecil kehidupanku.

Kring… kring… kring suara alarm mulai membisingi kamar serta telingaku, alarm itu berasal dari jam beker yang terletak tepat di atas kepalaku, aku selalu meletakkannya dekat denganku karena bagiku jam yang sederhana ini sangat bermakna terlebih sejarah menaungi jam ini. Jika diulas kembali lucu rasanya mencintai barang yang bahkan bisa dibeli kapanpun. Namun bukan itu yang menjadi latar belakang aku begitu menjaga jam kepunyaanku itu, melainkan karena jam ini diberikan oleh dia tepat saat aku berusia tujuh belas tahun dengan alasan yang sangat membuatku tak dapat melupakan sampai sekarang, meski bertahun-tahun telah berlalu sejak dia memberikan jam tersebut lalu hilang sampai saat ini. Perasaanku sangat tak menentu saat dia memberikan benda tersebut dengan alasan yang istimewa dan dihari yang istimewa, namun perasaan itu hanya sebatas disitu saat dia beranjak pergi tanpa ada kabar berita yang kuterima, bak fosil yang ditelan bumi keberadaannya benar-benar tak lagi terlihat. Itulah alasan mengapa aku begitu menjaga barang pemberiannya setelah dia benar-benar hilang.

Aku tak pernah tau pasti apa alasan dia meninggalkanku tanpa alasan, karena sejauh ini aku dan dia nampak baik-baik saja. Banyak yang mempertanyakan tentang kejelasan status antara aku dan dia, namun dari aku ataupun dia tak bisa menjelaskan dengan tegas apa sebenarnya ikatan kami. Kami bukan sepasang kekasih, namun kami saling menjaga, kami bukan adik kakak namun saling mencurahkan kasih sayang, kami bukan seorang sahabat namun kami saling merangkul ketika salah-satu dari kami terjatuh, namun semua itu nampak singkat saja dan berlabuh pada kejadian saat ini yang kualami.

Jika saja bisa diputar lagi waktu aku tak ingin dia merayakan ulang tahunku, aku tak munafik memang bahagia saat dia memberikan kejutan, namun kejutan itu nampak bertubi-tubi dan sangat mengejutkan bukan saja dari segi kado yang diberikan, namun peristiwa dia meninggalkanku adalah hal yang menjadi kejutan terbesar nampaknya.

Lagi-lagi hujan turun, aku sangat senang melihat hujan, namun hujan kali ini nampak tak menghasilkan pelangi, lalu aku melamun dan mendapatkan tafsiran yang awalnya kupertanyakan pada diriku sendiri. Mengapa aku menyukai hujan? Hujan menggelapkan bumi, memang dia meninggalkan pelangi namun apakah pelangi itu bertahan lama? Tidak! tafsiran itu berlanjut di otakku. Sejak saat itu aku benci pada hujan. Kedatangan pelangi sama seperti kisahku. Konyol rasanya marah pada diri sendiri hanya karena orang yang tak memiliki ikatan khusus.

Aku rindu hujan yang dulu, saat aku jarang mendapat kabar darinya namun dia selalu hadir saat aku butuh. Ya.. kami memang jarang sekali saling memberi kabar, selain karena kami memiliki kesibukan masing-masing, diluar itu kami memang sengaja begitu agar ketika saling menyapa banyak topik yang harus diulas. Seperti saat itu, ketika dia memberikanku kejutan dihari spesial itu.

Aku dan dia berasal dari sekolah yang berbeda namun kami sama-sama bersekolah di tempat yang jauh dari orangtua dengan sistem sekolah berasrama. Hari itu adalah hari dimana libur nasional dan waktunya kami anak asrama pulang ke rumah, setelah beberapa hari mendapatkan libur maka kami harus kembali lagi untuk melanjutkan sekolah, saat malam sebelum keberangkatan di keesokan harinya tiba-tiba dia meneleponku dan mengajakku berangkat berdua, sontak jantung ini berdebar kencang dengan lantang akupun menerima tawarannya, karena memang sudah lama kami tak jumpa, aku tak sadar ternyata saat aku dan dia pulang bersama dihari yang sama aku berulang tahun.

Setelah berjam-jam kami arungi perjalanan yang cukup melelahkan sampailah aku dan dia di asrama sekolahku saat aku mulai melangkah tiba-tiba dia mengejarku dan memberikan kado kepadaku dengan ucapan sesingkat dan senyuman tipis namun bermakna “selamat ulang tahun” begitu saja ujarnya. Aku terdiam kaku memegang kado yang diberikannya, mulutku tak bisa melontarkan kata sedikitpun hanya senyum tipis yang kuberikan. Lalu dia melanjutkan perjalanannya menuju asrama sekolahnya.

Aku berlari menuju kamarku dengan cepat karena aku penasaran apa yang diberikanya padaku. Saat aku telah tiba di kamar aku melupakan sejenak segala aktifitas dan bergegas membuka kado darinya. Dan ternyata dia memberikanku hadiah berupa jam alarm, baru saja aku membuka bungkus kado darinya tiba-tiba handphoneku berdering dan ternyata dia yang meneleponku “pasti kamu udah buka kan kado dari aku” ujarnya, “kamu kok tau sih dukun ya? Atau kau memata-mataiku?” candaku. Dia tak menjawab candaanku namun dia … “pasti kamu bingung kenapa aku memberimu jam alarm seperti itu iya kan?” “iya aku bingung kenapa kau memberikanku jam ini?” “aku memberikan jam ini karena aku tak bisa setiap saat mengingatkanmu akan pentingnya waktu, aku tak selalu bisa mengingatkanmu waktu ibadah, aku tak bisa selalu tepat waktu membangunkanmu karena suatu saat aku pasti lalai dan memiliki kepentingan yang tak bisa dipastikan kapan apa dan sampai kapannya. Aku ingin kau tetap menjadi orang yang selalu menghargai waktu untuk itu jam ini kurasa solusi yang tepat”. Namun aku merasa ada kejanggalan disini, dan benar ternyata dia menyembunyikan sesuatu dariku yang terus kudesak namun masih disembunyikannya.

Akhirnya dia jujur padaku, ternyata dia akan melakukan praktik kerja lapangan di luar kota dengan waktu yang cukup lama yaitu empat bulan, sontak aku sedikit kecewa atas pernyataan tersebut, namun aku tak ingin menunjukkan kekecewaanku karena aku takut kekecewaanku akan menjadi bebannya. Kalimat yang diucapkannya di penghujung telepon adalah “jaga dirimu baik-baik, jaga hatimu selalu untukku, jaga kesehatan dan tunggu aku pulang”. Air mata menyelimuti mata, kelopak mata seolah tak memiliki pondasi yang kokoh untuk menahan ari mata, aku menangis namun aku tak ingin dia tau, dengan jawaban yang sedikit memaksakan tegar kujawab “tentu aku akan menunggumu, jangan lupakan aku”.

Sejak hari itu aku begitu menyayangi jam yang dia berikan, bagiku jam darinya adalah pengganti sosok dia yang selalu jadi pribadi yang kurindukan. Sampai saat aku menuliskan beribu-ribu kalimat di catatan kecilku dia tak kunjung kembali. Sosial medianya nampak aktif namun dia tak sedikitpun memberiku kabar, namun dari situ aku sadar pesan terakhirmu adalah tanda perpisahaan darimu, dari situ aku sadar tak sepantasnya aku membenci hujan. Justru hujan adalah guru terbaikku, untuk menikmati cintanya hujan kita tak perlu membasahi diri dengan rintik-rintik air yang jatuh, cukup nikmati pesonanya di ujung senja maka kau akan rasakan cinta yang sempurna.

Cerpen Karangan: Vina Panduasa
Blog: Panduharian.blogspot.com

hello 🙂
nama: vina panduasa
ttl: palembang 27 agustus 1999
Ig: Vinapand
aku berasal dari kota palembang namun karena pendidikanku ku enyam di kota bandung kini aku berdomisili di kota kembang bandung aku adalah mahasiswi semester 3 Sekolah Tinggi Manajemen Logistik Indonesia jurusan Manajemen Transportasi Logistik

Cerpen Aku Mencintai Hujan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pelangi Kecil

Oleh:
Sang mentari tersenyum indah memandang bumi dari ufuk timur yang mengingatkanku pada masa kecil dulu. Masa-masa indah sebelum ku mengenal arti kehidupan, belum mengenal arti cinta dan perasaan, yang

Aku

Oleh:
Aku adalah Nisa, seorang gadis yang lemah, aku terlahir dari keluarga yang sederhana. Ibuku bekerja setiap paginya sebagai penjual kue. Beliau sendiri harus menafkahi aku dan kedua adikku karena

Korban Cinta Pertama

Oleh:
Setiap orang menyebutku bodoh ketika mereka melihat bagaimana ku bertahan dengan kisah yang tiada jelasnya. 3 tahun bukanlah penantian yang berarti untuk usiaku yang belia ini, 17 tahun. Tarik

Kejutan

Oleh:
Ku buka satu per satu lembar buku harian di tangan. Mencoba membaca dan mengingat-ngingat berbagai kenangan yang telah ku tulis di buku ini. “Ya Tuhan, apa ini yang dinamakan

Siti Nurbaya Metropolitan

Oleh:
“Plis, Ma, Pa,” rengek perempuan itu sambil melirik kedua orangtuanya secara bergantian, “Kalila bukan hidup di zaman Siti Nurbaya!” katanya sambil bangkit dari meja makan, meninggalkan kedua orangtuanya yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *