Aku Merindukanmu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Dalam Hati (Terpendam)
Lolos moderasi pada: 5 July 2016

“Entah semenjak kapan rasa ini muncul, tapi ketika bersamamu rasanya begitu nyaman. sampai-sampai aku tak bisa melepasmu atau meninggalkanmu. Meskipun aku tahu kau menganggapku hanya sebagai sahabat. Tapi ketika dua insan yang berbeda dan dijadikan satu tak ada yang namanya perasaan yang hanya sekedar sahabat. Salah satunya pasti ada yang memiliki perasaan yang lebih dari sekedar sahabat. Bersamamu hari ini rasanya begitu nyaman, andai kamu tahu perasaan ini apakah kau akan berhenti menjagaku atau kau akan tetap menjagaku seperti janjimu.” Ucap Stela dalam hati sambil terus memandangi Andri.

“Makasih banget ndri udah nemenin aku sampai saat ini.” kata Stela saat mereka sedang tiduran di atas rumput di taman belakang rumah Stela. Senyumnya mengembang melihat beribu bintang di atas sana.
“Suka?” kata laki-laki itu singkat.
“Banget, kamu tau nggak baru kali ini aku bisa terbang dan berani melawan ketinggian.” katanya lalu menoleh ke arah laki-laki ini. Begitu juga laki-laki ini ia menoleh ke arah gadis di depannya. tanpa sengaja mata mereka saling bertemu. Stela mencoba masuk ke dalam mata laki-laki ini menatapnya dengan tajam mencoba mencari tahu apakah ada perasaan yang diharapkannya, namun Andri segera membuang mukanya menjahui tatapan Stela. selalu begitu setiap kali Stela mencoba menatap tajam lelaki ini ia selalu menghindar. Dan Andri tiba-tiba bangun mengambil jaketnya yang ada di sampingnya lalu berdiri meninggalkan Stela yang masih berbaring tanpa sepatah kata pun.
Kenapa Ndri, aku gak tau apa yang kamu rasain ke aku. Kadang aku merasa kita itu teman, kadang lebih dari sekedar teman dan terkadang kita bukan siapa-siapa. Stela memejamkan matanya mencoba menyembunyikan segala rasa yang berkecamuk di dadanya.

Sudah sepuluh tahun mereka bersahabat dari mereka umur 7 sampai umur 17 tahun ini mereka selalu bersama tak peduli dengan situasi yang mungkin akan meninggalkan mereka dan mungkin memisahkan mereka. Entah apa yang membuat mereka terus bersama tapi rasa sebagai sahabatlah yang membuat mereka nyaman satu sama lain. Meskipun salah satu dari mereka akan merasa tersakiti dan menganggap semua ini tidak adil karena keegoisan salah satu dari mereka.
Tapi seenggaknya untuk saat ini mereka masih saling menjaga satu sama lain. Menjaga perasaan mereka sebatas teman. Memang sangat sulit bersama selama itu namun hanya sebatas teman. Apalah yang bisa dilakukannya, hanya menunggu waktu yang tepat untuk mengungkapkan semuanya. Semua pasti akan terungkap seiring berjalannya waktu.

Stela menunggu Andri di depan rumahnya. Seperti biasa mereka berangkat sekolah bersama. Andri selalu menjemput Stela meskipun keduanya akan naik kendaraan umum. Setidaknya mereka bisa bersama. Sesekali Stela menoleh ke kiri dan ke kanan mencari keberadaan Andri yang sampai sekarang belum juga kelihatan. Biasanya Andri selalu tepat waktu karena rumah mereka dekat mungkin hanya kelewatan lima rumah saja, meskipun begitu mereka beda kompleks karena rumah Stela di ujung kompleks.

Stela mulai gelisah karena Andri belum juga nongol. Ia mencoba menelepon Andri dan sesekali melihat jam tangannya. Namun tidak ada jawaban. Ia mencoba sekali lagi, namun tetap saja tidak ada jawaban. Ia terus mencobanya, namun tetap saja tidak dijawabnya. Ia memutuskan untuk pergi ke rumahnya.

Di tengah perjalanan, ia menemukan Andri tergeletak di tengah jalan dengan darah di sekujur tubuhnya. Sontak membuat Stela terkejut. Ia segera meminta bantuan orang-orang di sekitar situ, dan segera membawanya ke rumah sakit.
“Kenapa lo seperti ini Ndri? sejak kapan lo doyan berantem?” omelnya pada Andri yang saat itu masih terbaring, namun telah sadar.
“Mereka ngajak ribut Stel.” Jawabnya malas.
“Mereka, mereka, mereka. Siapa mereka itu?” Tanyanya penasaran.
Andri diam sejenak, pikirannya kalut. Ia tak mungkin memberi tahu Stela tentang kejadian yang baru saja menimpanya.
“Kok lo diem sih Ndri?” Stela semakin penasaran dengan tingkah Andri yang menurutnya aneh banget hari ini, tumben banget dia bisa marah, apalagi ribut sampai babak belur kayak gini. Yang Stela tau Andri tuh orangnya lembut banget gak mungkin dia melakukan hal sebodoh ini apalagi sampai berantem kek gini.
Andri menghela napas. “Maaf Stel, ini masalah pribadi gue.” Jawabnya berbohong. Ini bukan hanya masalah pribadinya tapi ini menyangkut dengan Stela. Semua ini karena Pram yang menyuruh Andri untuk menjahui Stela. Pram adalah laki-laki yang sangat tergila-gila dengan Stela, namun selalu saja ditolaknya. Karena Stela sama sekali tidak menyukai Pram. Dia laki-laki yang kasar dan suka mempermainkan wanita. Meskipun wajahnya super duper tampan tapi kelakuannya gak sebanding dengan wajahnya.
Stela menatap Andri tajam, Ia mengerutkan dahinya. “Kenapa sih Ndri? kalau lo itu punya masalah cerita dong sama gue, gue kan sahabat lo.” Jawabnya kesal, karena Andri selalu saja menganggapnya orang lain.
Andri menunduk. “Bukan begitu Stel, gue gak mau ngebebanin lo Cuma karena masalah gue.” Andri mencoba mencari alasan supaya Stela gak terus-terusan penasaran. Tapi justru Stela semakin penasaran apa yang sebenarnya sedang membebani pikiran Andri.
“Justru karena gue sahabat lo, gue sama sekali gak merasa dibebani sama elo.” Stela menyentuh pundak Andri.
“Ndri”
Andri mendongakkan kepalanya, ia melihat mata Stela yang mencoba masuk ke dalam matanya. Tatapannya lembut namun tajam. Baru kali ini Andri merasakan kedamaian ketika melihat dua bola mata itu. Oh Tuhan kenapa jantungnya berdetak sekencang ini?
Stela mencoba masuk ke dalam mata itu mencoba mencari tau apa yang sebenarnya terjadi. Baru kali ini Andri tidak berkutik sama sekali ketika Stela melihat matanya, justru Andri membiarkan bola matanya dilihat oleh Stela.
Batin Andri ingin menjerit, ia ingin meneriakkan segala rasa yang terasa sesak di dadanya, ia ingin berbicara jujur tentang perasaannya kepada Stela, tentang wajahnya yang selalu mengganggu pikirannya siang dan malam, namun ketakutan tiba-tiba merasuki jiwanya ketakutan yang amat sangat besar ketika Stela mengatakan tidak mencintainya, ketika Stela tiba-tiba menghilang dari hidupnya. Apakah semua akan berubah ketika status tak lagi sama.
Andri menundukkan kepalanya, sudah cukup ia merasakan kesakitan dalam dadanya.
Stela kecewa karena lagi-lagi Andri mengalihkan pandangannya.

Tiba-tiba ponsel Stela bordering, Stela segera mencari ponselnya di dalam tasnya, nama Pram muncul di layar ponselnya. Ia menjauhkan diri dari Andri.
“Halo sayang” suara di seberang sana yang menyeruak memecahkan keheningan di rumah sakit.
“Gak usah teriak-teriak kali, gue juga denger.” Jawabnya bête.
“Kok kelihatan bete gitu sih, harusnya seneng dong ditelpon sama raja ganteng.”
Stela ingin memuntahkan segala isi dalam perutnya mendengar perkataan Pram yang gak baget deh.
“Ada apa lo telfon gue?” tanyanya kemudian, karena ia sudah males banget ngeladenin orang kayak dia.
“Kamu dimana sih sayang kok hari ini gak masuk? kan aku kangen.” Ucap suara di seberang sana dengan manja.
“Udah ngomong itu aja, dengerin yah…” Stela mendekatkan ponselnya di depan mulut dan bersuara dengan keras, “Asal lo tau jangan pernah manggil gue sayang atau apalah karena gue bukan pacar lo! Dan jangan pernah ganggu kehidupan gue lagi, gue tuh muak ngedenger suara lo apalagi ngelihat wajah lo! Ngertii!” ucapnya dengan penuh kemarahan sampai-sampai seluruh mata di rumah sakit itu memandang ke arahnya.
“Berani-beraninya ya elo bentak-bentak gue, lo pikir lo siapa? sekarang lo benci sama gue tapi sebentar lagi lo pasti bakal tergila-gila sama gue.” Teriak suara di seberang sana, namun tak terdengar oleh Stela karena ia buru-buru mematikan telepon itu.

Stela kembali masuk ke kamar Andri, ia melihat Andri sudah mengemasi barang-barangnya. Stela segera mendekati Andri.
“Loh Ndri mau kemana?” Tanyanya dengan penasaran.
“Pulang” Jawabnya pendek sambil mengambil tasnya kemudian menyangkutkannya pada bahu. Laki-laki yang memiliki potongan rambut layer pendek itu keluar menuju tempat administrasi, di belakangnya Stela mengikutinya dengan terbengong belum ngerti keanehan yang ada pada Andri seakan sekarang Andri mencoba menghindarinya.

Stela menunggu Andri di kursi panjang di depan meja administrasi, setelah selesai bukannya Andri memanggilnya atau apa untuk mengajaknya pulang malah seakan acuh dan meninggalkannya begitu saja, Stela mulai geram dengan sikap Andri. Ia bangkit dari duduknya dan mengikutinya dari belakang. Andri berjalan lurus tanpa menoleh ke belakang, padahal Stela mengharapkan Andri menoleh ke belakang dan menunggunya lalu menggandeng tangannya dan mengucapkan maaf, ia tersenyum sendiri membayangkan kejadian itu. Namun kenyataannya mereka berjalan sendiri-sendiri seperti ini. Senyumnya yang mengembang berubah menjadi pahit dan menyedihkan. Kenapa Andri tidak peka sih. Ia memberanikan diri untuk berjalan di samping laki-laki itu namun tetap saja Andri tidak menoleh ke arahnya. Akhirnya ia menghentikan langkahnya namun Andri tetap saja berjalan dan mengacuhkannya.
“Kenapa sih lo gak pernah sadar kalau ada seseorang yang mengharapkan lo!” Teriaknya dengan lantang yang berhasil menghentikan langkah Andri, untung saja suasana di jalan itu tidak begitu ramai hanya ada beberapa orang yang lewat jalan itu.
Andri membelalakkan matanya ia menatap lurus jalanan di depan sana.
“Sepuluh tahun gue nungguin lo, berharap lo punya perasaan lebih ke gue. Tapi lo gak pernah nunjukin sedikitpun rasa sayang lo ke gue.” Isak tangis gadis itu mulai terdengar.
Andri masih saja berdiam di tempatnya, ia mencoba melawan hatinya yang bergejolak. Rasa sesak itu muncul kembali.
“Asal lo tau Ndri, setiap kali gue ngelihat tawa lo berharap lo merasakan cinta yang coba gue kasih ke elo, tapi nyatanya lo selalu saja menghindar, seakan lo gak pernah nyaman di dekat gue.” Gadis itu benar-banar menangis sekarang, entah apa yang membuatnya berbicara jujur seperti ini yang pasti ia sudak tidak kuat menahan semua rasa di dadanya.
Andri membalikkan tubuhnya, kini ia menghadap ke arah Stela, betapa terkejutnya ia melihat wajah Stela yang dipenuhi air mata, ia mengutuk dirinya sendiri karena telah membuat Stela menangis. Namun kenapa dirinya sulit sekali bergerak, ia ingin sekali berlari menghampiri gadis itu dan merengkuhnya karena ternyata Stela juga mencintainya. Tapi itu akan membuat Stela semakin terluka. Ia tidak menginginkan Stela terluka karenanya. Ia sudah berjanji pada Pram untuk meninggalkan Stela.
“Gue gak pernah nyuruh lo buat nunggu gue, dan gue gak pernah punya rasa sedikitpun ke elo Stel, kenapa sih lo kayak anak kecil? Cuma gara-gara masalah perasaan aja lo pake nangis segala, lagian apa bedanya sih sahabatan sama pacaran?” Andri membohongi hatinya sendiri, padahal dalam hatinya ia merintih memohon ampun pada Yang Maha Kuasa karena telah menyakiti hati seorang wanita, sungguh ini lebih menyakitkan, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
Kata-kata itu bagaikan pedang yang menusuk hati Stela, ini lebih sakit dari rasanya jatuh cinta. Karena ternyata Andri tidak menaruh perasaan padanya padahal ia berharap Andri akan membalas cintanya.
“Lo pikir perasaan seorang wanita bisa lo mainin sesuka hati lo, Gue benci sama lo, gue kecewa, gue nyesel pernah kenal bahkan cinta sama lo!” Gadis itu berlari entah kemana yang pasti kaki itu membawanya pergi dari hadapan Andri.
Andri memukuli kepalanya dan meneriaki kata “bodoh” pada dirinya sendiri. Ia ingin mengikuti gadis itu pergi dan menjelaskan semuanya tentang perasaannya dan tentang ancaman Pram. Namun semua itu tidak mungkin dilakukannya, lihat betapa bencinya Stela padanya. #Aaaarrrrrgggghhh

Semenjak kejadian itu Andri tidak pernah bertemu dengan Stela lagi. Kata ibunya Stela melanjutkan sekolah ke luar negeri entah untuk benar-benar menuntut ilmu atau sengaja ingin melupakan Andri. Selama lima tahun kepergian Stela Andri merasa sangat kesepian, ia merasa kehilangan gadis yang selalu ada yang selalu menaruh perhatian lebih padanya. Seandainya saja waktu itu bisa diputar ia akan menarik perkataannya dan mengutarakan perasaannya yang sebenarnya pada Stela.

Hari ini Stela akan pulang ke Indonesia setelah lima tahun ia di London, Andri mendapat informasi ini dari ibunya. Ia akan memanfaatkan waktu ini untuk bertemu dengan Stela, betapa ia sangat merindukan gadis itu, apakah Stela masih mengingatnya? bagaimana rupa ia sekarang? apakah ada yang berbeda darinya? apakah ia akan bertambah cantik? semua pertanyaan itu muncul di benaknya.

Suasana di bandara terlihat ramai, banyak turis yang berdatangan dan turis yang akan kembali ke negaranya, Andri menunggu Stela di kedatangan luar negeri. Jantungnya berdebar begitu kencang sama seperti pertama kali ia bertemu Stela di sekolah dulu, satu-satunya orang yang mengajaknya berbicara, dan semenjak saat itu Andri mencintai Stela ya bahkan saat umurnya masih 7 tahun, anak sekecil itu bisa merasakan jantungnya bergetar begitu hebat.

Andri menajamkan matanya mecari sosok Stela yang ditunggunya, ia mempersiapkan dirinya untuk bertemu gadis itu. Sosok yang ditunggunya muncul dengan setelan kemeja berwarna biru dengan celana jins seperempat kaki, dipadu kacamata yang menempel pada rambutnya, sungguh luar biasa cantik. Gadis itu mencari orang yang menjemputnya, segera Andri menghampirinya.
“Stela” panggilnya ramah.
“Ya” Nada suaranya masih sama seperti lima tahun yang lalu. Tidak ada yang berubah dari gadis ini, hanya ia bertambah tinggi dan terlihat lebih dewasa. Tidak ada respon lebih dari Stela, apakah Stela tidak mengingatnya?
Stela memberikan kopernya pada Andri, kemudian ia berjalan duluan.
“Dimana kamu memarkirkan mobilnya?” Tanyanya pada laki-laki itu.
Andri terdiam, apakah ia benar-benar Stela? kenapa ia tidak mengenalinya. Dengan gerakan cepat ia menarik tangan Stela membuat Stela membalikkan tubuhnya menghadap Andri.
Stela sedikit terkejut, namun bola mata hitam itu…
“Stel, maafkan aku” Andri menggenggam erat tangan Stela, ia berjanji tidak akan melepas tangan itu.
Stela terdiam, mencoba mendengarkan apa yang ingin dikatakan laki-laki ini kepadanya.
“Lima tahun yang lalu aku membuat kesalahan yang begitu besar, aku menyuruhmu pergi meski sebenarnya aku tidak bisa membiarkanmu pergi, aku tidak bermaksud mempermainkan perasaanmu. Semua ini karena Pram yang menyuruhku untuk menjauhimu, kalau tidak kau akan dibuat lebih menderita. Aku tidak menginginkan kau terluka Stel.” Andri menghela napas.
“Kau tahu setiap kali aku menatap matamu seperti ini jantungku berdebar begitu kencang, bahkan ini berlangsung semenjak pertama kali aku melihatmu. Kau tahu ini rasanya begitu sakit untuk berpura-pura aku tidak mencintaimu. Dan ketika lima tahun yang lalu aku mengatakan aku tidak punya sedikitpun rasa kepadamu, batinku menjerit dan itu rasanya sangat sakit.”
Mata gadis itu berkaca-kaca, ia sangat merindukan laki-laki ini.
“Aku merasa kehilangan ketika kau pergi, aku merasa kesepian kau tidak ada di hidupku. Aku merindukanmu dan satu hal lagi…” Andri menghela nafas panjang.
“Aku Mencintaimu” Gadis itu meneteskan air mata. Dengan gerakan cepat gadis itu memeluk Andri.
“Aku juga mencintaimu”

Aku tidak akan pernah meninggalkanmu lagi, aku akan berada di sampingmu sebagai orang yang selalu menjagamu, orang yang selalu menyayangimu, orang yang selalu mendukungmu. Terimakasih telah menungguku.

END

Cerpen Karangan: Denies Vey
Facebook: Denies Vey

Cerpen Aku Merindukanmu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mata Terindah

Oleh:
Dia datang dan menghampiriku. Lalu ia memberikan setangkai bunga mawar merah yang sangat cantik, seraya berkata, “Terimalah bunga ini. Bunga yang cantik seperti parasmu. Aku akan selalu hadir di

Paijo Jatuh Cinta

Oleh:
Sewaktu Semester 2 Paijo jatuh cinta diam-diam sama Sari, cewek kelas sebelah. Paijo adalah teman sekontrakanku, dan dia sebenarnya bisa dengan mudah mendapatkan Sari, namun, sayangnya dia terlalu polos.

First and Last Love

Oleh:
“Cinta? Apa itu? Semacam kue talam banjar kah?” tanyaku sinis pada Kate. PLAKK!! Sebuah tamparan jatuh dipipiku. “Kau ini! selalu saja, jika aku tanya soal cinta kau selalu jawab

Maling Bertobat

Oleh:
“Sauurr! Sauur!” teriak Gentong sambil memukul-mukul kentongan yang besarnya hanya sepersepuluh dari bobot tubuhnya. Salah seorang menimpuknya dengan roti kecil yang langsung mendarat tepat di pipi kanan Gentong. Tanpa

When I Love Someone

Oleh:
Mengungkapkan perasaan ke orang yang disukai itu bukan semudah membalikkan telapak tangan. Mulut terkunci, langkah terhenti, dan tubuh membeku. Itulah yang kualami sekarang ini, untuk mengatakan tiga kata “I

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *