Aku Pilih Golput

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta, Cerpen Cinta Segitiga, Cerpen Galau
Lolos moderasi pada: 31 March 2013

Tak pernah tertepis dalam benakku, aku akan berada diantara segitiga ini, untuk condong dari salah satu sisinya. Tapi aku bingung harus condong kemana. Malam ini memang beda dari malam teman2ku yang lain. Untuk seorang pelajar harusnya waktu malam hari digunakan untuk belajar. Tapi tidak denganku yang malah sibuk dengan masalah hati, yang tak ada kaitannya sama sekali dengan sekolah. Masih terpampang jelas tulisan di papan kemarin ULANGAN FISIKA. Ulangan yang mampu membuat semua temanku terkesima dan tak terkecuali aku.

Saat itu semua temanku sedang asyik belajar fisika karena besok ada ulangan. Buktinya tak satupun dari mereka yang membalas pesanku. “Tengtong…!” Tiba2 ada pesan, aku pikir ini pesan dari salah satu temanku tapi ternyata lebih dari teman. Bukan pacar tapi bekas pacar. “Malam… Boleh tanya sesuatu?,” begitu isi pesannya. Bagiku yang telah berakhir tak perlu diungkit kembali, biarlah yang sudah dikubur tak perlu digali lagi. Meski aku masih cinta, tapi kita putus karena dia tak bisa jadi pacar seperti yang aku mau.

Rupanya malam cepat berlalu, tak terasa semalam aku tertidur pulas di meja belajar sebelum sekedar membaca materi ulangan. Artinya aku harus terima kenyataan pagi ini ulangan fisika tanpa persiapan. Kenyataan berkata benar. Guru fisika datang ke kelas dan tanpa banyak bicara menyebarkan soal ulangan dan berkata, “Saya tunggu 30 menit lagi diruang guru!”. Lalu meninggalkan ruang kelasku.

Kelas yang bagus, begitu guru keluar maka berubahlah menjadi pasar apa lagi sekarang ulangan. Aku lihat teman-temanku begitu sibuk, hululalang dan keramaian menjadi khas pasar baru ini. “Kok ga gabung?,” tanya Ogi. “Fa, sini,!” pinta Abi. Aku hanya menggeleng-geleng. Dengan PDnya aku selesaikan soal-soal itu sendiri walau Mia teman baikku telah menawarkan jawaban.

Bel berbunyi, istirahatpun tiba. Ketika aku akan keluar kelas tiba2 Oof menghampiriku yang membuat teman-teman mengejekku. Sebetulnya aku bahagia Oof menghampiriku artinya dia masih suka sama aku.
“Fa, aku mau tanya sesuatu. Boleh?,” tanyanya hati-hati.
“Ga!,” jawabku kasar.
“Kamu kok gitu sih?,” tanyanya lagi.
“Ga!,” jawabku acuh.
“Aneh! Plis, dengerin aku bentar ya?,” pintanya.
“Ga!,” jawabku.
“Kita balikan ya?,” tawarnya.

Kali ini aku tak langsung merespon, aku masih ragu. Tiba2 Egi datang memecah kemistri diantara aku dan Oof. Dia langsung menarik tanganku menuju ruang guru dan dia menunjukkan sesuatu padaku. Dia memberikan selembar kertas bertuliskan PENGUMUMAN HASIL RANGKAIAN LOMBA PERAYAAN 17 AGUSUTUS. Ternyata dia berhasil menjadi juara 1 lomba puisi untuk Indonesia se-Jawa Bali
“Selamat ya!,” ucapku turut bahagia.
“Ga, kamu yang selamat,” jawabnya.
“Hah? Perasaan aku ga ikut lomba, ga menang apa2 juga, kenapa aku yang dikasih selamat?,” tanyaku bingung.
“Yaudah makasih! Makasih karena kamu udah mau jadi, mau jadi, ehm ya jadi teman baikku. Juara ini karena dukungan kamu juga.” Jawabnya aneh.
“Ga ah, itu berkat kerja keras kamu kok bukan aku.” Jawabku bingung.
Tak mau berpikir aneh, tapi aku tahu dari tatapannya Egi punya hati terhadapku. Apalagi semua puisi dan cerpen karangannya seperti menceritakan tentang diriku.

Rupanya tak lama dari itu dia mengatakan cintanya. Tapi aku tak dapat menerima dirinya tapi aku juga tak dapat menolak. Disisi lain aku masih sangat mencintai Oof begitupun sebaliknya. Dalam waktu dekat aku dan Oof pasti akan bersama lagi. Tapi dilain sisi aku tak mau menyakiti orang yang telah menganggapku sebagai teman terbaiknya.
Aku memutuskan untuk tak menjawab, tapi dia memintaku untuk mengizinkannya menjadikan aku sebagai objek dalam puisi dan cerpennya. “Aku ga bakal maksa kamu untuk membalas cintaku. Bagiku dapat bercerita tentang kamu dalam setiap puisiku itu sudah lebih dari indah. Ma’afkan aku karena semua puisi dan cerpen dalam buku harianku itu tentang kamu. Tolong izinkan aku untuk tetap bercerita tentang kamu. Kita sama2 kenal Oof, aku tahu tentang kalian, kamu teman terbaikku begitupun Oof.” Pintanya.
Saat itu Egi belum cukup berarti, buat aku Egi hanya teman biasa sekedar kenal, ya sudah. Biarlah dia puas bercerita tentang aku, yang penting jangan macem2.

Suatu pagi dikelas, Egi meninggalkan sebuah kertas yang terjatuh dari buku hariannya dibawah bangkuku. Aku ambil kertas itu ternyata kertas itu kertas bekas surat2an aku dengannya sekitar satu minggu yang lalu. Saat itu pula aku ingat tentang Abi, orang yang udah 3 tahun musuhin aku dan tiba2 ngomong setelah sekarang satu kelas. Aku juga agak risih dengan kehadiran Abi dalam kelasku setelah 3 tahun dia bisu gara2 ditolak cintanya.
Dikertas itu tertulis, “Abi kok aneh ya ma kamu dan Oof? Barusan dia ngomong2 tentang Oof ma nag2 cow’ dibelakang. Dia juga nanyain no.HPmu. Dia suka ma kamu Fa.” Dan sepertinya tulisan baru karena tintanya ga kusam seperti tulisan yang lain, ”Fa, andai aku belum jujur aku bakal ceritakan tentang yang Abi omongin dengan nag2 cow’.”
Membaca tulisan itu aku hampiri Egi dan memaksa dia untuk menceritakan semua tentang Abi.

Ternyata Abi masih menyukaiku dan dia penyebab putusnya aku dengan Oof. Terus terang aku kesel Abi penyebab semua kesalah pahaman diantara aku dan Oof apalagi kita sampai putus.
Rupanya aku lemah, aku dapat termakan bujuk rayunya dan dialah sosok pacar yang aku mau yang jelas beda dengan Oof. Oof ga romantis, cakep juga ga, baik lumayan, tapi aku cinta banget ma Oof. Cara nembaknya ga kaya Oof asal jeblak ya pa ga. Tapi Abi beda, mulai ngasih surat kaleng dan coklat dibawah bangku, pesan misterius, sering bantu aku nyelesaikan tugas dan lain2 sampe dipesan terakhir sebelum segitiga ini “I HEART U”.

Suatu siang ditaman sekolah saat aku, Mia, Egi, Kiki dan Awan sedang diskusi tugas Oof menghampiri. Begitulah teman2ku langsung mengejek dan menjauh kecuali Egi.
“Eh, kapan balikan? Ga bilang2 ya?,” Ejek Egi.
“Ga.” Jawab Oof. Aku hanya diam.
“Alah, bo’ong nih. Ga anggap temen lagi nie?,” Ejek Egi terus.
“Apa sih Gi. Pacarmu mana?,” Ejek Oof.
… dst.

Seketika suasana berubah ketika Oof melihat Abi dan dia meminta Abi untuk duduk bersama. Aku dan Egi terkejut mereka saling kenal, apalagi ketika mereka mengatakan mereka sudah bersahabat sejak SD.
“Ini loh sahabatku. Kalian sekelaskan?,” Kata Oof.
“Iya. Sejak kapan kalian kenal?,” tanyaku.
Mereka berdua malah terbahak2. “Sejak lama sekali, sejak SD.” Jawab Abi.
“Sejak kurang lebih 10 tahun yang lalu.” Jawab Oof.
“Oya Bro!,” Kata mereka bersama dan tertawa. Mereka begitu akrab.
Sepertinya Egi mengerti kebingunganku dia mencoba membawaku pergi dari masalah itu tapi semua terlambat ketika mereka mengatakan bahwa aku adalah cew’ yang mereka suka dan tentang buku harian Egi yang semua jelas menceritakan tentangku. Al itu membuat Egi mau tak mau jujur.

Kini, ditempat itu tak ada yang membantuku. Aku tak mungkin memilih satu dari mereka. Oof dan Abi bersahabat sejak lama. Oof dan Egi bersahabat sejak kita masuk SMA. Egi dan Abi teman satu kelas yang pasti teman dekat. Oof mantan pacar yang masih aku cinta. Egi temen dekat yang tulus banget. Abi cow’ idamanku.
Mungkin Egi dalam rasaku yang tak bermakna tapi bila dia tak terpilih apa aku tidak menyakiti dia untuk yang kedua kalinya, dia tulus banget. Tapi Oof pacar pertama sekaligus cinta pertamaku, meski mantan tapi cerita manis tentang kita benar sulit terlupakan. Bisa saja tak aku pilih dan memilih Abi cow’ idamanku tapi bagaimana dengan persahabatan mereka. Abi penyebab putusnya aku dan Oof tapi kalau aku ga milih dia kesempatan dapetin cow’ idaman sia2. Pastinya salah satupun dari mereka yang aku pilih akan menjadi musuh bersama.
Belum lagi musuh bersama untukku dari cew’2 sekolah yang suka dari masing2 mereka. Oof cow’ pintar si kutu buku, siswa teladan dan populer + anak mas guru dan kepsek. Egi cow’ puitis yang jago ngarang puisi, cerpen, lagu dan akting. Abi cow’ ganteng, baik, perhatian dan romantis + tajir. Pasti banyak fansnya. Sedang aku, cew’ biasa, orang biasa, siswa biasa dan semua serba biasa semoga aja luar biasa.
Aku berpikir keras, semua dengan penuh pertimbangan. Dari sisi baik dan buruknya. Akhirnya, aku golput saja.

Cerpen Karangan: Fani Desy Lestary
Facebook: Fani Desy Lestary

Fani Desy Lestary
email: archi_fani[-at-]yahoo.com
facebook: Fani Desy Lestary
twitter: @fandesyla
blog: archifaniblog.wordpress.com

Cerpen Aku Pilih Golput merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Lebih Indah dari Romeo Juliet

Oleh:
“Malam terlalu sunyi untuk berdiam diri, mengingatkan aku pada satu kisah nak! Izinkan si tua ini menceritakan satu kisah sekali lagi! Ini bukanlah kisah beberapa waktu lalu atau dahulu

Rania

Oleh:
Aku masih di sini. Bersama dengan Rania di sudut kantin sekolah. Tampak sekali sekitar kami sudah sepi. Yang memastikan bahwa hampir semua siswa SMA Pramudya Aksara sudah pulang ke

Serumit Inikah Cinta

Oleh:
Sahabat. Sahabat adalah seseorang yang berharga. Seseorang yang selalu ada saat kita sedih maupun bahagia. Sahabat juga seseorang yang selalu setia membuat hari-hari kita menjadi lebih indah, memberi banyak

Masih Dalam Lamunan

Oleh:
“Tetaplah bersamaku, jadi teman hidupku. Berdua kita hadapi dunia” bunyi ringtone hpku yang bunyi. Sebal sekali rasanya, siapa sih yang menelepon di minggu pagi ini. Helo!! Ini weekend. Siapa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *