Aku Menyayangi Mu, Maafkan Aku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 10 March 2016

Hari yang cerah ini aku akan mulai tahun pertamaku sebagai murid sekolah menengah ke atas atau yang sering disebut SMA. Namun kali ini aku bukan ke sekolaah SMA umum namun aku bersekolah di sekolah menengah kejuruan atau SMK, di sini aku mengambil jurusan TKJ (teknologi komunikasi dan jaringan) aku mengambil jurusan ini karena aku ingin lebih memahami teknologi secara mendalam beserta perangkat-perangkatnya. Aku sekolah di sini bersama teman-temanku dulu dari SMP. Aku dan teman-temanku masuk pada jurusan yang berbeda, hanya satu temanku yang selalu bersamaku dia mengambil jurusan yang sama karena kami memiliki pemikiran yang sama. Namanya Kenzy walaupun dia seorang cowok tetapi dia merupakan teman terbaikku. Aku dan dia berteman sejak kecil karena kami tetangga bersebelahan rumah, terkadang kami lupa bahwa aku dan dia itu terlahir berbeda. Kenzy dan aku sering melakukan segala hal bersama sampai melupakan perbedaan yang ada.

Setiap harinya aku dan Kenzy sepulang sekolah bermain bersama dan pada malam tiba aku dan dia belajar bersama untuk memudahkan mempelajari hal-hal yang nanti tidak aku atau dia pahami. Terkadang kalau aku ataupun dia tak mengerti aku melingkari hal yang tidak kita pahami dan ditanyakan kepada guru yang mengajar. Belajar dengan Kenzy merupakan hal yang menyenangkan sekaligus menyebalkan, bagaimana tidak menyebalkan di sela-sela kami belajar dia terus menjahili aku dengan pikiran jahilnya itu terkadang dia menjahiliku sampai aku ngambek dan langsung pulang meninggalkan rumah kalau kami belajar di rumahnya tapi kalau kami belajar di rumahku aku usir dia dari rumah sampai-sampai ibu bertanya. “Kenapa kalian ribut melulu kapan belajarnya kalau rebut melulu?”

Begitulah pertanyaan yang sering ke luar dari ibuku ataupun ibunya jika terjadi hal tersebut. Sisi menyenangkannya belajar dengan Kenzy itu aku bisa ke luar masuk ke rumah maupun kamarnya sesuka hatiku karena orangtua Kenzy menganggapku sudah seperti anak kedua mereka begitu sebaliknya pada orangtuaku Kenzy dianggap sebagai anak laki-laki mereka terkadang aku cemburu apabila ayah atau ibuku lebih memperhatikan Kenzy. Setiap selesai belajar kami gunakan waktu sebelum tidur itu bercerita ataupun bermain PSP bersama baik tempatnya itu di rumahku ataupun di rumahnya karena setiap habis belajar di rumah siapa kami selalu menginap dan tidur bersama, setelah pagi hari tiba kita kembali ke rumahnya sendiri.

Hari pertamaku berjalan lancar seperti biasa aku dan Kenzy pulang pergi bersama naik sepeda. Tapi aku yang hari ini tidak membawa sepeda, jadi aku membonceng Kenzy. Namun aku harus menunggu Kenzy dulu saat ini karena dia mendaftarkan diri dulu ke ekskul yang akan dia ikuti yaitu fotografi. Aku dan Kenzy memang sepakat untuk mendaftar bersama ekskul itu namun aku lupa membawa salah satu persyaratan yang dibutuhkan, jadi aku menyuruh Kenzy untuk daftar duluan dan besok baru aku yang daftar. Setelah Kenzy ke luar kelas untuk mendaftar aku berjalan menuju parkiran sepeda, namun tanpa ku sengaja aku menabrak orang yang membawa tumpukan buku di tangannya yang mengakibatkan orang yang ku tabrak bukunya berhamburan di lantai lorong sekolah.

“Maaf, aku tak sengaja aku tadi main game jadi tak tahu kalau ada orang di depanku,” ucapku meminta maaf.
“Tidak apa-apa aku juga yang salah karena aku tak melihat jalan, mataku tertutup tumpukan buku ini, oh ya kamu anak kelas anak baru ya?”
“Iya, kok kamu tahu?”
“Ya tahu lah kan aku gak pernah lihat kamu selama aku sekolah di sini,”
“Oh kamu kakak kelas ya, oh maaf Kak,”
“Udah gak apa-apa tadi kan kita sama-sama salah jadi gak apa-apa, aku duluan ya aku udah ditungguin nih,” ucapnya seraya berjalan kembali.

Setibanya aku di parkiran sepeda aku sudah mmenemukan hidung Kenzy yang nungguin aku di sepedanya.
“Woi ngelamunin apaan kamu?” ucapku mengejutkannya. “Apaan sih aku udah tahu kamu tadi jalannya ngendap-ngendap aku diem aja pura-pura gak tahu kalau ada kamu yang ngendap-ngendap,”
“Kamu nih gak seru, setidaknya pura-pura kaget gitu biar seru,”
“Ya maaf-maaf, eh tapi kamu ngapain kok lama banget nyampainya di sini aku sudah nungguin kamu di sini sampai lumutan nih,” katanya sambil mengambil sepedanya. “Aku tadi di lorong bantuin orang yang aku tabrak waktu jalan, kamu kok sudah di sini bukannya kamu daftar ekskul tadi,”
“Sudah selesai kan cuma nyerahin hasil foto dan ngisi formulir aja, kamu kok bisa nabrak orang sih waktu jalan pasti kamu jalan sambil main game kayak biasanya,”
“Hehe udah tahu pake nanya,”
“Kamu nih kebiasaan,” kami terus berbincang-bincang dari A-Z.

Sampainya di rumah aku bergegas untuk mengganti baju seragamku setelah itu memulai aktivitas seperti biasanya. Aku ke luar rumah menuju ke rumahnya Kenzy saat aku ke luar aku tak sengaja melihat kakak kelas yang aku tabrak tadi masuk ke rumah Edo yang sudah dijual hampir sebulan lalu dan sudah dihuni oleh penghuni baru sekitar 2 hari ini. Ku rasa dia adalah penghuni baru rumah Edo. Aku yang tinggal selangkah lagi masuk ke rumah Kenzy langsung masuk saja seperti biasa karena sempat terhenti sejenak tadi. Pintu yang tidak dikunci mempermudahkanku untuk masuk ke dalam rumah Kenzy.

Aku menuju ke dapur untuk mengambil air minum dan beberapa snack dari kulkas Kenzy untuk mengisi perutku yang kosong karena pulang sekolah tadi aku langsung melesat ke sini setelah tahu ayah dan ibuku pergi ke rumah nenek untuk menjenguk nenek yang sakit di luar kota, sejak pagi tadi dan hanya meninggalkan sebuah note seperti biasa apabila mereka pergi secara mendadak di tempel di pintu kulkas. “tuk,” aku meringis ketika ku rasa ada sesuatu yang memukul kepalaku, aku menoleh ke belakang dan benar saja Kenzy sudah ada di belakangku dengan sendok yang ingin dia gunakan untuk makan siang.

“Aku kirain kucing tadi kresak-krusuk di depan kulkas, oh ternyata malah kucing berambut hitam panjang sedang memakan snackku di sini,” ucapnya seraya berjalan ke meja makan.
“Aku kelaparan Ibuku pergi pagi tadi, ya seperti biasa dia hanya ninggalin note untuk anaknya ini jadi aku langsung melesat ke sini setelah ganti baju. Oh ya Bibi dan Paman ke mana? Kok sepi sih?” Kataku seraya duduk di meja makan bersama dengannya. “Ibu sama Ayah belum pulang, ya sudah katanya lapar cepat makan!” perintahnya padaku.

Selesai makan aku dan Kenzy main PSP di kamarnya dan menceritakan kejadian tadi, dan dia hanya merespon “Oh,” yang membuatku jengkel padanya. Aku pun ke luar kamar untuk mengambil raket dan mengajaknya bermain badminton bersama di halaman rumah. “Ya ini belum selesai mau ke mana?” teriaknya dari dalam.
“Bosan aku, mending main di luar yuk main badminton di halaman!” teriakku tak kalah kencang darinya agar dia mendengar karena aku sudah sampai lantai 1 rumahnya.
“Ya ya tunggu sebentar, ini nih orang yang mau kalah alasannya pasti bosan kalau tidak ngantuk.”

Setelah sampai kami bermain badminton dan tiba-tiba ada suara.
“Hei, kamu tadi yang tabrakan sama aku di lorong sekolah kan?” tanyanya memastikan aku yang mendengar pertanyaan itu langsung menoleh ke belakang. “Oh iya Kak, Kakak mau ngapain?”
“Aku mau jalan-jalan di sekitar sini karena kemarin belum sempat karena hujan, rumah kamu di sekitar sini ya?” tanyanya. “Ya Kak ini rumah temanku perkenalkan ini Kenzy dan Kenzy ini.” ucapku gantung karena aku sendiri belum tahu namanya. “Rivan,” sahutnya mereka pun berjabat tangan.
“Kamu?” tanyanya padaku.
“Aku Dila Kak,” Dan percakapan kami berlanjut entah Kak Rivan lupa tahu gimana yang tadi niatnya jalan-jalan malahan dia kesasar di rumah Kenzy sampai sore dan dia pamitan untuk pulang karena sudah sore.

Hari-hari berikutnya Kenzy aku lihat mulai dekat dengan Kak Rivan terbukti dengan kekompakan mereka dalam mejahiliku. Kak Rivan merupakan kakak kelas satu tingkat di atas kami namun dia kelihatan tidak memandang aku maupun Kenzy sebagai orang yang masih kecil ataupun belum mengerti apa pun. Aku, Kenzy dan Kak Rivan semakin dekat dengan samanya ekskul yang kita ikuti yaitu fotografi, terkadang pada akhir pekan kami bertiga pergi untuk hunting foto bersama sesekali merefreskan otak setelah penat seminggu di berikan pelajaran-pelajaran. Tak terasa kebersamaan kami terjalin sekitar 2,5 tahun dan Kak Rivan siap menghadapi dunia perkuliahan sedangkan aku dan Kenzy menghadapi ujian kenaikan kelas 3. Tidak seperti biasanya kami berakhir pekan hanya berdua karena Kenzy beralasan tidak bisa ikut karena neneknya dari lampung mau ke sini entah itu beneran atau tidak.

Kecanggungan merasukiku dengan Kak Rivan dia diam dan sesekali dia kepergok tengah melihat ke arahku atau ke arah belakangku aku tak tahu, aku yang tak tahan dengan atmosfer yang seperti ini aku pun mulai memecah keheningan dengan menjahilinya terlebih dahulu. Tanpa ku duga dia bereaksi dan kejahilannya pun berbalik kepadaku aku yang tahu akan seperti ini aku pun lari menyusuri padang rumput di sekitar sini. Sesekali sembunyi di balik pohon, saat sudah lelah aku pun membaringkan tubuhku di atas padang rumput yang ada dan dia menyusulku pada posisi yang sama. Seketika atmosfer kecanggungan merajai kami kembali dan kali ini yang membuka suaranya terlebih dahulu adalah Kak Rivan yang membuatku tercengang dengan pengkuan yang ke luar dari mulutnya.

“Dil aku suka sama kamu mau gak kamu jadi pacar aku?” akunya aku yang terkejut saat itu langsung mendudukkan diriku. “Tak usah kamu jawab dulu jika kamu masih bingung aku akan nunggu jawabanmu sampai kamu siap jawab deh,” katanya seraya berdiri. “Sudah sore sebaiknya kita pulang nanti sampai rumah kemalaman lagi,” katanya seraya jalan kaki menuju halte yang jaraknya sekitar 10 meteran dari sini.

Hari setelah hari pengakuan Kak Rivan aku jarang bertemu dengan Kenzy, pagi hari saat aku mau berangkat sekolah bareng bersama kata bibi dia sudah berangkat waktu pulang sekolah aku melihat dia sedang bermain dengan teman-temannya. Waktu malam aku ke rumahnya katanya dia lelah dia mengantuk begitu seterusnya sepertinya dia menghindariku. Sekarang tinggal aku sama Kak Rivan, pergi ke sekolah bareng bermain bareng dan ke mana-mana pasti ada dia walau kadang aku merasa was-was jika sewaktu-waktu dia meminta jawaban padaku.

Tepat 1 minggu setelah hari pengakuannya hari yang aku takutkan tiba dia meminta jawaban atas pengakuannya tersebut. Di sisi satu aku berpikir tidak ingin untuk pacaran ataupun hubungan lebih dari seorang sahabat dulu saat ini karena aku masih ingin fokus untuk menggapai mimpiku. Tetapi di sisi lain aku tidak ingin merusak persahabatan yang telah terjalin, dan akhirnya aku memutuskan untuk menjawab “Aku menyayangimu, maafkan aku,” seakan mengerti maksudku Kak Rivan pergi meninggalkan aku di taman ini sendiri.

Setelah selesai menyelesaikan masalahku dengan Kak Rivan aku pun mengirim pesan ke Kenzy untuk menjemputku di taman ini karena aku lelah jalan ke halte dan aku beralasan aku sendirian di taman ini dan takut. Dia tiba dalam 15 menit, aku kira akan lama sampainya ku rasa dia ngebut naiknya karena biasanya waktu tempuh rumah sampai taman ini itu 45 menit jika menggunakan kendaraan umum.

“Kamu kok sendiri, mana Kak Rivan?” tanyanya seraya turun dari motor dan berjalan ke arahku. Dan aku menyuruhnya duduk lalu menceritakan semua yang terjadi saat dia tidak ada di sampingku. Saat ceritaku terakhir yang aku menceritakan saat Kak Rivan bertanya tentang jawaban atas pengakuannya ku rasa dia sedikit antusias.
“Kamu jawab gimana, kok sampai dia ninggalin kamu?”
“Aku nggak jawab gimana-gimana aku cuma bilang ‘Aku menyayangimu, maafkan aku,'” Dan reaksinya sama dengan cerita-cerita sebelumnya yaitu CUEK. Di sisi lain. “Aku bersyukur kamu nggak nerima Kak Rivan, walau aku tahu pada akhirnya kamu nggak akan nerima karena prinsip yang kamu miliki itu sama dengan yang aku miliki.”

Cerpen Karangan: Siti Sholikah
Facebook: Siti Sholikah

Cerpen Aku Menyayangi Mu, Maafkan Aku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mengagumi tak Selamanya Indah

Oleh:
Mengagumi adalah salah satusikap seseorang dalam hidup yang dilihat nya sangat berbeda. Mengagumi seseorang itu hal yang wajar. Tapi, bagaimana kalau orang yang kita kagumi tidak tahu kalau kita

Semangat Ranika

Oleh:
Namaku Riani, umurku 15 tahun. Aku adalah anak tunggal dan sekarang aku tinggal bersama orang tuaku. Sejak kecil aku selalu di manja oleh orang tuaku, mungkin karena aku adalah

Kau, Aku dan Dia

Oleh:
Adakah yang percaya bahwa sepasang sahabat pria dan wanita bisa menyayangi dengan tulus dan tidak berharap saling memiliki? Aku percaya. Dan itulah kami berdua. “Kalau aku suka sama kamu

True Friend

Oleh:
Sepi rasanya ketika sahabat yang menjadi sandaran jiwa, pergi meninggalkan kita. akan ada ada pula rasa kehilangan tatkala dia tidak mau mengenal dan berelasi lagi dengan kita. Bahkan terasa

Cinta di Langit Malam

Oleh:
Sinar matahari yang begitu terik menembus kaca jendela kamar citra, gadis cantik yang cukup populer di SMA 45 pelita jaya bandung. Citra segera bangun dan lekas mandi, usai itu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *